
Dilempari telur busuk saat perayaan hari ulang tahun sih hal normal. Namun kalau dilempari telur busuk, diletusi balon tepat di depan wajahmu, tambahan di dorong hingga mendarat di kubangan kotoran babi secara beruntun, itu keterlaluan. Rasanya seperti ajakan perang, minus bunyi tabuhan genderang.
Mendapati fakta lain serta alasan di balik semua terror membahayakan jantung yang selama ini menderaku. Ingin rasannya aku mengajukan tuntutan protes pada dewi bulan. Seenaknya saja ia menuliskan takdir begini buruknya padaku.
Persetan dengan kata 'istimewa' yang menaungi takdir soul of moon. Kalau ujung-ujungnya dihadapkan dengan persoalan rumit begini rupa. Apa gunanya?
"Awas!"
Brian tanpa pemberitahuan mendorong tubuhku seenaknya, hingga terjengkang dengan sangat tidak elit. Meski alasan di balik itu semua sangat mulia yaitu menghindarkanku dari bibi Arella. Namun paling tidak bukan dengan akhir tidak sedap dipandang begini.
"Dasar shifter kasar," gerutuku jengkel. "Menyebalkan."
Aku tau itu sebuah relfeks alami dalam misi penyelamatan, terkhusus keadaan seperti tadi. Cuma, kan bisa dengan cara yang lebih manis lagi. Misalnya dengan menarik tubuhku kedalam pelukannya seperti di dongeng ala pangeran atau menahan serangan makhluk itu seperti di kisah kepahlawanan. Namun ini, apa? Malah di dorong.
"Terima kasih kembali," sindir Brian mengangkat bahu acuh.
Ia mengabaikanku, dan lebih memilih melayani serangan yang di lancarkan bibi Arella. Dalam beberapa kesempatan, Brian berhasil mengukir beberapa hasil karya di tubuh bibi Arella. Yah, walau sekejap kemudian bekasnya akan menghilang tanpa sisah.
"Sial!"
Brian mengumpat, diusapnya kasar sudut bibirnya yang berdarah, hadiah balasan dari bibi Arella. Matanya melotot nyalang, bahkan kini tubuhnya mulai menghasilkan asap tipis. Mungkin sebentar lagi ia akan berganti shif menjadi serigala.
"Cukup mengesankan," bibi Arella melontarkan pujian. " sayang sekali, aku tidak sedang ingin bermain." Suaranya diiringi desisan mengerikan.
Aku setuju dengan bibi Arella. Selama ini aku hanya tau Brian itu shifter pembuat onar, kurang lebih sama sepertiku, mungkin lebih. Namun melihat bagaimana tadi dia begitu cekatan dalam menangkis serangan serta reaksi cepatnya dalam mengirim serangan balik. Kurasa dia lebih hebat dari itu, rasanya seperti melihat pertarungan WARRIOR yang sudah sangat terlatih.
Meninggalkan kedua orang itu. Aku mengendap-ngendap. Beringsut mendekati Jaiden yang membaringkan Alison tak jauh dari altar.
"Bagaimana?" Tanyaku cemas luar biasa.
Menatap tubuh berantakan Alison. Ia memiliki luka yang cukup dalam di beberapa bagian, memberi tahuku bahwa kembaranku itu sudah melakukan upaya perlawanan. Untung saja sekarang sedang Blue moon membuat proses penyembuhan lebih cepat jika tidak lukanya pasti parah.
"Tidak apa-apa. Masih lebih baik dari Jaxon."
Jaiden menghela napas lega. "Pergilah, Azu, makhluk itu mengincarmu, mumpung ada kesempatan."
Aku mengangkat alis. "Kau bercanda? Kau tahu ia mengincarku dan masih memintaku pergi?" Tanyaku balik, mendesah berlebihan.
"Kemanapun aku pergi, ia akan tetap mengejarku."
Jaiden terdiam, dahinya berkerut dalam, matanya terpejam selama beberapa detik. "Kumohon, Azu. Setidaknya sampai blue moon selesai."
__ADS_1
"Dan membiarkan terror terus berlanjut? Ini kesempatan untuk melenyapkannya."
"Bagaimana kau akan melenyapkannya? Apa jaminan kita bisa melenyapkannya? Yang ada sebaliknya."
Kami bersih tegang selagi Brian masih berusaha melukai makhluk itu. Ia saat ini dalam wujud serigalanya melompat-lompat kecil, berusaha menggapai bibi Arella yang melayang beberapa senti di atas tanah hingga kadar kehororannya berkali-kali lipat.
"Lalu kau pikir kabur akan menuntaskan masalah?"
Gagasan Jaiden sangat egois dan benar-benar tak bernilai kekawanan. Itu bukan sikap seorang WARRIOR.
"Azu."
Jaiden spontan memegang bahuku menatapku serius.
"Aku tidak ingin kehilangan lagi."
Raut wajah Jaiden serta merta menjadi suram. Aku mengerti perasaanya tapi kabur bukan pilihan baik. Aku tidak ingin menjadi pengecut.
Selain itu melihat betapa sabarnya makhluk ini menunggu bertahun-tahun hanya demi moment ini, tidak mungkin ia melepasku begitu saja. Ia bilang itu sesuatu yang berharga jelas tak akan menyerah.
"Tapi kita juga tidak boleh membiarkan keinginannya terwujud. Tidak bisakah kita melakukan sesuatu?"
Aku mengangguk kecil lalu mengalihkan pandangan pada makhluk itu dengan sedikit frustasi.
Gadis soul of moon di perang suci mengorbankan kehidupannya demi menyegel makhluk itu. Apakah itu berarti aku harus melakukan hal serupa? Tapi aku baru saja menemukan mateku dan belum memiliki banyak moment bersamanya.
Dreas juga pasti akan sangat sedih, bagaimanapun ia menunggu selama ribuan tahun untuk bisa bertemu denganku kembali. Haruskah aku menyia-nyiakan usahanya demi keberlangsungan hidup anggota pack? Pilihannya sangat memusingkan.
"Aku akan menemui para GUARDIAN dan mengatakan yang sebenarnya. Sampai saat itu tiba maukah kau berjanji untuk tetap hidup?"
"Tentu saja," balasku meyakinkan, meski sebenarnya agak kesal. Maksudku kalau ujung-ujungnya meminta bantuan para GUARDIAN juga mengapa tidak lebih awal saja? Setelah begitu banyaknya waktu yang terbuang.
Namun betapapun aku ingin memarahi Jaiden soal itu, aku harus menahannya. Situasi sekarang tidak memungkinkan untuk hal-hal remeh semacam itu.
"Aku memegang janjimu," katanya, agak ragu, lalu diam-diam pergi.
Aku memutar haluan menatap pertempuran tak seimbang di dekat altar. Brian tampak sangat terdesak.
Baiklah, mari kita coba lakukan sesuatu, pikirku.
Semua ini bermula dari makhluk ini. Dialah sumber mala petakanya. Melenyapkannya berarti mendapatkan kembali kedamaian hidupku. Kucamkan kata-kata itu baik-baik menjadikannya sebagai motivasi untuk segera mengenyahkan keberadaan makhluk itu.
__ADS_1
"Ciri khas shifter sekali," komentar bibi Arella begitu kami mengepungnya. "Bermain keroyokan. Curang sekali."
"Siapa yang peduli soal itu," balasku sengit. "Dalam pertempuran mendapatkan kemenangan adalah yang terpenting. Cara apapun bebas untuk dilakukan."
Mendengar itu bibi Arella mengulas senyum manis, yang mana membawa firasat buruk bagiku.
"Kalau begitu deal." Ia mengangguk lalu menjentikkan tangan ke udara.
Satu persatu, ROUGE kegelapan mulai bermunculan. Entah dari mana mereka datang, tau-tau sudah ada. Hawa tipis serta temaramnya malam menyamarkan keberadaan mereka. Aku tak bisa memperkirakan berapa jumlahnya, terlalu banyak. Mereka berdiri mengelingi kami.
Nah, ini baru namanya terkepung.
"Sekali saja." Brian melotot." Pikir dulu sebelum bicara!" Bentaknya sengit.
Aku memalingkan pandangan cepat meringis pelan. Sudah terlambat untuk menyesal sekarang."Kau urus mereka," perintahku seenaknya. " karena dia targetku."
Segera setelah itu, aku melancarkan serangan lagi. Kali ini dengan intensitas yang lebih beringas.
Ini kenekatan paling gila yang pernah kulakukan. Bahkan seorang Alpha saja pasti akan berpikir ribuan kali untuk melakukannya jika ada di posisiku. Namun egoku terlampau besar untuk mempertimbangkan hal itu.
Di kejauhan kulihat Brian mengamuk, menyerang secara membabi buta.
Melihat itu entah kenapa semangatku jadi bertambah besar. Berhubung wujud manusiaku payah dalam pertarungan aku memilih menjadi serigala, yang kupikir pasti sangat mencolok. Bagaimanapun aku satu-satunya yang menjadi putih.
Berbekal insting alami hewan saat bertemu musuh. Aku menerobos kawanan ROUGE kegelapan, bergulat, menggigit, saling menerkam. Aku tak bisa menghitung berapa banyak yang sudah tumbang. Semuanya berlangsung begitu saja.
Pancaran biru pucat bulan membuat kekuatanku menjadi berkali-kali lipat. Aku melompat mundur menghindari serangan brutal dari samping. Rupanya ROUGE kegelapan memutuskan menyerang secara bersamaan. Aku agak sedikit kewalahan karena banyaknya moncong yang harus dihindari.
Lalu sebuah suara muncul di kedalaman pikiranku, meminta untuk melolong kencang. Aku agak bingung tapi tubuh serigalaku bergerak sendiri lagi dan tau-tau ia sudah bersuara memecah keheningan malam. Secara mengejutkan beberapa ROUGE kegelapan dalam jarak dekat hancur begitu saja.
Sehebat itukah kemampuan soul of moon? Aku sangat terpesona dan penasaran apakah bisa mengeluarkan sinar itu seperti di dalam mimpi. Itu patut dicoba, aku mengulangi hal sama seperti tadi, membuat barisan ROUGE kegelapan menghilang satu persatu.
"Tidak buruk," komentar sang penghancur. "Tapi tidak cukup baik."
Ia tiba-tiba saja membuat gerakan kilat menerjangku hingga terpelanting ke atas altar baru. Tubuhku sendiri dipaksa kembali kedalam wujud manusia. Belum sempat aku bernapas ia sudah menjulang di atasku berbisik pelan.
"Mari kita mulai ritualnya, Azu."
Dengan begitu kurasakan robekan tajam di area pergelangan tangan. Belati itu menyayat dalam hingga ke tulang membuat darah mengalir deras di sana.
TBC.
__ADS_1