The Guardian

The Guardian
Mate?


__ADS_3

Dia datang, orang yang kutunggu, Dreas akhirnya menampakkan diri di sel yang bertransformasi menjadi kamar tidur pribadiku. Aku masih berpura-pura tidak menyadarinya agar tidak terlalu mencolok bahwa waktu ini sudah sedari siang kunantikan.


Tubuhku agak bersemangat hingga terasa sangat panas dan lebih terpacu lagi saat Dreas memangil namaku.


"Azu."


Aku perlahan menoleh membuat keadaan dramatis saat memandangnya. "Ada apa, Dreas?"


Suaraku diatur sebiasa mungkin menutupi euforia tentang apa yang akan terjadi sebentar lagi. Belum pernah aku seantusias ini berbicara dengan Dreas.


"Landon mengatakan beberapa hal, aku datang untuk bertanya kebenarannya secara langsung."


Mataku sepertinya berbinar dalam rasa senang sekarang aku bisa membayangkannya. Usahaku untuk memancing Landon tadi siang membuahkan hasil yang manis. Inilah saatnya untuk memulai penyelidikan lebih mendalam.


"Aku juga tidak begitu mengerti, tapi Landon tidak berbohong. Aku juga sedang merenungkan hal yang terjadi barusan," kataku memasang mimik muka sendu. Akhir-akhir ini kemampuan berbohongku meningkat pesat.


"Tiba-tiba bisa membaca tulisan kuno, itu agak menyeramkan."


Dreas berdiri mempersempit jarak tangannya dengan leluasa menyentuh daguku memaksa pandanganku mengarah padanya. Setengah wajahnya tertutupi oleh bayangan gelap obor.


"Soal mimpimu, apa saja yang sudah kau lihat?" Wajah Dreas agak gelisah saat berbicara. Seolah ia sedang menunggu keputusan menyakitkan.


"Sangat banyak, dan acak. Aku tidak tahu harus  bagaimana memulainya."


Aku menuju ranjang batu dan duduk di sisinya. Dreas sendiri berdiri di bawah obor menyandar santai.


"Aku perlu jaminan bahwa tidak ada yang terjadi setelah aku menceritakannya," kataku mengulur waktu.


Meski aku antusias dengan topik yang akan dibahas, aku masih perlu memilah bagian mana yang perlu di sampaikan dan tidak. Landon saja tiba-tiba bertingkah gila setelah kuberitahu sedikit. Bisa saja Dreas bertingkah serupa, siapa yang tahu?


"Aku yang menjamin itu," katanya sungguh-sungguh. "Kami perlu tahu detailnya agar bisa memutuskan bagaimana menghadapinya setelah ini.  Sejujurnya tidak pernah ada orang yang bisa membaca tulisan kuno sebelum ini. Jadi fakta bahwa kau bisa agak menggangu."


"Baiklah." Aku menarik napas memulai dari adegan yang tidak mencurigakan. "Kebanyakan tentang perang, hutan yang hancur, dan tubuh-tubuh tanpa nyawa. Tapi kemarin malam agak berbeda. Masih mengenai perang tapi di sana aku bersama sesosok makhluk berjubah hitam dan dia menangis dan ... Suaranya mirip dirimu."


Kata-kataku agaknya sulit dicerna karena Dreas  butuh beberapa saat sebelum menjawab dan suaranya juga jadi kaku ketika berbicara.

__ADS_1


"Bagaimana persisnya?"


"Aku terbaring di kedua lengan sosok itu. Wajahnya tidak kelihatan dan dia menangis. Kurasa aku pernah mengatakannya padamu sebelum ini."


Aku sengaja menghilangkan bagian kedatangan serigala dan pertarungan udara. Firasatku mengatakan itu tidak perlu diungkapkan.


"Lainnya?" Suara Dreas agak bergetar.


"Aku berada di jalanan ramai dan pecahan kaca berhamburan dari langit lalu asap hitam menyerang semua orang." Mimpi terakhir sangat baru hingga rasanya sangat nyata. Tubuhku bahkan masih gemetar saking terasanya sensasi menegangkan situasi dalam mimpi itu. "Hanya seperti itu, kadang bergantian dengan sosok gadis yang terluka atau terlibat pertempuran sengit. Dreas kau tau apa arti itu semua?"


Sejujurnya ini agak melenceng dari pertanyaan utama yang ingin kudapatkan jawabannya tapi menembak langsung sepertinya tidak bagus. Para GUARDIAN sangat berhati-hati dalam segala sesuatunya.


"Tidak ada, mungkin itu memang menunjukkan kalau kau reinkarnasi dari seseorang." Aku tidak menyadari pergerakannya tau-tau saja Dreas sudah ada di depanku berlutut. Namun yang membuatku heran adalah raut wajahnya yang terlihat senang.


"Bisa aku bertanya sesuatu? Tapi berjanjilah kau tidak akan marah."


"Aku tidak akan pernah marah padamu," tangannya meremas jemariku.


"Siapa sebenarnya kalian? Apa ... Sosok dalam mimpi itu dirimu?" Jantungku berdetak cepat selagi menunggu dan tanganku tanpa sadar meremas balik jemari Dreas kuat. "Aku akan menerima kenyataan bagaimana dirimu."


"Ya, itu aku, Azu," Tidak ada kebohongan dalam matanya. "Aku sudah sangat lama menunggumu."


Aku mengerjap kehilangan kata-kata. Wow, itu benar-benar diluar dugaan, aku merasa terharu mendengar pengakuannya. Jadi semua itu benar ya? Padahal aku berbohong soal reinkarnasi itu dan menunggu selama ribuan tahun? Berapa sebenarnya usia pria ini?


"Apa yang terjadi? Mengapa dulu aku mati? Dan bagaimana kau bisa yakin bahwa aku adalah orang yang kau tunggu?"


Perutku melilit ketika membayangkan jenis kematian yang menimpaku di masa lalu. Kuharap itu bukan gara-gara moment konyol semacam jatuh dari punggung serigala.


"Kau sala satu korban saat perang." Aku berdebar menunggu kelanjutannya. Biar bagaimanapun jawaban berikutnya akan menentukan bagaimana hubungan kami kedepannya. "Kecuali sifat dan tingkahmu, dirimu yang sekarang sama persis dengan yang dulu. Matamu, rambutmu, bahkan suaramu."


Aku melongo mendengarnya. "Jadi itulah mengapa kau bisa mengenali langsung dalam sekali pertemuan?"


"Begitulah." Ia tersenyum lembut.


"Mengecewakan," kataku cemberut. "Kupikir aku akan lebih cantik atau lebih istimewa, tenyata sama aja."

__ADS_1


Dreas tersenyum kecut. "Aku tidak tahu wajah aslimu dulu, Azu. Kau selalu menutupinya karena ..."


"Teruskan," pintu menuntut.


"Wajahmu rusak, aku hanya bisa melihat matamu."


Jadi tidak ada yang bisa memastikan bahwa wajahku dulu sama dengan yang sekarang? Entah aku harus merasa sedih atau senang mendengarnya tapi aku bersumpah akan mencari tahu mengapa wajahku bisa begitu dan membalasnya jika itu disebabkan oleh seseorang.


"Kau tetap menerima itu?" Tanyaku takjub luar biasa. "Itu hebat sekali Dreas."


Aku penasaran bagaimana reaksi Dreas jika ia melihat wajah lainnya yang sama persis. Bagaimanapun juga aku dan Alison kembar kecuali rambut tak ada yang berbeda.


"Boleh kusimpulkan jika kita itu mate?"


Kata mata benar-benar asing dalam hidupku. Pelajaran mengenai mate hanya di berikan pada shifter yang sudah berusia delapan belas tahun atau minimal sudah melakukan ritual shifter. Jadi tidak heran jika anak seusiaku tidak mengetahui detail soal mate.


Yang kutahu hanyalah mate adalah pasangan hidup para shifter dan seseorang yang sudah bertemu matenya. Ia harus tinggal bersama sampai maut memisahkan.


Aku tidak keberatan dengan hal itu, mom sudah menjelaskannya berkali-kali. Namun masalahnya bagaimana caraku menjelaskan pada keluargaku nanti? Jika pasanganku adalah anggota GUARDIAN dan ia sudah berusia ribuan tahun? Selain itu jika aku memaksa Dreas mengungkap identitasnya maka rahasia mereka bisa terbongkar. Sepertinya ini tidak akan mudah.


"Apakah sudah semua? Atau kau ingin bertanya hal lainnya?"


Aku agak ragu ketika untuk yang satu ini karena itu agak sensitif. Namun hal inilah yang sebenarnya ingin kutanyakan sedari awal.


"Apa yang istimewa dari Selena? Sampai-sampai kalian memperebutkannya?"


"Karena dia kemungkinan adalah soul of moon."


Persis seperti yang dikatakan Ralyne. Satu pertanyaan tambahan.


"Mengapa kalian bermusuhan? Apa kalian dan sang penghancur punya dendam pribadi?"


Dreas menggeleng. "Lebih tepatnya kami mengincar hal yang sama."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2