Terpuruk Dalam Cinta

Terpuruk Dalam Cinta
Full Dirumah


__ADS_3

Sudah beberapa hari Ani merawat Suaminya. Dia memang sengaja memilih tinggal bersama dengan Ani daripada bersama Mbak Lia, Istri pertamanya.


Mbak Lia sering meninggalkan suaminya dirumah sendirian. Dia sibuk dengan teman-teman sosialitanya. Dia juga sering meninggalkan pekerjaan hanya sekedar untuk berkumpul dengan teman-temannya.


Meskipun hatinya masih menyimpan dendam kepada Ani, Diaz sebenarnya lebih merasa nyaman jika tinggal bersama Ani daripada istri pertamanya. Sikap Ani lebih lembut daripada Lia.


Ani dulu juga sebenarnya pernah kuliah di kedokteran namun terhenti karena masalah biaya.


Hari ini Ani bangun sangat pagi karena dia ingin sekali kembali bekerja dikantor suaminya. Dia mulai membangunkan suaminya namun suaminya tak kunjung bangun.


Setelah beberapa lama akhirnya suaminya bangun juga. Ani mengucapkan selamat pagi kepada suaminya namun suaminya biasa saja.


"Mas, hari ini Aku kerja yah?" ucap Ani.


"Berapa gaji yang kamu dapatkan di kantorku?" tanya Diaz.


"Mungkin sekitar delapan juta Mas, kenapa?"


"Aku akan membayar dua kali lipatnya jika kamu mau merawatku."


"Jika pun tidak kamu bayar aku akan tetap merawatmu, asal kamu tak lagi bersikap kasar denganku. aku hanya bosan di rumah saja."


Ani akhirnya membuat kesepakatan kepada suaminya. Dia membuat beberapa aturan agar suaminya tidak berbuat seenaknya kepada Ani.


Setelah membaca isi perjanjian itu Ani mulai menandatanganinya sementara ada satu bagian yang suaminya tidak setuju.


Diaz terus menolak perjanjian yang dianggapnya begitu konyol itu. Namun akhirnya dia menerimanya. Perjanjian itu hanya berlaku selama Dia sakit saja.


Setelah sarapan Ani mengajak suaminya untuk mandi. Ani membantu suaminya berdiri dan menggunakan alat bantu jalannya menuju ke kamar mandi.


Kini sikap dia mulai sedikit lembut dengan istrinya. Dia mulai pasrah saat Ani memandikannya. Dia terus menatap dan memperhatikan wajah cantik istrinya.


Sesekali mereka saling mencuri pandang namun keduanya selalu berpura-pura tak peduli.

__ADS_1


Setelah selesai mandi kami mengajak suaminya kembali beristirahat. Ani berjalan sambil memegang tubuh suaminya yang begitu berat.


Bruaaaaaaaakkkkkk........


Ani dan Diaz terjatuh di lantai karena alat bantu jalannya tak pas ketika dalam posisi naik.


Kini Ani berada tepat diatas suaminya. Sejenak seperti adegan slow motion difilm romantis. Keduanya saling menatap. Jantung Ani berdetak sangat kencang, sementara milik Diaz perlahan mulai semakin membesar. Adegan itu tiba-tiba terhenti.


Tok.... tok.... tok.......


Suara ketukan pintu membuyarkan tatapan mereka. Ani mulai membangunkan suaminya dengan membantunya berjalan di ruang tamu.


Ani sungguh terkejut ketika membuka pintu rumahnya. ternyata Mbak Lia datang pagi ini membawa beberapa makanan. Mbak Lia juga membawa beberapa berkas dari kantor Diaz untuk ditandatangani oleh Suaminya.


Ani meninggalkan obrolan dengan mereka. Dia melanjutkan pekerjaan rumahnya yang masih banyak yang belum terselesaikan.


Beberapa menit berlalu, Ani membawa minuman untuk Mbak Lia namun keduanya sudah tak ada diruang tamu. Ani mencari suaminya di kamarnya namun juga tidak ada.


Setelah beberapa jam berlalu Ani kembali lagi kerumahnya. Membawa sebuah peralatan dan mesin jahit. Ani juga membeli beberapa potong kain.


Saat memasuki rumah terlihat hanya ada suaminya yang sedang asyik menonton drama. Diaz yang melihat kedatangan Ani, spontan mengeraskan suaranya dengan lantang. Diaz begitu marah karena Ani tidak berpamitan dengannya.


"Ingat perjanjian kita Mas?" ucap Ani.


Diaz terdiam. Perjanjian itu membuatku seperti terkekang, gumam Diaz.


"Apa yang kamu beli itu?," ucap Diaz.


"Mesin jahit Mas, Aku bosan dirumah saja. Hanya melihat kamu yang selalu menatapku dengan sinis."


"Terserah apa katamu."


Ani mulai memotong kain itu membentuk pola-pola yang dia inginkan. Dengan tangannya yang terampilu Dia membuat bajunya sendiri.

__ADS_1


Sementara itu dari kejauhan dia juga memperhatikan kegiatan istrinya. Ani tahu jika suaminya selalu memperhatikannya hingga terkadang Ani juga ikut menatap suaminya.


Hingga sore hari Ani masih sibuk dengan kegiatannya tak lama suaminya memanggilnya dan meminta Ani untuk membantunya ke kamar mandi.


Diaz meminta Ani untuk memandikannya. Ani merasa sedikit heran karena setiap sore biasanya suaminya tak mau mandi.


Ani mulai membantunya namun tiba-tiba suaminya meminta sesuatu yang membuat Ani penasaran.


"Ambilkan shampo itu, Aku ingin keramas," ucap Diaz.


"Bukankah tadi pagi sudah Mas. Kenapa keramas lagi," jawab Ani.


"Sudahlah jangan banyak tanya. Aku kan sudah membayarmu."


Ani tersenyum menatap wajah suaminya yang mulai salah tingkah. Apa yang dipikirkan Ani tadi pagi ternyata benar. Ani perlahan mulai menggoda suaminya hingga membuat Diaz emosi.


"Jika tidak salah, Aku tadi mendengar kamu sama Mbak Lia di kamar dan suaranya itu sangat keras sekali. Kenapa kamu tidak tinggal dengan Mbak Lia saja," ucap Ani.


"Terserah apa katamu. Kenapa kamu mengusirku bukankah ini rumahku. Jadi biarkan Aku berbuat semauku."


"Lalu kenapa kamu tak membiarkan Aku pergi dari sini. Apa kurang puas kamu menyiksaku Mas. Aku sudah kehilangan calon bayiku. Maafkan Aku jika membuatmu sakit hati dulu. Jika dendam mu terhadapku masih belum terbayar tolong beritahuku cara melunasinya."


Perlahan Ani mulai menangis teringat perlakuan kasar suaminya.


"Ingat yah, aku masih suamimu. Jika kami ingin kembali pada kekasihmu silahkan saja. Tapi ingat, kembalikan semua uang yang sudah ku berikan."


Ani menghela nafas panjang sambil berkata,


"Suami yang kejam," jawab Ani perlahan.


"Apa.......?"


Ani menatap suaminya dengan air mata yang tak tertahankan. Ani segera pergi meninggalkan suaminya sendirian.

__ADS_1


__ADS_2