The Guardian

The Guardian
Latihan.


__ADS_3

Pagi ini langit sangat biru tanpa setitik pun awan. Waktu yang saat tepat untuk bersantai, sayangnya aku tidak bisa menikmatinya. Selain karena harus membantu para tabib membuat ramuan pembicaraan dengan Dreas semalam masih menyisahkan beberapa pertanyaan. Aku masih belum menemukan titik terang seperti yang diharapkan.


Oke, gadis yang terbaring kaku adalah diriku di masa lalu. Namun bagaimana dengan gadis lainnya? Yang bertarung dengan mereka? Mungkinkah gadis itu adalah sang penghancur? Lalu bagaimana dengan gadis yang berniat pergi bersama para vampir? Apakah mereka orang yang berbeda? Ini semakin rumit.


"Dreas! Maukah kau mengajariku bertarung?"


Aku mendatanginya setelah selesai menjadi relawan. Ia baru saja selesai berbicara pada seorang WARRIOR. Dreas melirikku sekilas sebelum kembali mengawasi Selena. Hari ini ia menjaganya dari jauh, yang memberiku firasat bahwa ini ada kaitannya dengan peresmian kami semalam. Ia kemudian menuntunku masuk agak jauh ke dalam hutan.


"Untuk apa? Aku bisa melindungimu." Ia menjawab tanpa menatapku.


"Ya, itu tidak diragukan. Hanya saja kau tidak akan ada bersamaku setiap detiknya sedangkan bahaya mengintaiku setiap detik. Jadi kupikir ada baiknya jika aku bisa membela diri."


Aku menguasai beberapa gerakan dasar tapi ketika itu di pertempuran nyata seperti kemarin. Kemampuanku sangat tidak berguna. Jika aku bahkan tidak bisa melawan dark ROUGE bagaimana nanti kalau berhadapan dengan sang penghancur. Aku tidak bisa cuma duduk diam karena jelas ia mengincarku juga walau alasannya berbeda dengan Selena


"Tidak. Akan kupastikan kau selalu aman. Apa kau meragukan kemampuanku?" Dahi Dreas berkerut dalam. Ia tampak tidak senang dengan usulku.


Tentu saja tidak. Sebagai sala satu anggota GUARDIAN yang merupakan seorang veteran perang, kemampuannya jelas di atas rata-rata. Namun tetap saja aku merasa perlu memperkuat keterampilan bertarung ku dengan keadaan pack yang semakin terpojok, perang bisa pecah kapan saja. Jika saat itu tiba tidak mungkin aku mengandalkan Dreas sementara ia punya tugas besar di pack.


"Ayolah!" Pintaku setengah merengek.


"Tidak!" Dreas menolak tegas.


Ah, aku sudah menduga akan seperti ini. Untung saja aku sudah membaut rencana cadangan. Aku hanya perlu sedikit mendorongnya agar terprovokasi.


"Ya sudah! Aku minta yang lain saja," kataku setengah merajuk. Sengaja memancing kemarahannya.


"Jauhkan pikiran bodoh itu. Sekali aku bilang tidak berarti tidak." Sifat ditaktor Dreas keluar lagi. Tubuhku diputar jadi menghadapnya.  Ia memandangku dengan mata menyipit tajam. "Lagipula tidak akan ada yang bersedia mengajarimu tanpa izinku."


"Percaya diri sekali. Kau mau bertaruh?" Tantangku, menyeringai.


Terlepas dari sikapnya yang kasar, Valdus yang sekarang jarang menolak berinteraksi denganku. Alasannya karena ia tidak perlu menutup wajah, menyebalkan sebenarnya, tapi kurasa ia pasti akan bersedia kalau aku memintanya mengajariku.

__ADS_1


"Jangan paksakan keberuntunganmu. Kau tidak mau tau apa yang akan tejadi jika kau melanggar peraturanku."


Aku malah menunggu apa yang akan diperbuat Dreas jika aku melanggar.


"Kuharap kau tidak terlalu menganggapnya mudah," balasku tak mau kalah. Huh! Jangan pernah panggil aku Azu kalau tidak bisa memenangkan debat ini. "Aku masih belum memaafkanmu karena selalu berada di dekat Selena."


Setelah penyataan itu, akhirnya si GUARDIAN keras kepala ini bersedia mengajariku. Ya, walau harus menerapkan beberapa aturan dulu dalam prosesnya.


Sekarang, kami berada di lapangan samping belakang penjara labirin tempat yang biasa digunakan para GUARDIAN melatih WARRIOR. Kami berdiri berhadap-hadapan.


"Ada beberapa hal yang perlu kau perhatikan ketika berhadapan dengan musuh. Pertama jangan pernah tunjukkan ekspresi ketakutan, karena itu akan menambah kepercayaan diri musuh ...," Dreas mulai menjelaskan. " Cukup berikan tatapan datar saja. Kau juga tidak boleh memberikan tatapan menantang, karena itu bisa memancing emosi musuh dan itu sangat berbahaya."


Aku mengangguk-angguk kecil. Berusaha mengingatnya.


"Kedua cobalah cari kelemahan musuh selagi menghindari serangan. Kita mulai dari cara bertahan ..," Dreas mulai menginstruksikan memasang kuda-kuda bertahan.


"Biasanya musuh akan langsung mengincar titik-titik yang bisa mematikan gerakan sebagai permulaan. Kaki, tangan, leher, dan mata. Prioritaskan menghindari terkena serangan bagian itu."


"Kau yakin bisa menang dengan kaki yang ranting saja lebih kokoh itu?"


Aku menipiskan bibir masam. Perlukah ia menyinggung soal itu? Hei, wajar saja jika tulangku belum Sekokoh Shifter dewasa, toh aku masih dalam tahap pertumbuhan.


"Tidak pernah terpikirkan olehku akan melawan seorang laki-laki," kataku mencibir. "Terutama seorang GUARDIAN."


Sialan! Aku nyaris tidak bisa berdiri lagi.


Mengabaikan nada sindiran di baliknya, Dreas berkata lagi. "Kita lanjutkan."


Dreas bergerak mengincar pergelangan tangan. Reflesk aku menangkis tapi karena gerakannya yang terlalu cepat, aku tak sempat menghindar hingga ia berhasil memojokanku di sala satu batang pohon. Senyum pongah menghiasi wajah tampannya saat berhasil menjepitku.


Sialan!

__ADS_1


"Dreas, kita sedang berlatih," kataku mengingatkan.


Perlu digaris bawahi, Dreas ini tidak cocok untuk jadi seorang pelatih. Aku yakin para muridnya akan mengundurkan diri setelah pelajaran pertama. Alih-alih melatih Dreas lebih apa disebut menindas. MISS. Sellin saja yang buruk dalam mengajarkan kuda-kuda bisa lebih baik dari ini.


Tidakkah Dreas paham arti dari melatih?


Dreas melepas kunciannya meminta maaf kecil saat menyadari warna merah di pergelangan tanganku.


"Percayalah, kau akan jadi pelatih yang paling dihindari murid-murid," kataku sembari mengusap tangan.


"Kau saja yang terlalu pemula," balasnya tak terima. "Tidak ada keluhan dari para WARRIOR."


Astaga! Ingin sekali aku mencakar pria ini. Bisa-bisanya ia membandingkan aku sang urutan terendah kedua di kelas dengan para WARRIOR. Jelas saja levelnya beda. Lagipula tidak ada jaminan mereka tidak mengeluh, bisa saja mereka melakukannya tapi menutupinya.


"Aku tidak dilahirkan untuk menjadi seorang WARRIOR."


"Kalau begitu kita praktek langsung saja." Nadanya sangat ringan.


What the heck! Jadi yang tadi itu cuma pemanasan belum memasuki tahap duel? Oh goddes! Pria ini. Sejujurnya aku ingin sekali mencakar wajah songongnya itu. Tapi tentu saja itu hanya keinginan, mana tega aku melakukan itu.


Dia berjalan mendekat, dengan senyum miring menyebalkannya itu. Segera setelahnya ia menluncurkan tinju, tapi kali ini aku cukup sigap dan menghindar tepat waktu. Aku mengingat beberapa gerakan dasar yang sudah kupelajari dan menggunakannya untuk bertahan. Awalnya aku masih kesulitan menyesuaikan diri tapi seiring waktu berjalan tubuhku pun mulai beradaptasi.


Membiarkan insting memandu aku beberapa kali meluncurkan serangan ketika melihat celah, hasilnya masih gagal. Namun setidaknya sudah ada perkembangan. Aku juga mulai hapal dengan kebiasaan tubuh Dreas sebelum menyerang, seolah aku pernah benar-benar melawannya. Pada satu titik ketika Dreas lengah aku berhasil mendaratkan tendangan pada titik geraknya.


Dreas tampak akan terjatuh tapi rupanya itu hanya pura-pura. Dreas sengaja menerima serangan aku yang tidak siap ketika ia menarikku jatuh menutup mata, berpikir rasa sakit yang mungkin akan datang. Namun setelah beberapa detik rasa sakit itu tidak kunjung hadir.


Saat membuka mata, aku langsung behadapan dengan sepasang mata gelap yang sangat indah. Bagai langit malam yang di taburi bintang. Mata gelap Dreas bersinar indah walau tak menutupi nuansa liar di baliknya.


Dia sangat mempesona.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2