The Guardian

The Guardian
Penjara labirin


__ADS_3

Aku amat menyayangkan pagi hari yang indah ini mesti rusak oleh kesuraman aura bangunan kuno dihadapanku. Prison of the dark caslte. Bangunan tua berupa castle batu berwarna hitam yang sesungguhnya adalah labirin raksasa. Tempat paling mengerikan di antara yang mengerikan di daratan benua. Wilayah ini berada di perbatasan antara lunar eclipse pack dan red eclipse pack dan merupakan teritori khusus tanpa terikat aturan pack.


Para GUARDIAN yang memerintah tempat ini hanya menetapkan dua aturan tegas yang harus dipatuhi ketika sedang berada di sini. Pertama tidak boleh mendekati kediaman mereka di ujung jalan tanpa seizin pemilik. Kedua para pelanggar akan diberi hukuman sesuai dengan yang berlaku di sini, dan para Alpha dilarang ikut campur seburuk apapun hukumannya. Hanya itu, simple seharusnya, tapi pada penerapannya tidak sesimple itu.


Para WARRIOR yang bertugas di sini juga special, mereka bukan hanya para veteran perang tapi juga terdiri dari berbagai anggota pack. Tempat ini adalah satu-satunya wilayah di mana tidak ada status anggota pack tertentu. Mereka di sini hanya satu yaitu Shifter.


"Grace, tolong pegang tanganku." Kataku meraba-raba lengannya.


Tidak perlu melihat untuk tahu bahwa aku sedang berkeringat dingin, padahal matahari sudah cukup tinggi. Sekujur tubuhku terus-terusan gemetar bersama degupan jantung yang kian meninggi seiring berjalannya waktu. Aku berdiri di antara dua puluh anak lainnya. Yah, dari seratus lebih siswa kelas rendah yang ada hanya dua puluh orang yang memiliki nyali hadir di tempat ini. Sisahnya mundur dengan berbagai macam alasan.


"Kenapa tidak berpura-pura sakit saja?"


Oh, Grace andai kau tahu bahwa aku sudah merencanakan itu sejak awal. Aku tidak benar-benar peduli mengenai taruhan dengan Floren atau poin yang tertinggal. Aku di sini karena dorongan sesuatu yang hadir dalam mimpiku. Betapa bodohnya, pikirku mengingatnya lagi.


"Jangan lupakan nomor kalian." MISS. Sellin mendecak tak sabar, saat beberapa anak bergerak lambat.


Kami mengenakan jubah berwarna oranye, merah, gelap, seperti nyala api obor lengkap dengan tudung lebarnya. Masing-masing anak di minta mengambil satu papan kayu secara bergiliran dari tangan MISS. Sellin.


Belum ada informasi tambahan mengenai apa yang akan kami lakukan atau akan bagaimana kegiatan ini berlangsung nantinya dan aku pun tak punya gambaran. MISS. Sellin sendiri hanya meminta kami mematuhi peraturan yang ada, ia tampaknya menyerahkan segala sesuatu sepenuhnya pada orang-orang di sini, termasuk kegiatan selama study tour.


"Grace, jangan lepaskan pandanganmu dari Floren sedetikpun." Aku mengingatkan.


Floren jelas berniat berbuat sesuatu selain kegiatan resmi study tour. Jadi aku dan Grace sudah sepakat untuk memantaunya secara bergantian. Kami khawatir kalau-kalau ia berbuat nekad dan melanggar aturan.


"Jangan khawatir, aku sudah berlatih keras dalam mengintai seseorang," balasnya, menjulurkan leher ke depan.


Di depan sana Alpha David, tengah berdiskusi sesuatu dengan anggota GUARDIAN yang akan bertanggung jawab atas study tour kali ini.


Alpha bilang anggota GUARDIAN itu akan memastikan bahwa kami akan pulang sebagaimana kami datang tadi. Ia juga menjamin kalau semua aman terkendali.


Aku ikut menjulurkan leher guna melihat sosok yang disebut-sebut misterius itu. Jubah hitamnya berkibar tersapu angin, wajahnya tersembunyi dibalik tudung lebarnya. Auranya gelap melebihi bangunan dibelakangnya. Dia sangat cocok jika untuk menakuti orang-orang, tapi pengawasan? Aku tidak yakin apakah ia bisa benar-benar dipercaya dalam menjalankan tugasnya. Bagaimana jika ia berbuat tidak senonoh lagi? Dan jadi teledor saat kami sedang berada di dalam sana nanti? Aku tidak berencana mati diterkam para ROUGE.


Selagi aku sibuk dengan pikiran sendiri. Alpha David tampaknya telah selesai dengan diskusinya. Ia berdiri dihadapan kami semua bersama anggota GUARDIAN yang terdiam di sebelahnya.


"Apakah semua sudah selesai?"


MISS. Sellin mendekati Alpha mengonfirmasi semuanya. "Yah Alpha Anda bisa mulai."


"Baiklah, semua seperti yang kalian ketahui. Ini bukan hanya sekedar kegiatan Study tour tapi juga sebagai ajang pelatihan nyali."

__ADS_1


Ia berbicara menggunakan tone Alpha yang membuat siapapun ketika mendengarnya akan menuruti perintahnya. Sangat kontras dengan raut wajahnya yang begitu lembut dan penuh wibawa.


"Ini seperti permainan dalam mencari harta karun." Alpha David memulai.


"Di dalam sana, para penjaga sudah menempatkan potongan kayu seperti yang kalian pegang di beberapa titik. Tugas kalian hanya menemukannya dan membawanya pada para penjaga agar bisa keluar. Tidak perlu khawatir mengenai para ROUGE, mereka tidak akan bisa menyentuh kalian aku jamin itu. Ada pertanyaan?"


"Berapa lama itu akan berlangsung? Dan bagaimana jika sampai akhir kami tidak menemukan potongan kayunya?"


Floren bertanya dengan wajah sumringah. Dia satu-satunya anak yang masih memasang ekspresi itu di sini.


Seringai iblis bermain di bibir MISS. Sellin.


"Durasinya selama tiga jam, dan kalian akan diminta membersihkan lorong sel sebagai hukuman jika gagal menemukan potongan kayu."


Praktis semua anak berubah pucat, beberapa anak perempuan bahkan terduduk saking kagetnya. Membersihkan lorong sel tahanan? Itu gila. Namun bukan hal baru jika itu menyangkut MISS. Sellin, jadi seharusnya semua sudah menyiapkan tambahan kantong ketegangan.


"Aku mau pulang." Beberapa anak mulai menyuarakan rengekan, menyesali keputusan untuk datang ke sini.


"Apa-apaan ini? Aku tidak akan membuang waktu jika tahu akan jadi begini." Seorang anak laki-laki cukup berani menyatakan pendapat dengan nada tinggi.


Alpha David berdeham pelan guna menenangkan keributan yang tiba-tiba pecah secara tak terkendali.


"Tapi tidak ada yang membicarakan soal hukuman. Jika aku tahu akan berakhir seperti itu, aku akan lebih memilih untuk tidak ikut." Rome, yang tampaknya tersulut emosi ikut menyatakan protes.


"Kalian masih bisa mundur sebelum berangkat." MISS. Sellin menolak mengalah.


Hah? Aku nyaris saja mengeluarkan umpatan jika tidak pandai menahan diri. Bisa-bisanya MISS. Sellin bertingkah seolah ia tidak bersalah.


Tepat sebelum keberangkatan, mendadak MISS. Sellin memberikan pengumuman tambahan. Bagi mereka yang tidak ikut Study tour dengan alasan apapun akan tetap mendapat pengurangan poin. Terang saja kami yang sudah hadir tidak bisa mundur lagi.


"Tapi anda mengancam akan mengurangi point kami." Grace bergabung dengan para pemrotes. "Anda tidak bisa begitu tidak bertanggung jawab. Anda tahu berapa banyak ketakutan yang kami lawan hanya untuk berada di sini? Bagi anda orang dewasa itu mungkin hanya permainan, tapi kami mempertaruhkan kewarasan di sini."


Aku diam-diam mengangguk, menyetujui semua argument Grace.


"Bagus sekali Lyanin. Kebetulan, apakah kau menyadari mengapa kalian semua yang ada di sini berada di peringkat terendah?"


Membawa peringkat kelas ke dalam argument sungguh suatu penghinaan. Aku yakin setelah ini para pembenci MISS. Sellin akan semakin bertambah.


"Itu karena kalian hanya tahu tentang bagaimana merengek tanpa benar-benar berpikir untuk menggunakan otak kalian," balasan MISS. Sellin datang bersama gelegar kemarahan, yang mana membuat wajah-wajah kekeh tadi menciut seperti jeruk tua.

__ADS_1


"Tidak perlu panik anak-anak. Semua sudah sesuai prosedur kemananan, tidak akan ada yang terluka. Lagipula hukuman dibuat agar kalian lebih termotivasi dan berusaha untuk sekuat tenaga. Gunakan saja insting kalian sebagai penunjuk jalan."


Alpha David berbicara menengahi perdebatan yang memanas.


"Dan, dalam prosesnya kalian tidak sendirian. Satu tim akan terdiri dari dua orang dan di setiap dua puluh sel akan ada para WARRIOR yang berjaga, jadi kalian tidak perlu khawatir tersesat."


Setidaknya penjelasan Alpha David memberi sedikit pencerahan. GUARDIAN itu boleh saja tidak bisa diandalkan tetapi ada para WARRIOR sebagai cadangan. Kurasa tidak terlalu buruk.


"Jika kalian sudah tenang, lihatlah nomor di ujung kayu. Angka satu dan sebelas memiliki makna sama sebagai permulaan jadi segeralah temukan pasangan kalian."


Aku membalik potongan kayu, menemukan angka tujuh belas di ujungnya. Jika satu dan sebelas sama itu berarti pasanganku adalah orang yang memegang angka tujuh. Aku berjalan ditengah anak-anak yang sibuk mencari partner hanya untuk mendapati kenyataan bahwa pasanganku adalah si pembuat onar, Brian.


Ia juga sedang memandangku, mengingat semua anak sudah berdiri bersama rekan mereka masing-masing.


Betapa beruntungnya, pikirku sinis, di antara semua orang dan dia yang terpilih. Wah, kurasa aku harus mulai mempertimbangkan menjalankan ritual membuang sial. Bagaimana Dewi kesialan bisa begitu baik terus menerus memberikan berkahnya padaku?


Brian menatapku dari ujung kepala sampai kaki , keningnya sampai berkerut dalam saat mengembalikan tatapan pada mataku.


"Sudah puas menilanya?"


Aku membiarkan sisi kesalku sepenuhnya mengambil alih begitu melihat cara pandangannya yang merendahkan. Aku bersumpah akan melayangkan pukulan kalau ia tidak segera mengakhiri tatapan meremehkan itu.


"Aku tidak akan berharap banyak padamu, setidaknya jangan menjadi kerikil."


Wah, emosiku melejit drastis dalam sepersekian detik. Melepaskan dengusan tak percaya berkali-kali.


"Kakimu mungkin lebih panjang dariku, tapi aku seringan angin. Jelas akan lebih cepat darimu, bisa jadi kaulah yang akan menghambat."


"Kau bisa membuktikannya di dalam sana. Tentu kau tidak akan membiarkan itu menjadi omong kosong belaka kan?" Brian menyeringai penuh ejekkan. "Lagipula, kita tidak sedang adu kecepatan."


Aku mencengkram ujung jubah lengan erat-erat, meremasnya layaknya itu Brian sendiri. Baiklah, aku tidak peduli akan hasilnya, aku hanya harus memberi pelajaran pada orang ini.


"Jika kalian sudah menemukan pasangan segeralah berbaris. Kita sudah membuang terlalu banyak waktu." MISS. Sellin berdecak tak sabaran. Aku berani bertaruh jika saja di sini tidak ada Alpha dan anggota GUARDIAN, ia pasti sudah mempraktikkan jurus pukulan tongkat sayangnya pada kami semua.


"Apakah semua sudah?" Alpha David sekali lagi memastikan. " Sebagai penutup, aku peringatkan jangan pernah sekalipun berinteraksi dengan ROUGE, apapun alasannya."


Ia mengangguk pelan pada anggota GUARDIAN sebelum pamit undur diri. GUARDIAN itu yang sedari awal berkamuflase menjadi makhluk tak kasat mata itu sampai sekarang belum sedikitpun memberikan pergerakan. Ia tidak berbicara, aku bahkan sampai ragu kalau ia bernapas.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2