Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Tangisan Pilu Elma


__ADS_3

"Sayang, tapi ini makanan kesukaan mu.." Suara Elma bahkan sudah terdengar bergetar, matanya berkaca-kaca. Jika satu kali lagi dia menyuruh makan dan Edo masih menolak, maka Elma benar-benar akan menangis kencang dengan mengguling-gulingkan badan.


Melihat raut wajah istri nya yang sangat sedih bahkan hampir menangis, Edo menjadi tak tega. Dia bahkan merasa menyesal karena telah membuat istri nya sedih.


"Iya, aku makan." Sahut nya seraya menghampiri sang istri. Sungguh, dari lubuk hati nya Edo benar-benar merasa sakit hati ketika melihat istri nya hampir menangis. Apalagi penyebab Elma seperti ini karena ulah nya.


"Suapi aku." Edo masih terus menatap wajah istri nya yang tak ada gurat keceriaan seperti biasanya. Padahal biasanya Elma akan selalu tersenyum jika sedang bersama nya.


Dan perintah Edo pun hanya dijawab dengan anggukan kepala. Elma tak lagi berbicara sedikit pun, membuat Edo semakin merasa bersalah. Dia bahkan mulai menyuapi Edo tanpa sepatah kata pun.


Edo menyentuh tangan Elma yang sedang menyodorkan sendok ke depan mulut, sorot mata nya terlihat dalam menatap wajah istrinya yang terlihat begitu sendu.


"Sayang ..." Panggil nya halus. Edo sungguh yak menginginkan keadaan seperti ini. Tadi dia hanya ingin memberi istri nya sedikit pendidikan agar mau menghargai pengorbanan orang lain. Tapi sungguh, dari lubuk hatinya dia tak ingin membuat istri nya sedih. Kebahagian Edo adalah jika bisa melihat wanita nya bahagia, dengan kata lain bila istri nya sedih maka Edo ikut merasakan kesedihan.


Melihat tak ada respon apapun dari Elma, Edo langsung meletakkan sendok yang digenggam Elma ke piring lalu meletakkan ke atas meja di dekat nya.


"I'm sorry," Gumam nya lirih sembari membawa tubuh sang istri ke dalam pelukan. Di dekap nya tubuh ringkih sang istri yang begitu haus akan kasih sayang. Sangat terasa bila kini wanita nya menangis. Baju itu bergetar, Edo dapat merasakan kalau kaus bagian dada nya terasa basah.


Tangisan Elma yang tak bersuara semakin membuat nya terlihat begitu pilu, dan Edo begitu merasa bersalah akan hal itu.

__ADS_1


"Maafkan aku. Maaf atas sikap ku, Sayang. Sebenernya aku tidak sungguh-sungguh marah." Edo mencoba menenangkan sang istri, memberi usapan lembut di bahu dan punggung nya sembari menghadiahi ciuman berkali-kali di keningnya.


Tubuh Elma semakin bergetar, menandakan sang istri semakin menumpahkan air mata. Edo yang merasakan pun memberi pengertian dengan memenangkan lebih dulu, dia tak lagi berbicara. Hanya usapan lembut yang terus Edo lakukan juga tak henti-hentinya mengatakan kata maaf.


Dan setelah menunggu sekitar lima menit, akhirnya Elma kembali tenang dan menghentikan tangisnya. Edo mulai menarik wajah sang istri dari dekapan lalu menangkup wajah sembab itu dengan kedua tangan.


"Sayang ... tatap mata ku." Perintah nya lembut.


Elma yang sejak tadi tak mampu menatap mata sang suami pun perlahan mulai menatap nya. Ditatapnya bola mata sang suami lamat-lamat, pelupuk mata nya mulai menggenang dan cairan bening pun kembali jatuh berhamburan.


"Hei ... Don't cry, baby..." Jari-jemari Edo dengan sigap menghapus jejak air mata di wajah sang istri.


"Why? Kenapa kau minta maaf, hm?" Edo berkata semakin lembut. Dia ikut merasa sakit hati melihat istrinya seperti ini.


"Kenapa kau minta maaf padaku? Kau tak salah, sayang. Aku yang salah karena tak mengerti diri mu.".


"Ti-tidak. Aku yang salah hiks ... Aku salah karena tidak menghargai kerja keras mu. I'm sorry hiks ... Lain kali aku tidak akan mengulangi lagi." Masih diselingi sesegukan, tetapi Elma tetap berusaha menjelaskan dan meminta maaf.


"Sstt ... tidak apa, sayang. Aku mengerti. Aku tahu kalau baby kita yang tidak mau memakan masakan Dady, bukan kau." Edo menerbitkan seulas senyum, berharap sang istri juga akan ikut tersenyum dan menghentikan tangisnya.

__ADS_1


Namun prediksi nya salah, Elma bahkan masih saja sesegukan dengan air kata terus merembes ke wajah.


"Sudah, sayang. Jangan menangis, aku akan sangat merasa bersalah jika melihat mu terus-terusan menangis." Edo memberi tahu isi hatinya. Karena jujur dia memang ikut merasakan kesedihan yang bahkan mungkin lenih dari yang Elma rasakan saat ini jika melihat istrinya seperti ini.


"Tapi air mata nya yang tidak mau berhenti ... ini bukan kemauan ku!" Tiba-tiba Elma kembali berkata ketus sembari menunjuk air mata yang terus mengalir. Memang sejak tadi Elma sudah menahan tangisnya agar bisa berhenti, nyatanya air mata itu dengan lancang terus-terusan menerobos keluar tanpa meminta izin sang pemilik.


"Iya iya. Aku mengerti." Hanya itu kata-kata yang bisa Edo lontarkan. Jujur saja dia bingung ingin berkata apa karena takut akan semakin membuat wanita nya menangis.


"Ya sudah, lebih baik kita pergi ke meja makan. Aku sudah lapar sekali dan juga sangat merindukan masakan istri ku tercinta." Kata Edo diselingi gurauan sembari sedikit mencolek hidung mancung sang istri yang tak ditanggapi apapun oleh Elma.


Dan tanpa meminta persetujuan wanita nya, Edo segera membopong sang istri dengan posisi seperti koala masuk ke dalam kamar lalu diteruskan keluar menuju ruang makan.


Dua paha Elma mengapit rapat disisi tubuh Edo agar tak terjatuh. Kepala nya dia jatuhkan di dada bidang sang suami. Entah kenapa rasanya dia ingin sekali bermanja-manja dengan sang suami, tetapi suami nya itu benar-benar tak mengerti dirinya.


Bukan nya memanjakan sang istri, Edo justru marah karena tak mau memakan masakan nya dan berakhir ngambek seharian, tak mau makan, tak mau bicara, bahkan terus menghindari Elma. Dan itu cukup membuat Elma frustasi.


Pikiran-pikiran buruk mulai menghinggapi dirinya. Elma mulai berprasangka yang tidak-tidak pada sang suami. Jujur, Elma takut kehilangan Edo. Semua yang dia punya sudah diserahkan pada laki-laki itu, termasuk hati nya. Dia tak akan sanggup bila hati nya yang sudah jatuh se jatuhnya pada Edo tiba-tiba disakiti. Dia tak akan sanggup bila itu terjadi. Mungkin Elma akan lebih memilih mati saja dibanding harus merasa sakit yang teramat akibat penghianatan Edo. Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi!


Edo sudah pernah mengatakan kalau dia adalah wanita satu-satunya yang Edo cintai. Dan itu akan berlaku selamanya. Jadi mana mungkin hal itu sampai terjadi?

__ADS_1


Ini hanya pikiran bodoh Elma yang memang tak memiliki kerjaan sampai-sampai berpikiran seperti itu.


__ADS_2