Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Kangen?


__ADS_3

Lima hari sudah waktu Elma habiskan tanpa kehadiran Edo. Dia merasa hidup nya, seperti tak ada tujuan. Lalu dia mulai berpikir, benarkah Elma benar-benar sudah menjatuhkan hatinya pada laki-laki yang selalu menikmati tubuh nya?


Setiap kali ada pemikiran seperti itu, Elma selalu berusaha menyangkal karena dia benar-benar tak ingin jatuh cinta pada laki-laki manapun. Karena jatuh cinta membuat nya lemah seperti mendiang kakak nya yang lebih memilih bunuh diri karena patah hati.


"Fokus, Elma. Jangan terus-terusan memikirkan nya, toh juga belum tentu dia memikirkan mu." Rutuk nya pada diri sendiri.


Saat ini dia sedang menikmati sarapan nya, lalu tiba-tiba dia teringat Edo. Entah laki-laki itu sudah makan atau belum, semua keperluan nya terpenuhi atau tidak. Memikirkan hal seperti itu benar-benar membuat Elma tak fokus melakukan kegiatan.


Padahal hari ini rencananya dia akan menemui John di kantor nya, lebih tepatnya Elma akan melamar pekerjaan di sana.


Beberapa hari lalu Elma melamar pekerjaan di sana dan ternyata dia disambut baik oleh perusahaan, dan saat ini dia akan melakukan wawancara langsung dari CEO.


Seperti segalanya dimudahkan, Elma benar-benar merasa puas pada diri nya. Wajar saja Elma diperlakukan baik, melihat nilai kelulusan nya kemarin membuat nya langsung di terima dengan tangan tangan terbuka walaupun baru akan masuk perguruan tinggi.

__ADS_1


Tetapi, tetap saja Elma masih belum mempercayai nya. Karena menurut Elma seperti ada yang Janggal, tapi kemudian langsung ia tepis jauh-jauh.


Hampir saja dia berpikir segala kemudahan ini adalah karena bantuan Edo, tetapi mana mungkin lelaki itu masih memikirkan nya sedangkan mereka sudah tak lagi bersama.


Untung saja kuliah Elma mengambil kelas karyawan sehingga dia tak takut dengan jadwal yang bertabrakan meski sebelumnya dia perlu meyakinkan pihak kampus karena seharusnya Elma mendapatkan beasiswa kelas reguler. Tetapi karena dia berjanji akan tetap menjadi mahasiswa yang membanggakan kampus meksipun kuliah tidak efektif, akhirnya pihak kampus menyetujui dengan syarat nilai Elma harus sempurna dan tetap mengikuti kegiatan apapun yang diselenggarakan kampus bila Elma dibutuhkan seperti mengikuti kompetisi antar kampus dan lain-lain.


Tangan Elma tergerak mengambil ponsel lalu mencari nomor Edo, ada rasa bimbang dalam dirinya antara ingin menghubungi atau tidak.


Mikir apa sih? Edo pasti baik-baik saja. Mana mungkin dia merasa kehilangan hanya karena ditinggal satu wanita. Pasti Edo sudah mendapatkan pengganti mu, Elma.


Sekali lagi Elma berkata dalam hati, antara ucapan dan pikiran sungguh tak sinkron. Karena meski dirinya mengucapkan tidak akan memikirkan Edo, tapi nyatanya sampai sekarang masih saja memikirkan nya.


Apa aku tanya saja, ya? Gumamnya lirih. "Lagian hanya menanyakan kabar itu sangat wajar. Bukan kah Edo sudah seperti keluarga ku?" Elma masih terus menimbang-nimbang sendiri.

__ADS_1


"Ya, tidak ada salahnya aku menghubungi lebih dulu."


Jari-jari Elma dengan lincah mencari kontak Edo lalu menekan tombol panggilan.


"Halo," Terdengar suara berat laki-laki di seberang sana yang berhasil membuat hati Elma bergetar hebat.


Kata-kata yang tadinya sudah dia rancang sedemikian rupa justru kini hilang seketika.


"Kangen hm?"


Cih, pede sekali! Elma menggerutu.


Terdengar kekehan di seberang panggilan.

__ADS_1


__ADS_2