
Semalam Ibu Ani terpaksa pulang diantarkan Randy karena Ayahnya terkena serangan jantung. Beruntung saudara Ani segera membawa Ayahnya kerumah sakit.
Pemandangan pagi ini membuat Ani merasa begitu kesal. Mbak Lia sibuk menyuapi suaminya dengan begitu mesra. memang sengaja melakukan itu di depan Ani. Sementara Ani sibuk dengan rasa sakitnya.
Sesekali Diaz memandang Ani penuh dengan rasa kasihan namun keadaan membuat Diaz tak bisa menjadi penenang bagi Ani.
Dokter memeriksa keadaan Diaz. Kaki Diaz masih terasa begitu sakit jika digerakkan.
Dokter menjelaskan jika proses penyembuhan kaki Diaz akan memakan proses yang lumayan lama. Selama proses penyembuhan Diaz akan menggunakan alat bantu jalan. Diaz harus benar-benar bed rest selama satu minggu ini. proses pemasangan mungkin akan memakan waktu sekitar 6 bulan tergantung kondisi tubuh setiap masing-masing orang.
"Jadi nanti kamu akan tinggal bersamaku atau Ani Mas?," ucap Mbak Lia.
"Aku akan tinggal dengan wanita yang mau merawatku. Apa kamu mau Lia?" jawab Diaz.
"Ya bolehlah Mas kan Aku istrimu."
Sementara Ani hanya diam saja mendengar sindiran suaminya itu. Ani tidak memperdulikan apapun perkataan mereka karena dia hanya sibuk merasakan sakit di perutnya.
Tepat jam 08.00 pagi dokter mulai datang memeriksa keadaan Ani. seselang dua jam kemudian seorang perawat membawa Ani pergi ke ruang operasi untuk melakukan ku******.
Ani menatap wajah Diaz. Dia ingin sekali berpamitan namun keberadaan Mbak Lia membuat dia mengurungkan niatnya.
Maafkan Aku Ani tidak bisa menemanimu, gumam Diaz saat melihat Ani dibawa seorang perawat menuju keruang operasi.
Sebenarnya Diaz juga bahagia karena akhirnya istrinya keguguran, itu memang hal yang diharapkannya selama ini.
Dua jam berlalu setelah proses ku******, Ani dibawa seorang perawat kembali ke kamarnya dalam keadaan masih belum sadar.
Ani tersadar saat malam hari. orang pertama yang dilihat saat membuka mata adalah suaminya. Ani menatap suaminya dengan sangat tajam, Dia masih merasa seperti mimpi.
Diaz tersenyum saat melihat istrinya mulai sadar. Sementara Ani masih merasa sedikit pusing.
__ADS_1
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu Mas. Sudah puas kan, akhirnya keinginan kamu terwujud. kini Aku benar-benar keguguran," ucap Ani.
"Aku memang senang karena itu memang bukan darah dagingku. itu yang selama ini Aku inginkan," jawab Diaz.
"Terserah kamu..... Aku menyerah Mas. Bahkan jika kamu menalakku malam ini. Aku akan begitu berterimakasih."
Wajah Diaz mulai memerah mendengar perkataan istrinya yang itu kasar. Namun dia enggan membalasnya karena kakinya masih terasa begitu nyeri.
Ani mencoba mengambil air minum dimeja samping ranjangnya. Tangannya begitu lemah dan tak mampu mengangkat gelas hingga membuat gelas itu terjatuh.
"Apa yang kamu lakukan Ani?" ucap Diaz.
"Aku haus Mas, tenggorokanku terasa begitu kering," Jawab Ani.
"Maafkan Aku, Kakiku masih tak bisa digerakkan. Coba kamu pencet tombol itu agar perawat datang."
"Dimana Mbak Lia, Mas. aku tidak melihatnya?"
"Tadi sore pamit beli makan namun hingga kini belum juga kembali."
Mungkin mbak Lia shopping. Ah sudahlah itu bukan urusanku, gumam Ani.
Seluruh tubuh Ani masih terasa begitu kaku dan masih tak bisa sedikit untuk digerakkan. Mereka kini sama-sama berada di rumah sakit.
Seorang perawat datang menghampiri Ani. Dia meminta tolong agar diambilkan minuman.
Ani kembali mencoba untuk beristirahat. Dia mulai memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat begitu lelah.
Namun baru sejenak tertidur, tiba-tiba Dia teringat dengan Ayahnya. Ani mencari handphonenya dan menanyakannya kepada suaminya.
Ani menemukannya dilaci meja dan mencoba menghubungi Ibunya. Ibunya menjelaskan jika Ayahnya masih dalam keadaan stabil dan hanya perlu perawatan saja dirumah sakit.
__ADS_1
Ani terus bertanya kepada ibunya seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya barusan. Dan benar saja Ibunya memang sedang berbohong kepada Ani. Ayah Ani kini terbaring lemah dan kritis di rumah sakit yang sama dengan Ani.
Ani mencoba percaya dengan perkataan ibunya malam ini.
Setelah menutup teleponnya Ani mulai membuka status Mbak Sulis yang berada dibagian paling atas.
Ani meneteskan air matanya saat melihat sebuah foto pertunangan mantan pacarnya bersama seorang wanita cantik.
Harusnya dulu aku yang disana Mas. Kenapa harus sekarang Mas, hari ini aku kehilangan calon bayiku namun di saat yang bersamaan aku melihatmu bertunangan dengan wanita lain, Ani terus bermonolog dengan dirinya.
"Kenapa kamu menangis Ani," ucap Diaz.
"Tidak apa-apa, hanya tubuhku terasa begitu lelah," jawab Ani.
Diaz tersenyum.....
"Masih juga kamu berpura-pura. Bukankah pacarmu yang bodoh itu hari ini bertunangan. Hanya segitu usahanya tak sebanding dengan tangisanmu,"
"Darimana kamu tahu Mas."
"Pak Alex juga hadir disana dan fotonya dishare distatusnya."
Astaga bodoh sekali, kenapa Aku tak berpikir sejauh itu, gumam Ani.
Ani mencoba memalingkan wajahnya dari pandangan suaminya namun tak lama seseorang terdengar mengetok pintu kamar ini.
Diaz menyuruhnya masuk, dan ternyata mbak Lia yang datang. Ani mencoba untuk tidur dan tak memperdulikan kedatangan istri pertama suaminya itu.
Perlahan pertengkaran dimulai, Diaz sangat marah kepada Mbak Lia karena pergi begitu lama dan pulang tanpa membawa makanan apapun.
Ani melirik jam di handphonenya terlihat sudah jam sembilan malam. Diaz menyiramkan air minum pada tubuh mbak Lia hingga membuatnya basah kuyup.
__ADS_1
Lia mulai terbawa emosi dan marah. Sejenak Lia keluar dari kamar meninggalkan Diaz dan Ani.
Mbak Lia memang salah, kenapa dia harus pulang jam segini, gumam Ani.