
Kewarasanku terhuyung-huyung di antara kenyataan dan ilusi. Sementara dark ROUGE semakin bertambah semangat mengoyak leherku yang terbuka. Namun aku belum mati, tidak, aku tak ingin ini berakhir. Aku baru saja menemukan sedikit titik terang mengenai terror yang menimpa pack.
Aku tidak bisa membiarkan ini menghilang gara-gara satu serangan saja. Ada banyak nyawa yang akan diselamatkan dari informasi kecil yang kutemukan. Tanganku yang awalnya meraba di area rerumputan kugerakkan untuk mencengkram bulu lembut lebatnya. Otakku sendiri mulai menyelami memori guna menemukan tata cara perlawanan yang di ajarkan.
Serigala memiliki beberapa titik kelemahan tapi pertama dan utama dari semua hal hidup adalah menghentikan gerakkannya. Aku mengunci cakaran pada lehernya yang terbuka bebas memfokuskan tenaga semampunya. Lagi, aku membenamkan kuku yang entah sejak kapan meruncing dari bentuk seharusnya, menusuk dalam daging berbulu itu.
Dara hitam perlahan bermuncratan seiring dengan semakin jauhnya cakarku mengupas kulitnya. Beberapa di antaranya terciprat ke dalam mulutku, paling banyak di area wajah. Dark ROUGE yang menyerangku mulai menunjukkan tanda-tanda kewalahan memanfaatkan celah yang ada. Aku mendorongnya hingga terpelanting ke samping selama beberapa detik dark ROUGE itu mengeliat sebelum meluruh dalam cairan hitam.
Aku menatap dark ROUGE tersisa memperhitungkan berapa persen kesempatan untuk menang. Namun itu cukup sulit aku tak bisa berkonsentrasi gara-gara robek di leherku.
"Aku tahu kau tidak akan bisa dijatuhkan dengan mudah."
Kepalaku tiba-tiba berdenyut saat suara itu terdengar. Aku meringis tanpa sadar menyadari perubahan signifikan pada suhu hutan. Sore jadi lebih dingin bersamaan dengan matahari emas yang bersembunyi di balik cakrawala.
"Ini ulahmu kan?" Tanyaku melempar pandangan jauh pada hutan kosong. "Apa maumu? Mengapa kau melakukan ini pada kami?"
Entah bagaimana aku memiliki keyakinan bahwa makhluk yang disebut sang penghancur itu berada tak jauh dari sini.
"Aku hanya tidak ingin kejadian sama terulang lagi." Balasannya datang bersama hembusan angin membuatku sulit menentukan arahnya. "Tidak, aku tidak akan membiarkannya, membiarkan mereka mendapatkan keinginannya dengan mengorbankan dirimu."
Aku tidak mengerti ke mana arah atau siapa yang dibicarakan makhluk itu. Namun satu hal yang membuatku bingung, mengapa ia memberitahuku? Mengapa makhluk ini seolah melindungiku?
"Kenapa aku? Kenapa kau berbicara padaku?"
Aku tidak menemukan korelasi antara penyerangan pada anggota pack dan keinginan untuk melindungiku.
"Tentu saja karena kau adalah alasan aku melakukan semua ini. Kau tidak mengingatnya sekarang tapi nanti ketika sang bunga malam sedang mekar dalam mahkotanya. Kau pasti akan paham."
Pembicaraan kami semakin membingungkan dan kepalaku pusing olehnya, ditambah lagi pandanganku sekarang mulai tak fokus. Rasanya semua hal bergoyang dengan banyak bayangan.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,"kataku terengah. "Tapi jika kau pikir aku akan mempercayaimu kau salah. Kau tak lebih dari makhluk menjijikan yang senang membantai orang lain."
"Merekalah yang memulai duluan." Sebuah pusaran angin mendorong tubuhku hingga terantuk di batang pohon. "Aku hanya menjatuhkan hukuman atas apa yang mereka perbuat."
Suaranya dingin dan dalam tapi ada kemarahan juga di sana. Bagus aku sudah memancing emosinya tinggal menunggu waktu sampai ia kehabisan kesabaran dan membunuhku.
"Para ... "
Telingaku berdenging saat kesabaranku di ambang batas. Oh, tidak, jangan lagi, erangku dalam hati. Ketika kegelapan menarikku kuat melemparkan kesabaranku pada memori asing lainnya.
Aku berdiri di sebuah jalanan kota yang ramai. Menatap linglung ke sekeliling yang seluruhnya berwarna hitam. Bagian mana lagi ini? Aku tidak mengerti mengapa terus-terusan mengalami ini. Apa yang ingin ditunjukkan pemilik memori ini padaku? Dan mengapa pula harus aku?
"Hei!" Seseorang menepuk bahuku dari samping. "Kita harus segera pergi. Jangan sampai mereka menyadari keberadaan kita."
Seseorang yang berbicara padaku adalah seorang gadis tapi wajahnya tak bisa kulihat jelas. Seakan sengaja di blur untuk menyamarkan identitasnya. Aku menatapnya bingung dan curiga tapi sepertinya gadis ini tidak menyadarinya. Ia menarik tanganku melewati sebuah gang sepi.
"Jadi informasi apa saja yang sudah kau dapatkan hari ini?"
"Tidak ada," kataku sambil menggeleng kecil.
Aku tidak ingin mengambil resiko bertanya identitasnya yang akan membuat siapa sesungguhnya aku terbongkar. Jadi kuputuskan mengikuti alur saja.
"Aku mendapatkan sesuatu. Tapi sebaiknya kita bicara di rumah. Tempat seterbuka ini rawan, kita tidak tahu benda apa yang akan berubah menjadi telinga dan mulut."
Masih belum mampu mencerna situasi aku menurut saja saat gadis ini membawaku ke tempat lain. Itu sebuah bangunan kumuh di tepi kota. Itukah yang ia maksud dengan rumah? Jelek sekali.
Ia menarikku duduk lantas menyerahkan buku yang tadi disembunyikannya. "Lihatlah," katanya pelan.
Tanganku ragu-ragu membuka buku lusuh itu sesekali menatapnya. Halaman pertama di isi dengan garis-garis aneh dan beberapa simbol yang tak kumengerti.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Itu peta, dan garis-garis hitam ini menunjukkan jalan menuju ke sana." Aku semakin mengerutkan dahi bingung. Gadis ini tampaknya mau bepergian ke suatu tempat.
"Tempat apa itu? Mengapa kau ingin ke sana?"
"Itu tanah tak bertuan di ujung Utara soul of land. Kita bisa menyelamatkan diri ke sana. Orang-orang dewasa ras kita berencana pergi sore ini, jadi kita akan ikut bersama mereka."
Soul of land? Nama itu ada di dalam buku yang kubaca kemarin malam. Apakah itu berarti aku sedang berada di masa lalu sekarang? Kalau begitu seseorang yang di sangka aku ini pasti hidup di masa lalu. Lalu siapa gadis berwajah blur ini?
"Ras kita? Siapa saja?"
Aku tidak bisa menanyakan siapa dirinya secara gamblang karena itu bisa menimbulkan kecurigaan. Namun aku juga tidak bisa mempercayainya bisa saja ia penjahat.
Gadis berwajah blur itu mengangguk. "Beberapa di antaranya setengah vampire dan sisahnya ya seperti kita."
"Baiklah."
Sisah siang itu kuhabiskan untuk mencari informasi. Sala satu yang kudapatkan adalah gadis ini dan diriku, aku bingung bagaimana menyebutnya, saudara dan kami setengah penyihir. Meski aku agak bingung dengan katagori setengah di sini. Penggambaran penyihir dalam buku sejarah tidak ada bedanya dengan para manusia.
Ketika waktu yang ditunggu akhirnya datang. Kami berbaris di dermaga bersama para ras setengah vampire seperti yang dikatakan gadis berwajah blur beberapa waktu lalu. Namun tepat sebelum kakiku menaiki pijakan, ribut-ribut tiba-tiba saja terdengar. Kapal yang akan kami tumpangi hancur oleh sinar merah. Beberapa orang yang sudah terlanjur masuk ke dalam meninggal seketika.
Tak sampai di sana seseorang juga menarikku menutup mataku dengan kain hitam. Aku meronta dari bekapan yang menahanku dan begitu berhasil membebaskan diri wajah familiar yang terlihat.
"Dreas! Bagaimana bisa?"
Alih-alih menjawab, Dreas malah memelukku erat.
"Akhirnya aku menemukanmu."
__ADS_1
TBC.