Terpuruk Dalam Cinta

Terpuruk Dalam Cinta
Tersadar


__ADS_3

Tidakkkkkkkkkkkk......


Teriak Ani saat tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


Diaz terbangun dan menghampiri Ani yang sedang terbaring dibed rumah sakit.


"Ada apa sayang?," tanya Diaz.


Ani menatap Diaz yang sudah berada didepan matanya.


"Kenapa kamu disini Mas?", ucap Ani sambil menatap Diaz dan sekelilingnya.


"Kamu dirumah sakit sayang, apa kamu lupa."


Ani terdiam sesaat.


Mengapa Aku bisa dirumah sakit, seharusnya Aku sudah terlepas dari suamiku, gumam Ani.


Ani kembali mencoba tidur namun sesekali dia menatap suaminya dengan tajam. Diaz mulai merasa heran dengan perilaku istrinya.


Apa mungkin Ani sudah mengingat semuanya, gumam Diaz.


Diaz terlihat kembali merebahkan tubuhnya disofa. Sementara Ani masih terjaga. Dia sangat bingung harus berbuat apa.


Mimpinya barusan membuat Ani sudah mulai mengingat beberapa kejadian yang telah dialami. Ani sudah mengingat jika saat dia kabur dari rumah Diaz, dia mengalami sebuah kecelakaan.


Semalaman Ani merenungi kejadian itu. Ani bingung apa yang seharusnya dia lakukan. Diaz yang belum begitu terlelap sesekali memandangi istrinya.


"Sudah..... tidurlah, jaga kandungan kamu," ucap Diaz.


Ani mengelus-elus perutnya.


Apa benar Aku hamil kenapa aku tidak merasakan apa-apa, gumam Ani.


"Sejak kapan Aku hamil, kenapa Aku tidak tahu," ucap Ani.


"Itu anakku, jadi jaga baik-baik. Jangan sekali-kali kamu mencoba menggugurkannya."


Ani terdiam dan berpikir jika mungkin suaminya berbohong agar Ani tak meninggalkannya.


Sudah menjelang pagi Ani tidak bisa tidur dengan tenang. Ani melihat suaminya yang tidur begitu lelap. Ani mencoba melepas jarum infus ynag menempel ditangannya.

__ADS_1


Auhhhhhh.......


Ani akhirnya berhasil melepaskan infus itu. Ani mencoba turun dari ranjangnya. Kepalanya tiba-tiba terasa begitu pusing namun Ani tetap melajukan jalannya.


Ani membuka pintu perlahan agar suaminya tidak terbangun. Ani menengok sekitarnya yang masih sepi. Ani melanjutkan mempercepat jalannya, Dia sudah melewati taman rumah sakit namun saat Ani sudah mencapai gerbang tiba-tiba tangan Ani ditarik dari belakang.


Ani menoleh, Dia menatap pria tampan didepannya sambil mengingat siapa dia.


"Bu Ani mau kemana?," ucap Rendy.


"Kamu......... yang sering bersama suamiku kan?," jawab Ani.


"Iyah Bu, saya Rendy. Mari saya antar kembali ke kamar."


"Tidak.... Aku mau pulang. Antarkan saja Aku pulang."


Rendy akhirnya menelpon bosnya. Diaz segera berlari dan menghampiri Rendy. Sementara Ani terus mencoba untuk pergi meninggalkan rumah sakit, namun Rendy terus memegang tangan istri bosnya.


Tak lama Diaz datang bersama dengan beberapa perawat rumah sakit. Mereka akhirnya membawa Ani kembali ke kamarnya. Aki terus menolak untuk kembali mendapatkan perawatan, hingga akhirnya dokter menyuntikkan obat penenang kepada Ani.


Ani terdiam lemas tak berdaya, hanya air matanya yang mewakili jeritan hatinya saat ini.


Diaz akhirnya memutuskan untuk membawa istrinya pulang siang ini. Dokter sempat menolak namun setelah perdebatan panjang akhirnya dokter mengizinkan Ani pulang.


"Sayang...... sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?," ucap Diaz.


Ani menggelengkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya.


"Aku janji tak akan berbuat kasar lagi asal kamu mau menjaga anak kita. Setelah anak itu lahir terserah kamu."


"Apa kamu akan membiarkan aku pergi Mas?"


"Jika kamu menginginkan itu silahkan. Aku tak akan menghalangi kamu lagi asalkan kamu memberikan anak itu kepadaku,"


Ternyata Ani sudah mengingat semuanya, gumam Diaz.


Diaz memang sengaja berkata seperti itu untuk membuktikan jika Ani sudah mengingat semuanya.


Sesampainya Dirumah, Diaz sungguh kaget karena rumahnya jadi berantakan dan pintu rumahnya sudah terbuka. Dia baru ingat jika kemaren Lia terkunci didalam rumah.


Diaz sungguh cerdas, dia merekam seluruh ruangan saat dia masuk kerumahnya. Dia berpikir ini akan jadi senjata untuk secepatnya bisa lepas dari istri pertamanya.

__ADS_1


"Masuklah, biar Aku yang membereskan semua ini," ucap Diaz.


Ani segera masuk kedalam kamar namun kamar Ani juga terlihat porak poranda.


"Mas, lihatlah kamar kita juga berantakan," teriak Ani.


Diaz segera masuk menghampiri istrinya. Semua berantakan.


Apa yang sebenarnya kamu cari Lia, gumam Diaz.


Diaz akhirnya menyuruh Rendy untuk membereskan rumahnya. Sementara itu, Diaz akhirnya mengajak Ani untuk menginap disebuah hotel.


Diaz dan Ani segera berkemas dan membawa beberapa baju miliknya. Diaz lalu mengunci kamarnya dan segera mengajak Ani pergi.


"Mas, kita mau kemana?," ucap Ani.


"Kita menginap dihotel saja,"Jawab Diaz.


Ani mengikuti suaminya, Dia enggan untuk kabur karena akan sia-sia. Tubuhnya tak cukup kuat untuk kabur.


Sesekali Ani menatap suaminya yang sedang menyetir. Diaz sadar jika dari tadi Ani sedang memperhatikannya. Namun Ani selalu membuang muka saat Diaz menatapnya.


Diaz tersenyum melihat tingkah aneh istrinya.


Sesampainya dihotel Diaz menggandeng tangan istrinya, Ani sesekali menatap Diaz. Dia merasa heran karena suaminya kini sudah tak lagi bersikap kasar kepadanya.


"Masuklah duluan," ucap Diaz.


Ani tersenyum bahagia saat dia melihat begitu banyak bunga yang dihias begitu cantik diatas kasur. Pemandangan diluar hotel juga terlihat begitu indah. Angin sepoi-sepoi dari atas balkon membuat suasana hatinya menjadi bahagia.


Diaz berjalan menghampiri Ani dan memeluknya dari belakang.


"Indah bukan sayang," ucap Diaz.


Ani tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tetaplah bersamaku, Aku ingin kita merawat anak kita bersama. kamu mau kan?"


"Aku akan memberi kamu kesempatan Mas, Buatlah Aku agar bisa jatuh cinta kepada kamu Mas."


Diaz tersenyum dan menc*** pipi Ani. sambil berbisik ditelinganya.

__ADS_1


"Akan aku buktikan sayang."


__ADS_2