Terpuruk Dalam Cinta

Terpuruk Dalam Cinta
Lelah


__ADS_3

Semalam Ani tak mengeluarkan suara, Dia tetap terdiam. Hatinya begitu sakit akibat ulah perkataan suaminya.


Dia meninggalkan suaminya sendirian di kamar. Ani menyibukkan diri dengan kegiatan barunya. Dia mencoba mendesain baju. Ani berharap hobi barunya juga bisa menghasilkan uang.


Semalaman Dia lembur untuk mengerjakan Daster pesanan Mbak Citra. Ani sengaja langsung mengerjakannya karena ini merupakan pesanan pertamanya.


Pagi ini Dia menyiapkan sarapan untuk Suaminya. Setelah selesai Ani melanjutkan lagi menjahit baju.


Dia melihat suaminya sudah bisa berjalan menggunakan kruk (tongkat ketiak, alat bantu jalannya). Diaz duduk di belakang Ani sambil menyalakan TV.


Ani sadar jika suaminya sekarang sedang memperhatikannya namun Ani terus sibuk dengan mesin jahitnya.


Suara TV semakin lama semakin keras, Diaz memang sengaja mengeraskan volumenya untuk membuat istrinya berbicara.


Ani beranjak pergi karena sudah tak tahan mendengar suara TV yang begitu berisik hingga mengganggu konsentrasinya. Ani berjalan ke dapur mengambil sarapan pagi untuk suaminya.


Ani menyodorkan sarapan serta susu di depan suaminya dan kembali lagi melanjutkan menjahit baju. Hingga beberapa lama makanan itu tidak dimakan suaminya.


Diaz akhirnya mengeluarkan suara kasarnya.


" Hei..... Bukankah Aku membayarmu untuk melayaniku," ucap Diaz


Ani masih diam tanpa sepatah katapun. Ah bodoh amat, mau makan atau tidak terserah, gumam Ani.


Diaz menyalahkan home theater nya begitu keras lalu mematikannya.dan menyalahkannya lagi, Dia mengulanginya hingga membuat Ani kesal.


Ani Mengehelah nafas panjang dan menghampiri suaminya dengan perasaan yang kesal.


Ani mengambil remote dan mematikan home theater itu. Dia mengangkat piring lalu menyuruh suaminya untuk membuka mulutnya.


Diaz tersenyum saat Ani menyuapinya. Ani melihat suaminya dengan tatapan yang begitu tajam dan kesalnya. sementara Diaz tersenyum sumringah.


"Kenapa kamu tersenyum Mas, senyummu sungguh menyakitkan," ucap Ani.


"Terserah Aku, ini rumahku," jawab Diaz.

__ADS_1


"Iyah Aku akan pergi setelah kamu sembuh dan jangan lupa ceraikan Aku."


"Wowww...... Enak sekali yah kamu bicara. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu."


"Apa kurang puas kamu menyiksaku Mas?"


"Berikan keturunan untukku, setelah itu terserah kamu."


Ani terdiam mendengar permintaan Suaminya. Dia beranjak dari kursinya dan lekas menuju ke kamar.


Air matanya masih menetes, Dia sadar jika Mbak Lia sulit memiliki keturunan karena rahimnya sudah diambil karena jatuh saat keguguran. Harapan suaminya saat ini adalah Ani.


Ani terus berpikir mengenai hal ini, Dia sangat takut jikalau harus memiliki anak bersama suaminya saat ini. Bagaimana dengan nasib anaknya jika harus punya Ayah yang begitu kasar.


Ani berganti baju dan bersiap menuju ke kantor untuk mengirimkan baju pesanan Mbak Citra. saat hendak mengambil motor, suaminya menatapnya dengan begitu tajam.


Ani juga hanya mamou menatap wajah suaminya dan enggan untuk berpamitan. Namun saat Ani menyalakan motornya Diaz berteriak sambil berjalan perlahan menggunakan kruk (tongkat)


"Hai Mau ke mana kamu?," ucap Diaz.


Ani sudah tak perduli, Dia melajukan motornya dengan begitu kencang. Dia terus berteriak dengan sangat keras


Sesampainya di kantor Ani memarkir motornya terlebih dulu. Dia berjalan dan menuju ke ruangan Mbak Citra tempat Dia bekerja dulu. Sejenak dia menenangkan hati dan pikirannya di ruangan Mbak Citra.


Semua yang mengenal Ani berharap Dia bisa bekerja lagi namun Ani hanya bisa tersenyum kepada mereka semua.


Hanya Mbak Citra yang bisa mengerti keadaannya saat ini. Dia teman satu-satunya yang tahu jika Bos dikantor ini adalah suaminya.


Dua jam berlalu akhirnya Ani memutuskan untuk kembali pulang namun saat sampai diparkiran, cuaca sudah sangat mendung disertai angin dan sedikit gerimis.


Astaga sesuai sekali dengan hatiku saat ini, gumam Ani.


Ani kembali menuju ke loby karena disana terdapat sebuah tempat duduk untuk tamu. Ani mulai memainkan handphone dan mendengarkan beberapa lagu. Namun tiba-tiba Dia sungguh kaget saat Agus dan Mbak Lia datang bersama.


Perlahan Ani mengikuti mereka berdua dari belakang. Tak lama ternyata mereka berdua menuju ke ruangan suaminya. Ani ingin sekali masuk dan mendengar percakapan mereka namun itu semua hal yang tak mungkin karena suaminya sudah memberi hak kepada Mbak Lia.

__ADS_1


Ani mencari Pak Rendy namun sekretaris suaminya berkata jika Pak Rendy ditugaskan selama satu minggu di Kalimantan. Dia semakin merasa bingung dengan kantor ini. Ani terus bertanya-tanya mengapa Agus saat ini bisa bersama Mbak Lia.


Karena rasa penasarannya Ani menunggu Agus untuk keluar dari ruangan suaminya itu. Perjuangannya tak sia-sia karena satu jam kemudian Agus keluar dari ruangan suaminya. Ani mengikutinya hingga ke parkiran mobil.


"Mas tunggu.....," ucap Ani sambil menarik tangan Agus dari belakang.


Agus menoleh dan tersenyum.


"Lo Ani, kamu sudah masuk kerja. Sudah beberapa hari Aku mencarimu namun tak kunjung ketemu," jawab Diaz.


"Apa yang kamu lakukan disini Mas. dan apa hubungan kamu dengan Mbak Lia?"


"Kamu harus sabar Ani. Sebentar lagi Aku bisa menikahimu. Mengapa perutmu sekarang rata. Mana Anakku?."


"Jawab pertanyaanku dulu. Sebenarnya apa rencanamu Mas?"


Agus menarik tangan Ani dan membawanya masuk ke dalam mobil. Ani terus bertanya-tanya namun tak satupun pertanyaan itu dijawab Agus. Sesampainya di kafe mereka berdua berhenti dan mulai mengobrol.


Ani terus mengajukan beberapa pertanyaan kepada Agus namun tak satupun dijawab. Agus terus menanyakan anak yang dikandung Ani.


Ani menghela nafas panjang dan mulai menjawab pertanyaan Agus. Dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini.


"Aku keguguran Mas, karena waktu itu Aku mengalami kecelakaan mobil bersama suami. Sekarang jawab pertanyaanku."


Agus yang mendengar jawaban dari Ani mulai sedikit emosi. namun Ani tetap bisa meredam amarah Agus.


Perlahan Agus menceritakan rencananya untuk bisa memiliki saham diperusahaan Diaz. Dia memang sengaja mendekati Mbak Lia agar bisa masuk diperusahaan suaminya. Sifat Agus kini berubah, dia sangat ingin sekali menghancurkna Diaz.


"Hentikan Mas. Sudah menikahlah dengan tunangan kamu saat ini," ucap Ani.


"Aku akan menikahinya jika kamu mau jadi istriku. tinggalkan Suami kamu saat ini. Sebentar lagi Aku bisa menghancurkan suamimu. Sebentar lagi Aku akan mengirimkan suamimu yang sombong itu kepenjara."


"Apa maksudmu Mas, kamu sudah gila. Hentikan Mas, ini bukan dirimu."


"Aku memang gila Ani. kamu tidak bahagia kan jadi tinggalkan saja Suamimu. Aku masih mencintai kamu kok. Aku akan membatalkan pernikahanku jika kamu mau kembali kepadaku."

__ADS_1


Ani sungguh tak menyangka jika Agus menyimpan dendam terhadap suaminya. Ani berdiri dan memutuskan meninggalkan Agus siang ini. Dia terhenti ketika hujan yang tak kunjung Redah.


Tiga puluh menit berlalu, hujanpun tak kunjung meredah hingga Ani memutuskan untuk tetap pulang meskipun hujan mulai mengguyur seluruh tubuhnya.


__ADS_2