The Guardian

The Guardian
Rumah pohon.


__ADS_3

Kepalaku pusing dan sekujur tubuh terasa remuk. Keadaan menyedihkan untuk mengawali hari. Di atas sana biru langit membentang luas dengan awan-awan tipis sebagai penghias. Aku terlalu lelah hanya untuk sekedar berpikir mencari tahu di mana sekiranya tempatku berada.


Namun yang pasti aku masih hidup. Itu saja sudah cukup untuk saat ini, aku hanya ingin istirahat sebentar merilekskan semuanya dari ketegangan. Kapan terakhir kali aku merasakan ini? Bebas, berbaring santai tanpa harus memikirkan apapun. Sudah lama sekali sepertinya.


Kurasakan sentuhan lembut angin yang membelai pipiku dingin dan sedikit perih. Cuaca yang bagus sayang sekali tidak dibarengin dengan mood baik untuk menikmatinya.


"Akhirnya kau bangun putri tidur."


Siluet gelap berdiri menjulang di atasku membayangi dari silau hangat matahari. Ah, sayang sekali padahal aku berharap bisa menikmati waktu sedikit lebih lama.


"Jika saja aku tidak mengenal baik suaramu, kau mungkin sudah babak belur sekarang," kataku membuat kelakar, masih enggan beranjak dari posisi berbaring.


Di antara awan-awan yang bergerak lembut tampak beberapa kelompok burung terbang. Kecil seperti kumpulan kutu-kutu di tempat tidur.


"Aku memang sudah babak belur," balasan yang datang sangat datar. "Bangunlah Azu. Kita harus segera pergi dari sini."


Aku ingin tetap di sini. Rasanya sangat nyaman.


"Bangun atau aku tinggal," ancam Ralyne.


Aku menarik napas panjang memaksa otot-otoku bergerak dan merintih dalam prosesnya. Sumpah tubuhku benar-benar hancur.


"Kau tahu di mana ini?" Tanyaku menggulirkan mata ke sekeliling.


Tempat kami berada sekarang adalah dataran lembab berbatu yang sebagian besar agak runcing. Tak jauh dari posisiku terdapat sebuah sungai kecil berair jernih. Sebenarnya seberapa jauh kami terguling?


"Lembah tak bernama di selatan blue eclipse pack."


Ah, benar, wilayah blue eclipse wolf pack itu terdiri dari lembah-lembah curam dengan sungai kecil yang mengalirinya. Itu wilayah paling tidak bersahabat untuk para Shifter tinggali karena datarannya yang cenderung miring dan berbatu. Tidak heran mengapa anak-anak di blue eclipse wolf pack lebih kuat di banding pack lain. Medan tempat tinggal mereka ternyata sangat berbahaya.


"Bisakah kau memberi tanda? Siapa tahu ada post WARRIOR dekat sini." Jadi aku tidak perlu menyiksa kepala dan badan untuk mencari jalan keluar.

__ADS_1


"Tidak. Tempat ini jarang di jamah, tidak ada post WARRIOR di dekat sini." Ralyne menatapku polos tanpa ada setitik rasa khawatir di dalam matanya.


"Kalau begitu kita tamat," kataku sepenuhnya duduk memperhatikan penampilan diri. Ya ampun buruk sekali.


Bajuku robek di beberapa bagian dengan goresan merah yang nyaris mengering di sepanjang kaki dan lengan. Rambutku kusut, lengket oleh getah dari akar liar. Beberapa tanah menempel di pipi dan denyutan nyeri di bagian dahi. Sepertinya ada luka di sana.


Duduk di sebuah batu pipi di depanku. Ralyne memiliki penampilan serupa tapi tampaknya lebih baik. Ia berantakan secara fisik tapi tak memiliki baret-baret jelek di tubuhnya. Sala satu keistimewaan Shifter yang sudah mendapat wujud serigala adalah regenerasi tubuh yang cepat.


"Ya, kecuali kau mau mengerakkan badan sedikit." Ralyne berdiri menyodorkan beberapa buah hutan padaku. "Tak jauh dari sini ada pondok kecil kita bisa ke sana."


"Bukankah tadi kau bilang tak ada post penjagaan?" Aku bertanya untuk memastikan dan Ralyne mengangguk. "Lalu bagaimana kau tahun ada pondok kecil dekat sini?"


Ralyne memiringkan kepala. "Mmm! Ini wilayahku Azu, aku tahu tempat ini seperti halaman rumah."


Ia menerangkan dengan santai seperti berkata ini siang hari, membuatku mendengus lalu untuk apa dari tadi aku khawatir?


"Baiklah, mari kita ke sana," kataku menggigit buah yang diberikan Ralyne. Rasanya agak asam tapi sangat menyegarkan. Lumayan bisa menahan rasa lapar. "Bisakah kau mengubah diri? Kakiku sangat sakit."


Cara bisa Ralyne saat menyebut kata 'serigalaku' agak janggal tapi lucu seolah ia menegaskan itu bukan dirinya melainkan hewan peliharaan.


"Baiklah," kataku kecewa." Pimpin jalannya, aku tidak mau membahayakan diri lebih lama dengan berada di tempat terbuka."


Aku tidak tahu kapan sang penghancur akan datang atau mengirim pasukannya. Jika memang ada tempat bersembunyi itu sangat bagus.


"Lewat sini."


Aku mengikuti susah payah langka santai Ralyne yang seolah berjalan di taman bunga. Bukannya tebing batu terjal yang sesekali tanahnya meluncur ke bawah. Beberapa kali aku terjatuh membuat lecet-lecet lain bermunculan.


"Di sini."


Setelah melintasi rute bermedan terjal kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Pondok kecil di hutan tak bernama.

__ADS_1


"Wow!"


Aku mendapati diriku begitu terpesona pada bangunan mungil yang seluruhnya berbahan dari kayu itu. Sangat cantik


Seperti sebuah kotak di tengah hutan rumah pohon itu berdiri diatas sebuah jurang dangkal dengan pohon besar sebagai tiang penyanggah utamanya. Lokasinya yang tersembunyi di balik rapatnya pepohonan dan belukar menjadikan rumah pohon itu tempat yang sangat cocok untuk bersembunyi.


Ada sebuah jembatan gantung sepanjang kurang lebih satu meter sebagai jalan penghubung dari dataran tempat ku berdiri menuju rumah pohon itu.


Aku melangkah hati-hati mengekor di belakang Ralyne yang berjalan memimpin. Telapak kakiku berdenyut ketika melintas di atas jembatan gantung ini.


Bagian dalam rumah ini bahkan lebih dari perkiraanku. Begitu membuka pintu mataku langsung disuguhi sebuah ruang tamu yang tak kalah cantik dari ruang tamu rumahku hanya sedikit lebih kecil. Hampir semua perabotanya terbuat dari bahan kayu. Warna alami coklat kayu yang dipelitur mengkilap memberi kesan hangat dan nyaman. Dua buah sofa panjang berjejer di dekat perapian dengan karpet putih bersih yang menghampar lembut di lantai. Di dekat sofa terdapat dua buah meja kayu yang di atasnya terdapat lampion cantik berwarna merah kekuningan sebagai penerangan.


Selain di atas meja lampion juga di gantung di langit-langit ruangan dan beberapa lagi di tempel di dinding.


"Kau suka?"


Ralyne melangkah mendekati sofa lalu melempar dirinya begitu saja. Mengikuti jejak Ralyne, aku juga melempar tubuhku ke atas sofa yang satunya.


Rasanya seperti menemukan surga saat punggungku merasakan kelembutan sofa. Aku tidak ingin bangun lagi sekarang.


"Sangat. Ini luar biasa!" seruku takjub.


"Tentu. Kakek membutuhkan setidaknya satu tahun untuk menyelesikan rumah pohon ini."


"Hmm! Pantas Desainnya sangat cantik. Omong-omong kau yakin ini tidak apa-apa? Ayahmu pasti panik."


"Tidur saja, Azu. Aku butuh mengembalikan tenaga."


Setelahnya kudengar dengkuran halus dari Ralyne. Ia pasti sangat kelelahan sampai-sampai langsung tertidur begitu. Sesaat aku merasa malu padanya sebagai kakak aku benar-benar tak bisa apa-apa dan menjadi beban saja. Padahal di sini akulah yang harus menjaganya dan bukan sebaliknya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2