
Beberapa hari tak bertemu Ani, Agus mulai kebingungan. Agus mencari Ani dirumah ibunya dan dikontrakkan, namun Agus tak menemukan Ani disana. Agus juga mengintai rumah Diaz untuk mencari Ani namun Agus tak melihatnya.
Sudah hampir seminggu Ani masih belum juga sadar. Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, Diaz menyempatkan untuk bertemu dengan Ani.
Ani kini dipindahkan keruangan yang lebih privat agar keluarga bisa tetap menunggu. Diaz memasuki ruangan dengan baju medis. Dia memegang tangan Ani, dan mengajaknya berbicara setiap pagi.
Semenjak mengetahui jika Ani hamil, setiap pagi Diaz selalu membisikkan kata cinta ditelinga Ani. Dia juga selalu mengelus-elus perut Ani dan mengajaknya berbicara.
"Aku berangkat dulu sayang, bertahanlah untukku dan untuk anak kita," bisik Diaz ditelinga Ani.
Diaz lekas pergi dan berangkat ke kantor. Dia juga berpamitan kepada ibunya Ani yang sekarang ikut menjaga Ani.
Tangan Ani mulai bergerak ketika Diaz mulai meninggalkannya. Sebenarnya Ani sekarang mulai merespon jika ada yang mengajaknya berbicara namun belum ada yang mengetahuinya.
Pagi ini dokter mulai memeriksa keadaan Ani. Dokter memberikan suntikan obat melalui infus. Namun saat dokter mulai pergi, perawat rumah sakit yang masih berada diruangan Ani memanggilnya kembali.
Dokter tersenyum karena Ani mulai merespon. Dokter terus memanggil Ani dan perlahan matanya mulai terbuka. Perawat segera memberi tahu ibunya.
Ibunya sungguh bahagia melihat Anaknya akhirnya sadar. Ibu Ani segera menelpon menantunya untuk memberi tahu kabar baik ini.
Masa kritis Ani sudah terlewati, Dokter akhirnya memindahkan Ani ke ruang perawatan.
Sore ini sepulang kerja, Diaz segera menuju kerumah sakit untuk menemui istrinya. Diaz mencium kening Ani saat Ani mulai membuka matanya.
Semenjak sadar pagi tadi, Ani hanya terdiam tanpa sepatah katapun. Dia lebih sering tidur daripada membuka matanya. Ani masih terlihat linglung saat menatap seseorang. Ibunya selalu berusaha untuk mengobrol kepada Ani meskipun dia tak merespon.
Beberapa saat setelah kedatangan suaminya. Ani terbangun, sesekali Dia menatap Ibunya namun Ani lebih sering menatap Diaz begitu lama tanpa bicara.
"Ani...... ini Ibu dan ini suami kamu. Papa dari anak yang sedang kamu kandung ini," ucap Ibunya.
"Iyah sayang, Aku suami kamu. Kamu masih ingatkan dengan Aku," sahut Diaz.
Ani hanya terdiam dan terus memandangi Suaminya. Diaz memegang tangan Ani dan menciumnya sambil sesekali tersenyum pada Ani.
__ADS_1
"Bu, nanti malam biar saya saja yang jaga. Ibu istirahat saja dirumah. Besok pagi saja ibu kembali kesini sebelum saya berangkat kerja," ucap Diaz kepada mertuanya.
"Yah sudah jika begitu nanti ibu akan pulang. tolong kamu jaga anak ibu dengan baik nak," ucap Ibu mertuanya.
Diaz tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Diaz lalu menyuruh supir dikantornya untuk menjemput ibu mertuanya dirumah sakit.
Diaz merebahkan tubuhnya disofa, sementara Ani masih tertidur. Diaz merasa mulai cukup lelah dengan perkerjaannya karena seharian Dia hanya sibuk dikantor.
Tak lama pegawai rumah sakit datang dan membawakan bubur dan susu untuk pasien.
Diaz mulai membangunkan Ani agar dia bisa untuk makan. Ani terbangun dan hanya menatap wajah Suaminya.
Diaz mengambil susu dan meminumkannya kepada istrinya. Ani memalingkan wajahnya untuk menghindari susu yang diberikan Diaz.
Diaz mulai merayu dan mengajak Ani berbicara. Setelah beberapa saat, akhirnya Ani mulai mau untuk sedikit meminum susu dan bubur yang disuapi suaminya.
Malam ini dokter datang untuk memeriksa kondisi Ani lagi. Beruntung ada Diaz, hingga dokter bisa menjelaskan kondisi Ani saat ini.
Dokter Tersenyum dan mulai menjelaskan keadaan Ani.
"Saat ini Bu Ani masih dalam proses mengingat, bisa jadi sudah mengingat namun masih seperti mimpi. Pak Diaz tenang saja, hal ini wajar terjadi. Ingatannya akan kembali dengan sendirinya atau dengan terapi. Nanti akan saya berikan resep untuk mempercepat proses penyembuhannya.
Pak Diaz bisa memberikan stimulus, mungkin dengan obrolan dan kasih sayang agar Bu Ani bisa segera lekas mengingat kembali." jawab Dokter.
Diaz tersenyum mendengar penjelasan dokter malam ini. Diaz mulai kembali mengajak Ani untuk mengobrol sambil memegang tangannya.
Namun air mata Ani mulai menetes saat Diaz memegang tangannya. Ani mulai merespon dan menggenggam tangan Diaz begitu erat.
Malam ini Dia merasa seperti ketakukan namun tak mengeluarkannya suaranya. Diaz mencoba terus memenangkan Ani hingga akhirnya Dia tertidur.
Diaz memandangi wajah cantik istinya dengan kepala dan tangannya masih diperban.
Jika Ani masih tak bisa mengingat masa lalunya berarti Dia hanya akan memiliki Aku. Mungkin sebaiknya Ani tak perlu obat yang berlebih, agar dia hanya mengingat Aku, gumam Diaz.
__ADS_1
Tiba-tiba terlintas dipikiran Diaz untuk menghentikan pengobatan istrinya agar Ani hanya mengingat Diaz saja dalam hidupnya.
Keesokan paginya Diaz terbangun, Dia segera mandi karena harus berangkat ke kantor karena ada meeting pagi-pagi sekali.
Diaz menatap Ani yang masih tertidur lelap. Jam dinding sudah menunjukkan jam tujuh pagi. Sementara ibu mertuanya tak kunjung datang.
Diaz mencoba menelpon mertuanya karena Dia harus sampai dikantor jam delapan pagi. Akhirnya Diaz memutuskan untuk tetap pergi meskipun ibu mertuanya belum sampai Karena ibu mertuanya masih dijalan.
Sudah hampir jam setengah delapan, Diaz akhirnya memutuskan untuk berangkat. Dia mulai mencium kening istrinya dan berpamitan. Ani mulai membuka matanya saat suaminya berangkat.
Diaz mempercepat lajunya agar segera sampai diparkiran namun ternyata handphonenya tertinggal dikamar Ani. Diaz akhirnya kembali lagi untuk mengambil handphonenya.
Sementara itu Agus yang melihat Diaz sudah keluar dari kamar Ani, akhirnya di masuk.
Kemaren sore Agus memang sengaja mengikuti mobil Diaz, hingga akhirnya Agus tahu keadaan Ani saat ini. Agus menghampiri Ani dan menatapnya dengan penuh rasa kasihan.
"Ani...... kenapa kamu bisa seperti ini. Aku mencarimu beberapa hari ini," ucap Agus.
Ani hanya diam sambil menatap wajah Agus. Agus terus mencoba berbicara kepada Ani meskipun Dia tidak merespon.
Krekkkkkkkkkk......... suara pintu terbuka.
Diaz terdiam sejenak saat melihat Agus yang sedang duduk didepan Ani dan menatapnya.
"Hai...... berani sekali kamu kesini," ucap Diaz saat menghampiri Agus.
Diaz mencoba memukul Agus namun meleset. Mereka akhirnya bertengkar dan saling pukul.
perawat yang mendengar kegaduhan, Akhirnya datang dan memanggil satpam.
Ani mulai memegang kepalanya karena merasa begitu kesakitan melihat tingkah lak-laki yang mencintainya. Tak lama dua orang satpam mencoba memisahkan mereka dan membawa mereka ke pos satpam untuk dimintai keterangan.
Sementara itu Diaz mencoba negosiasi dengan satpam, agar Dia lekas.
__ADS_1