The Guardian

The Guardian
Satu kamar?


__ADS_3

Malam baru setengah jalan saat Dreas memasuki sel/kamarku secara kasar. Ia berdiri di depan pintu dengan lengan terlipat seolah menghalangi jalan keluar. Pancaran obor membuat ekpresinya lebih gelap seolah ia siap menerkamku kapan saja.


"Yang dikatakan Valdus, apakah itu benar?"


Suaranya dalam dan tenang saat berbicara tapi anehnya membawa perasaan tak nyaman. Rasanya seperti ia sedang menahan sesuatu sebelum memulai sesuatu. Hal yang mana membuat jantungku butuh obat penenang.


Aku hanya bisa berdiri diam pada perilaku seenaknya Dreas itu dengan dahi berkerut. Kehabisan kata-kata dan energi. Apakah pria ini pernah belajar apa itu yang bernama privasi? Mengapa ia terus bersikap seenaknya padaku?


"Yah, aku sempat melihat makhluk itu di sini,"kataku lemah, tidak yakin bagaimana memulai penjelasan. Dreas tampaknya tidak akan memberi kompromi. "Kalau kau sudah tahu untuk apa bertanya lagi?"


Siang tadi aku menghabiskan waktu dengan mencari spot persembunyian yang jauh dari jarak pendengaran Kaden demi memuluskan rencana. Itu nyaris menghabiskan semua tenaga karena batas terjauh kemampuan Kaden itu setara dengan dua ribu langkah. Mengerikan sekali.


Bicara soal kemampuan aku masih penasaran dengan anggota yang menyerangku di tebing. Kira-kira siapa dia? Sulit sekali mendapatkan petunjuk.


"Dia tidak melakukan sesuatu padamu?"


Ekpresi mengancam berbalut kemarahan Dreas menguap beralih jadi khawatir. Ia berdiri lebih dekat mengamati wajahku dengan saksama.


"Tidak," kataku ragu-ragu berusaha tidak menyulut ketegangan yang baru saja mereda. Mengagetkan dengan sedikit sentuhan fisik tidak termasuk melakukan sesuatu kan? "Aku cuma tak sengaja melihatnya dan langsung kabur begitu saja."


"Baguslah." Dreas menghela napas lega, pun raut wajahnya yang tidak lagi berkerut. "Lain kali jangan menyembunyikan hal sekecil apapun dariku."


Aku memiringkan kepala menatapnya heran. Kenapa aku harus melakukannya? Mereka sendiri dari awal tidak pernah jujur, tapi mendebatnya tidak akan menghasilkan apapun. Aku harus bermain lembut jika ingin berhasil.


"Kau harus memberiku alasan masuk akal untuk itu."


"Karena ..." Dreas menelan kata-katanya sedetik kemudian menggantinya dengan sebuah pelukan erat.


Seluruh saraf dalam tubuhku tiba-tiba dialiri sengatan aneh membuatnya kehilangan tenaga. Satu perilaku dari Dreas yang paling mencolok di antara GUARDIAN lain adalah ia tidak sungkan melakukan kontak fisik denganku. Sudah berapa kali termasuk yang ini dia memelukku. Di malam-malam sebelum ini aku sering mendapatinya duduk di sebelahku sambil tertidur. Seakan ia tengah menjagaku.


Namun yang lebih membuat ngeri adalah tubuhku tak pernah menolak rasanya seolah ia menginginkannya juga seperti pelukan Dreas adalah tempat teraman di dunia.


Nah, inilah kenapa aku tidak suka berada dalam situasi sentimentil bersama Dreas. Pikiranku suka berkeliaran ke tempat lain terkadang juga menimbulkan imajinasi aneh seolah ini pernah terjadi sebelumnya.


"Aku tidak keberatan tapi ..." Tanganku gemetar saat melingkarkannya pada punggung Dreas. Ini kali pertama bagiku memeluk orang lain selain keluarga dan jika Jaiden atau Jaxon tahu mereka pasti akan memukulku. Tubuh Dreas sendiri menegang saat aku balik memeluknya.


"Kau harus memberitahuku soal dark ROUGE dan juga sang penghancur."


Aku melempar umpan bertaruh pada kesempatan langka ini. Kapan lagi bisa bicara santai pada Dreas.


"Azu ..."


"Supaya aku bisa mengantisipasinya," kataku menyela menelan ludah gugup. "Jika aku tahu yang kutemui kemarin makhluk itu. Aku pasti akan memberitahu WARRIOR dan kita bisa menangkapnya."


Walaupun seratus persen itu akan gagal. Makhluk itu jelas tidak akan membiarkannya.

__ADS_1


"Menjelaskannya dengan kata-kata akan memakan banyak waktu, tapi mungkin aku bisa memberitahumu di mana kau bisa menemukan informasi."


Kurasakan sebuah ciuman di puncak kepala membuat tubuhku meremang.


"Juga, Dreas," panggilku hati-hati. Membuat terlalu banyak permintaan bisa saja merusak suasana akrab yang terjalin tapi aku butuh persetujuan Dreas untuk melancarkan usaha menyedihkanku. "Bolehkah, aku mengajak Ralyne tinggal di sel ini?"


Dreas membuat jarak tapi tidak sepenuhnya melepaskan pelukan. "Putri Alpha Josep?"


Aku mengangguk kecil memasang wajah memelas. Kuharap usaha menyedihkan ini akan berhasil.


"Aku tidak keberatan tapi itu akan menimbulkan masalah. Orang-orang akan berpikir kalau ia diperlakukan istimewa."


Ha? Bagaimana bisa? Otak orang itu pasti tidak waras jika kepikiran di masukkan ke dalam penjara adalah hal istimewa.


"Kami hanya mengizinkan anak-anak yang terinfeksi racun untuk di masukkan ke dalam penjara. Jika ia masuk tanpa alasan jelas orang-orang akan menaruh curiga."


"Lalu bagaimana denganku? Mereka tidak mencurigaiku."


"Oh, kami mengatakan kalau kau juga terinfeksi tapi terkendali meski belum sepenuhnya aman."


Alisku terangkat. Pantas saja di beberapa kesempatan para tabib kadang menjauhiku. Mereka takut tertular rupanya.


"Bilang saja kalian ingin mengawasiku dari dekat karena aku tahu rahasia kecil kalian."


Dreas menyeringai. "Itu sala satunya."


"Yah, dan aku belum bisa memberitahumu. Tidurlah ini sudah malam."


Ia mendorongku ke ranjang batu yang sekarang memiliki tambahan bantalan kain jadi punggungku agak terselamatkan dari rasa sakit. Aku masih mengunci pandangan padanya berucap tanpa sadar.


"Selamat malam Dreas."


Ia tersenyum kecil menutup hati-hati pintu sel.


Tadinya aku berharap bisa langsung tidur tapi setelah beberapa menit bukan kantuk yang hadir malah suara aneh itu lagi.


'Bukankah aku sudah memintamu untuk lari?'


Ia terdengar sangat marah dan aku terkesiap kaget olehnya. Tubuhku menggigil secara refleks merespon hawa dingin yang dikeluarkannya.


Di mana?


Aku bangkit dari tempat tidur berputar dengan panik. Aku harus memberitahu Dreas. Tanganku meraih sel tapi itu entah bagaimana terkunci.


'seharusnya kau menuruti kata-kataku'

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau masuk kemari?" Bisikku tersendat.


Bagaimana bisa tidak ada yang menyadarinya? Aku mengguncangkan pintu sel berharap akan ada yang mendengarnya. Siapapun tolong, makhluk itu ada di sini sekarang. Aku berteriak sekuat tenaga tapi tak ada yang mendengarkan.


'aku ada dalam dirimu'


"Tidak! Itu tidak mungkin."


'kau bisa saja menyangkal tapi itu kenyataanya'


"Tidak! Itu bohong."


Bohong. Apa mau makhluk ini? Mengapa dia terus menggangguku?


'Itu kenyataan'


Suaranya bergema keras dan terus mengulang kalimat yang sama.


"Hentikan!"


"Hentikan!"


Aku menjerit sekeras-kerasnya berusaha meredam suara itu yang bergaung di dalam sel ini.


"Azu!"


"Azu!"


Kurasakan sentuhan kasar di belakang kepala, rasanya agak menyakitkan tapi bagusnya suara itu jadi lenyap. Sepertinya makhluk itu hanya menyerang pikiran saat aku sendirian.


"Apa yang terjadi?" Dreas tanpa sungkan mengusap dahiku yang berkeringat.


"Mimpi buruk." Aku memejamkan mata sesaat menarik napas dalam beberapa kali. Suara itu mungkin sudah lenyap tapi jejak kerusakan yang ditimbulkannya padamu tersisa jelas.


"Kenapa kau masih ada di sini?" Kupikir Dreas seharusnya sudah pergi ke ruangannya. Lagipula ini sudah sangat larut malam.


"Ini kamarku, Azu."


Ha? Aku memutar pandangan liar guna memindai situasi. Ini ruangan yang sama dengan biasa kutinggali setiap malam. Bagaimana bisa?


"Apa maksudmu?"


"Ini kamarku Azu, dan aku tidur di sini setiap malam."


Oke, Dreas benar-benar gila.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2