
Aku menarik tudung jaket coklat milikku menjadikannya sebagai pelindung untuk menutupi kepala. Wajahku sendiri berbalutkan kain. Ransel di punggungku terasa sedikit berat karena beberapa makanan kecil yang kubawa dari rumah nenek. Pandanganku agak berkunang-kunang akibat kurang tidur. Setelah percakapan mengharukan semalam, aku tidak bisa tidur sampai pagi. Bahkan ketika bibi pulang pada dini harinya, aku hanya pura-pura terlelap.
Langit masih agak gelap, walaupun begitu semburat jingga yang bersinar di garis cakrawala sudah terlihat. Aku memeluk diriku sendiri menghalau udara dingin yang datang bersama hembusan angin pagi.
Aku menatap kaki berbalut bot berwarna krem yang semakin lama semakin membawaku menjauh dari rumah nenek. Uap hangat keluar dari mulutku ketika menarik napas. Suasana hening, mencekam, hanya gesekan dedaunan yang bergoyang ketika tersapu angin yang terdengar. Pepohonan di sekitar sini mulai rapat, memberiku petunjuk bahwa tak jauh dari sini adalah wilayah GUARDIAN. Aku sempat bergidik ngeri membayangkan akan melewati labirin itu lagi, tapi itu adalah jalan tercepat menuju rumah Grace juga yang teraman.
Aku menarik napas berkali-kali meredakan kekhawatiran yang kurasakan sambil memikirkan alasan terbaik yang bisa menyelamatkanku dari omelan panjang Mom dan tentu saja interogasi dari Jaxon. Beberapa alasan yang terpikirkan masih masuk akal, tapi.... Semua rencana yang sempat terpikirkan olehku mendadak lenyap begitu saja ketika mataku menangkap sesuatu yang tidak seharusnya berada di sini, atau lebih tepatnya seseorang yang tidak seharusnya terlihat di tempat seperti ini.
Dia, rouge yang menjadi sumber mimpi buruku, juga rouge yang sama dengan yang kulihat di dalam cell tahanan. Dia berada tak begitu jauh dari tempatku berdiri. Dia berdiri menyandar di sala satu batang pohon besar yang daunnya lumayan rimbun. Tangannya bersedekap di dada, satu kakinya ditekuk ke belakang. Matanya terpejam, tapi aku tidak yakin dia tertidur. Beberapa daun jatuh di atas kepalanya, dan menyangkut di rambut bergelombang berwarna coklat miliknya. Dia berdiri tenang tidak terganggu dengan dinginnya udara pagi yang datang bersama hembusan angin. Meskipun dia tidak mengenakan apapun untuk menutupi dada bidang dan lengan ramping tapi berototnya.
Untuk sesaat aku terpanah pada pesonanya yang memukau, tapi aku menggeleng kecil, mencubit pipi sendiri, dia rouge dan rouge itu berbahaya.
“keluarlah.” Suara bassnya sedikit menggema.
Aku berjengit kaget, naluri kaburku terbangun cepat. Jadi, dia tau yah? Kalau aku memandangnya sejak tadi. Aku menatap ke sekeliling dengan serangan rasa panic yang melanda, mencari tempat aman untuk bersembunyi. Jika sampai tertangkap habislah aku. Aku terlalu sibuk menetralisir ketakutan hingga tidak sadar bahwa dia tidak sendirian.
“Tajam seperti biasanya,” suara lain yang menyahut membuatku berhenti dari pikiran kacauku. Suaranya lembut dan halus, seorang perempuan.
Suara gemerisik rerumputan terdengar dari arah belakang ROUGE itu. Aku mengalihkan pandangan pada sosok yang baru saja bergabung. Di sana seorang perempuan cantik berjalan anggun mendekati si rouge. Apakah itu anggota kawanannya?
Aku berjalan pelan ke arah semak-semak yang cukup tinggi dan bersembunyi di baliknya. Bukan bermaksud menguping, tapi aku perlu tau apa yang mereka bicarakan. Mereka pasti tengah merencanakan sesuatu yang berbahaya kalau tidak, mereka tidak akan bertemu di tempat seperti ini dan di waktu sepagi ini. Lagipula segala sesuatu yang menyangkut para rouge itu pasti tidak akan baik untuk kawanan ini.
“Bagaimana kau bisa tau aku di sini?”
Si rouge membuka mata menatap gadis yang berdiri di hadapannya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa gadis itu, karena dia berdiri menyamping.
“Insting,” balasnya lembut. Jelas sekali kalau keduanya memiliki hubungan khusus. Cara bicara gadis itu begitu lembut, halus dan penuh perasaan. Oh, aku mulai dramatis.
“Tidak seharusnya kau berada di sini. Pulanglah!”
“kau mengusirku?” tanya gadis itu dengan nada merajuk. Tangannya mengambil daun kering yang jatuh di kepala sang ROUGE laki-laki.
“Tidak. Bukan begitu.”
Aku mulai merasa muak. Rasanya kisah romantis tentang sepasang kekasih yang berlainan tempat tinggal, yang harus bertemu secara diam-diam untuk memadu kasih, sebab kedua keluarga tidak memberi restu pada hubungan asmara keduanya, sedang terjadi di depan mataku. Namun ini bukan versi kerajaan manusia yang ada dalam buku dongeng Floren, melainkan versi para ROUGE. Aku geli sendiri dengan pikiranku. Namun tunggu, otakku mulai menyusun imajinasi lain, mungkinkah mereka berdua adalah pasangan lain yang di mana sala satunya anggota pack dan satunya ROUGE, seperti Helena?
Aku mengigit bibir kuat, menahan dorongan untuk tertawa. Konyol sekali.
“Akhir-akhir ini kau bertingkah aneh. Apa terjadi sesuatu?” Setiap kata yang terucap dari bibir gadis itu dipenuhi rasa khawatir.
“Tidak, tidak ada yang terjadi?” Dan sang pemuda tengah menenangkan gadisnya dan memilih menutupinya.
“Kau tidak pandai berbohong, kau tahu. Aku sudah mendengarnya dari Kaden, kau kehilangan diri lagi.” Suara gadis itu semakin pelan dengan kegelisahan yang begitu kentara. “Bagaimana kau bisa bersikap begitu kejam? Menyembunyikan hal seperti itu dariku.”
Sang pemuda menghela napas, mata gelapnya menatap sang gadis dengan sorot penyesalan. “Aku tidak bermaksud begitu, aku sendiri bingung bagaimana menjelaskannya. Yang terjadi kali ini diluar ekspektasi, dan aku tidak tahu bagaimana mengatasinya.”
Sangat malang, masalah di luar dugaan memang memusingkan. Aku mengerti perasaan pemuda itu, tapi … aku menggeleng pelan, mengusir semua pikiran konyol di kepala. Oke, berhentilah berperan sebagai narator dalam kisah mereka berdua dan fokus untuk mengawasinya, tegurku pada diri sendiri.
“Aku ada di sini untuk mendengarkan.” Oh, betapa mulianya hati gadis ini. “Kau tidak harus menanggung semuanya sendirian, Dreas.”
Dreas? Bagaimana bisa seorang ROUGE memiliki nama seindah itu?
“Kau selalu tahu bagaimana cara menenangkanku.” Pemuda itu menunjukkan wajah penuh rasa terima kasih, seolah dia anak tersesat yang diselamatkan seorang malaikat.
Aku menutup hidungku menghalau bau tak sedap yang datang bersama hembusan angin.
“Uhh!” keluhku tertahan.
Aku harus bertahan. Aku perlu mengawasi kedua rouge yang tengah memainkan drama picisan sepasang kekasih yang baru bertemu itu.
“Kau tahu, aku adalah milikmu, dan akan selalu begitu.’
Tak lama kemudian keduanya berciuman, ralat si gadis yang mencium si rouge. Sedangkan si rouge hanya terdiam, ia tidak membalas walaupun tidak juga menolak. Huh! Sial sekali, setelah waktu itu GUARDIAN, sekarang aku harus menyaksikan adegan tak senonoh lain dari pasangan ROUGE. Yah, walau kali ini kadarnya lebih aman.
Aku menggertakan gigi kesal, merasakan dorongan kuat untuk melemparkan sesuatu ketika melihat adegan itu. Bahkan sekarang gadis itu dengan santainya melingkarkan kedua lengannya di leher si rouge.
“Hentikan!” ROUGE laki-laki itu menghentikan ciuman keduanya secara paksa. Keningnya berkerut, matanya dipenuhi rasa bersalah.
“Maaf,kan aku.” Ia memalingkan pandangan menjaga jarak.
“Kenapa? Kenapa kau menolak?” Suara sang gadis bergetar menahan tangis.
“Bukan begitu.” Dasar laki-laki cibirku. “kita tidak seharusnya melakukan ini. Lagipula kau... “
“kau juga tau aku tidak menginginkan hal itu. Aku hanya mencintaimu.”
Suara gadis itu meninggi, terduduk dengan kedua tangan menutupi wajah.
“Please ...” Gadis itu memohon. “jangan menolak. Aku hanya ingin menikmati waktu bersamamu. Aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk melakukannya.”
__ADS_1
“Tapi ...”
“Please!” Gadis itu memohon lagi.
Aku mendengus lelah, enggan mengotori mata suciku dengan adegan tak pantas itu. Namun sepertinya ternoda oleh adegan dewasa lebih baik daripada melihat benda yang tersaji tak jauh di hadapanku.
Beberapa potongan tubuh yang kuduga adalah milik seorang shifter. Tercecer dengan kondisi mengenaskan, yang paling dekat denganku adalah sebuah potongan tangan, hanya lengan dengan kelima jari yang masih lengkap. Dagingnya terkoyak hingga memperlihatkan tulangnya yang sedikit remuk. Kulit dan dagingnya sudah membusuk dan di penuhi dengan beberapa hewan kecil yang mengerumuninya.
Aku refleks menutup mulut, menyelamatkan roti selai yang rasanya mau keluar dari perutku.
Jadi dari potongan tubuh inilah, aroma tak sedap itu berasal? Aku bukan seorang WARRIOR dan tidak pandai menilai sesuatu, tapi dari kondisi jasadnya yang sudah membusuk, bisa dipastikan kejadiannya bukan baru-baru ini. Kasian sekali, shifter ini. Aku terlalu fokus dengan perasaan simpati yang muncul secara alami itu sampai-sampai tak sadar jika tubuhku bergerak keluar dari persembunyian.
“Siapa kau?” Pekikan terkejut dari si gadis ROUGE menyadarkan aku akan situasi yang terjadi. Gawat! Aku tertangkap basah.
Kerja otakku melambat akibat Shock dan rasa panik yang melanda secara bersamaan. Namun untungnya tubuhku sudah terlatih baik jika itu menyangkut urusan melarikan diri. Rasanya seolah kakiku memiliki pikiran sendiri.
“Penyusup!”
Oke, moment seperti ini bukan pertama kali, jadi respon tubuhku pun tidak lagi lambat. Kakiku menginjak rumput secara kasar dalam prosesnya, tapi arah yang kutuju tampaknya salah. Langkahku membawa ke arah sebaliknya dari yang diperintahkan otak. Namun tidak ada waktu untuk menyesalinya priotitas utama adalah menghilang dari sana.
“Kau, pikir bisa kabur begitu saja?”
Suara bass si ROUGE laki-laki membuat tubuhku menegang. Bagaimana ia bisa mengejar secepat itu? Pertanyaan itu berakhir tanpa jawaban dan ranselku di tarik lalu berikutnya tubuhku dilemparkan ke sala satu batang pohon.
Aku merintih pelan merasakan tulang belakangku remuk. “Bagaimana kau bisa masuk ke tempat ini?”
Seperti apa yang diharapkan dari para shifter berjiwa manusia minim, liar, dan lebih mengedepankan kekerasan. Sepasang lengan melingkari leherku, menahan laju pasokan oksigen yang masuk. Aku yakin itu akan meninggalkan bekas nantinya.
“Jawab!” bentaknya ketika aku tidak merespon. ROUGE satu ini, aku tidak tahu dia bisa jadi sangat bodoh. Bagaimana aku bisa menjawab jika bernapas saja aku kesulitan.
“Dreas,” panggil si gadis ROUGE. “aku melihat potongan tubuh shifter di tempat di mana penyusup ini keluar.”
Informasi tambahan yang sangat berguna, aku bertepuk tangan dalam pikiran, mengapresiasi pekerjaan gadis ROUGE itu yang sudah menambah penderitaanku. Sekarang aku tidak hanya dicekik, tapi juga di gantung, aku tidak lagi merasakan rerumputan di bawah kakiku.
Suara geraman si ROUGE laki-laki mengirim peringatan berbahaya pada otakku. Tubuhku yang memang sedang mengambang sekali lagi berayun lalu kurasakan kerasnya batu. Posisi jatuh yang miring membuat area lengan atas kali ini mendapat jatah serangan rasa sakit.
“Beraninya kau berbuat begitu pada anggota kami.” Suaranya rendah, mengirimkan sensasi dingin ke sekujur tubuhku, tapi anehnya itu bukan jenis dingin yang mana membuat bulu kuduk merinding, itu dingin yang lain, yang tidak kukenal.
“Cukup Dreas. Kita bawah dia keruang interogasi,” ucap si gadis ROUGE.
Tubuhku masih menggigil, tapi karena alasan berbeda, dan apa tadi? Ruang interogasi. Setahuku para ROUGE langsung mengesekusi korbannya di tempat. Perilaku tak biasa ini, jangan-jangan ROUGE aneh dan lebih berbahaya yang waktu itu dikatakan Aiolos, adalah mereka ini. Mereka menyerang secara terorganisir, tapi tidak penting memikirkan mereka ROUGE yang mana. Saat ini aku harus memikirkan bagaimana selamat dari ini.
Kerah jaket belakangku kembali ditarik, aku melayang diagonal ke arah, seharusnya pohon lain, tapi alih-alih benda keras. Tubuhku malah mendarat di sebuah tubuh seseorang kurasa, karena rasanya hangat dan tidak keras seperti pohon ataupun tanah. Kedua lenganku yang dikunci dengan pelintiran erat menambah kuat dugaanku.
“Landon!” seru si gadis ROUGE menyebut sebuah nama, yang kuduga milik seseorang yang tengah mengunci tubuhku.
Tidak adil sama sekali, mereka memanggil kawanan.
“Hai, aku tidak sengaja sedang lewat. Kalian tidak keberatan aku bergabung.” Seseorang bernama Landon ini, berbicara dengan nada ceria. “Sudah lama aku tidak menggerakkan tubuh.”
Napasku tercekat saat pelintiran ditanganku semakin erat. Rasa sakit yang datang bertubi-tubi membuatku tidak bisa berpikir jernih.
“Kau bisa mematahkan lengannya.”
Lenganku sudah patah, pikirku menyahuti suara lain yang baru saja bergabung. Suara dalam dan lebih berat dari kedua suara ROUGE laki-laki sebelumnya. Sebenarnya ada berapa ROUGE di sini? Bagaimana mereka bisa masuk dan berkeliaran bebas di sini? Di mana para WARRIOR yang seharusnya berjaga? Banyak sekali pertanyaan yang berseliweran di benakku.
“Dia pantas mendapatkan yang lebih. Mengingat bagaimana dia dengan sadisnya menghabisi sala satu anggota kita,” ucapnya kejam.
Huh! Jadi potongan tubuh itu milik rekan mereka? Sayang sekali rasa simpatiku tadi yang terbuang sia-sia.
“Lagipula, dia akan mendapat penyiksaan yang lebih dari ini jika di bawah ke ruang introgasi.”
Konyol sekali, mereka malah berdebat mengenai apa yang harus dilakukan kepadaku.
“Jadi bagaimana?” Landon bertanya, melonggarkan cengkraman eratnya. Aku menarik napas lega, menetralisir rasa sakit yang perlahan menghilang.
“Boleh aku saja yang melakukannya?” pinta suara lain.
Aku mengerang tertahan, tulang belakang, bahu kiri, kedua lengan, semuanya terasa sakit, dan pembicaraan mereka yang berebut ingin mengesekusiku menambah sakit telingaku. Apakah para ROUGE memang seperti ini? Bodoh karena masalah sepeleh.
“Apa kau akan menggunakan kekuatanmu Valdus?” tanya Landon.
Kekuatan? Apalagi sekarang? Seolah tingkah tak biasa ini belum cukup membuat tubuhku tersiksa, sekarang mereka menyerang otakku dengan pembahasan aneh. Sekarang aku jadi meragukan kalau mereka ROUGE. ROUGE biasanya hanya mengigit dan mencakar, tapi kekuatan? Sebenarnya mereka ini siapa?
“Yah itu akan mempermudah segalanya,” sahut Valdus mantap.
Percaya diri sekali. Mereka pikir aku akan menyerah begitu saja? Tentu saja tidak, aku bersumpah akan balas dendam, bahkan jika yang datang menuntut hanyalah rohku. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup damai begitu saja.
“Jangan!” teriak si gadis ROUGE. “tidak perlu sampai sejauh itu.”
__ADS_1
“Baik hati seperti biasanya yah, Selena.” Aku mendeteksi nada ejekan dalam suaranya, tapi apa katanya tadi? Selena? Rasanya nama itu familiar. Aku mengorek otak mencari sesuatu yang berkaitan dengan nama itu. Oh, benar itu nama putri Alpha David yang terhormat, tapi apa yang dilakukannya dengan para komplotan … anggap saja ROUGE ini.
“Please! Kita hanya perlu menanyainya,” pinta Selena. “lagipula dia belum tentu pelakunya kan.” lanjutnya.
Aku mendengus sinis. Bagus sekali, setidaknya ada satu orang yang punya otak. Seharusnya kau mengatakan itu sejak tadi gadis bodoh, cibirku dalam diam. Setelah semua rasa sakit ini, agaknya itu terlambat, tapi apa boleh buat. Aku tidak bisa mengharapkan hal waras dari orang-orang tak punya otak.
“Aku setuju dengan Dreas.” ROUGE yang belum kuketahui namanya itu angkat bicara. “lebih baik diselesaikan dengan cepat sebelum para Alpha ikut campur.”
Aku semakin tidak mengerti arah percakapan mereka, dan tubuhku yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehabisan tenaga, memperburuk keadaan. Itu wajar, pagi ini aku hanya makan sepotong roti, dan dipukuli tanpa bisa membela diri. Aku meringiss, tragis sekali nasibku ini.
“Tapi, Killian.”
“Kurasa ini bukan urusanmu.” si Killian menyelah cepat, ada nada tertanggu dalam suaranya.
“Kalau begitu sudah diputuskan.” Landon berucap semangat.
“Biar aku yang mengesekusinya,” pinta Valdus.
Bagus sekali, mereka berebut siapa yang harus menjadi pengesekusinya. Kenapa tidak sekalian saja berbarengan, toh ujung-ujungnya aku tetap bakal mati.
Landon mendorong tubuhku hingga terhuyung, tapi sebelum sempat roboh seseorang sudah menangkapnya lebih dulu.
“bisakah kita melihat wajahnya dulu sebelum di eksekusi?” tanya Landon. Antusiasme yang besar terdengar jelas dalam kalimatnya.
Keinginan macam apa itu? konyol sekali. Apa mereka berniat menikmati ekspresi kesakitanku ya? Sayang sekali aku tidak akan menunjukkannya.
“Tentu,” sahut Valdus cepat. “Tapi setelah dia mati.” Lanjutnya.
Tubuhku diangkat lalu di banting ke tanah dengan keras. Aku mengerang halus, seluruh tubuhku berdenyut ngilu, penglihatanku memutih. Napasku terasa sesak saat kurasakan sebuah benda menekan dadaku. Lalu seseorang menarik tudung jaket dan kain penutup wajahku.
Sial!
“Wow!”
“Oh, sial”
“Dia perempuan.”
Aku terlalu lelah untuk menanggapi respon aneh mereka. Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Dan lagi, apakah mereka memang sebodoh itu sampai tidak bisa mengenali ciri fisik seseorang. Aku ingat kalau tubuhku seringan kapas.
Benda yang mendindih dadaku menghilang bersamaan keterkejutan mereka. Aku menarik napas sebanyak yang kubisa menengelamkan diri dalam rasa sakit. Untuk sesaat semuanya terasa hening. Aku tidak tau apa yang terjadi pada para ROUGE ini dan aku juga tidak peduli.
“Hei, apa menurutmu dia mati?”
“Dreas, kau yakin dia ROUGE?”
“Kurasa kita sudah berlebihan tadi.”
Suara percakapan mereka terdengar samar dan jauh. Aku masih diam tidak bergerak, atau lebih tepatnya tidak punya tenaga untuk bergerak dan membiarkan keadaan begitu saja.
“Kurasa dia benar-benar mati.”
Aku masih hidup bodoh, bagaimana aku bisa mendengarmu kalau aku mati.
“Tidak, dia hanya sekarat, aku masih mendengar detak jantungnya walaupun lemah.”
Aku terkekeh, mereka benar-benar konyol. Tidak cocok untuk image ROUGE yang mereka sandang.
“Dreas, katakan sesuatu.”
“Seharusnya kalian mendengarkanku tadi.”
“Kurasa aku pernah melihatnya di suatu tempat belum lama ini.”
Aku memiliki dorongan kuat untuk membuka mata, penasaran akan ekspresi para pengeroyokku, pasti sangat konyol. Aku harus melihat wajah mereka, setidaknya sekali, agar nanti tidak salah sasaran jika ingin menuntut balas.
“Bagaimana bisa?”
Aku tidak memahami nada yang terkandung dalam suara yang terakhir. Ada rasa tak percaya, sedih, penyesalan. Oke, otakku pasti sedang bermasalah sekarang. Saking bermasalahnya, aku sampai bisa merasakan sentuhan lembut di wajahku.
Heh! ROUGE kurang ajar yang mana itu? berani sekali menyentuhku. Aku membuka mata perlahan dan di sambut dengan sepasang mata gelap familiar. Tanpa sadar, aku menyeringai, bahkan dalam keadaan hampir mati begini, aku masih bisa terpanah pada ketampanan rouge sialan itu. Aku terdiam menikmati raut wajahnya yang kaku dengan tekstur tubuh tegang. Mata hitamnya berkilat dengan kelibatan emosi beragam. Tapi yang paling jelas adalah takjub. Seolah aku adalah sebuah keajaiban yang tidak pernah dipikirkan olehnya.
Aku menatap mata hitam itu lama perasaan aneh mengalir di sekujur tubuhku, lebih kuat dan lebih dahsyat dari rasa sakit akibat penyiksaan yang dilakukan oleh para rouge lain tadi.
Perlahan semuanya terasa beku, buram, yang terlihat hanya mata hitam itu, seolah dia adalah pusat duniaku. Aku bahkan tidak merasakan sakit lagi.
Apa semua orang yang akan mati selalu merasakan ini? Tapi aku tidak ingin mati. Aku ingin menatap mata hitam itu lebih lama lagi. Aku ingin mendengar suaranya lebih lama lagi. Dan aku ingin bersamanya.
TBC.
__ADS_1