Terpuruk Dalam Cinta

Terpuruk Dalam Cinta
Lelah


__ADS_3

Semalaman Ani menunggu suaminya datang namun hingga pagi tiba suaminya tak kunjung terlihat.


Pagi ini Ani masih dirumah, Dia sengaja tidak masuk kerja hari ini. Ani sudah siap dengan baju yang diberikan suaminya kemaren.


Rumah ini begitu besar dan indah namun terasa sungguh hampa. Seperti hidup dalam sangkar emas. Bergelimang harta namun tak bisa menikmati.


Tuhan hampa sekali hidupku ini. Ingin rasanya Aku meninggalkan suamiku dan memilih kembali kepada Mas Agus. namun apa kata orang nanti. Pernikahanku belum juga sebulan. Ani terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ani mengutak-atik handphonenya sebuah status muncul diberanda. Diaz sedang berfoto mesra dengan Lia disebuah rumah makan. Ani terus melihat profil dan riwayat foto-foto suaminya dan Lia istri pertamanya.


"Mengapa Aku merasa sakit melihat foto mereka. Tidak..... tidak..... dihatiku hanya ada Mas Agus. Sadar Ani..... sadar. Aku hanya orang ketiga diantara mereka," ucap Ani.


Ani mencoba menghubungi Agus namun nomer teleponnya sudah tidak aktif lagi. Tiba-tiba Ani teringat dengan Mbak Sulis. Ani mencoba mencari nomor handphonenya dan akhirnya ketemu juga.


Ani mencoba menghubungi mbak Sulis, setelah lama berdering akhirnya diangkat juga.


"Mbak, ini saya Ani," ucap Ani.


"Iyah An, ada apa?," jawab Mbak Sulis.


"Mbak, Aku mau tanya nomer handphonenya Mas Agus boleh?"


"Nomer telponnya masih sama kok An. Jika ganti Aku juga tidak tahu. Barusan Aku juga dari sana sih. Tadi sahabat Ibunya datang menjenguk. Jika tidak salah mereka berencana akan menjodohkan Agus dengan Anak temannya itu."


"Benarkah Mbak?," tanya Ani seakan tak percaya.


"Aku sih tadi dengernya begitu. Namun Agus hanya diam saja."


"Ya sudah Mbak, terimakasih."


"Iyah."


Ani terdiam, serasa tubuhnya kini begitu lemas. Hancur semua harapannya untuk kembali kepada Agus.


Ani melihat perutnya yang kini sudah mulai terlihat membuncit. Dia mengelus-elusnya sambil meneteskan air mata.


Ini semua memang salahku, Aku memang wanita bodoh. Mungkin sudah takdirku seperti ini. Ani terus bermonolog dengan dirinya.


Hingga menjelang malam Ani masih sendiri. Mungkin Suaminya akan pulang kerumah Lia malam ini.


Hari ini Ani hanya sarapan pagi saja. Dia merasa lelah dengan kehidupannya sendiri. Perutnya mulai keroncongan namun dia tetap menahannya.

__ADS_1


Ani mencoba tidur, namun sangat susah baginya. Agus merupakan harapan terakhir baginya namun kini Agus akan bertunangan.


Ani menyerah dengan keadaan. Terlihat sudah jam delapan malam. Terdengar suara mobil datang. Ani masih tetap rebahan dikamar meskipun dia tahu itu suara mobil suaminya yang datang.


krekkkkkkkkkk...... (suara orang membuka pintu)


Tak lama suaminya datang menghampiri Ani. Ani terdiam, hanya bola matanya yang mampu dia gerakkan.


Sikap Diaz kini berubah kembali akibat mengetahui anak yang dikandung Ani itu bukan anaknya.


"Ani cepat ambilkan dua gelas," ucap Diaz.


Ani datang dan menghampiri suaminya yang sedang duduk diruang tamu.


"Duduk sini cepat", ucap Diaz sambil berteriak.


Diaz menuangkan dua win* kedalam gelas itu. Ani sungguh sangat takut melihat sikap suaminya saat ini.


"Minumlah", ucap Diaz.


"Tidak Mas, Aku hamil. Aku tidak mau kehilangan anak ini", jawab Ani.


Ani sejenak terdiam tak tahu harus berkata apa. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.


Aku tidak mungkin mengatakan jika ini anak Mas Agus. Karena Aku hanya pernah melakukan ini dengan Mas Agus dan suamiku saja, gumam Ani.


"Kenapa kamu Diam?Jika kamu tidak mau menjawab cepat temani Aku minum malam ini", ucap Diaz.


"Tidak Mas, Aku akan mempertahankan anak Ini. Dia tidak bersalah, Aku yang bersalah disini. Andai waktu itu aku tahu jika Aku hamil pasti Aku akan mengatakannya Mas", jawab Ani.


Diaz berdiri dan memecahkan gelas yang dipegangnya. Ani sungguh sangat takut melihat kemarahan suaminya itu.


Diaz mengambil gelas lagi diatas meja yang sudah berisi win* dan memegang mulut istrinya. Diaz memaksa Ani meminumnya namun Ani terus menutup mulutnya.


Diaz sungguh marah, dan terus mencoba membuka mulut istrinya. Akhirnya Ani menyerah karena cengkraman suaminya begitu keras dan menyakitkan hingga melukai pipinya.


Ani menenggak minuman itu sedikit. namun merasa tak puas Diaz akhirnya mengambil botol win* itu dan meminumkannya kepada Ani. Ani menyemburkan minuman itu ke wajah suaminya hingga membuat suaminya semakin murka.


Plaaaaaaakkkkkkk.......... Plaaaaaaakkkkkkk..........


Sebuah tamparan mendarat dikedua dipipi Ani hingga membuatnya tersungkur dilantai. Ani menangis begitu keras.

__ADS_1


"Tega kamu Mas, Bunuh saja Aku sekalian biar puas hingga sakit hatimu kepadaku hilang", ucap Ani sambil menangis.


"Tega kamu bilang? ha... ha... ha.... dasar perempuan hina. Siapa yang membiayai pengobatan orang tuamu selama ini? Aku kan. Tapi apa balasan kamu?, Dasar wanita murahan. Bisa-bisanya kamu hamil diluar nikah. Apa kamu sengaja menerima lamaranku untuk menutupi aib mu?", ucap Diaz.


"Maafkan Aku Mas.... Aku memang berdosa sudah melakukan itu. Sungguh aku juga tidak tahu jika Aku sedang hamil. Jika Aku tahu, Aku juga tak mau menikah denganmu".


"Omong kosong..... Aku beri waktu tiga hari untuk menggugurkan itu dan jawab siapa laki-laki yang mendahului Aku".


Ani hanya mampu menangis merasakan perlakuan suaminya itu.


Diaz membanting pintu rumah dan lekas meninggalkan Ani sendirian dirumah.


Ani menuju kamarnya karena perutnya sudah sedikit kram. Ani sungguh takut saat ini. Ani hanya mampu menangis merasakan amarah Suaminya itu.


Ani tak tahu harus menceritakan masalahnya kepada siapa dia hanya mampu menyimpannya sendiri hingga membuat dadanya terasa begitu sesak. Ani menangis hingga dia tertidur lelap.


Ani Memang tangan yang terasa memegang ke********. Ani membuka mata, Dia sungguh kaget ketika melihat suaminya sudah diatasnya.


"Pagi sayang," ucap Diaz dengan mulut yang berbau minuman.


"Ngapain kamu Mas?. Tolong Mas.... jangan lakukan itu," jawab Ani.


"Aku hanya membantumu melepas baju. Bukankah ini sudah pagi. kita harus ke kantor pagi ini."


"Iyah Mas Aku bisa sendiri."


Ani beranjak bangun namun suaminya menarik tangannya hingga Ani terjatuh dipangkuan suaminya.


"Mas....jangan. kumohon jangan lakukan itu," ucap Ani ketakutan.


"Aku hanya ini melihat tubuhmu pagi ini," jawab Diaz.


Ani meronta namun Diaz tetap melakukannya dengan kasar. Diaz melepaskan semua baju yang menempel ditubuh istrinya.


Ani mulai pasrah karena dia sudah tak sanggup lagi melawan suaminya dengan tubuhnya yang masih lemah.


Diaz terus memompanya dengan kuat. Ani hanya mampu berbaring tak berdaya menahan sakitnya milik suaminya yang sudah mengeras. Air matanya menetes dengan sendirinya.


Diaz terus menyakiti tubuh Ani. Diaz berhenti ketika dia sudah puas menikmati tubuh istrinya.


Perut Ani mulai terasa kram. Ani tak kuat berdiri hingga dia terjatuh didepan kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2