The Guardian

The Guardian
Starting


__ADS_3

Untuk sesaat, aku masih tidak bergerak dari posisi awal, membeku termakan ketakutan. Mataku terkunci pada serigala Jaxon yang nyaris tak bergerak. Itu sangat diam sampai-sampai aku mulai berimajinasi kalau roh serigalanya sudah tercabut dan menghilang ke dalam serpihan angin.


"Azu!" Aku memalingkan wajah pada sosok tampan Dreas yang balas menatapku khawatir. Aku mengerjap pelan guna menghilangkan air mata yang menggenang.


"Aku membunuhnya," kataku getir, mencengkram erat jubah Dreas. "Jaxon, aku membunuhnya, Dreas. Kakakku."


Aku tidak berpikiran sampai sejauh itu. Aku hanya berusaha menghentikannya tapi ... Bagaimana bisa jadi separah itu? Aku tidak ingat menggigitnya sebanyak itu. Aku tidak punya kemampuan semengerikan itu.


"Tidak apa-apa, Azu." Dreas menarikku dalam pelukan. "Dia mungkin sekarat tapi belum mati."


Aku mengerjap berusaha percaya pada kata-kata Dreas, menatap matanya mencari kebohongan tapi sorotnya terlihat sangat meyakinkan. Jadi seharusnya itu cukup melegakan. Namun tubuhku tak mau berhenti gemetar.


Beberapa WARRIOR mulai berdatangan mengelilingi Jaxon, termasuk Aiolos. Wajahnya sangat khawatir seolah akan menangis.


'Azu!' Jaiden berbicara lewat pikiran. 'Aku tahu kau sedih tapi kita tidak punya waktu. Alison masih dalam genggaman makhluk itu. Kita masih harus menyelamatkannya.'


'Bagaimana dengan Jaxon?'


'Biarkan yang lain mengurus. Dia baik-baik saja sekarang.'


"Ada apa, Azu?"


Suara Dreas memaksaku memutus komunikasi pikiran mengalihkan tatapan padanya. Baru kusadari kalau ia tak menggunakan tudung jubah untuk menyembunyikan wajahnya.


"Mereka melihat wajahmu," kataku berusaha mengalihkan pikiran sejenak dari kekhawatiran mengenai Alison. "Apa itu tidak apa-apa."


"Jangan dipikirkan, apa kau baik-baik saja sekarang? Apa yang terjadi? Mengapa kalian saling menyerang?"


"Makhluk itu mengendalikan kakakku dan  ... Dreas keluargaku dalam bahaya. Bisakah kita ke sana menyelamatkan mereka?"


Aku tahu itu sangat egois tapi aku tak bisa mempertimbangkan apapun dengan keselamatan Alison sebagai taruhan.


"Tidak bisa."Valdus menyahut. "Pergilah Dreas, Selena lebih penting sekarang. Aku akan menyusul setelah mengurus ini."


"Dreas, kumohon." Ini adalah kali pertama aku meminta padanya.


"Apa kau tidak paham situasinya!" Valdus membentakku. Aku sampai berjengit mendengar nadanya. "Kami tidak akan buang-buang waktu hanya untuk memberitaumu. Harusnya kau bisa membaca situasi. Sebagai GUARDIAN Dreas punya tanggung jawab yang lebih besar. Bukan hanya mengurusi sikap egoismu itu."


Aku mengepalkan tangan balas menatap Valdus sengit. Tidak memberiku kesempatan membela Valdus kembali melanjutkan.


"Perlukah aku mengingatkan, kehidupan seluruh shifter jauh lebih penting dari keluargamu."

__ADS_1


Dreas sendiri tampak sangat bimbang, wajah yang biasa tegas itu dipenuhi kerutan sakit. Seolah ia sedang memikul beban yang sangat berat, aku jadi tidak tega melihatnya. Namun Alison juga tidak punya banyak waktu siapa yang bisa menjamin kalau kembaranku itu masih hidup sekarang.


"Azu, purnama biru akan segera mencapai puncaknya dan kami harus memastikan Selena berhasil atau semuanya akan dalam bahaya. Ini demi masa depan kita juga."


'Azu, kita tidak punya banyak waktu. Aku akan duluan, segeralah menyusul setelah kau bisa.'


Aku menatap serigala Jaiden yang mulai menghilang di kejauhan. Lalu kembali memandang Dreas.


"Aku akan menemui keluargaku. Kau tidak masalah dengan itu?"


Dreas tersenyum lembut." Terima kasih untuk pengertiannya, Azu. Aku akan segera menemuimu begitu semua selesai."


Aku mengangguk kecil, melepasnya dengan rasa tidak rela yang besar. Namun tiba-tiba Dreas menarik wajahku dan menyatukan bibir kami. Itu tidak berlangsung lama tapi tetap saja rasanya aneh. Bagaimanapun itu ciuman pertamaku.


"Berjanjilah kau akan baik-baik saja."


Aku menatap kepergian Dreas dengan kecewa. Rasanya sangat menyakitkan melihat pasanganku lebih memprioritaskan orang lain dibanding diriku sendiri. Aku berjalan pelan mendekati Aiolos yang sedang membalut luka Jaxon. Aku tidak bisa berlama-lama, selain karena berkejaran dengan waktu. Kondisi Jaxon yang mengenaskan juga sebagai penyebab utama.


Padahal selama ini aku selalu bermimpi bisa mengalahkannya tapi ketika itu benar-benar terwujud rasanya malah sangat menyakitkan.


"Tolong jaga kakakku," pintaku sebelum berlari pergi mengejar Jaiden.


Aku sempat berpikiran untuk mengubah diri dalam wujud serigala tapi mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Aku mengurungkan niat. Jiwa serigalaku sangat liar dan aku tidak mau mengambil resiko lepas kendali lagi.


"Mengapa kau mengikutimu?"


Aku kembali segera berlari selagi berbicara. Brian sendiri tampaknya tidak mempermasalahkan ia mengekor di belakangku.


"Entah, hanya mengikuti naluri."


Jawabannya sangat tidak masuk akal, tapi dari dulu ia memang seperti itu.


"Terserah, tapi aku tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu."


Tidak ada jawaban yang kuartikan sebagai persetujuan ya. Jejak Jaiden mengarahkan kami keluar wilayah GUARDIAN dan menuju rumah nenek.


Aku tidak mengerti mengapa Jaiden berlari kemari atau bagaimana ia tahu bahwa ini arah yang benar. Namun begitu kami sampai di ujung hutan pohon mini semua menjadi sangat jelas.


Aku ingat percakapan terakhir dengan nenek saat ia bilang bahwa bibi Arella selalu mengunjungi altar kuno si sisi lain hutan pohon mini.


"Azu!" Aku segera mengisyaratkan Brian untuk diam.

__ADS_1


'Aku tahu' jawabku lewat pikiran.


Berhubung aku sudah mendapatkan wujud serigala  jadi kami bisa berbicara lewat pikiran tapi Brian sepertinya lupa.


Aku menarik Brian kebawah sebuah pohon rimbun. Dari sini, aku tak bisa melihat jelas apa yang tengah makhluk itu lakukan. Sementara berusaha menghubungi Jaiden.


'Jaiden'


Panggilku agak panik karena tidak melihat keberadaannya. Jangan bilang kalau ia sudah di kalahkan atau tersesat. Bagian terakhir agak konyol.


'Jaiden'


'Diamlah, Azu. Aku sedang memikirkan rencana' balasannya datang dengan suara jengkel khas Jaiden biasanya.


'Apa yang hendak kalian lakukan?'


Brian ikut bergabung ke dalam percakapan. Wajahnya sendiri diliputi raut bingung.


'Kita harus menangkap makhluk itu dan menyelamatkan saudari kembarku yang ia tahan'


Melihat Alison yang terikat di tiang, serta darah yang mengucur deras dari telapak tangannya yang terluka. Hampir saja aku mengamuk murka.


'Jangan gegabah, Azu.' peringat Jaiden. 'salah sedikit saja Alison bisa terluka.'


'Dia sudah terluka.' balasku cepat, sekuat tenaga menahan kemarahan yang ada. Beraninya makhluk itu menyentuh keluargaku. Tidak cukup dengan menjadikan Jaxon sebagai boneka sekarang ia bahkan menahan Alison dan melukainya.


Jika tidak ada Brian yang menahan bahuku sudah dipastikan keberadanku sekarang adalah di altar dan berusaha memusnahkan makhluk itu.


'Jaiden, apakah nenek baik-baik saja?'


Jangan bilang bahwa ia melakukan hal yang sama pada nenek. Aku benar-benar tidak akan memaafkan makhluk itu.


'ya, nenek baik-baik saja'


Setelahnya hening, kami hanya diam mengawasi makhluk yang sedang sepertinya bersenandung itu.


'Aku punya rencana' Jaiden berkata agak semangat. 'tapi keberhasilannya tergantung dirimu, Azu. Kau bersedia melakukannya?'


'Kau tidak perlu bertanya'


Bentakku agak kesal.

__ADS_1


'Baiklah, Mari mulai'


TBC.


__ADS_2