Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Kembali Tergoda


__ADS_3

Brakk.


"Wow, amazing! Pemandangan yang indah, John." Arasya yang baru saja datang mengagetkan dia manusia yang sedang bercumbu mesra. Raut wajah Arasya terlihat sangat biasa saja, bahkan dia tertawa sinis seakan-akan mengejek dua manusia hina di depan nya.


"Arasya, ini tidak seperti -"


"yang kamu lihat?" Arasya memotong perkataan John sembari menekuk dua tangan nya di depan dada. "cih, klise!" Bahkan Arasya terlihat berdecak di depan dua manusia yang saat ini sudah tak memakai apapun.


"Semua bukti kelakuan be jad mu selama ini sudah terkumpul. Jadi bersiaplah untuk berpisah." Arasya yang tak ingin berlama-lama di ruangan kotor itu langsung saja mengatakan tujuan nya. Lalu dia mengeluarkan selembar kertas yang ditujukan pada John, entah apa isi dari kertas itu. Tapi dari yang terkuat dari eksepsi John, terlihat begitu shock setelah membaca secarik kertas yang disodorkan istri nya.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini, Arasya?!" John terlihat begitu marah. Bahkan dia tak memperdulikan tubuh nya yang saat ini dalam keadaan telanjang dilihat beberapa orang di sana. Dia terlihat bergegas ingin berdiri dan menyusul Arasya, namun langkah Nn ya dihentikan oleh wanita yang sejak tadi berada di pangkuan John tanpa melepaskan penyatuan.


"Sebaiknya kau selesaikan dulu garapan mu dengan Jallang mu itu. Aku juga tidak ada waktu lama-lama berada di tempat kotor seperti ini." Arasya terlihat mengibaskan tangan tanda tak suka lalu berlenggang dari ruangan itu yang diikuti beberapa orang suruhan nya.


"Damn..! kenapa jadi seperti ini?!" John meremas kepala nya sendiri lalu tiba-tiba berdiri hingga menjatuhkan wanita yang sejak tadi di atas pangkuan nya.


"Diam lah! Jangan banyak bicara jika kau maish ingin menikmati harta ku!" John yang kalap pun menjadi emosi pada wanita di depan nya. Membuat nyali wanita itu seketika menciut. Tapi Maria masih berusaha mencari cara agar John kembali tergoda dengan tubuh nya. Meski tak tahu apakah cara ini akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya Maria sudah berusaha menggoda John.


"Sudahlah, Honey. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Lebih baik kita lanjutkan kegiatan yang tertunda untuk mengurangi penat mu. Aku yakin, kau akan senang menerima servis ku yang satu ini." Wanita bernama Maria itu benar-benar menunjukkan sesi ke Jallang an nya. Bahkan dia menggesek-gesekkan dua buah da da nya agar John kembali terang sang.

__ADS_1


Dan berhasil...


Memang lah menguji keimanan manusia yang setipis kulit bawang itu tak akan banyak memerlukan waktu. Seperti yang sudah diprediksi oleh Maria, tangan John kini sudah beralih memegangi aset-aset berharga seorang wanita. Maria yang tak ingin kehilangan kesempatan langsung mende sah keras mengeluarkan suara-suara ero tis hingga terdengar dari luar ruangan yang bahkan belum tertutup pintu nya.


Mereka seakan sudah tak memiliki rasa malu pada sesama manusia. Karena bagi mereka kegiatan persetubuhan adalah kebutuhan wajar setiap orang.


Entahlah, mungkin budaya John yang memang sejak kecil sudah terbiasa dengan kegiatan itu, atau memang individu nya saja yang tak bisa mengontrol naf su nya yang satu itu.


"Aarrghh..!" John berteriak keras setelah mencapai puncak kenikmatan. Tubuh nya tumbang di meja kebesaran yang seharusnya menjadi tempat nya untuk memperoleh berjuta-juta dollar, namun dia gunakan untuk bercinta.

__ADS_1


__ADS_2