
Semilir angin khas pagi hari, terasa dingin menusuk kulit sampai ke tulang-tulang persendian Elma yang baru saja mengistirahatkan mata nya beberapa jam lalu karena terlalu asyik mengobrol dengan mami Aline hingga tak mengingat waktu yang ternyata hampir subuh.
Meski begitu, Elma enggan sekali membuka mata. Tetapi gedoran pintu serta suara kegaduhan di luar kamar begitu memeka kan indra pendengaran nya memaksakan Elma untuk bangun.
"Tok ... tok ... tok ..,!" Gedoran pintu yang sangat keras itu berhasil mengusik tidur nyenyak Elma.
"Elma, bangun ...!" Gedoran pintu serta teriakan sang mami justru semakin keras, hingga mau tak mau akhirnya Elma bangkit dari zona nyaman nya meski hati nya sangat tak rela meninggalkan kasur empuk serta bantal nyaman nya ini, di tambah selimut tebal yang begitu menghangatkan badan, semakin enggan rasanya merelakan tiga benda itu terpisah dari raga nya.
"Tok ... tok ... tok ..!" Gedoran pintu itu kembali terdengar keras.
"Elma, bangun ..! Lihat, siapa yang datang!" Entah siapa yang datang ke apartemen Edo pagi-pagi seperti ini, dari suara sang mami terdengar begitu antusias hingga membuat Elma ikut penasaran meski masih setengah sadar.
"Iya, sabar, mi ..!" Elma bangkit dengan muka bantal nya sembari menggerutu. Mata nya masih tertutup rapat karena sulit sekali untuk membuka nya, rasanya seperti ada lem yang merekat di kelopak mata nya.
__ADS_1
Dug.
"Auusshhh ...!"
"Sayang, ada apa dengan mu?"Teriakan keras Elma berhasil membuat seseorang yang sejak tadi juga ikut menunggu nya itu sangat cemas.
Baru saja kaki Elma menyandung karpet bulu,karena tubuh Elma tak seimbang hingga membuat nya terjatuh dan tanpa sadar lutut nya menabrak siku meja dengan keras.
"Sayang ...?!"
"Elma, kau baik-baik saja?" Edo dan mami Aline bertanya secara bersamaan. Dua orang itu sangat mengkhawatirkan Elma yang tak kunjung bersuara.
Sedangkan orang yang sedang dikhawatirkan itu sedang menikmati rasa nikmat nya setelah tulang kering nya mengancar pojokan meja kayu. Dia benar-benar menikmati rasa sakit ini yang terasa cenat-cenut hingga terasa ingin buang air. Dia bahkan tak sempat manyahuti pertanyaan-pertanyaan orang diluar pintu karena saking nikmat nya.
__ADS_1
Brak!
Entah apa yang dilakukan Edo dan mami Aline pada pintu kamar nya sampai-sampai suara nya begitu keras di teliunga nya, tetapi Elma pun tak sempat menoleh ke arah pintu akibat rasa sakit di tulang kering nya.
Brak!
Lagi-lagi suara seperti orang sedang membobol pintu kamar nya semakin jelas di telinga nya.
Brak!
Pintu itu terbuka lebar mendapati Edo dengan wajah panik nya serta mami Aline yang juga tak kalah cemas. Tapi tunggu dulu, kenapa masih ada orang dibelakang mami Aline dan Edo?
Dia bukan nya tidak mengenali orang itu, seketika mata nya terbelalak lebar mengingat kondisi tubuh nya yang masih menggunakan piyama tidur, serta wajah nya yang belum di cuci. Mengingat kebiasaan nya yang selalu menghasilkan pulau saat tidur, Elma yakin saat ini pun pasti ada jejak sisa semalam dirinya membuat pulau. Seketika pipinya memanas karena malu, secepat kilat dis kabur dari sana menuju kamar mandi, meninggalkan orang-orang yanag masih keheranan menatap nya, serta menghiraukan rasa sakit yang sedikit demi sedikit mulai menghilang.
__ADS_1