
Pagi ini semua karyawan baru mendapat pelatihan. pelatihan diadakan di sebuah hotel di puncak.
Pagi ini Ani sudah bersiap untuk mengikuti acara ini bersama mbak Citra.
Sudah dua hari suaminya tidak pulang.Tubuh Ani terlihat lebih segar meskipun pikirannya sakit.
Sesampainya dikantor semua karyawan berkumpul dan melanjutkan perjalanan menuju ke puncak.
Ini pertama kalinya setelah menikah, Ani berlibur meskipun sekarang sebenarnya Dia bekerja.
Sesampainya dihotel Ani dan Mbak Citra mulai bersiap karena semua staf wajib untuk mengikuti dan mengisi acara pembukaan.
Ani duduk didepan bersama Mbak Citra diruangan meeting yang cukup luas. Tiba-tiba datang Pak Rendy yang maju kedepan untuk mengisi sambutan awal.
Jantung Ani berdetak begitu cepat. Rasa senangnya kini berubah menjadi rasa takut. Mandi begitu takut jika di sini juga ada suaminya karena Ani kita izin untuk mengikuti acara ini.
Setelah beberapa penjelasan dari Pak Rendy Ani bisa bernafas dengan lega. Suaminya ternyata tidak bisa hadir untuk mengikuti kegiatan ini karena masih berada di Kalimantan.
Semua staf diberbagai devisi memberikan sambutannya. Beruntung dibagian staf HRD sudah diwakilkan mbak Citra.
Setelah acara pembukaan selesai Ani dan Mbak Citra kembali ke kamarnya. Sejenak mereka melepas penat dengan rebahan dikasur.
Jam dinding baru menunjukkan pukul 11.00 wib namun perut Ani mulai keroncongan. Ani membangunkan Mbak Citra dan mengajaknya ke restauran.
"Tunggulah, sebentar lagi kita akan dapat jatah makan siang," ucap Mbak Citra.
"Ya sudah, saya membeli Snack dulu saja mbak buat kita dikamar," jawab Ani.
Ani berjalan sendiri kelantai bawah
Dia mencari kue dan camilan dihotel ini. Setelah mendapatkannya Ani memutuskan untuk duduk dan membeli segelas susu hangat.
Pemandangan di restoran hotel ini memang sangat indah. Hotel ini memang berdampingan dengan persawahan dengan terasering yang cukup indah.
Ani mengirimkan sebuah pesan kepada Mbak Citra agar menghampirinya sambil menunggu jam makan siang.
Setelah beberapa saat menunggu, sebuah tangan memegang pundak Ani. Spontan Dia menoleh ke belakang.
Ani sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seorang laki-laki tampan yang dulu dia kagumi kini di hadapannya.
"Boleh Aku duduk," ucapnya.
"Boleh Mas. Kenapa kamu ada disini," jawab Ani.
"Hari ini Aku mewakili pak Alex meeting bersama pemilik hotel ini. Pak Alex sedang berada di Kalimantan dan mungkin besok akan pulang."
__ADS_1
Astaga kenapa bisa sama dengan Mas Diaz. Apa kini Mas Diaz sudah bekerja dengan Pak Alex. Ani terus bermonolog dengan dirinya.
"Apa kamu masih mencintaiku Ani?" ucap Diaz.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu Mas. Bukankah kamu akan bertunangan," jawab Ani.
"Aku sudah mengingat semuanya. kata keluargaku kamu sudah menikah sebulan lalu".
Ani menganggukkan kepalanya perlahan Ani mulai meneteskan air matanya. Dia ingin sekali menceritakan kejadian yang dia alami namun semua sudah terlambat.
Agus terus bertanya-tanya kenapa Ani tega meninggalkannya di saat dia tak berdaya dirumah sakit.
Air matanya menetes, dia sudah tak sanggup lagi untuk menatap Agus.
Ani lekas berdiri, dan ingin pergi meninggalkan Agus namun Agus menarik tangan Ani dan menahannya.
Agus tak sengaja menyentuh perut buncit Ani. Kini saling menatap, mata mereka tak bisa berbohong. Mereka berdua memang masih saling mencintai.
"Apa kamu sudah hamil Ani?" ucap Diaz.
"Iyah Mas, kita jalani saja hidup kita masing-masing. Menikahlah dengan wanita pilihan orang tuamu. Lepas Mas, Aku mau kembali ke kamar," jawab Ani.
"Sudah berapa bulan?."
"Lepas Mas."
"Empat Bulan Mas."
Diaz melepaskan tangan Ani dengan wajah yang cukup kecewa. Ani menangis dan meninggalkan Diaz.
Agus termenung seakan tak percaya dengan apa yang dialami saat ini. wanita yang sangat dia cintai kini benar-benar menjadi milik orang lain.
Empat bulan..... empat bulan..... Pernikahannya sebulan, berarti dia sudah hamil tiga bulan sebelum menikah. Itu Ani masih bersamaku. Apa Ani selingkuh saat itu. Tapi Dia akan menikah denganku. Lalu Anak siapa yang dikandungnya. Agus terus bermonolog dengan dirinya.
Agus masih penasaran dengan anak yang dikandung Ani, namun saat hendak mengejar, ternyata Ani sudah menghilang dari pandangannya.
Ani berjalan cepat menuju ke kamarnya namun langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Mbak Citra.
"Hai Ani....... baru juga aku mau menghampirimu malah kamu sudah balik. ada apa, kenapa kamu menangis?." ucap Mbak Citra
"Mbak Citra duluan aja deh, temen-temen yang baru tadi mulai berdatangan kok ke restoran. Aku ke kamar sebentar mau ganti baju," jawab Ani.
Ani melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Dia menjatuhkan dirinya diatas kasur sambil menangis begitu keras. Dia mencurahkan seluruh amarahnya hari ini.
Setelah puas Ani mencoba menghapus Air matanya. Tak lama sebuah pesan masuk di handphone Ani.
__ADS_1
Mbak Citra menyuruhnya untuk segera datang ke restoran. Ani menutupi wajahnya yang lebam akibat menangis dengan make-up.
Ani berjalan menghampiri Mbak Citra. Sejenak Ani menghentikqn langkahnya. Dia begitu takut jika Dia harus bertemu dengan Agus sekali lagi.
Sesampainya di restauran, Ani berpapasan dengan Rendy asisten Suaminya. Rendy tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Hai... Mbak apa kamu kenal dengan Pak Randy. Dia kan asisten pak Bos," tanya Mbak Citra.
"Iyah, Dia temannya sumaiku," jawab Ani.
Mbak Citra menjelaskan jadwal hari ini dan besok. Untuk jadwal besok adalah kegiatan outbound dan semua karyawan dan staf diwajibkan untuk ikut.
Setelah makan siang Ani kembali kekamar bersama Mbak Citra mereka menunggu untuk mengikuti acara selanjutnya di malam hari.
Ani merebahkan tubuhnya di kasur sementara Mbak Citra sibuk mempelajari materi yang akan dibawakannya nanti malam.
Mbak Citra sungguh baik kepada Ani, semua pengisi materi dibagian HRD ditangani dengan baik oleh Mbak Citra. Ani merasa begitu beruntung memiliki teman seperti Mbak Citra.
Tiba saatnya Mbak Citra mengisi acara bersama staf yang lainnya. Sementara Ani sibuk mendokumentasikan acara malam ini.
Tepat jam sembilam malam acara telah selesai. Mbak Citra menyuruh Ani kembali ke kamar duluan karena sedang mengobrol dengan teman lamanya.
Ani berjalan menuju ke restoran untuk membeli susu hangat. Udara begitu dingin membuat bulu kuduk merinding. Ani duduk dan bermain handphone sambil menunggu pesanannya datang.
"Hai ........"
Ani menoleh dengan terkejut. Beruntung pesanannya segera datang.
"Aku menunggu kamu dari tadi. Bisa kita bicara sebentar."
"Tidak Mas, semua sudah selesai. Aku lelah, ingin beristirahat. Permisi Mas," jawab Ani.
Ani berjalan menjauh, sementara Agus terus mengejarnya. dan memohon untuk memberinya kesempatan. Setelah perdebatan panjang Ani akhirnya menyetujuinya.
Agus mengajak Ani untuk keluar hotel. Agus melajukan mobilnya perlahan sambil mengajukan beberapa pertanyaan.
Ani hanya mampu terdiam dan menolak untuk menjawabnya.
Agus mulai menceritakan malam indah yang terjadi waktu itu. Malam yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup mereka. Has*** mereka terluapkan saat malam itu.
"Sudah cukup Mas, ...... Diamlah. Sungguh itu dosa besar bagiku. kebodohan dan kesalahan yang tak akan pernah Aku lupakan. Tolong Mas jangan ganggu hidupku lagi. Aku sudah menikah dan akan memiliki anak." jawab Ani dengan keras sambil menangis.
Ani terus menangis tersedu-sedu. Sesekali Ani berteriak karena Agus terus menceritakan masa lalunya.
Perlahan tangan Agus mulai memeluk Ani, sembari berbisik ditelinga.
__ADS_1
"Ini anakku kan, bukan anak suamimu," bisik Diaz.
Ani hanya mampu menangis dan terus mencoba melepaskan pelukan Agus.