
"Kenapa kita kesini?" Elma tak mengerti apa yang ada di pikiran Edo. Kenapa tiba-tiba mereka berhenti di halaman rumah sakit? Padahal di antara mereka tak ada yang sedang sakit. "apa kau sakit, sayang?" Elma bertanya untuk memastikan. Dia khawatir Edo diam-diam memiliki riwayat penyakit yang tak diketahui nya.
"Tidak, sayang. Aku tidak sakit." Jawab nya sembari terus melebarkan senyum. Sepanjang perjalanan memang Edo terus-terusan melebarkan senyum hingga membuat Elma memikirkan tingkah suami nya.
"Terus kenapa kita kesini?" Elma sungguh tak bisa menahan rasa penasaran nya. Untuk itu dia kembali bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran nya.
"Untuk memeriksa kamu." Jawab nya seraya mendekati Elma untuk membukakan sabuk pengaman setelah memberhentikan mobil dan mematikan mesin.
__ADS_1
"Aku?" Tunjuk nya pada diri sendiri. "tapi aku tidak sakit, sayang. Sepertinya justru kau yang perlu diperiksa." Lanjut nya menahan kesal. Ya, Elma kesal dengan sikap suami nya. Dan alasan mengapa Elma menyuruh Edo memeriksakan diri karena... Yang pertama, tanpa ada sebab tiba-tiba dia membawa Elma ke rumah sakit untuk memeriksa dirinya. Dan yang ke-dua, sepanjang perjalanan Edo terus-terusan mengembangkan senyum, hal itu membuat Elma berpikir apakah suami nya ini sudah tak waras??
Duh ... pikiran Elma sudah tak bisa di toleransi lagi. Andai Edo tahu apa yang sedang dipikirkan Elma saat ini mungkin dia sudah menetapkan hukuman untuk wanita nya, tentu saja hukuman menguntungkan untuk mereka berdua.
"Kau memang tidak sakit, tapi sepertinya di sini sudah ada baby, sayang. Dan aku ingin memastikan dulu." Edo mengusap perut rata istri nya penuh cinta. Bahkan bibir nya tak merasa kebas meski sudah terlalu lama tersenyum.
"A-apa? Ba-baby?" Elma mengulangi perkataan suami nya dengan terbata-bata. Dia pun tak kuasa memanggil nama baby dan membayangkan ada kehidupan di rahim nya.
__ADS_1
"Ti-tidak." Ternyata Elma masih terlalu susah mencerna semua ini. Bukan hanya karena kaget dengan apa yang dikatakan Edo, tetapi dia kaget karena selama ini dia tak pernah berhenti mengonsumsi alat kontrasepsi. Dia takut jika apa yang di prediksi Edo salah, dan saat itu terjadi maka dia akan merasa sangat bersalah, melihat betapa antusiasnya Edo saat ini.
"Tapi, bagaimana kalau aku tidak hamil?" Tanya nya lirih. Mata nya tak berani menatap Edo yang sedang tersenyum ke arah nya. Apalagi merasakan tangan Edo yang tak berhenti mengusap perutnya membuat hati nya merasa tercubit. Berbagai pikiran buruk mulai menghinggapi dirinya.
Elma bahkan berpikir bila dia benar-benar tidak hamil lalu Edo kecewa dan mulai mencari sosok wanita lain untuk memberikan keturunan membuat hati nya merasa begitu sakit dan ingin menangis.
"Kalau kau belum hamil, maka aku akan mencari baby lain untuk ku angkat sebagai putera ku." Gurau Edo dengan begitu ringan tanpa tahu jika saat ini istri nya sedang di Landa kecemasan.
__ADS_1
"A-apa kau akan mencari wanita lagi untuk menjadi ibu anak-anak mu? Tanya nya dengan suara bergetar menahan tangis. Dan di detik berikutnya Elma sudah terisak sendiri.
"Hei, sayang. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku seperti itu." Edo menjadi panik sendiri saat tangis Elma semakin kencang. "Jika kau belum hamil, maka itu artinya aku harus berusaha lebih maksimal lagi supaya cepat tumbuh Edo junior di sini." Jelas nya menenangkan.