
"Mas, Infus kamu sudah dilepas?," tanya Ani.
"Sudah..... hari ini Aku pulang. Kenapa kemaren kamu tidak datang?" ucap Diaz.
"Maafkan Aku, Kemaren Aku sakit dan dibawa kesini. Aku akan dirawat hingga besok pagi. Mas, apa kamu sudah bisa mengingat Aku?"
"Kenapa kamu jadi seperti ini?.
Aku hanya ingat jika Aku pernah dekat dengan seorang wanita. Entah mengapa semenjak pertama kali melihat kamu disini, ingin rasanya Aku selalu dekat."
"Panjang ceritanya Mas. Itu memang Aku Mas. Kita sudah lama menjalin hubungan hingga kamu akan melamarku dan akan menikahiku bulan depan."
"Benarkah? kenapa Aku hanya bisa mengingat hal-hal yang lalu. Aku hanya sering membayangkan seorang perempuan dan itu terlihat samar-samar."
"Coba kamu lihat handphone kamu Mas, Pasti ada foto kita berdua."
"Sejak disini, Aku tidak pernah melihat handphone. Aku juga tidak tahu dimana handphoneku."
Dari kejauhan seorang Ibu berteriak.
Agus...... Agus..... ayo pulang.....
Mereka berdua menoleh. Ani sungguh takut jika Ibu Mas Agus menceritakan jika dia sudah menikah.
"Mas, Aku mau kembali ke kamar yah. Maafkan Aku."
"Tunggu, dimana Aku harus mencarimu."
"kamu tahu rumahku Mas, nomor handphoneku juga masih sama."
Ani mulai mendorong kursi rodanya dengan tangan yang masih tertancap jarum infus. Ani mempercepat lajunya saat Ibunya Agus mulai menghampiri mereka.
Ani tersenyum, meskipun tatapan tajam dari Ibunya Agus tertuju kepadanya.
Sementara itu, Agus mulai menanyakan tentang Ani kepada ibunya. Namun Ibunya enggan membahas Ani dengan Agus.
"Bu, siapa wanita yang menggunakan kursi roda itu. mengapa Aku merasa begitu dekat dengannya?" ucap Agus.
"Entah, Ibu juga baru melihatnya. mungkin perasaan kamu saja. Sudah Ayo pulang, adikmu sudah menunggu didepan", jawab Ibu.
Agus berjalan pulang namun dia tetap memikirkan Ani dibenaknya.
Sementara itu sesampainya dikamar, Ani menangis memegang perut yang berisi calon anaknya dengan Agus. Ani menyesali nasibnya karena harus menikah dengan Diaz pria yang tidak pernah dia cintai.
"Mas Agus ini anakmu, bukan anak Mas Diaz," ucap Ani sambil menangis.
__ADS_1
Hingga malam hari Ani masih berada diruang perawatan sendirian tanpa seorangpun. Hanya suara TV yang sedikit membuatnya tidak merasa takut sendirian dikamar.
Tak lama setelah dokter datang. Ani meminta agar besok pagi dia bisa keluar dari rumah sakit.
Dokter sebenarnya belum memperbolehkan pulang namun Ani terus memaksanya hingga dokter memberikan begitu banyak vitamin.
Dokter memberikan sebuah suntikan pada cairan infus hingga membuat Ani mulai tertidur lelap.
Keesokan harinya Ani bersiap untuk pulang. Dia bingung karena asisten suaminya tak kunjung datang.
Ani tak membawa apapun kecuali baju yang pertama kali dia pakai saat pertama kali dia dibawa kerumah sakit.
Kamu sungguh kejam Mas, sedikitpun kamu tak pernah menengokku, gumam Ani.
tok.... tok....tok.....
"Masuk," ucap Ani.
"Bu, sudah siap?. Seluruh administrasi sudah saya selesai. Mari saya antarkan pulang." ucap asisten suaminya.
"Dimana Pak Diaz?"
"Tadi dikantor Bu. Sudah saya sampaikan jika Ibu pulang pagi ini dan beliau menyuruh saya mengantarkan ibu pulang. Silahkan Bu."
Ani menganggukkan kepalanya. Dia berjalan perlahan melewati lorong rumah sakit.
"Iyah," jawab Ani.
Ani mulai memasuki mobil mewah berwarna hitam. Ani tersenyum karena Diaz masih memberikan fasilitas meskipun dia sangat marah dengan Ani.
Selama perjalanan Ani hanya Diam tanpa berkata apapun. Hanya sesekali Ani melirik kaca spion bagian tengah karena asisten Suaminya selalu memperhatikan Ani lewat kaca.
Ani menyadari jika dia melewati jalan menuju kerumah Diaz yang diberikan untuknya.
"Pak, mengapa lewat sini. rumah saya dijalan Rahmat," ucap Ani.
"Maaf Bu, tapi Pak Diaz menyuruh saya untuk mengantarkan Ibu ke perumahan bukit indah."
"Tidak tolong antarkan saya kejalan Rahmat saja."
"Maaf Bu, ini sudah perintah Pak Diaz. saya takut jika dipecat."
Ani mengela nafas panjang. Masih saja kamu tidak mau melepaskanku, gumam Ani.
"Menurut kamu Pak Diaz itu orangnya seperti apa?" ucap Ani kepada asistennya.
__ADS_1
"Baik Bu, meskipun beliau orang yang keras kepala. Namun beliau juga sering membantu karyawan lain yang sedang kesusahan dalam keuangan. Beliau juga sering memberikan bonus kepada semua karyawan jika memang tender.
"Oh begitu."
"Maaf Bu, jika boleh saya tahu. Ibu ini siapanya Pak Diaz."
"Apa kamu orang kepercayaan Pak Diaz?. Menurut kamu saya itu siapa?"
"Iyah Bu, saya sudah bekerja sebelum Pak Diaz sukses. Dulu beliau juga sering menceritakan seorang wanita yang sangat dia cintai namun sayangnya wanita itu tidak pernah mau menerima cinta Pak Diaz. Maaf Bu, Apa itu Ibu?."
Ani hanya tersenyum mendengar perkataan asisten suaminya itu. Asisten suaminya hanya mampu menatap senyum Ani melalui spion tengah. Dia tidak berani untuk terus mempertahankan siapa Ani sebenarnya.
Tiga puluh menit berlalu, Ani terdiam dengan pandangan kosong. Dia memikirkan suaminya dan Agus yang masih Dia cintai.
"Bu....Bu..... kita sudah sampai," ucap asisten suaminya.
"Hah..... oh Iyah. Terimakasih sudah mengantarkan saya."
"Sama-sama Bu. Oh yah ini ada titipan dari Pak Diaz Bu."
"Iyah terima kasih, tolong sampaikan pada pak Diaz saya menunggunya nanti malam. saya permisi."
Ani mulai memasuki rumahnya. Semua masih dalam keadaan rapi. selama Ani dirumah sakit, suaminya tak pulang kesini.
Ani lekas menuju ke kamarnya dan beristirahat. Dia melihat handphonenya yang masih tergeletak dikamar. Ani melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Ibunya.
Ani mencoba menelpon Ibunya untuk mengetahui keadaan kedua orang tuanya. Ibunya menjelaskan jika Diazlah yang menjemput mereka ketika dari rumah sakit. Ibunya menjelaskan kebaikan Diaz saat memperlakukan mereka.
Ani tersenyum bahagia meskipun perlakuan yang dia terima tidak sebaik saat suaminya memperlakukan kedua orang tuanya.
Diaz juga tidak menjelaskan saat Ani sakit. Dia hanya mengatakan jika Ani sedang berada diluar kota didaerah pedalaman hingga kesulitan sinyal.
Ani mulai bernafas lega dan merebahkan dirinya di kasur.
Haruskah aku meninggalkan suamiku yang sudah baik kepada keluargaku hanya demi cintaku yang belum jelas ujungnya. Ahhhhh....... apa mungkin Aku harus mulai belajar mencintai suamiku dengan perlakuannya yang kasar. Ani terus bermonolog dengan dirinya.
Terima kasih Mas, sudah memperlakukan kedua orangtuaku dengan baik, gumam Ani.
Tangan Ani tak sengaja menyentuh sebuah paper bag. Ani membukanya. Ternyata berisi dua buah gaun pesta berwana peach yang sungguh indah.
namun gaun satunya merupakan gaun malam yang sangat tipis dan begitu seksi. entah apa yang ada dipikiran suaminya.
Didalamnya bertulikan sebuah pesan.
Aku ingin kamu memakainya besok.
__ADS_1
Ani menghela nafas panjang.
"Apa yang akan kamu lakukan lagi kepadaku Mas. Semoga kamu mau menerimaku," ucap Ani.