The Guardian

The Guardian
Werewolf


__ADS_3

Setelah rasa ngilu ektrem panjang yang mendera, tubuhku mulai terasa tenang. Terlalu tenang hingga menakutkan. Aku punya kaitan tidak menyenangkan dengan kegelapan dan menyadari kali ini pun dibawah ke memori masa lalu. Aku tidak bisa untuk tidak mengerang.


Perjalanan memori selalu membuat kepala pusing. Aku tidak tahu kali ini akan berada dalam posisi yang mana. Diriku sebagai kekasih Dreas di masa lalu, musuh yang ingin mereka lenyapkan, atau seseorang yang bersama si gadis tanpa wajah. Aku masih belum menemukan korelasi ketiganya mengapa aku memiliki memori ini.


Namun kabar baiknya aku sudah sedikit beradaptasi jadi meski dipaksa kembali berpetualang di masa lalu. Aku tidak lagi merasa takut sebaliknya aku cukup antusias mengingat setiap bagiannya bisa membawaku selangkah lebih dekat dengan kebenaran.


Sinar keemasan matahari menyapa ketika aku membuka mata. Itu menyilaukan hingga aku harus menyipit guna menyesuaikan diri. Saatnya mengatur peran, pikirku menunggu dalam diam.


"Mataharinya memang bagus tapi jangan tidur kita harus segera naik kapal setelah ini."


Ah, jadi ini memori bersama si gadis tanpa wajah dan saat ini aku sedang duduk menyandar pada dinding kotak-kotak entah entah apa isinya. Duduk di sebelahku adalah si gadis tanpa wajah sementara di hadapannya pemuda pucat yang merupakan setengah vampire.


"Aku tidak tidur," kataku bangkit, walau sebenarnya ini sendiri adalah alam mimpi.


Rasanya agak aneh memikirkan aku berkeliaran di alam mimpi seolah itu benar-benar nyata. Namun hal baiknya aku jadi benar-benar bisa melihat ras lain di sisi benua itu secara langsung. Sejujurnya tak ada perbedaan mencolok secara fisik jadi jika itu sekilas aku akan berpikir bahwa semua orang Shifter. Eh! Apakah Shifter sudah tercipta di zaman ini?


"Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan?"


"Kurang dari lima menit," jawabnya riang. "Itu dermaganya sudah kelihatan."


Aku mengikuti arah pandangannya dan menemukan jembatan kayu hitam menjorok ke laut. Di ujung jembatan terdapat sebuah kapal yang tertambat tali, sesekali bergerak kecil ketika tersapu gelombang.


Berdiri dalam barisan panjang aku mengantri saat menaiki kapal tapi belum juga kakiku melangkah. Mendadak dari arah tak terduga kelebatan angin hitam datang menghempas kapal. Tali yang menjadi penghubung dengan dermaga putus membuatku otomatis jatuh, seharusnya tapi tidak, tubuhku melayang di udara. Tepatnya dalam belitan lengan seseorang.


Di bawah sana keadaan kacau dengan hadirnya sosok berjubah hitam. Semua orang panik meneriakkan kata penyihir. Pandanganku bergeser mencari gadis tanpa wajah, ia sedang ditarik oleh pemuda setengah vampire tadi menjauh dari sana.


"Jangan tinggalkan aku!" Mulutku berucap sendiri. Tanpa sadar meneteskan air mata. Oke itu bukan aku, itu seseorang pemilik memori ini.


"Aku pasti akan menemukanmu lagi." Gadis tanpa wajah berucap sedih. "Pasti, kita akan bersama lagi. Bagaimanapun caranya."


Lalu adegan berpindah ke tempat seperti ruangan dengan tubuh-tubuh yang di masukkan ke dalam tabung berasap hijau. Tubuhku di dorong masuk ke dalam tabung juga dan di tutup rapat. Bau bunga lembut seketika memenuhi hidungku itu menenangkan dan lembut.

__ADS_1


"Kau hanya mendapatkan satu?" Seseorang yang sulit kulihat sosoknya bicara. Suaranya lembut menandakan ia seorang perempuan.


"Ia manusia murni jadi akan lebih berpotensi."


Suara lain yang membawaku menjawab tenang.


"Baiklah mari mulai."


Setelahnya kudengar rapalan mantra aneh dan air dalam tabung tempatku terkurung mulai naik dan mendidih. Dagingku serasa rontok dengan rasa panas yang menyengat. Aku berteriak mencakar tanpa henti tapi itu tak menghasilkan apapun sesaat sebelum angin lembut menarik kesadaranku. Mataku tak sengaja menangkap sosok familiar di dalam tabung di depanku. Itu Valdus?


Butiran-butiran kecil berwarna coklat disertai tumpukan benda-benda tipis tersaji tepat di depan mataku. Memerlukan setidaknya beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa butiran halus itu adalah tanah, sementara benda tipis itu adalah tumpukan daun kering.


Aku masih diam, mencoba menganalisis situasi. Benda tipis, berwarna putih bergoyang halus menutupi penglihatanku saat angin sepoi-sepoi menderu pelan.


Merasa terganggu, aku menggerakan tangan bermaksud menyingkirkan benda lembut itu. Namun, tunggu sebentar! Tak kulanjutkan niatku begitu mendapati suatu kejanggalan.


Alih-alih melihat jari-jari tangan manusia, yang tampak di depan mataku malah sebuah batangan tulang panjang, berkuku runcing dan ber... berbulu ... Mataku melebar, membeku dalam sepersekian detik. Sepersekian detik yang begitu mencekam.


Aku mengenalinya, tidak faktanya semua shifter mengenali benda yang berselimut bulu putih itu. Itu adalah tangan atau bisa juga disebut kaki bagian depan para hewan.


He! Ini konyol sekali. Gara-gara perjalanan memori itu aku sampai lupa bahwa semalam sudah menjalani ritual perubahan. Aku menganalisis bentuk tubuhku sendiri. Niatnya sih  mendengus, tapi sebagaimana suara yang dikeluarkan para serigala yang terdengar malah ringkikan halus khas hewan.


Masih menyesuaikan diri, aku coba bangkit, berdiri dengan empat kaki sekarang. Aku menunduk menatap kedua kaki depanku.


Bagus sekali! Bahkan wolfku pun menghianatiku. Kenapa pula warnanya harus putih, tidak ada yang lebih kelihatan garang apa?


Saat aku masih sibuk dengan ketidak terimaanku. Sebuah suara mengagetkanku, itu berasal dari seekor serigala cokelat besar. Ia menggeram pelan.


Ho! Jadi dia menantangku? Hmm! Boleh juga, ini bisa jadi ajang percobaan untuk mengetes seberapa kuat kemampuanku dalam wujud wolf.


Kami masih berputar-putar, lalu sama-sama melompat pada detik selanjutnya dan ...

__ADS_1


"Diam, Jaiden!" sungutku melempar tatapan jengkel.


Malu untuk dikatakan, aku tumbang dalam satu serangan pertama. Hah! Payah! Ternyata wolfku sama lembeknya denganku.


"Harusnya tadi kau berkelit menghindar bukannya ikut melompat menyerang." Jaiden masih tertawa, bahagia karena berhasil mempermalukanku.


"Tidak setiap hari aku dapat kehormatan bisa bertarung dengan wolf WARRIOR yang tersohor," cibirku.


Jaiden berhenti tertawa, alisnya terangkat.


"Marah?"


"Bukannya sudah jelas?"


"Baiklah, aku minta maaf." Jaiden memegang pundakku. "Aku tidak bermaksud mengagetkanmu, tadi aku hanya membantumu untuk kembali menjadi manusia."


"Dengan menyerangku?" Aku memelototinya, tambahan, ia juga menggigit bahuku. Demi Dewi bulan di mana pikiran saudaraku ini. Bahkan rasa nyerinya masih terasa sampai sekarang.


"Secara teknis aku tidak menyerangmu," Jaiden berkilah. "Lagipula masa kau tidak kenal wolf kakakmu sendiri?"


Yupz, wolf cokelat yang tadi menyerangku adalah Jaiden. Keren bukan kebiasaannya? Menyerang adik sendiri dengan dalih niat menolong.


Tentu saja aku lupa, terakhir kali aku melihat wujud serigala Jaiden adalah ketika ia menjatuhkanku dari punggungnya. Itu sudah bertahun-tahun lalu. Lagipula warna milik Jaiden terlalu umum sulit untuk membedakannya.


"Ayolah, Azu. Aku hanya ingin membantu."


Aku memicingkan mata mendengar nada merajuk dalam kalimatnya.


"Praktisnya kau melukaiku. Lihat," kataku menunjukkan bagian yang robek. "Bagaimana jika ini menjadi luka permanen? Apa yang akan kau perbuat?"


"Berlebihan sekali, semua orang tau regenerasi tubuh Shifter itu cepat."

__ADS_1


Ia mendorong kepalaku. Inilah kenapa aku tidak percaya pada Jaiden, semenit lalu dia minta maaf di menit berikutnya ia menindas lagi. Sungguh saudara yang baik hati.


TBC.


__ADS_2