The Guardian

The Guardian
permainan.


__ADS_3

Aku masih belum memahami kata-kata terakhir Dreas dan enggan bertanya pula karena akan membuatku tampak bodoh. Jadilah rasa penasaran itu menggantung semalaman di benakku hingga tak sedetikpun memejamkan mata. Ketika aku memikirkannya lagi aku tak bisa menemukan apapun.


Dia bilang aku miliknya, tapi itu hanya klaim sepihak tanpa penjelasan. Mengatakan kalimat seperti itu tak serta merta menjadikan kami sebagai mate. Aku tak bisa mempercayainya terutama ketika ia terus menempeli Selena bak parasit. Bukankah sikapnya sangat berkebalikan dari kata-katanya? Selain itu aku juga tidak ingin mengkhianati pasangan asliku nantinya.


Sekarang aku belum bertemu dengannya, seseorang yang ditakdirkan untukku, sang belahan jiwa. Namun jika ia tahu aku menaruh tertarik pada pria lain itu akan jadi satu penghianatan padanya. Aku menggeleng kecil mengusir semua pikiran itu.


Tempat penampungan di bangun ulang setelah insident penyerangan. Kali ini dengan penjagaan yang lebih diperketat terbukti dari bertambah banyaknya anggota WARRIOR yang berjaga. Bahkan setiap pack mengirimkan setidaknya lima anggota mereka membuat area depan penjara labirin jadi sangat ramai.


Ralyne sendiri ditarik oleh Alpha Josep dari kegiatan relawannya sebagai hukuman. Ia dimarahi habis-habisan gara-gara tidak melapor dan membuat Luna Alula khawatir.


Sayang sekali, padahal aku ingin membahas banyak hal padanya. Terutama soal sang penghancur dan mimpi-mimpiku yang aku yakin berkaitan.


"Kau sedang memikirkan apa?" Landon mengetuk sisi pelipisku, tersenyum lembut saat mendudukkan diri di sebelah. Wajahnya seperti biasa berkilauan cerah dan hangat.


"Dreas," balasku pendek. "Kurasa ia kehilangan akal sampai-sampai mengatakan hal-hal aneh."


Mataku tak sedetikpun lepas dari dirinya yang mengekori kemanapun Selena bergerak. Terlepas dari perasaan tak senang yang menyusup ke dalam hatiku. Kelakuan Dreas itu sangat menghibur ia jadi benar-benar seperti serigala penjaga.


"Seperti apa?" Landon mengulurkan tangan pada seekor kupu-kupu yang terbang di dekatnya membiarkan makhluk cantik itu hinggap di ujung jarinya.


"Dia bilang aku miliknya." Aku mengamati corak unik berwarna orange yang terlukis di kedua sayap putihnya mengagumi betapa itu dibuat dengan sangat indah. "Tidak masuk akal."


Landon mengayunkan tangan memaksa kupu-kupu itu terbang dan hinggap di sala satu ujung daun.


"Akhirnya dia mengatakannya juga." Landon masih menatap kupu-kupu itu dengan bibirnya yang tersenyum lebar. "Kupikir ia akan menahannya sampai semuanya selesai."


"Kau tidak terkejut?" Tanyaku heran, agak merasa curiga. Ya, sejak awal mereka memang mencurigakan sih.


"Tidak, setiap laki-laki pasti akan mengatakan hal itu pada gadisnya dan Dreas beruntung jadi sala satunya."

__ADS_1


Aku mendeteksi nada sedih dalam kata-katanya. Raut wajahnya pun tidak secerah tadi, ada guratan kesedihan di sana yang entah apa alasannya. Rasanya seolah Landon berkata tidak semua orang bisa melakukannya.


"Yah, tapi kupikir dia salah orang. " Pandanganku bergeser pada keduanya yang agak menjauh dari tenda. Sepertinya tuan putri itu merasa kelelahan dan memutuskan beristirahat. "Maksudku seharusnya ia mengatakan itu pada Selena."


Lihat mereka sangat mesrah. Dreas bahkan mengambilkan air untuk Selena.


"Kau cemburu?" Landon terkekeh kecil.


"Tidak!" Bantahku cepat.


Bahkan jika mendapatkan mate asli sangat susah sekarang, aku masih percaya bahwa aku akan bertemu dengannya dan aku tidak melihat itu akan jadi Dreas. Meski sejujurnya aku senang jika itu benar-benar terjadi.


"Kenapa kau berpikir begitu? Aku tidak ingat Dreas pernah membuat keputusan salah. Jadi kupikir yang itu juga tidak."


Ia terdengar sangat percaya diri saat berbicara.


"Karena jika memang aku, mengapa ia terus-terusan bersama Selena? Orang bodoh juga bisa melihat bagaimana ia begitu peduli apa Selena."


"Omong-omong, asal kalian dari mana?"


"Tiba-tiba mengubah topik?" Mata biru Landon bersinar geli sedangkan aku cemberut. "Apa yang akan kudapatkan jika aku menjawabnya?"


"Sebuah rahasia," kataku memasang wajah serius. "Aku akan memberitahumu sebuah rahasia yang belum pernah kukatakan pada siapapun. Jadi mari bermain, satu pertanyaan untuk satu rahasia."


Dahi Landon berkerut, tampaknya ia sedang mempertimbangkan. Kuharap ia tidak menyadari usaha menyedihkanku mencari tahu soal kebenaran tentang mereka. Jika perkiraanku benar dan mereka adalah makhluk yang berasal dari waktu yang sama dengan sang penghancur maka tujuan mereka pasti sama pula.


"Deal," katanya mengulurkan tangan sebagai peresmian dan aku membalasnya. "Kami berasal dari suatu tempat di benua yang sudah hilang. Jadi apa rahasianya?"


"Kemungkinan besar, aku adalah reinkarnasi dari seseorang dari masa lalu," bisikku mendekatkan wajah. "Seorang gadis."

__ADS_1


Kupikir Landon akan tertawa lagi tapi rupanya ia menanggapi cukup serius. Saking seriusnya ia bahkan menatapku sangat lama sampai-sampai aku dibuat risih. Aku tidak tahu kalau ia bisa begitu mudah di bohongi.


Ia masih mempertahankan ekpresi itu selama beberapa menit hingga aku harus melambaikan tangan guna menyadarkannya.


"Kalau begitu bagus," katanya tersenyum kecil, nyaris seperti ejekan. "Halo teman dari masa lalu."


Ini diluar rencana, kenapa ia malah jadi antusias begitu? Bukankah ia harusnya terkejut? "Oke, berikutnya, mengapa kalian datang ke wilayah kami? Dan memutuskan menetap di sini?"


"Azu, kau sedang menginterogasiku sekarang?"


"Tidak," bantahku cepat, berpura-pura tersinggung. " Kita sedang bermain game."


Matanya menyipit membuatku tanpa sadar berkeringat. Landon berwajah serius lebih mengerikan dari Valdus. Jangan sampai ia membaca niatku apalagi sampai mengadukannya pada Dreas. Bisa kacau semuanya.


"Karena suatu alasan penting untuk keberlangsungan hidup kami," wajah Landon mulai agak serius. "Dan rahasiamu?"


"Aku bisa membaca tulisan kuno."


Tanganku mengambil selembar kertas usang yang kuselipkan di saku celana. Itu adalah bagian terakhir dari buku sejarah perang suci yang tak kuberitahukan pada Ralyne.


"Agar kejadian sama tak terulang soul of moon membawa kegelapan tersisa menyegelnya dalam dirinya dan tenggelam dalam tidur abadi. Itu adalah apa yang tertulis dari lembaran ini," kataku agak pongah.


Sengaja memprovokasinya, nenek bilang orang yang emosi biasanya suka keceplosan. Aku tahu terlalu beresiko menggunakan cara seperti ini tapi menyimpulkan hanya dari perkiraan semata terlalu gegabah. Namun jika ia bisa membacanya maka tak salah lagi. Mereka orang yang sama dengan di dalam mimpi dan itu artinya sang penghancur tidak sepenuhnya bohong.


Mereka saling mengenal atau setidaknya berasal dari tempat yang sama.


"Azu, kau ..." Matanya melebar dengan ngeri, menatapku seolah aku monster. Itu sangat berlebihan bahkan Ralyne yang lebih muda saja bisa mengatasinya lebih baik. "Bagaimana bisa?"


Sejujurnya aku juga tidak tahu, itu terjadi begitu saja, aku sendiri merasa heran dengan kemampuan yang tiba-tiba muncul itu.

__ADS_1


"Seperti yang kubilang, aku reinkarnasi dari seseorang di masa lalu, tepatnya di perang suci. Aku tahu siapa kalian."


TBC.


__ADS_2