
Proses evakuasi mobil berjalan cukup lama karena Medan yang cukup sulit.
Beruntung Rendy yang sudah dibawa ke rumah sakit terlebih dulu karena begitu banyak darah yang keluar dari kepalanya. Sementara Diaz entah kemana, polisi tidak melakukan pencarian korban lagi karena dianggap mobil itu hanya berpengemudi satu orang saja.
Beberapa jam perawatan dirumah sakit Rendy masih tak sadarkan diri. Luka dikepala Rendy cukup parah namun tak sampai gegar otak.
Randy masih dalam perawatan intensif diruangan HCU. Saat tengah malam Rendy mulai tersadar namun Dia masih terbaring lemah dikamar rumah sakit. Rendy akhirnya dipindahkan keruang perawatan. Rendy juga masih tak mencari keberadaan bosnya karena masih dalam masa pemulihan.
Keesokan paginya, beberapa polisi mendatangi Rendy dikamar rumah sakit untuk dimintai keterangan. Rendy yang mulai sadar akhirnya mampu menjawab beberapa pertanyaan dari polisi. Namun polisi kaget ketika Rendy menjelaskan jika dia bersama seseorang waktu kecelakaan itu terjadi. Dia juga menjelaskan jika dia ditabrak oleh truck pengangkut kelapa sawit.
Rendy meminta bantuan polisi untuk menemukan bosnya. Polisi akhirnya mengerahkan timnya berserta tim SAR untuk pencarian Diaz.
Tim SAR berusaha menyusuri sungai karena mereka menganggap Diaz terjebur ke sungai saat kecelakaan karena saat ditemukan mobil dalam kondisi terbuka.
Hingga sore hari pencarian tidak menemukan hasil. Hingga akhirnya tim SAR dan polisi memutuskan mengakhiri untuk pencarian hari ini.
Rendy mencoba mencari handphonenya namun perawat rumah sakit tak mengetahui keberadaannya. Rendy meminta tolong kepada pihak rumah sakit untuk mencarikan handphonenya agar bisa menghubungi keluarganya.
Dan benar pihak kepolisian menemukan sebuah handphone dilokasi kejadian.
Saat malam hari polisi kembali datang untuk meminta keterangan lagi kepada Rendy dan mengembalikan sebuah handphone dan dompet.
"Pak, mana handphone saya?" ucap Rendy.
"Kami hanya menemukan dompet dan handphone ini di dalam mobil bagian bawah," jawab Polisi.
Kenapa handphone yang ku taruh disaku malah tidak ada, gumam Rendy.
"Kami akan menyelidikinya lagi pak," ucap pak polisi.
"Tolong cari bos saya Pak, kasihan istrinya sedang hamil," jawab Rendy.
Setelah polisi pergi, Rendy mencoba untuk memejamkan matanya. tubuhnya terasa begitu sakit semua. Namun saat tertidur Rendy malah bermimpi tentang Ani.
__ADS_1
Rendy terbangun dan mencoba mengotak-atik handphone Bosnya agar bisa membuka passwordnya.
Sementara itu saat ini Diaz berada disebuah rumah. Kakinya yang dulu pernah patah, kini terulang lagi. Kakinya kembali patah dan beberapa luka dibagian tubuhnya.
Tubuhnya begitu lemah karena tidak mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Sesekali Diaz sadar namun pandangannya tidak begitu jelas. Dia hanya mampu menatap sekelilingnya. Rasa sakitnya sungguh tidak bisa ditahan hingga membuat Diaz tak sadarkan diri lagi.
Keesokan paginya Diaz kembali tersadar, beberapa luka ditubunya sudah mendapatkan perawatan namun kakinya yang patah terasa begitu sakit untuk digerakkan.
Diaz memandang sekelilingnya, dia kaget karena berada disebuah kamar yang sangat asing baginya.
"Dimana Aku, mengapa Aku tak dirumah sakit atua dirumahku sendiri," gumam Diaz.
Auuhhhhhhh........ ahhhhhhhhh.....,
teriak Diaz sungguh kencang hingga membuat beberapa orang laki-laki bertubuh kekar masuk kedalam kamar. Diaz sungguh kaget melihat kedatangan mereka.
"Siapa kalian?" ucap Diaz.
Mereka segera pergi dan mengunci pintunya dari luar. Diaz terus berteriak menanyakan siapa mereka sebenarnya.
Diaz mencoba berdiri namun kakinya sungguh terasa begitu sakit hingga membuatnya terjatuh kembali.
Siapa mereka sebenarnya, Apa kecelakaan ini sudah direncanakan. Dimana Rendy. Ah...... sial. Diaz terus bermonolog dengan dirinya.
Diaz mencari handphonenya disaku celana dan jasnya namun dia tak menemukan apapun. Dia baru ingat jika dia membanting handphonenya sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia hanya menemukan beberapa lembar uang di sakunya. bahkan dompetnya juga hilang entah kemana.
Diaz melamun sambil sesekali meratapi rasa sakit disekujur tubuhnya.
"Aku harus bisa keluar dari sini. Perceraian itu harus segera dibatalkan. Ani tak boleh pergi, Aku tak mau kehilangan calon anakku," gumam Diaz.
Diaz kembali mencoba berdiri meskipun harus menahan rasa sakit dikakinya. Dia berjalan dengan menyeret kakinya yang sangat sakit jika digerakkan.
__ADS_1
Diaz mencoba membuka tralis jendela kamar itu namun sungguh sangat susah. Diaz hanya bisa membuka jendelanya. Dia memandang suasana diluar namun rumah ini dipenuhi dengan pagar dan terlihat banyak pepohonan lebat diluarya.
Semangat Diaz kembali melemah, Dia tak mungkin bisa keluar dari sini. Dia kembali menuju tempat tidurnya dan berpikir untuk bisa kabur. Perutnya kini mulai terasa lapar, beruntung masih ada roti dan air dimeja samping tempat tidurnya.
Diaz kembali merebahkan tubuhnya dikasur. Suhu tubuhnya mulai naik. Diaz mengalami demam.
Semakin malam suhu udara yang masuk dari jendela semakin dingin membuat Diaz kesakitan. Dia tak mampu berjalan lagi untuk menutup jendela kamarnya. Demamnya kini semakin tinggi, Diaz menggigil hebat.
"Ani..... Ani...... tunggu aku, jaga anakku," ucap Diaz yang mulai melantur.
Tak lama pria bertubuh besar membuka kamar Diaz.
"Hai Diam..... jangan berisik. Tet, periksa keadaannya," ucap pria itu kepada anak buahnya.
Diaz hanya diam saja, tubuhnya begitu panas. Dia mulai pasrah dengan keadaan karena tubuhnya sudah tak mampu untuk bangkit.
"Bos.... badannya sangat panas Bos. gimana ini?"
Pria besar itu akhirnya menelpon atasannya, Diaz masih mampu mendengar suara pria besar itu berbicara dengan anak buahnya.
Tak lama pria besar itu menghampiri Diaz dan membawa sebuah sapu tangan yang didekapkan ke hidung Diaz. Diaz akhirnya pingsan seketika.
Tak lama terlihat seorang dokter yang memeriksa keadaan Diaz. Dokter itu menyarankan agar Diaz segera dibawah kerumah sakit karena kondisinya sudah lemas.
Sebenarnya dokter mulai curiga dengan beberapa orang yang bertubuh kekar itu. Dokter akhirnya memberikan infus kepada Diaz untuk menyelamatkan nyawanya.
Dokter memberikan beberapa obat dan segera pergi karena dia juga merasa takut dengan beberapa pria bertubuh kekar itu.
Diaz mulai sedikit sadar saat beberapa pria dan wanita sedang ramai berdebat. Diaz sedikit membuka matanya namun terlihat samar-samar. Dia merasa seperti mengenal mereka. kepalanya masih terasa begitu pusing. Diaz berusaha untuk mulai bangun namun pria dan wanita itu tiba-tiba pergi.
Ahhhh...... Auhhhh....... teriak Diaz.
Pusing sekali kepalaku....... Siapa sebenarnya mereka. kenapa mereka menyekapku disini, gumam Diaz.
__ADS_1
Diaz menatap tangannya yang sudah tertancap dengan jarum infus. Dia masih bertanya-tanya dengan orang yang menyekapnya saat ini.
kenapa mereka tak membiarkan Aku mati, lalu apa tujuan mereka menyekapku. Ah sudahlah Aku harus memulihkan tubuhku agar aku bisa kabur dari sini. gumam Diaz.