The Guardian

The Guardian
Karena kau milikku


__ADS_3

Aku terdiam bermenit-menit lamanya. Memandangi Dreas layaknya orang idiot. Bersama ekpresi konyol yang tak juga bisa lenyap di wajahku.


"Bagaimana kau bisa kemari?" Tanyaku lega. Tidak mungkin kan dia sengaja repot-repot mencariku hingga kemari.


Dreas tidak menjawab hanya memeluk tubuhku erat sambil menarik napas lega.


Normalnya aku akan mendorongnya tapi rupanya otot penggerak lenganku menolak mengikut perintah otak. Ia melakukan sebaliknya balas merangkul Dreas.


"Aku akan selalu menemukan di manapun kau berada, Azu." Ia mengurai pelukan menatapku tanpa berkedip.


Kurasa semburat merah pasti tengah mewarnai pipiku sekarang. Sulit rasanya memalingkan pandangan bahkan hanya untuk sedetik saja darinya. Kami tidak bertemu hanya sehari semalam, tapi rasanya ia jadi benar-benar luar biasa tampan dan entah bagaimana malam ini ketampanannya jadi berjuta-juta lipat.


Tubuh tegap, liatnya tampak begitu mengiurkan untuk di sentuh. Di tambah effect siraman cahaya bulan sabit di belakangnya. Ah sungguh! Inilah yang di maksud dengan malaikat turun ke bumi.


Aku sedang menikmati pemandangan wajah Dreas yang memanjakan mata saat sebuah suara menyelah. Nadanya sangat datar.


"Kau yang melakukan ini?"


Pandanganku beralih pada Valdus yang sedang menatap rerumputan, sisa-sisa perseteruanku dengan Dark ROUGE beberapa waktu lalu.


"Aku juga tidak percaya bahwa pelakunya adalah aku sendiri," kataku setengah berkelakar. Dalam diam merasa bangga atas pencapaianku. Itu adalah rekor terbaru karena aku berhasil menangkan pertarungan satu lawan satu tanpa ada yang menolong.


Makhluk itu sudah menghilang entah kemana tapi aku belum boleh mengendurkan pengawasan. Sang penghancur itu secepat angin bisa saja ia tiba-tiba menyerang.


"Kau mencari sesuatu?" Dreas mengikut arah pandanganku.


"Tidak, aku hanya waspada."


Sang penghancur itu beberapa waktu lalu ada di sini. Tidak mungkin ia pergi secepat itu. Firasatku mengatakan ia ada di suatu tempat di balik kegelapan ini mengawasi kami.


"Memangnya kau boleh berkeliaran di sini? Bagaimana Selena? Kupikir tugas utamamu menjaganya."


"Aku bukan pengawalnya." Ia menatapku dalam. "Ayo, kita kembali."


Terkadang aku bertanya-tanya. Apa yang ingin di sampaikan Dewi bulan padaku hingga terus-terusan memberikan kilas memori acak itu? Apa yang ia harapkan? Kurasa ia lebih tau dari siapapun di dunia ini bahwa aku adalah orang yang sangat tidak tepat.


Aku tidak pandai bertarung, tidak pintar mengambil keputusan, dan cenderung ceroboh ketika melakukan sesuatu. Jadi mengapa? Apa yang ia lihat dariku?

__ADS_1


Aku terlalu tenggelam dalam lamunan hingga tak menyadari bahwa kami sudah melewati perbatasan pack. Malam sudah setengah jalan bulan pucat sedang dalam fase senyum lebarnya sekarang.


Mataku berpindah kepada Dreas yang menggendongku untuk kedua kali. Tak ada perubahan berarti pada dirinya kecuali matanya. Mata gelap itu terlihat sangat hidup sekarang. Sejujurnya aku bisa jalan sendiri, racun dark ROUGE tidak memberi efek apapun kecuali kilasan memori, itupun kalau memang gara-gara mereka. Aku curiga akan adanya kemungkinan mantra sihir di dalam racun itu. Biar bagaimanapun makhluk itu satu keturunan dengan ras penyihir.


"Dreas!" Panggilku pelan."apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Selain perang suci ada satu memori lain dari kilasan itu yang menggangguku. Orang-orang berjubah hitam yang menyerangku di bawah sinar bulan merah itu. Penampilan mereka terlalu kebetulan jika hanya sekedar sama tapi yang paling memperkuat dugaanku adalah sosok yang menangis itu. Ia punya suara yang sama dengan pria ini.


"Kau serius bertanya begitu?"


Alis Dreas bertaut, menatapku dengan sorot : kau bodoh dan semacamnya. Aku sengaja tidak melawan saat ia menggendongku tadi. Ada hal yang ingin kupastikan dari posisi seperti ini.


"Bukan akhir-akhir ini," kataku menambahkan buru-buru. "Jauh sebelum itu, mungkin di masa lalu?"


Dreas terkekeh kecil. Ah, ia pasti berpikir bahwa aku sedang membuat lelucon sekarang.


"Aku serius Dreas, aku merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya. Kau mungkin tidak percaya tapi di mimpi itu suaranya benar-benar milikmu."


"Jadi kau sering memimpikanku begitu?"


"Ya, aku tahu, kau bisa menganggapnya lelucon. Lagipula siapa yang akan percaya pada mimpi bodoh tentang perang suci ribuan tahun lalu. Bahkan aku sendiri merasa konyol berpikir kalau kalian adalah orang yang sama dengan sosok-sosok yang menyerang gadis cantikĀ  berkekuatan sinar biru. Apalagi dengan latar bulan merah."


Aku praktisnya merajuk gara-gara kesal memutuskan untuk mendiamkan Dreas di sisa perjalanan kalau perlu selamanya. Namun tanggapan Dreas yang jauh dari dugaanku setelah mendengar keseluruhan ceritanya itu membuatku penasaran. Sulit untuk melihat dari wajah karena ia membelakangi cahaya bulan tapi dari gestur tubuhnya yang tegang aku tahu Dreas terkejut.


"Kau bilang apa barusan?"


Aku mendengus melemparkan pandangan pada punggung Valdus yang memimpin jalan di depan. Dalam hati bersorak riang karena Dreas tidak membawa Kaden. Jika pria itu ada di sini ia pasti akan mengejek pikiranku sekarang.


"Kupikir kau hanya menganggap itu lelucon," balasku menyindir.


"Tidak, apa kau benar-benar melihatnya? Di dalam mimpi?"


"Aku tidak hanya sekadar melihatnya Dreas. Aku menjadi sala satu darinya, sayangnya peranku cuma jadi gadis sekarat yang tergeletak di lengan sala sosok berjubah hitam yang bisanya cuma menangis."


Tidak perlu kutambahkan bagian di mana adegan ke empat sosok lainnya yang menyerangku secara membabi buta.


"Mungkinkah?" Suara Dreas kecil ditambah hembusan angin membuatku sulit mendengarnya jelas.

__ADS_1


"Tenanglah, Dreas. Itu hanya mimpi konyol," kataku tak berminat.


"Apakah, sosok itu mengatakan sesuatu?" Suara Dreas menjadi setegang tubuhnya.


"Hmmm!" Aku mengorek lagi memori mimpi tak masuk akal itu."yah, kata-kata tidak percaya semacam 'mengapa harus dirimu? Dan aku akan menemukanmu lagi."


Aku menyipitkan mata menatapnya curiga. "Kenapa kau tiba-tiba tertarik?"


"Tidak, rasanya aku pernah mendengar hal serupa di suatu tempat sebelum ini."


Kisah yang sama dari orang berbeda. Seperti para GUARDIAN dan sosok dalam mimpi.


"Itu lebih mencurigakan."


"Seperti kau pernah percaya pada orang lain saja."


Aku menatapnya sengit, sedikit banyak tersinggung meski tak bisa dipungkiri perkataannya benar adanya.


"Omong-omong, kenapa kalian tidak berubah saja? Itu akan memangkas waktu perjalanan. " Lalu kemudian aku tersadar oleh sesuatu. "Aku belum pernah melihat wujud lain itu."


"Mengeluarkan wujud itu hanya untuk berjalan adalah pemborosan tenaga."


Aku menangkap nada ejekan di sana. Seolah ia sengaja mengatakannya untuk menyindir kebiasaan kawanan yang sedikit-sedikit merubah wujud itu.


"Dreas! Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Kau tidak perlu izin, Azu. Kau bebas menanyakan apapun dan kapanpun."


Aku menatapnya ragu-ragu, sudah lama aku ingin menanyakan hal ini padanya.


"Kenapa kau begitu peduli padaku?"


Jika ini hanya gara-gara aku memegang rahasia mereka rasanya terlalu berlebihan. Selain itu hanya Dreas yang selalu bersikap aneh padaku karena itu aku memilih bertanya apanya.


"Karena kau milikku."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2