
Semenjak Diaz menghilang, Agus setiap hari terus mencoba mendekati Ani. Dia selalu mengatakan jika suaminya sudah meninggal.
Meskipun mengetahui jika Ani sedang mengandung anak Diaz namun Agus tak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Ani kembali. Dia terus berjuang meskipun kedua orang tua Agus melarang dirinya untuk dekat lagi dengan Ani. Perhatian demi perhatian yang diberikan Agus membuat Ani mulai luluh. Apalagi Agus memiliki sebagian saham di Kalimantan hingga mau tidak mau Ani tetap bertemu Agus.
Kini perusahaan Diaz dipegang oleh Ani karena Diaz sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya ada satu saudaranya yang menetap diluar negeri.
Pengacara Diaz memang menyerahkan kekayaan Diaz kepada Ani selaku istri yang masih sah. Sementara Lia tak mendapatkan apapun.
Beruntung Rendy masih setia membantu diperusahaan Diaz. Sayangnya perut Ani yang semakin membesar membuatnya tidak bisa kemana-mana. Perusahaan Diaz yang berada di Kalimantan lebih sering Agus dan Rendy yang mengunjunginya.
Ani sebenarnya ingin sekali melihat lokasi kecelakaan suaminya dulu namun Dia harus menundanya hingga dia melahirkan.
Beberapa bulan berlalu, Perut Ani kini semakin membesar. Hari ini hari terakhir dia berada dikantor sebelum dia cuti.
Sore ini Ani pulang lebih cepat, Supir yang selalu menunggu Ani sudah menunggu didepan kantor, namun dari kejauhan terlihat Agus sedang berteriak memanggil Ani.
Ani hanya menatapnya dan mulai masuk kedalam mobil. Namun Agus berlari dan menghentikan mobil Ani.
"Aku lelah Mas, Aku harus pulang sekarang," ucap Ani.
"Aku ingin bicara sebentar,m. Ayo kita ke kafe biar nanti aku antarkan kamu pulang," jawab Agus.
"Sebentar saja Mas. Aku naik mobil sendiri saja. Biar Pak Dodi mengikuti mobil kamu."
Agus tersenyum dan mulai melajukan mobilnya sementara Ani mengikutinya dari belakang.
Sesampainya disebuah kafe, Ani mulai masuk dan duduk berhadapan dengan Agus. Kini mereka berdua saling menatap.
"Apa yang ingin kamu katakan Mas," ucap Ani.
"Setelah kamu melahirkan kamu mau kan menikah denganku?" jawab Agus.
"Kamu tahu kan Mas, kedua orang tuamu tak akan pernah merestui hubungan kita lagi. Sudahlah Mas kita jalani saja hidup kita masing-masing. Aku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi pada kita dulu."
"Kita menikah secara agama dulu hingga kedua orang tuaku merestui. Jika kita mimiliki anak pasti mereka akan merestui kita. Diaz juga sudah meninggal, apalagi yang kamu harapkan. Apa kamu tega jika nanti anakmu bertanya siapa Ayahnya."
__ADS_1
Ani terdiam, perasaannya kini campur aduk. Dia bingung dengan hatinya.
Agus adalah cinta pertamanya, laki-laki yang selama ini dia inginkan. Namun disisi lain hatinya juga ada Diaz laki-laki yang sekarang sudah tiada.
Ani mulai menghela nafas panjang. tawaran Agus sungguh menguras pikirannya.
"Akan aku pikirkan lagi Mas, sekarang Aku fokus untuk kelahiran anakku ini," ucap Ani.
"Aku akan menunggumu Ani sampai kamu melahirkan anak itu."
Ani menganggukan kepalanya dan lekas beranjak pergi dari kafe itu.
****************
Hari-hari sudah terlewati, HPL Ani diperkirakan Minggu depan. Pagi ini Ani berencana untuk berbelanja baju namun ternyata supirnya tak bisa hadir hari ini.
Ani berniat untuk pergi mengendarai mobil sendiri. Namun saat keluar dari pintu rumahnya, Agus sudah menunggunya didepan pagar. Dia tersenyum kepada Ani dengan senyuman yang begitu manis.
Senyuman mu membuatku mengingat masa laluku Mas, gumam Ani.
"Hanya ingin melihat kamu, kamu mau keluar? Aku antar yah."
"Aku mau ke baby shop Mas, Aku berangkat sendiri saja nanti kamu bosan. Apa kamu juga tidak bekerja hari ini."
"Ayo Aku antarkan. Aku hari ini hanya ada meeting jam satu siang."
Ani Akhirnya menyetujuinya ketika ibunya tiba-tiba datang dan menyuruh Ani untuk memberi Agus kesempatan lagi.
Selama perjalanan Ani hanya diam saja, dia bingung harus berkata apa dengan Agus. Dia sangat merasa canggung.
Agus terlihat beberapa kali menatap Ani dan tersenyum. Ani mulai tersipu malu, perasaannya kini campur aduk. Perutnya tiba-tiba terasa kram. Ani mencoba menahan rasa sakitnya.
Sesampainya di baby shop, Ani masih merasa kesakitan. Agus menggandeng tangan Ani sambil tersenyum menatapnya. Dia mulai sedikit tenang karena masih ada laki-laki yang memperhatikannya.
Agus memang dari dulu sangat perhatian terhadap Ani, sayang cinta mereka terhalang oleh Diaz yang tiba-tiba datang merebutnya. Kini disaat Diaz tidak ada, cinta mereka terhalang restu kedua orang tua Agus.
__ADS_1
"Mas, Aku ketoilet dulu," ucap Ani sebelum meninggalkan baby shop.
Agus tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Ani sngguh kaget ketika melihat celana da**mnya sudah terdapat beberapa bercak darah. Dia mulai panik hingga membuat perutnya semakin mulas.
Ani segera menghampiri Agus dan mengajaknya untuk pulang. Namun selama dalam perjalanan perut Ani semakin terasa mulas. wajahnya yang putih mulai memerah.
"Ani sebaiknya kita kerumah sakit saja ya," ucap Diaz.
Ani hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa sakitnya. Dia sungguh malu dengan Agus.
Ani mencoba mengirim pesan kepada dokter Aira spesialis kandungan yang menanganinya. Beruntung beliau sekarang ada jadwal praktek dirumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit Ani sudah ditangani oleh dokter Aira dan beberapa rekannya. Dokter Aira memeriksa Ani dan benar, saat ini Ani sudah pembukaan empat.
Dokter dan perawat segera membawa Ani ketempat persalinan. Sementara Agus ikut membawakan beberapa perlengkapan ibu dan bayi yang baru dibelinya.
Semakin sore rasa sakit Ani sudah tak tertahankan lagi. Dokter mulai memeriksanya lagi, dan benar sekarang sudah pembukaan sembilan. Dokter sudah menunggu disamping Ani, sementara Agus masih menunggu didepan ruang bersalin.
Beberapa perawat mulai menghampiri Agus dan memperbolehkan untuk menemani istrinya selama persalinan. Agus mulai bingung karena Dia bukan suaminya.
Agus mulai menghela nafas panjang dan memberanikan diri untuk masuk menemani Ani.
Ani terlihat malu saat Agus sudah berada didepannya. Ani meminta dokter untuk menutupinya selama persalinan. Rasa sakitnya semakin tak tertahankan ketika sudah memasuki pembukaan sepuluh, dokter membantu dan menyuruh Ani untuk terus Meng*****. Sementara Agus membantu memegang perut Ani. Rasa malunya kepada Agus mulai hilang karena dia sudah tak kuat lagi menahan rasa sakitnya.
Ahhhhh hhhhhhhhh........... teriak Ani begitu kencang hingga membuat Diaz junior keluar. Agus yang melihat begitu banyak darah yang keluar akhirnya tiba-tiba dia pingsan diruang bersalin.
Disaat yang bersamaan Diaz yang mencoba kabur akhirnya berhasil. Dia berlari menuju kejalan raya dan menemukan sebuah truk yang terparkir dijalan. Diaz akhirnya masuk kebagian dalam bak truk hingga membuatnya berhasil kabur dari kejaran Pria bertubuh kekar.
beberapa saat kemudian truk itu mulai melaju.
Aaaaaaaahhhhhh....... teriak Diaz yang merasa bahagia karena bisa kabur.
Ani tunggu Aku...... Aku pulang, semoga kamu bisa menjaga anakku, gumam Diaz.
__ADS_1