
Meski begitu berat, Edo berusaha bangun dari tidur nya. Mata Edo mengerjap-ngerjap beberapa kali sembari menyesuaikan silaunya cahaya di Indra penglihatan nya yang baru saja terbuka. Rasa pening mendera kepala, sekelebat bayangan demi bayangan pertengkaran dirinya dengan Elma seakan menyadarkan dirinya dari rasa ngantuk yang mendera.
Dia menatap sekeliling kamar yang tak menunjukkan ada tanda-tanda istri nya disini. Pikiran nya yang kalut menuntut nya untuk bangkit, dia takut istri nya melakukan hal-hal nekat akibat pertengkaran keduanya.
"Sweetheart...!" Panggil Edo keras setelah membuka pintu kamar. Dia menatap sekeliling arah, berharap ada tanda-tanda istri nya berada. Saat memastikan tak melihat istrinya di sini, Edo memutuskan pergi ke dapur, berharap istri nya sedang masak untuk makan malam seperti biasa. Namun bayangan itu tak sesuai harapan, istri nya tak ada di mana pun! Edo mulai panik, menatap ke sekeliling arah dengan tatapan cemas.
"Sweetheart, kamu dimana?" Edo berjalan keluar dapur sembari berteriak memanggil istrinya, namun dia tak mendapatkan jawaban suara apapun. Senyap, itu lah gambaran apartemen Edo saat ini.
"Sayang, udah ya ngambek nya. Aku bakalan jelasin sejelas-jelasnya, tapi kamu kesini ya ..." Edo benar-benar sudah panik saat menatap sekeliling tak ada siapapun di sini.
Saat berada di ruang keluarga, dia melihat kamar tamu yang tidak tertutup rapat, hati nya sedikit lega karena menganggap Elma ada di sana.
"Sayang, maafkan aku. Jangan marah lagi, aku tidak bisa terus-terusan jauh dari mu." Edo berkata sembari mendekati pintu. Saat membuka pintu, menatap ke seluruh ruangan yang ternyata tak melihat istrinya di sana, Edo masih beranggapan jika istri nya sedang di kamar mandi. Atau mungkin istri nya sedang bersembunyi karena tak ingin bertemu dengan nya.
"Sayang, mendekat lah. Maafkan aku, tolong jangan sembunyi. Aku kangen..." Edo sebenarnya sudah mendekati pintu kamar mandi dan ingin membuka nya, tapi sepertinya tak ada apapun di sana karena tak mendengar gemercik air.
Edo mulai mengamati ke kolong ranjang yang pastinya tak mungkin ada istrinya di sana karena ranjang itu tak memiliki kolong. Lalu Edo mulai mengira bahwa istri nya ada di lemari, dia mulai panik karena takut istri nya tak bisa bernafas di dalam sana.
"Sayang, Jangan sembunyi-sembunyi. Aku khawatir ..." Nada suara Edo benar-benar terdengar penuh kekhawatiran dengan kaki yang terburu-buru melangkah mendekati lemari. Namun ternyata kecemasan nya tak membuahkan hasil, tidak ada apapun di sana selain baju-baju yang tertata rapi.
__ADS_1
"Sayang, tolong jangan membuat ku panik. Sebenarnya kamu sedang bersembunyi di mana..?" Edo mulai berteriak keras. Dia berlari menuju ke arah kamar mandi dan langsung membuka pintu itu kasar. Tetapi di sana juga kosong, Edo tetap masuk dengan perasaan cemas. Dia memeriksa seluruh bagian kamar mandi, tapi tetap saja tak menemukan istri nya.
"Elma, kamu boleh marah pada ku, tapi please ... jangan menakut-nakuti ku. Aku sangat takut jika tak bisa menemukan mu." Suara Edo terdengar bergetar. Dia takut terjadi sesuatu pada istri nya. Seketika bayangan-bayangan buruk itu mulai mendominasi pikiran nya.
Dia kembali keluar dengan berlari, dia tak ingin membuang-buang waktu dengan berjalan lambat. Karena waktu nya saat ini sangat berharga sampai dia benar-benar menemukan Elma.
Saat berada di ruang tamu, Edo nampak tertegun melihat beberapa lembar kertas yang berserakan di lantai lengkap dengan piring sebuah box berukuran sedang yang juga terjatuh di sana.
Deg.
Seketika tubuh nya menegang, jantung nya berdetak tak karuan. Dirinya tidak salah lihat kan? Apakah itu benar-benar foto nya yang bersama seorang wanita dengan posisi yang sangat intim?
Edo menggeleng-gelengkan kepala nya beberapa kali pertanda tak setuju dengan apa yang ada di foto ini. Dada nya bergemuruh hebat, mata nya memanas membayangkan Elma sudah melihat semua nya.
"Ti-tidak, ini tidak asli." Edo benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Ini semua rekayasa! Dia bahkan tak pernah berdekatan dengan wanita, lalu kenapa tiba-tiba ada foto-foto sialan ini?
Edo tampak menggeram menahan amarah, namun juga diselimuti dengan kekhawatiran yang teramat. Dia ingat istri nya! Dimana istri nya sekarang?
"Elma, ini semua tidak benar, Elma." Gumam nya dengan mata memerah dan sedikit mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Sayang, kamu dimana? Jangan percaya dengan foto-foto sialan ini. Ini semua tidak benar!"
Hening, tak ada balasan apapun.
Seketika Edo tersadar jika istri nya benar-benar tak ada disini.
"Sayang, please jangan menakut-nakuti ku. Sebenarnya dimana kamu sekarang?" Edo menatap liar sekeliling ruangan. Dan di detik itu pula dia tersadar jika istri nya benar-benar tak ada di sini. Dia mencari ponsel dengan gemetar, pikirannya kacau, dia sangat panik memikirkan istri..
"Kerahkan seluruh bodyguard dan cepat cari istri ku sekarang juga! Cari sampai dia ketemu dalam keadaan selamat dan tidak lecet sedikitpun! Jika sampai terjadi sesuatu yang terjadi dengan istri ku, maka kau dan anak buah mu akan tahu akibat nya!" Setelah ponsel itu terhubung dengan asistennya, Edo bahkan tak mengucapkan kata sapaan terlebih dahulu, dia langsung memerintah nya penuh ancaman dan kembali menutup panggilan itu sebelum orang di seberang sana memberikan jawaban karena memang Edo tak membutuhkan jawaban nya, karena sudah pasti asisten nya itu akan menuruti semua perintah nya jika masih ingin hidup.
"Elma ... kamu dimana, sayang? Edo yang sudah panik setengah mati pun langsung keluar apartemen setelah mengambil kunci. Bahkan air mata nya tak bisa terbendung membayangkan dia akan kehilangan istri nya.
Sebenernya di mana Elma? Tidak kah istri nya itu berpikir akan sangat membahayakan dirinya dan juga bayinya jika berkeliaran di luar rumah?
Dan lagi, dia tak membawa apapun untuk pergi. Ponsel pun tak dia bawa. Bagaimana jika dia membutuhkan sesuatu? Bagaimana jika dia kelaparan dan kehausan?
Arrghh.... membayangkan saja sudah membuat Edo gila! Dia buru-buru melajukan mobilnya dengan kencang, menyusuri seluruh jalanan kota.
Cuaca hari begitu panas yang bahkan diberi segudang Paracetamol pun tak akan reda panas nya. Dan masalah nya, Elma sedang berada diluar ruangan tanpa menggunakan pelindung. Istri nya pasti sedang kepanasan dan peluh terus membanjiri istri nya, dia pasti sangat kehausan. Membayangkan hal itu membuat Edo semakin ingin menghukum dirinya, tapi bukan sekarang saat nya. Karena saat ini yang harus dia lakukan adalah mencari sang istri hingga berada disampingnya kembali.
__ADS_1