Terpuruk Dalam Cinta

Terpuruk Dalam Cinta
Disebuah Hotel


__ADS_3

"Sudah cukup Mas, hentikan semua omong kosong mu itu. Cepat antarkan Aku kembali ke hotel," ucap Ani sambil menangis.


Karena tak tega melihat Ani terus menangis, Agus akhirnya menuruti kemauan Ani. mereka kembali lagi ke hotel tempat pukul 22.15 malam.


Sesampainya di parkiran Hotel, Ani langsung berlari tanpa sedikitpun menoleh kepada Agus. Kini Agus sungguh sangat bimbang karena dua hari lagi dia akan bertunangan dengan gadis pilihan orang tuanya.


ahhhhhhhhhhhh.......... teriak Agus sambil memukul mobilnya.


Kenapa waktu itu Aku harus mengalami kecelakaan. Ahhhhhhhh....... Akan Aku cari orang yang menabrakku waktu itu. Agus terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Malam ini Agus memutuskan untuk menginap di hotel yang sama dengan Ani. Dia tak mungkin pulang malam ini karena perjalanan melewati hutan yang sepi dan begitu panjang sedangkan Dia hanya seorang diri.


Agus merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memegangi kepalanya yang semakin lama semakin terasa begitu pusing. Dia terus memikirkan Ani wanita yang selama ini ingin dia nikahi.


Sementara itu Ani kembali ke kamar dengan keadaan masih menangis. Dia sudah tak kuat lagi menahannya. Beruntung Mbak Citra belum kembali ke dalam kamar.


Ani segera membersihkan tubuhnya dan lekas tidur. Beberapa saat setelahnya mbak citra kembali ke kamar namun Ani berpura-pura tidur.


Keesokan paginya Ani dan Mbak Citra bersiap untuk mengikuti acara outbond. Kepala Ani sedikit pusing karena memikirkan kejadian semalam. Ani memaksa ikut meskipun mbak Citra sudah melarang.


Ani dan Mbak Citra menuju restauran untuk sarapan pagi dulu. Sesekali Ani menengok sekitar karena dia takut jika Agus masih berada disini.


Ani dan Mbak Citra melanjutkan langkahnya untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Semua karyawan terlihat begitu kompak.


Ani terlihat begitu senang mengikuti acara ini meskipun dia hanya melihat saja. Kehamilannya membuat Ani tak bisa bergerak bebas.


Setelah semua outbond selesai, seluruh staf dan karyawan berjalan bersama menuju ke sebuah mata air terjun yang masih sangat jernih.


Selama berjalan menuju ke air terjun pemandangan sungguh terlihat sangat indah. Ani terlihat begitu bahagia seakan lupa dengan masalahnya. Ani terus tersenyum dan bercanda dengan karyawan baru.


Setelah sore hari semua memutuskan untuk kembali. Ani mulai merasa kelelahan, Dia berjalan semakin perlahan namun tiba-tiba dari arah belakang datang Pak Rendy yang membantu Ani berjalan.


Ani menoleh dan sempat terpikir darimana datangnya Pak Rendy, kenapa dia tiba-tiba muncul.


"Pak Rendy kenapa masih disini?waktu berangkat saya tidak melihat kedatangan kamu Pak?," ucap Ani penasaran.

__ADS_1


"Saya tadi datang belakangan Bu, saat saya tahu ibu ikut ke air terjun. Saya berlari mengejar, bukankah Ibu sedang hamil mengapa harus ikut?" jawab Rendy."


"Tidak apa-apa saya bosan jika harus berdiam dikamar. tolong jangan beritahu Pak Diaz."


"Tapi Bu, Pak Diaz sudah berada di bandara dan menuju kesini."


Sejenak Ani terdiam dan menghela nafas panjang. Astaga Dia nanti pasti akan memarahiku lagi karena tidak izin mengikuti acara ini, gumam Ani.


Randy mengantarkan Ani hingga diloby hotel. Ani melanjutkan berjalan menuju ke kamar bersama mbak Citra.


Ani segera membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya dikasur. Dia meminum vitamin untuk menjaga kondisi tubuh dan kandungannya.


Sementara itu Mbak Citra yang sudah selesai mandi dan beristirahat disamping Ani tiba-tiba bertanya.


"Mbak, bolehkah Aku bertanya tapi mungkin sedikit pribadi?," ucap Mbak Citra.


Ani tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Mbak, Jika tidak salah dengar, tadi mbak Ani menyebut Pak Diaz saat ngobrol dengan Pak Rendy. Hubungan mbak Ani sama Pak Diaz apa yah. Maaf Mbak jika saya penasaran. jika tidak dijawab juga nggak apa-apa kok?"


Ani Tersenyum.....


Mbak Citra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Sebenarnya Pak Diaz itu adalah suami saya mbak."


"Lalu siapa wanita yang sering masuk ke ruangan Pak Diaz itu?"


"Oh..... itu Mbak Lia, Dia juga istri Mas Diaz. Kita sama-sama istri sahnya. Sudahlah mbak ceritanya panjang Mbak. Tolong jangan beritahu siapapun ya Mbak."


Mbak Citra terperangah dengan jawaban dari Ani. Mbak Citra semakin penasaran dengan ceritanya namun Ani hanya menjelaskan beberapa saja.


Ani memutuskan pembicaraannya dengan mbak citra dan melanjutkan untuk tidur. Beberapa jam berlalu, Ani terbangun namun mbak Citra sudah tidak ada dikamar.


Ani melihat handphonenya begitu banyak panggilan tak terjawab dari suaminya. Ani membalasnya dengan sebuah pesan, namun hingga lama pesan itu tidak juga dibalas.

__ADS_1


Ani melihat handphonenya sudah jam delapan malam. Dia memutuskan untuk pergi ke restoran membeli makan malam, perutnya terasa begitu lapar karena sore tadi dia tidak ikut makan bersama.


Suasana restoran malam ini begitu sepi, suhu udara semakin dingin menusuk hati. Ani duduk dan menunggu pesanannya. Teringat kemaren malam saat Agus menghampirinya.


Ani menghela nafas panjang. Dia merasa kesepian malam ini. Setelah selesai makan malam, Ani kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya.


Kring..... kring..... kring.....


Ani terbangun saat mendengar suara handphonenya yang berbunyi.


"Dimana kamu," ucap Diaz.


"Aku sedang dipuncak Mas. Ikut pelatihan karyawan baru. Ini sedang istirahat dikamar," jawab Ani.


"Cepat kemari, Aku tunggu dikamar 108".


"Kamu disini Mas, sejak kapan."


"Sudah cepat kesini."


Diaz menutup teleponnya tanpa permisi. Ani melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 21.34 namun Mbak Citra belum juga kembali ke kamar.


Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk dari Diaz. Dia menyuruh Ani sekali lagi untuk segera datang. Ani mencoba menjelaskan jika dia harus menunggu temannya kembali ke kamar dulu namun Diaz tak perduli, dia terus memaksa Ani untuk segera datang.


Ani berjalan dan mempercepat lajunya menuju ke kamar suaminya namun di tengah perjalanan dia bertemu dengan Mbak Citra. Ani menjelaskan Jika dia akan pergi ke kamar suaminya malam ini.


tok.... tok.... tok....


Ani mengetuk pintu kamar yang diberitahukan suaminya. Dia takut sekali Jika salah kamar namun tak lama suaminya membukakan pintu untuknya.


Wajah suaminya terlihat sedikit begitu kesal hingga dia menarik tangan Ani untuk segera masuk.


Ani duduk di sofa dan menonton TV yang sudah menyala sebelumnya. Diaz kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Sampai kapan, kamu akan duduk disofa itu. Cepat kemari temani Aku," ucap Diaz.

__ADS_1


Ani menghampiri suaminya dengan tubuh yang mulai takut. Suhu dingin menambah suasana malam semakin pas untuk melakukan itu malam ini.


Ani berbaring disamping suaminya sambil menonton TV. Tangan kiri Diaz memeluk pundak Ani. Ani menatap Diaz, dan Diaz membalas dengan tatapan yang begitu tajam.


__ADS_2