Terpuruk Dalam Cinta

Terpuruk Dalam Cinta
Kepergian Ayah Ani


__ADS_3

Setelah Sempat dirawat sehari dirumah sakit, Akhirnya siang ini Ayah Ani meninggal dunia. Ani begitu terpukul dengan kepergian Ayahnya. Dia merasa pengorbanannya selama ini begitu sia-sia.


Ani mencoba menghubungi suaminya. Namun handphonenya sedang sibuk. Ani mencobanya beberapa kali akhirnya diangkat juga.


"Mas, Ayah meninggal. Aku akan mengurus semua. Aku akan tinggal dirumah Ibu sementara," ucap Ani sambil menangis.


"Astaga..... Aku akan kesana. Biar semua Randy yang mengurusnya," jawab Diaz.


Jika Ayahnya Ani meninggal tak ada lagi alasan untuk Ani tetap bersamaku, gumam Diaz.


Sore ini jenazah Ayah Ani akan dimakamkan di daerah asalnya. Ani dan dan ibunya sangat terpukul dengan kepergian ayahnya.


Sesampainya dirumah duka, Jenazah langsung dimandikan dan segera dimakamkan. Diaz sudah berada dirumah Ani bersama Randy.


Pelayat dari tetangga serta teman-teman Ani mulai berdatangan.


Terlihat mobil merah yang menjemput Ani kemarin juga ikut datang. Diaz yang mengetahuinya menyuruh Randy untuk melihat pemiliknya dari dekat.


Diaz menatap tajam pemilik mobil itu hingga akhirnya dia sadar jika pemiliknya adalah Agus mantan pacar Ani.


Dengan emosi Diaz berjalan dengan menggunakan tongkatnya menuju ke Agus. Agus menghentikan langkahnya saat mengetahui Diaz menghampirinya dia tidak mau membuat suasana semakin buruk di saat Ani sedang berduka.


Agus tersenyum kepada Diaz seakan ingin memberikan kode jika jangan sampai membuat kegaduhan di rumah duka. Namun dengan emosi Diaz langsung mendorong Agus. Randy mulai melerai mereka tapi Bosnya tetap bersihkuku untuk menyerang Agus.


"Kamu akan menyesal sudah merebut semua dariku," ucap Agus.


"Apa maksudmu, bukankah kamu yang telah mengganggu istriku, cepat pergi dari sini," jawab Diaz.


"Kamu ingat mobil putih yang terparkir dirumahmu, bukankah pernah kamu gunakan untuk mencelakai Aku."


Ah sial kenapa Dia bisa tahu, Aku harus segera menyingkirkan mobil itu, gumam Diaz.


Sejenak Diaz terdiam memikirkan perkataan Agus. Namun perkataan Agus semakin menambah emosi. Ani yang mengetahui kegaduhan di samping rumahnya, akhirnya datang melerai para lelaki yang mencintainya.


"Sudah cukup, jika kalian hanya ribut disini cepat pergilah," ucap Ani.


"Maaf Ani, suamimu ini yang memulai," jawab Agus.


"Diam kamu," jawab Randy.


Ani kembali masuk karena jenasah akan segera dimakamkan. Diaz menatap wajah Agus dengan tajam, meskipun Agus sudah tak memperdulikannya.

__ADS_1


Setelah proses pemakaman selesai Ani dan keluarganya mulai kembali kerumahnya. Diaz dan Agus masih terlihat di rumah Ani.


Ani menghampiri suaminya dan menyuruhnya untuk istirahat di kamarnya. Sementara Agus masih ingin tetap membantu Ani menerima tamu.


Ani menuntun suaminya masuk ke dalam kamar. Saat Ani hendak keluar Diaz memanggilnya kembali.


"Aku akan menginap disini, dikamarmunyang jelek ini," ucap Diaz.


"Sebaiknya kamu pulang saja kerumah Mbak Lia Mas. Mungkin aku akan sibuk beberapa hari kedepan. Masih ada tamu, Aku tak mungkin meninggalkan ibu sendirian," jawab Ani.


"Bukankah, masih ada adikmu."


"Sudahlah Mas, Aku tak ingin berdebat denganmu. Aku akan menjalankan tugasku setelah tujuh hari kepergian Ayah."


"Aku akan pulang nanti malam tapi jika kamu mau memberikan Aku keturunan."


Ani terdiam sesaat dan menghela nafas panjang.


"Adakah permintaan selain itu Mas?. Kakimu juga masih sakit. Kita juga masih punya kesempatan kan?."


"Tidak. Aku hanya menginginkan itu. Kaki memang sakit tapi milikku tidak. Lupakan perjanjian bodoh itu, Aku janji jika kamu hamil, Aku tidak akan kasar lagi. Semua minuman dirumah akan aku buang."


"Akan Aku pikirkan Mas."


Ani menyuruh Randy untuk menjemput suaminya nanti malam. Sementara itu Ani juga menyuruh Agus untuk pulang.


Agus mencoba mengajak Ani berbicara meskipun suasananya tidak tepat. Namun Ani menolaknya dan enggan membahas itu saat ini.


Hingga malam hari tamu di rumah Ani masih banyak. Ibunya mulai terlihat kelelahan, wajahnya masih terlihat begitu sedih namun ibu mencoba untuk tetap tegar meskipun sesekali terlihat air matanya yang masih menetes.


Terlihat saat jam delapan malam Randy kembali datang untuk menjemputnya suaminya. Ani menghampiri suaminya dikamar namun Diaz enggan beranjak pulang.


"Mas..... Randy sudah didepan, kamu pulanglah kerumah Mbak Lia," ucap Ani.


"Tidak, Aku akan menginap disini," jawab Agus.


"Jika kamu menginap disini. kamu harus menginap terus selama tujuh hari kedepan. Itu kata orang disini."


"Apa..... aturan apa itu? Tapi berjanjilah jika kamu akan menuruti permintaanku tadi siang."


Ani menghela nafas panjang. Suaminya benar-benar tak ingin melepaskan Ani. Diaz ingin mengikat Ani agar tak meninggalkannya.

__ADS_1


"Jawablah Ani," ucap Diaz sekali lagi.


"Iyah, Aku akan memikirkannya," jawab Ani.


"Aku hanya menerima jawaban (Iyah), aku tak suka penolakan."


Diaz akhirnya pulang setelah Ani menjawab (Iyah). Diaz tersenyum saat mendengar jawaban itu namun Ani masih terlihat bingung, apa yang akan dilakukannya nanti.


Saat dalam perjalanan pulang menuju kerumah Lia. Diaz menyuruh Randy untuk menyingkirkan mobil putih itu.


Perlahan Randy menceritakan jika pernah melihat Agus dikantor bersama Lia. Namun Randy tak melanjutkan penyelidikannya karena waktu itu Randy hendak meeting diluar.


Diaz masih tak percaya namun Dia tetap menyuruh Randy untuk menyelidiki hal itu.


Sesampainya dirumah, Lia sungguh kaget melihat kedatangan suaminya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu," ucap Diaz.


"Nggak apa-apa Mas, tumben saja kamu pulang kesini," jawab Lia


"Ini kan rumahku juga, jadi kapan saja Aku bisa pulang kan."


Lia tersenyum terpaksa, Dia sebenarnya enggan mengurus Suaminya yang sakit saat ini.


Diaz menyuruh Randy pulang dan segera beristirahat dikamarnya. Diaz merebahkan tubuhnya dikamar namun Lia tak kunjung menghampirinya.


Diaz mulai berteriak memanggil istrinya. Dia meminta Lia untuk membuatkan susu.


Setelah selesai, Diaz menyuruh Lia untuk tidur bersamanya. Lia sempat menolak namun akhirnya menyerah juga.


Diaz menikmati susunya sambil menonton TV. Lia terlihat tak nyaman dengan suaminya saat ini. Diaz menatap Lia yang mulai salah tingkah.


"Kamu kenapa?. oh ya.... mulai besok kamu tak usah ke kantor, biar semua diurus sama Randy," ucap Diaz.


"Tapi Mas, Aku bosan dirumah. Aku sudah mulai nyaman bekerja disana," jawab Ani.


"Layani saja Aku. Nanti Aku juga akan membayarmu. Sudah jangan membantahku. tidurlah."


Astaga jika Aku tidak ke kantor, semua rencanaku akan gagal. Randy pasti akan memberitahu Mas Diaz, gumam Lia.


Diaz masih terjaga, Dia tak bisa tidur karena memikirkan cara agar Ani tak terlepas dari tangannya. Tiba-tiba Dia teringat perkataan Agus tadi sore.

__ADS_1


Ah... tidak.... tidak.... waktu itu tidak ada orang, jalanan sepi jadi tidak mungkin ada saksi, gumam Diaz.


__ADS_2