
Sore ini Ani pulang dalam keadaan basah kuyup. Dia memasuki rumah dan membersihkan dirinya. Tubuhnya sudah mulai membiru akibat kehujanan.
Diaz yang mengetahui kedatangan Ani, segera menghampirinya. Dia menatap Ani dengan penuh rasa kasihan.
"Kenapa kamu tidak naik taksi saja," ucap Diaz.
"Aku kan bawa motor Mas," jawab Ani.
"Tinggalkan saja, nanti kubelikan sepuluh jika kamu mau."
"Ihssss..... yang benar saja."
"Sudah sana siapkan makan untukku."
"Tapi Mas, kepalaku pusing."
"Cepat jangan menolakku, itu kan tugasmu."
Ani menghela nafas panjang dan segera pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan yang dibuatnya tadi pagi dan juga membuat susu hangat untuk dirinya dan suaminya.
Setelah selesai Ani mengajak suaminya untuk ke tempat makan. namun suaminya enggan makan jika tak disuapin Ani.
Ani mulai menyuapi suaminya dan sesekali Dia meminum susu hangat itu. Setelah tugasnya selesai Ani segera berjalan kembali menuju ke kamar. Namun suaminya berteriak menyuruh Ani untuk mencuci piringnya. Ani melanjutkan langkahnya pergi kekamar meskipun suaminya terus saja berteriak.
Ani mulai menarik selimut dan mematikan AC di kamarnya. tak lama suaminya mengikuti dan menyalahkan Ac-nya. Ani terlihat semakin kedinginan namun Diaz tidak memperdulikannya.
"Mas bisakah kamu matikan Ac-nya aku sungguh kedinginan saat ini," ucap Ani.
"Tidak suhu udara begitu panas kamu ndak lihat keringatku sudah keluar dari tadi. kamu kan bisa tidur di kamar tamu," jawab Diaz.
Ani berdiri dan membawa selimutnya, Dia enggan sekali bertengkar dengan suaminya saat ini.
Ani merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, dia sudah tak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Tubuhnya mulai menggigil, suhu tubuhnya sangat panas. Dia sudah tak sanggup lagi menggambil obat.
Semakin malam Ani merasa suhu udara di rumahnya semakin dingin. Ani mulai membuka mata sedikit ketika seseorang mengajaknya berbicara namun dia tak mampu untuk menjawabnya. Ani merasa seperti mimpi.
Sementara itu Diaz tiba-tiba datang menghampiri istrinya. Sebenarnya Dia hendak menyuruh Ani namun ketika Dia melihat tubuh Ani pucat, Diaz mulai panik. Dia memegang Dahi istrinya yang panas. Diaz berjalan perlahan mengambil obat diruang tengah.
"Ani..... Ani ...... ayo bangun, minum obat dulu dan pindah ke kamar saja," ucap Diaz.
Ani hanya mampu membuka matanya sedikit saja. Dia sungguh tak kuat berkata-kata.
Diaz mengangkat kepalanya dan menyuruh Ani membuka mulutnya untuk meminum obat.
Diaz menyelimuti Ani kembali dan mengambil washlap untuk mengompres dahi Ani. Kini Diaz salah tingkah, dia tak tahu harus berbuat apa. kakinya yang sakit membuat dia tak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
Diaz mencoba menelpon Randy namun ternyata Randy masih berada di Kalimantan.
Diaz mengambil bantal dan selimut dan ikut tidur disofa bersama Ani.
Keesokan paginya Ani bangun terlebih dulu. Dia mengambil washlap yang menempel di dahinya. Ani melihat pemandangan yang jarang terjadi. Ani tersenyum karena suaminya ikut tidur bersamanya disofa.
Suhu tubuh Ani sudah mulai turun namun kepalanya masih sedikit pusing. Perlahan dia berdiri dan membangunkan Suaminya.
Diaz terbangun dan sedikit kaget karena kini Ani sedang berada dihadapannya. Diaz spontan memegang dahi Ani.
"Apa sih Mas. Kamu ngapain ikut tidur disofa?," ucap Ani.
"Tidak enak aja sendirian dikamar," jawab Diaz.
Ani tersenyum melihat suaminya yang sedang mencari-cari alasan.
Melihat Ani terus tersenyum, Diaz akhirnya beranjak berdiri dan bergegas mandi.
"Mas, mau ku mandikan?," teriak Ani.
"Tidak usah, Aku bisa sendiri," jawab Diaz.
Ani mengambil handphone dan memesan beberapa makanan untuk sarapan pagi.
Tiba-tiba mata Ani tertuju pada mobil hitam yang kemarin dia lihat saat pulang kerumahnya. Namun kini mobil hitam itu sudah berpindah tempat.
Ani masuk dan menyiapkan makanan yang dipesannya. Dia mulai memanggil suaminya untuk sarapan pagi.
Diaz berjalan perlahan menuju ke meja makan.
"Cepat sekali kamu masak?," ucap Diaz.
"Aku pesan kok Mas. Kepalaku masih terasa pusing jadi malas sekali untuk memasak," jawab Ani.
Tiba-tiba Ani teringat tentang kejadian di kantor kemarin. Ani ingin sekali menanyakan tapi dia takut kepada suaminya.
Perlahan saat suaminya mulai asyik makan, Ani mulai menanyakan sedikit demi sedikit.
"Mas, waktu mbak Lia datang apa yang kamu lakukan?," ucap Ani.
"Maksudmu apa bertanya seperti itu," jawab Diaz dengan nada tinggi.
Astaga kenapa Aku bisa salah ngomong, waktu itu kan mereka sedang asyik menyatuhkan miliknya, gumam Ani.
Sejenak Ani terdiam, dia menunggu celah agar suaminya tidak marah lagi.
__ADS_1
"Mas, waktu kamu menandatangani berkas yang dibawa mbak Lia. Apa kamu membacanya terlebih dulu?" ucap Ani.
Sejenak Diaz terdiam, karena waktu itu Dia memang tidak membacanya dan langsung menandatanganinya.
"Mas, hai..... kenapa kamu malah melamun," ucap Ani.
"Sudahlah jangan bahas itu. Nikmati saja sarapan ini," jawab Diaz.
"Tapi Mas, perusahaanmu sekarang sedang tidak baik-baik saja."
"Ah sudahlah, itu biar kupikirkan nanti. Aku akan menelpon Randy."
Mereka melanjutkan sarapan paginya. Setelah selesai Ani langsung membereskannya dan lekas membuka komputer diruang tengah.
Ani memutar rekaman CCTV dirumahnya karena sedikit curiga dengan mobil hitam yang Dia lihat tadi pagi.
Kecurigaan Ani ternyata benar. Mobil itu sudah berputar-putar beberapa kali di depan rumahnya sebelum akhirnya dia berhenti.
Sesaat setelah Ani pulang mobil itu mulai datang dan pergi sekitar pukul delapan malam. Pengemudinya juga tidak keluar. Lalu pagi ini mobil itu berhenti sekitar jam lima pagi hingga sekarang. Ani melihat jam dinding yang sudah hampir jam delapan pagi.
"Mas..... Mas.... bisakah kamu kesini sebentar?," ucap Ani.
"Ada apa? Kamu saja yang kesini, Kakiku mulai nyeri," jawab Diaz.
"Aku melihat CCTV, dari kemaren ada mobil hitam yang mengamati rumah ini Mas. Coba kamu kesini."
"Mungkin mobil tetangga. Cepat kemari, Aku bisa melihat rekaman itu secara online melalui handphoneku."
Suaminya Mereka melihat rekaman CCTV itu bersama. Diaz juga curiga dengan mobil hitam itu.
Ani berjalan dan melihat dari balik jendela rumahnya dan mobil itu masih terparkir disana.
Karena penasaran Ani membuka pintu dan berencana untuk menghampirinya. Namun suaminya melarangnya.
Ani terus memaksa, dia melanjutkan langkahnya.
"Ani.... Ani ..... tunggu biarkan saja, itu berbahaya Aku tak bisa menolongmu", ucap Diaz.
"Sudahlah Mas, aku bisa jaga diri." jawab Ani.
Ani membuka pintu pagar rumahnya, dia mulai menengok ke kanan dan kiri untuk menyebrang. Namun saat Ani sudah semakin dekat, mobil hitam itu tiba-tiba menancapkan gas dengan begitu cepat hingga membuat Ani terjatuh dijalan.
Diaz mulai panik dan berjalan terpincang-pincang untuk menolong istrinya.
Astaga siapa sebenarnya orang yang berada di mobil itu, gumam Ani.
__ADS_1