The Guardian

The Guardian
Mimpi buruk.


__ADS_3

Aku terbaring di tanah berlumut yang basah tersembunyi di bawah sebuah pohon besar yang menghalangi cahaya bulan di atas sana. Udara dingin mengigit kulitku yang telanjang.


Di mana ini?


Mataku menjelajah liar pada keadaan, pohon-pohon raksasa tua dengan tumbuhan rambat bergelantungan di dahannya. Hewan malam yang berterbangan dengan suara-suara berisik mereka. Oke, ini mulai menakutkan, wilayah pack memang semuanya terdiri dari hutan kecuali area tinggal tapi aku belum pernah melihat yang seperti ini. Bahkan di wilayah lunar eclipse yang terkenal akan pohon-pohon besarnya. Tidak ada tempat seperti ini.


Jadi ini sebenarnya di mana?


Aku bangun dalam satu hentakan cepat menyadari gaun putih yang kupakai lembab di bagian belakang. Sesaat aku menyipitkan mata begitu sinar bulan yang menerobos dari cela-cela rapat dedauan saat angin berhembus menerpa mataku.


Berdiri bersama perasaan cemas yang meluap-luap aku mulai berjalan menuju wilayah paling terang. Aku benci ilusi menyeramkan yang diciptakan tempat gelap. Saat aku mulai mencapai sisi terang yang ternyata adalah padang rumput tiba-tiba angin berhembus kencang. Sebuah lubang gelap seperti pusaran angin muncul menarikku kedalamnya, tubuhku berputar tak karuan tapi anehnya aku tidak merasa mual sama sekali.


Ketika lubang itu menghilang tau-tau saja aku berada di udara kosong melayang bebas. Pemandangan malam yang diterangi cahaya bulan yang seharusnya perak pucat tapi kini di dominasi merah darah terhampar di hadapanku. Debu-debu yang sepertinya sisah pertempuran masih membumbung tinggi ke udara. Nyala api berdesis menjilati bangkai-bangkai tak berjiwa yang tergeletak di tanah.


Keadaan sangat mencekam, seolah napas kehidupan seantero hutan sekarang telah lenyap tak bersisah ditelan keheningan malam.


Apa yang terjadi?


Saat aku kebingungan dengan pemandangan yang asing, mendadak saja dari arah bawah sebuah anak panah melesat ke arahku, nyaris mengenai pipi. Aku berhasil menghindar tapi rupanya tak berhenti sampai di sana sesuatu lain kupikir angin badai bergulung ke arahku. Namun lagi, aku berhasil selamat.


"Hei! Hentikan!" Teriakku pada sosok hitam bertudung, yang mengingatkan aku pada para GUARDIAN di bawah sana.


Ada empat sosok di sana, dan dua di antaranya adalah yang meluncurkan serangan. Dua lainnya sepertinya baru akan mulai.


"Hentikan!"


Namun seolah mereka tak mendengar suaraku, serangan lainnya terus saja berdatangan. Aku berteriak panik tapi tubuhku memiliki kendali sendiri ia berputar serta membuat gerakan menghindar lainnya. Jika saja situasinya tidak sedang mengancam nyawa aku pasti akan mengagumi diriku sekarang. Ini benar-benar keren.


"Hentikan!"


Tanganku bersinar oleh cahaya putih kebiruan lalu meluncurkan serangan balik pada empat sosok itu. Mereka menghindar tapi satu di antaranya terkena telak. Ia mengeliat di tanah.

__ADS_1


"Maaf," bisikku pelan, aku tak benar-benar ingin melakukannya, tubuhku bergerak sendiri.


Aku masih memandangi sosok itu dengan perasaan bersalah saat lubang spiral lain muncul kali ini berwarna putih. Tubuhku kembali tersedot berputar dan begitu berhenti tiba-tiba saja aku berbaring di sepasang lengan hangat.


Aku mendongak terbelalak ngeri pada detik berikutnya saat menyadari siapa pemilik lengan itu. Ia sosok bertudung yang tadi menyerangku di atas sana.


Aku mengeliat liar berusaha melepaskan diri, tapi seperti tadi juga, tubuhku berada di luar kendali. Alih-alih bergerak ia diam membeku tanpa daya.


"Mengapa?" Suaranya sarat akan kesedihan mendalam, membuatku yang bahkan masih pusing dengan situasi berubah terlalu cepat pun ingin menangis. Sedetik kemudian kurasakan tetesan air di pipiku. Itu milik sosok di atasku, sulit dipercaya ia menangis.


"Mengapa harus dirimu," bisiknya bersama isakan tertahan. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena posisinya yang membelakangi cahaya. Selain itu wajahnya juga seolah ia disamarkan oleh sesuatu hingga sulit untuk mengenali bahkan hanya secara garis besar.


"Jangan tinggalkan aku." Suaranya mirip seseorang, tapi aku tidak diberi kesempatan untuk mencari tahu karena di depan sana, tepatnya dari arah samping, seekor serigala berjalan mendekati kami.


Serigala putih yang sangat cantik tapi matanya menunjukkan sebaliknya. Ia terlihat begitu bernafsu memangsa kami. Sayangnya sosok bertudung yang sedang menangis ini tidak menyadarinya. Ia terus saja meratap tak peduli berapa kali aku meneriakinya. Tubuhku sendiri tak kalah aneh, ia seolah dijerat benda tak kasat mata, diam dan membeku. Oke, serigala cantik sana pergi, tubuhku rasanya pahit, pergilah kumohon.


Harapanku berkahir sia-sia. Serigala itu melompat ke arah kami.


"Ah, sial."


Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru guna memastikan ini bukan lagi alam mimpi. Untungnya ruangan hangat familiar dari rumah pohon yang terlihat, jadi aku tidak perlu merasa khawatir lagi. Hari sudah agak siang ketika aku memutuskan bangun dan Ralyne tak kutemukan di manapun. Tampaknya ia berburu lagi atau mungkin sudah pulang.


Biar bagaimanapun informasi mengenai sang penghancur harus segera di beritahukan pada yang lain. Meskipun itu masih sangat samar.


Bicara soal sang penghancur ia tidak pernah lagi meneror kepalaku selama di sini. Seperti niat utamanya memang menjauhkanku dari para GUARDIAN. Apa yang mengapa masih belum jelas tapi kurasa itu berhubungan dengan para penyerang yang berada dalam mimpiku.


Maksudku sosok mereka sangat mirip. Bosan seharian duduk tanpa melakukan apapun aku memutuskan berjalan-jalan di area sekitar. Kalau beruntung aku akan menemukan sesuatu.


Kupejamkan mata ketika silau keemasan cahaya matahari menerpaku. Kulitku beraksi positif merespon cepat vitamin D yang di suguhkan sinar matahari, rasanya hangat namun tidak menyengat.


Aku terdiam selama beberapa menit menikmati setiap mili detik ketenangan ini sembari memikirkan mengapa aku terus memimpikan hal aneh itu.

__ADS_1


Terutama semalam ketika sosok gelap itu menyerangku. Mereka benar-benar mengingatkanku pada para GUARDIAN.


Aku tak ingat berapa lama aku memikirkan soal GUARDIAN yang pasti ketika sadar, aku sudah berada jauh dari rumah pohon itu. Entah di mana aku sekarang.


Perasaan ngeri melingkupiku ketika merasakan hawa dingin hutan ini. Berbekal insting aku melangkah lurus setengah berlari ketika aura hutan semakin terasa tak nyaman. Namun kecerobohanku lagi-lagi mendatangkan masalah. Bukannya berjalan kearah yang benar, aku malah berjalan kearah malaikat kematian.


Tak masalah kalau malaikatnya tampan seperti para GUARDIAN tapi ini ...


"Aaahhh!"


Aku berteriak kencang sembari berlari menjauh. Sesekali menyumpahi para GUARDIAN yang selalu mengacaukan otakku.


Sialan! Dari mana sih datangnya para hantu ROUGE itu? Apa mereka tidak tau kalau ini masih siang, oke sebenarnya ini sore. Tapi intinya masih berada di kuasa makhluk hidup bukan hantu seperti mereka. Bisa-bisanya mereka muncul di saat tidak tepat begini.


Aku berlari tak tentu arah menjauh sejauh mungkin dari si hantu ROUGE. Sambil sesekali menoleh kebelakang memastikan kalau jarak kami cukup jauh. Ada sekitar lima ekor hantu rouge yang mengejarku. Mereka belari dengan kecepatan yang sangat mengagumkan, lebih cepat dari Jaiden.


Tubuhku terjatuh di tanah lembab ketika satu dari mereka berhasil menyergapku.


"Ugh!" keluhku nyeri.


Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diri, meronta-ronta seperti penyu laut yang terbalik. Menendang kaki si hantu ROUGE sembari mendorong moncong bertaringnya yang mengincar leherku.


Dalam keadaan terpojok begini tanpa sengaja aku memandang kearah matanya. Iris gelap tak berjiwanya membawaku ke alam kegelapan. Kukedipkan mata mencoba untuk tetap fokus tapi kegelapan dalam matanya melemparku ke suatu tempat lain. Sebuah altar dengan tubuh terkoyak-koyak.


Di mana lagi itu?


Aku mengerjapkan mata pening oleh kilas memori yang saling tumpang tindih. Antara kenyataan dan halusinasi aku kesulitan membedakannya. Sementara makhluk itu terus menyerangku.


Aku harus bertahan. Aku harus selamat. Kubenamkan kuku sedalam mungkin mengoyak kulit berbulunya dengan cakar rapuh yang belum seberapa. Sekuat tenaga aku mendorong tubuh makhluk itu, tapi sayangnya tak juga membuahkan hasil, malah sebaliknya cakar beracunnya berhasil merobek lenganku hingga tenagaku melemah.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2