
"Perkenalkan ini Agus, asisten saya," ucap Pak Alex.
Diaz tersenyum kecut, Dia mengangkat tangannya secara terpaksa.
Ani terlihat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Acara sudah dimulai, Para Bos duduk ditempatnya masing-masing. Sementara itu Diaz menarik istrinya untuk berpindah tempat duduk.
Sesekali Ani melirik ke arah tempat duduk Agus begitu pula Agus juga melakukan hal yang sama.
Setelah hampir 2 jam akhirnya acara selesai. Dias mulai mengobrol dengan teman-temannya. terlihat begitu bosan karena sedikitpun dia tak mengerti apa yang para laki-laki itu bicarakan.
"Mas, Aku ketoilet dulu," bisik Ani ditelinga suaminya.
Diaz menganggukkan kepalanya. Ani berjalan menuju ketoilet sendirian. Setelah keluar dari toilet, Ani terkaget karena sudah ada Agus yang menunggunya diluar.
"Hai, bisa kita bicara sebentar," ucap Agus.
"Sebentar saja Mas, saya Mau pulang," jawab Ani.
"Siapa laki-laki yang bersama kamu tadi. Mengapa temanku mengatakan jika kamu adalah pacarku?"
Ani terdiam sejenak, dia bingung harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Agus.
"Dia...... ehm.... pemilik perusahaan ditempatku bekerja. Selamat ya Mas, kamu sudah menemukan jodoh kamu?"
"Apa maksud kamu?"
"Kata Mbak Sulis kamu akan bertunangan."
"Aku tak tahu, hatiku seperti ada seseorang yang sedang menungguku. Aku selalu memikirkan kamu tapi aku tak tahu sebenarnya kamu siapa? Benarkah kamu calon istriku?"
"Iyah Mas, Pernahkah kamu mengingat kejadian dihotel waktu itu?," ucap Ani sambil mengelus-elus perutnya.
Belum sempat menjawab tiba-tiba Diaz datang menghampiri istrinya. tanpa banyak bicara Dias mendorong Agus dan memukulnya hingga Agus tersungkur dipojokan.
Ani berteriak dan mencoba menahan suaminya yang sudah mulai tak terkendali.
Ani menjerat suaminya dan mengajaknya pulang. sementara Agus terlihat hampir pingsan. Dia bersandar di tembok sambil memegangi kepalanya.
Agus menatap Ani dan mengulurkan tangannya seakan Dia meminta tolong dan menahan Ani agar dia tidak pergi.
Sesekali Ani menoleh ke belakang menatap Agus yang sedang kesakitan. Air mata Ani menetes melihat mantan kekasihnya jatuh tak berdaya.
__ADS_1
Ani terus menggandeng suaminya dan mengajaknya keluar dari ruangan itu. Sesampainya di parkiran hotel, Diaz melibaskan tangan istrinya dengan begitu kasar hingga membuat Ani terjatuh.
Diaz segera memasuki mobil dan mengegas mobilnya begitu keras. Ani masih duduk dilantai, sementara Diaz terus mengegas mobilnya dengan keras.
Karena tak kunjung memasuki mobil , Diaz menoleh dan menatap istrinya dengan begitu tajam seperti macan yang akan menerkam mangsanya.
Ani berdiri dan memasuki mobil suaminya. Diaz lalu menjalankan mobilnya dengan cepat. Ani sungguh sangat ketakutan dengan tingkah suaminya malam ini.
"Mas, tolong pelankan mobilnya," ucap Ani sambil menangis.
Diaz terus mengajukan mobilnya dengan kencang tanpa memperdulikan perasaan istrinya.
"Mas, kumohon hentikan. Aku takut Mas," ucap Ani sekali lagi.
Diaz tetap melaju semakin kencang dan disaat sampai di jalan yang sepi tiba-tiba Diaz menghentikan mobilnya secara mendadak hingga membuat kepala Ani kejedot dasboard mobilnya.
Auhhhhh...... sakit Mas.
Kepala Ani mulai terasa pusing, pandangannya mulai kabur. Diaz yang mengetahui istrinya akan pingsan akhirnya melajukan mobilnya lagi dan membawanya kesebuah hotel.
"Ayo cepat turun," ucap Diaz saat sampai di parkiran hotel.
"Kenapa kita kesini Mas, sebaiknya kita pulang saja," jawab Ani.
Diaz akhirnya memesan satu kamar untuk mereka. Sesampainya di kamar Diaz menelpon ke resepsionis untuk memesan kopi dan susu hangat. Sementara Ani merebahkan tubuhnya diatas kasur.
tok.... tok.... tok......
Diaz membuka pintu dan mengambil minuman pesanannya. Dengan perlahan dia mengeluarkan sebuah obat dari dalam sakunya dan memasukkannya kedalam susu hangat milik istrinya.
"Hai bangun, segera minum susu itu. lalu mandilah," ucap Diaz.
Tanpa menaruh curiga Ani meminum susu hangat yang dipesankan suaminya itu. Setelah itu Ani segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Sementara itu Diaz sedang rebahan sambil menonton TV. Mata Diaz tiba-tiba menatap begitu tajam ketika Ani baru keluar dari kamar mandi.
Ani mulai merasa jika suaminya akan menyatuhkan lagi miliknya.
"Mas, Aku tidur duluan ya. Kepalaku pusing, mataku sudah tak kuat lagi," ucap Ani.
Diaz hanya diam dan tetap menatap istrinya begitu tajam. Beberapa menit kemudian Diaz melepaskan bajunya dan mulai berada diatas Ani.
Perlahan Diaz mulai membuka rok Ani. Diaz mulai meraba-raba dan perlahan menyatukan miliknya.
__ADS_1
Ani yang masih dalam pengaruh tiba-tiba sadar. matanya terbuka namun hanya melihat samar-samar pria yang berada diatasnya. Ani merasa seperti mimpi namun Dia masih tetap bisa menolak. Tangannya yang lemah memegang milik suaminya dan mengeluarkannya.
"Mas, tolong jangan lakukan...... hentikan Mas," ucap Ani.
Ani sudah tak kuat lagi membuka mata. Dia hanya mampu sedikit menggeliat untuk menolak suaminya. Namun efek obat tidur yang terus merasuk membuat Ani semakin tidak sadar.
Kini suaminya dengan leluasa menyatuhkan miliknya. Diaz terus memompanya dengan begitu kuat.
Diaz memang sengaja memberikan obat tidur agar istrinya tidak menolaknya.
Diaz sengaja merencanakan ini dengan matang, karena semakin sering mereka berhubungan, semakin dekat dengan resiko keguguran.
Setelah puas, Diaz bergegas tidur disamping istrinya.
Keesokan paginya Ani terbangun lebih dulu. Perutnya terasa begitu sakit. Dia mulai berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Bagian pribadinya juga terasa begitu nyeri. Perlahan dia mulai melepaskan c***** d******* begitu banyak darah keluar. Ani mulai membersihkannya. Ani tidak sadar dengan apa yang terjadi semalam, Dia hanya merasa jika semalam hanya sebuah mimpi buruk yang dialaminya.
Setelah selesai mandi Ani menghampiri suaminya dan membangunkannya perlahan.
"Mas...... bangun mas...... apa kamu melakukan itu semalam?," ucap Ani.
"kamu ngomong apa sih, Aku tidak mengerti maksudmu,".
"Pagi ini milikku terasa begitu nyeri dan mengeluarkan banyak darah. Perutku juga terasa begitu sakit," jawab Ani.
"Aku tak tahu itu mungkin semalam kamu hanya mimpi saja."
ah mungkinkah aku memang sedang bermimpi tapi kenapa aku melihat seorang laki-laki yang sudah berada di atasku semalam, gumam Ani.
Diaz tersenyum melihat istrinya yang sedang kebingungan memikirkan kejadian semalam.
Sementara itu, Ani mengambil vitamin yang berada didalam tas kecil miliknya.
Ani kembali merebahkan tubuhnya karena dia sudah tak kuat menahan rasa sakitnya.
"Kenapa kamu tidur lagi. Hari ini kita harus masuk kerja. Aku ada meeting jam sembilan," ucap Diaz.
"Bolehkan Aku ijin tidak masuk hari ini Mas?"
"Tidak, kamu sudah terlalu lama tidak masuk kerja. Ayo cepat beriaplah".
Ani menarik nafas panjang dan segera berganti baju. Setelah selesai keduanya meninggalkan hotel. Selama perjalanan Ani hanya terdiam menahan rasa sakit dan merenungi nasibnya.
__ADS_1