
Serangkaian emosi lalu lalang dalam pikiranku membentuk jalinan kata yang tak tersampaikan. Mulutku keluh walau ada banyak pertanyaan yang perlu dikeluarkan.
Dia benar-benar sebuah rasa rumit dan aku pusing. Harus bagaimana sekarang? Setelah segala usaha dalam menghindarinya menemui kata buntu. Aku menyerah pada kenyataan membiarkan semua terjadi. Tak mungkin lagi bagiku untuk berlari menjauh tidak setelah tangannya menggapai lenganku.
"Jadi, kau sudah puas bersembunyi dan memutuskan untuk keluar menghadapi secara langsung?"
Aku gagal menahan nada sarkasik yang keluar, pun, senyum sinis yang terpoles. Walau sebenarnya dalam hati aku merasakan sebaliknya dan aku benci mengakuinya. Dia tidak boleh tahu seberapa besar dampak kehadirannya padaku.
"Kita perlu berbicara."
Mata gelapnya balas menatap membekukan. Terasa seperti pikiranku disedot kesuatu tempat yang jauh. Aku nyaris kehilangan diri lagi.
"Tentu saja. Kau harus bertanggung jawab atas semua hukuman menyebalkan yang harus kujalani."
Tak perlu kujabarkan satu-satu apa itu. Namun intinya menyebalkan. Kepalaku selalu berasap ketika mengingatnya.
Dalam sepersekian detik ia tetap diam, memandangiku dengan sorot yang tak kumengerti. Bukan karena aku tak bisa membaca emosi yang terlihat di dalamnya, melainkan karena aku heran mengapa pandangan itu harus diarahkan padaku. Sejujurnya dia tak memiliki alasan untuk melakukan itu.
"Sepertinya aku pernah mendengar hal yang semacam itu di suatu tempat. " Ia menyeringai, terlepas dari fase bisunya.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Aku tidak perlu bertanya bagaimana ia bisa memilih waktu dan tempat yang sangat tepat untuk membuat kesempatan bicara, karena aku sendiri sengaja membiarkan diri untuk sendirian. Tindakan bodoh sebenarnya, tapi entah bagaimana aku punya firasat bahwa ia tak akan berhenti, selain itu ini bisa jadi kesempatan besar untuk membuktikan perkataanku waktu itu. Dia nyata dan para GUARDIAN tak akan bisa lagi mengelaknya.
Masalahnya hanya satu, bagaimana cara membuat orang lain agar melihatnya juga tanpa terlibat masalah. Aku perlu bukti untuk membalas perlakuan tak menyenangkan dari para GUARDIAN sekaligus mendapatkan pertanggung jawaban dari orang ini. Aku tak akan lupa dengan pengeroyokan hari itu.
"Kita harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi."
Salah paham? Oh, benar. Seharusnya ia melakukan itu lebih awal jadi aku tidak perlu mengalami moment di mana menginap di penjara labirin sebagai pelaku kejahatan, sayang sekali ROUGE satu ini baru menggunakan kewarasannya sekarang. Aku menahan semua kata-kata itu di ujung lidah, mengunci bibir mengizinkan dia sepenuhnya untuk menyelesaikan.
"Aku bukan seperti dugaanmu. Aku bukan ROUGE."
Pikiranku mulai pecah oleh berbagai asumsi, tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa dia sala satu kawanan penindas.
__ADS_1
"Kalau begitu semua sudah jelas. Maukah kau pergi bersamaku dan menemui para GUARDIAN untuk menjelaskan kesalahpahaman? Aku tidak ingin dianggap pelaku pembunuhan."
Aku tersenyum lega, melompat-lompat dalam pikiran. Sekarang aku akan memiliki kesempatan untuk membalas para GUARDIAN itu. Mereka salah telah mengabaikan kata-kataku.
"Tidak, itu tidak perlu." Ia menolak tegas, bertingkah agak aneh dan memalingkan pandangan dariku. Tampak ia sedang menghindari sesuatu.
"Kenapa?" Tanyaku, mulai merasakan tekanan rasa jengkel yang perlahan naik. Ini buruk, aku harus menahan diri.
"Karena aku sudah menjelaskan perkara itu pada mereka."
"Kau seorang WARRIOR."
Hanya itu penjelasan masuk akal untuk situasinya. Jika ia bukan seorang ROUGE maka ia pasti anggota WARIOR. Penduduk biasa tidak diizinkan mendekati wilayah GUARDIAN tanpa kepentingan mendesak.
"Untuk saat ini anggap saja begitu."
Masih berniat tidak jujur rupanya.
"Baiklah, semua sudah jelas. Bisakah kau tidak melakukan itu lagi? Mengawasiku sepanjang hari. Sejujurnya itu agak mengerikan.". Aku bergidik, tidak benar-benar takut, hanya sebagai upaya penegasan agar kebohonganku terlihat nyata.
Hei, seharusnya akulah yang marah di sini.
"Kau tidak bisa melakukan itu."
Aku mengerenyit menarik napas dalam-dalam. Oke, jangan terpancing emosi, aku di sini untuk menyelesaikan semuanya.
"Seharusnya aku yang berkata begitu. Kau tidak bisa melakukan itu, mengawasiku sepanjang hari, menebarkan terror yang membuat jantungku memburuk di setiap waktunya."
Aku gagal untuk tidak meninggikan suara. Mengapa Shifter satu ini harus memperumit situasi? Tidakkah dia mengerti bagaimana mengerikannya ketegangan yang kurasakan. Sepanjang waktu aku merasa pusing memikirkan berbagai hal demi menemukan solusi untuk masalah ini. Aku bahkan tak bisa memberitahu orang-orang bahwa aku diawasi gara-gara khawatir itu akan menyebabkan mereka terluka dan ia dengan entengnya menolak.
"Dengar, jika ini mengenai apa yang kau lakukan dengan gadis itu. Aku bisa menjamin mulutku tidak akan bocor tapi berhenti mengawasiku diam-diam. Kau tidak memiliki keuntungan dengan melakukan itu."
Aku bernapas cepat dalam upaya menenangkan diri. Ia beruntung aku masih berusaha untuk tenang meski sejujurnya dari tadi aku gatal ingin melompat kearahnya dan melakukan berbagai macam hal.
__ADS_1
"Kau melihatnya."
Suaranya terdengar sedih dan ... Apa-apaan sorot mata bersalah itu?
"Kau menangkap point yang salah. Aku tidak memperdulikan masalah itu."
Oke, itu bohong. Dalam beberapa kesempatan aku merasakan emosi yang meluap dan ingin menghancurkan gadis itu entah karena apa. Namun aku sadar itu perilaku yang tidak sepatutnya tidak ada alasan bagiku untuk melakukan itu. Mau mereka melakukan apapun itu bukan urusanku, aku menegaskan diri, tapi kadang memang terasa menyebalkan sih.
"Kenapa kau harus bersikap sekejam itu?" Suaranya lemah dan teraniaya.
Apa? Aku bersikap kejam? Bagaimana keadaannya bisa menjadi terbalik begini?
"Setelah kau memukuliku hingga nyaris mati waktu itu. Bersikap kejam masihlah hal baik, aku seharusnya menyerahkanmu pada pihak kemanan dan menghukum dengan pelanggaran menyakiti sesama kawanan, atau yang paling sadis membuatmu bernasif sama seperti potongan tubuh itu. Aku memiliki sangat banyak alasan untuk itu. Kau beruntung aku bersedia menempuh jalur damai tanpa melibatkan pihak lain."
Aku meluapkan emosi dalam kata-kata tanpa henti. Bergerak ke sana - kemari saking marahnya.
"Hei, berhenti bergerak. Kau membuatku pusing." Ia menahan bahuku dengan kedua tangannya yang mana membuat tubuhku serasa disengat aliran petir.
Aku tidak menyukai respon tubuhku dan berusaha menjauhkan diri, tapi ia lebih gigih dan memaksaku bahkan mendorong ke sala satu pohon. Aku terpojok tanpa bisa bergerak. Belum lagi matanya yang dipenuhi kekuatan sihir itu.
"Aku tak akan melakukannya jika tahu itu dirimu."
Mata gelapnya menunjukkan kejujuran seperti seorang anak kecil polos. Aku belum pernah melihat mata yang begitu murni. Dalam pantulan jernih matanya aku bisa melihat diriku, yang memasang tampang bodoh, yang terpukau oleh keindahannya.
" ... Pas."
"Bernapas."
Tubuhku bergoyang dan aku merasa pusing. Apa yang terjadi?
"Bernapas, aku bilang bernapas."
Goncangannya yang datang lebih kasar. Bahkan tangan sebelah tangannya kini mencubit pipiku. Aku meringis menyadari telah sesuatu yang memalukan.
__ADS_1
Bagaimana aku selalu lupa cara bernapas saat bersamanya. Hah! Konyol sekali.
TBC.