
Keesokan harinya Ani belum juga sadar. Hingga membuat dia tidak masuk kerja. Suaminya sudah berangkat kerja lebih dulu namun Ani masih tertidur pulas.
Ani terbangun jam sebelas siang. Perutnya tiba-tiba merasa sangat sakit sekali. Ani mencoba menelpon suaminya dikantor.
Setelah berkali-kali menghubungi akhirnya diangkat juga.
"Hallo..... Mas, perutku sungguh sangat sakit. Tolong antarkan aku kerumah sakit", ucap Ani
"Iyah tunggu, Aku pulang sekarang", Jawab Diaz.
Ani sudah tak kuat lagi menahan rasa sakitnya hingga akhirnya Dia pingsan dikamar.
Sesampainya dirumah, Diaz sudah melihat Ani sudah tergeletak dilantai kamarnya. Diaz menggendongnya dan segera bergegas membawa istrinya kerumah sakit.
Dokter kandungan memeriksa Ani dengan sigap. Mereka segera mengecek kandungan dan ibunya.
Namun Diaz sungguh sangat kaget ketika mendengarkan perkataan dokter.
"Janinnya masih bisa diselamatkan namun kita lihat beberapa Minggu kedepan jika masih tidak berkembang terpaksa harus dikur****. Usia kehamilan tiga bulan memang masih rentan keguguran. jangan sering-sering berhubungan dan hindari minuman beralkohol", ucap Dokter.
"Apa dok? tiga bulan. apa tidak salah?", tanya Diaz.
"Tidak Pak, ini bisa dilihat kan dilayar".
Diaz mencoba menahan amarahnya saat mengetahui istrinya hamil tiga bulan. sementara pernikahan mereka hampir menginjak dua minggu.
Diaz menjaga Ani yang masih belum sadar diruang perawatan. Diaz memutuskan untuk mencari kopi karena dia sudah merasa tak kuat lagi menahan emosinya.
Setelah kembali ke kamar, Ani tersenyum namun wajah Diaz sudah memerah dan sangat marah.
Prakkkkkkk......
Sebuah tamparan mendarat keras dipipi kanan Ani.
"Kamu kenapa sih Mas? salahku apa lagi?," ucap Ani.
"Kenapa Kamu bilang?. siapa yang menyentuhmu sebelum Aku," tanya Diaz.
"Maksud kamu apa Mas?."
"Kita menikah hampir dua minggu tapi kenapa kamu sudah hamil tiga bulan. Anak siapa sebenarnya yang kamu kandung itu."
Ani kaget mendengar perkataan suaminya.
Astaga darimana Mas Diaz tahu jika aku sudah hamil tiga bulan, gumam Ani.
"Kenapa kamu Diam, cepat katakan. Apa mantan pacar kamu yang tak berguna itu," ucap Diaz dengan kasar.
Ani masih terdiam, dia hanya menundukkan kepalanya. Namun sikap Ani membuat Diaz semakin marah.
Plaaaaakkkkkk.........
__ADS_1
Sebuah tamparan sekali lagi mendarat di pipi kanan Ani.
"Kenapa tidak kamu bunuh saja aku Mas, daripada kamu menyiksa tubuh dan batinku," ucap Ani.
"Menyesal Aku Menikah dengan perempuan menjijikan seperti kamu. Wajah cantikmu hanya topeng. Kelakuan kamu busuk."
"Ya sudah ceraikan saja aku sekarang Mas. Jangan pernah menghinaku, lihatlah dirimu sendiri. Bukankah mbak Lia dulu juga hamil diluar nikah Mas. Apa karena mabuk kamu menyentuh mbak Lia."
"Diam Kamu."
Plaaaaakkkkkkkkk........
"Bunuh saja Aku Mas."
Ani berdiri dan menarik tubuh Suaminya. Diaz mencoba melepaskan tangan Ani hingga membuat Ani terjatuh dilantai.
Ani menangis menjerit namun Diaz tetap pergi meninggalkan Ani sendirian dikamar perawatan.
karena mendengar suara tangisan, seorang perawat rumah sakit datang melihat kondisi Ani.
"Bu, kenapa? apa ada yang ibu keluhkan?," ucap Seorang perawat.
"Tidak sus, tolong bantu saya bangun."
Perawat rumah sakit membantu Ani untuk kembali berbaring ke tempat tidurnya.
"Bu, jika membutuhkan sesuatu silahkan pencet tombol ini yah".
"Rumah sakit Dahlia Bu. untuk pulang nunggu persetujuan dokter ya Bu. keadaan ibu juga masih lemas. Jika melihat kondisi ibu, kemungkinan Besok atau lusa".
"Baik Sus, terima kasih sudah dibantu."
Ani Kini berada di rumah sakit dia hanya mampu menatap langit-langit kamar dan menonton acara TV yang ada di depannya. Malam ini Ani benar-benar merasa sendiri.
Suasana rumah sakit yang begitu sepi dan sunyi membuat Ani sedikit takut kami hanya mampu menerima keadaan saat ini karena semua handphone dan dompetnya tertinggal di rumah.
Ani teringat Ayahnya yang kemaren dirawat dirumah sakit ini. namun Dia takut jika harus menemui mereka dengan keadaannya saat ini.
Ani juga tak mampu menempati janjinya untuk menemui Agus dirumah sakit. Tubuhnya yang lemah membuat Ani tak mampu untuk berdiri lama.
Sementara itu, Diaz malam ini menghabiskan waktunya di sebuah club' malam. Dia minum hingga ma**k. Pegawai club' yang mengenal baik Diaz, akhirnya menelpon Lia agar menjemputnya.
Selang dua jam, Lia yang baru saja pulang dari liburan. Langsung datang menjemput Diaz yang sudah berbicara tak karuan.
Lia mengajaknya pulang kerumahnya. Diaz kini benar-benar lupa dengan Ani yang masih lemas dirumah sakit.
"Ani..... Ani..... kamu memang tak tahu diri," ucap Diaz saat mengigau.
"Sudahlah Mas, kamu tidur saja. menyusahkan saja kamu. Aku tidur dikamar sebelah," jawab Lia.
Keesokan hari Lia membangunkan Diaz namun Suaminya masih tertidur lelap. Lia akhirnya membiarkan suaminya tidur.
__ADS_1
Hingga siang hari Diaz terbangun dengan sendirinya. Dia duduk di meja makan sambil menikmati kopi buatan isterinya.
Sementara itu Lia menuliskan sebuah pesan dimeja makan.
"Mas, Aku pergi dulu sama teman-teman. Semua sudah kusiapkan. Love you."
Ah punya dua istri, tak ada satupun yang peduli denganku, teriak Diaz.
Diaz tiba-tiba teringat dengan Ani yang masih berada dirumah sakit. Setelah berpikir panjang Diaz akhirnya menyuruh asistennya untuk datang dan membayar biaya rumah sakit istri keduanya.
...***********...
Ani masih berada dirumah sakit sendirian. Setelah bertemu dokter Ani masih harus menginap sehari lagi dirumah sakit untuk menstabilkan kondisi tubuhnya.
tok....tok.... tok......
"Masuk saja," ucap Ani.
Ani tertegun sesaat. seorang pria tinggi dan sangat tampan datang menghampirinya.
"Siapa yah?" tanya Ani.
"Permisi Bu, Saya asistennya Pak Diaz. Saya disini untuk membayar biaya rumah sakit dan menjemput Ibu."
"Tapi, kata dokter saya harus menginap sehari lagi disini."
"Iyah Bu, besok pagi saya akan kesini lagi untuk menjemput Ibu. Apa ibu menginginkan sesuatu lagi sebelum saya kembali ke kantor?"
"Tolong pinjamkan kursi roda dan antarkan saya ke ruang mawar sebentar. Saya ingin menemui orang tua saya."
"Baik Bu, tunggu sebentar."
Setelah menunggu beberapa saat, asisten suaminya datang dan membantu Ani untuk menemui orang tuanya. Namun setibanya di ruangan Mawar ternyata kedua orang tuanya sudah pulang kemaren.
Ani menyuruh asisten suaminya untuk mengantarkannya lagi ke sebuah taman dirumah sakit.
"Sudah tinggalkan saja saya disini. Terimakasih atas bantuannya," ucap Ani.
"Tapi Bu. nanti bagaimana ibu akan kembali ke kamar?"
"Nanti saya akan kembali sendiri. tinggalkan saja. Saya bosan dikamar. Saya bisa balik sendiri kok."
"Baik Bu saya permisi dulu."
Ani menganggukkan kepalanya tanpa menoleh kebelakang.
Ani terkejut ketika Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundak Ani.
"Sudahlah Pak, jangan ganggu saya. Biarkan saya disini," ucap Ani.
"Akhirnya kamu datang juga."
__ADS_1
Ani menoleh dan tersenyum ketika mendengar suara yang tak asing baginya.