The Guardian

The Guardian
Suara


__ADS_3

Waktu yang dibutuhkan sampai Dreas pergi dari Cell, kamar tidur darurat, lebih lama dari perkiraanku. Aku memasang telinga lebar-lebar memastikan bahwa ia telah benar-benar kembali ke ruangannya. Barulah setelah itu menjalankan rencana.


Pertama-tama aku memeriksa pintu Cell labirin dan sesuai dugaan itu tidak di kunci. Rupanya para GUARDIAN agak lengah di malam hari. Tanganku mendorongnya pelan membuat suara seminimal mungkin lalu perlahan-lahan keluar.


Lorong ini masih membawa kesan menyeramkan seperti biasa dan di malam hari suhunya turun jadi bertambah dingin beberapa lipat. Aku beruntung karena sempat menyembunyikan jubah seorang WARRIOR saat sedang meracik ramuan kemarin jadi punya sedikit penghangat.


Berjalan-jalan di lorong labirin penuh ROUGE mungkin terdengar gila, tapi aku sudah memetakannya. Setelah meneliti selama berhari-hari. Para GUARDIAN itu terlalu dangkal jika berpikir aku benar-benar tidur di malam hari.


Fakta lain mengenai GUARDIAN adalah mereka tidak memiliki tempat tinggal layaknya Shifter pack. Rumah mereka adalah penjara labirin ini dan mengejutkan ada banyak ruang rahasia di dalamnya. Ada satu pintu masuk lain selain yang kami gunakan waktu itu. Jika kupikir lagi mungkin pintu itulah yang di maksud Floren tapi kami keburu tersesat ke ruangan Dreas.


Obor di tanganku bergoyang pelan saat melewati dinding batu yang berlubang. Aku berbelok menuju tempat yang kupikir sala satu ruang rahasia. Tanganku mendorong pintu kayu lapuknya yang berderit saat bergesekan dengan lantai batu.


Baiklah, mari kita lihat apa yang coba di sembunyikan para GUARDIAN di ruangan ini.


Kakiku baru mau melangkah saat angin sedingin es berhembus entah dari mana memadamkan cahaya obor yang kupegang. Lalu sayup-sayup suara terdengar. Rintihan yang berpadu dengan lantunan merdu. Siapa? Apakah sala satu GUARDIAN? Tidak mungkin. Aku ingat jelas Dreas mengatakan mereka akan berjaga di kediaman alpha David.


Apakah para ROUGE? Di dorong insting kakiku melangkah dengan sendirinya. Ia seperti tersedot ke arah suara yang semakin lama semakin terdengar jelas itu.


"Wahai jiwa gelap yang bersemayam bangkitlah bersama kesedihan dan dendam. Bangkitlah! Bangkitlah!"


Suara itu melantunkan kata-kata lembut yang anehnya membawa perasaan marah di dalam diriku muncul. Tubuhku bergerak tanpa kusadari seakan memiliki kehendak sendiri


"Bangkitlah! Bangkitlah!"


Seiring semakin keras suara itu semakin cepat pula langkahku berayun bahkan aku merasa sedang setengah melayang. Namun bersamaan dengan itu memori asing juga ikut bermunculan di kepalaku. Seperti di dalam mimpi wajah-wajah asing tapi juga familiar hadir silih berganti dalam kecepatan memusingkan. Aku merasa mual dan kepalaku terasa berat.


'Jangan tinggalkan aku'


'Kita akan bertemu lagi'


'Sampai jumpa'


'Aku menyayangimu'


'Kau harus membunuhnya'


"Hentikan!"

__ADS_1


Suara orang tercekik terdengar dekat diikuti napas sekarat menyedihkan.


"Hentikan!"


Suara-suara itu tak mau hilang dari kepalaku. Malah semakin keras setiap detiknya. Rasanya seolah ia digaungkan oleh banyak orang. Aku menjambak rambut sendiri berteriak seperti orang gila.


"Hentikan!"


Dalam pusaran badai suara tak berujung kurasakan seseorang menyentuhku. Sangat lembut membelai pipiku dengan jemarinya yang sedingin es.


"Larilah," bisiknya lembut penuh kesedihan. "Larilah, dan ingatlah. Mereka lah yang jahat. Kau harus menjauh dari mereka."


Lalu kurasakan pelukan dingin yang anehnya menenangkan, membuat mataku berat, sangat berat. Sampai beberapa detik setelahnya semuanya menjadi kosong.


Aku berharap yang terjadi semalam hanyalah mimpi belaka tapi dengan diriku yang terbangun di lorong sel pada paginya. Mau tak mau aku harus menerima jika itu sebuah kenyataan. Kenyataan pahit, gara-gara itu aku jadi kepikiran tenang sosok itu. Sang pemilik suara yang tak kuketahui, seseorang yang memelukku dengan kehangatan aneh.


Siapa ya dia?


Aku mengatur diri bersikap senormal mungkin. Tidak ada yang boleh tahu kejadian semalam atau Dreas akan marah besar. Selain itu dark ROUGE tampaknya semakin dalam menancapkan terror mereka. Jika sebelumnya serangan mereka hanya Shifter lemah seperti anak-anak. Namun semalam mereka sudah secara terang-terangan, sang penghancur atau siapapun itu pasti benar-benar hebat sampai-sampai berani menyerang kediaman Alpha David.


Satu suara terdengar dari arah bawah, menunduk, aku menemukan sala satu anggota GUARDIAN, Valdus. Ia anggota termuda GUARDIAN sekaligus satu-satunya yang menunjukkan niat membunuhku.


Dia berdiri dengan lengan terlipat di dada. Iris sewarna kabutnya itu terlihat dingin, kosong, seolah tak ada kehidupan di dalamnya.


Mau apa dia? Sulit untuk tidak merasa curiga pada anggota GUARDIAN satu ini. Setelah semua sikap permusuhan yang dibentangkan padaku dan sekarang tiba-tiba mengajak bicara? Kepalanya terbentur atau apa?


"Kau yakin hanya bicara?"


Valdus mendengus. "Hanya orang gila yang mau menerima kemarahan, Dreas."


Setelah pertimbangan panjang aku mengangguk, melompat turun, lalu mengikutinya ke dalam hutan. Sebenarnya aku agak ngeri setiap kali berdekatan dengan pria ini.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"


Tanyaku ketika akhirnya kami tidak lagi melangkah. Dia berdiri tegak memandangku sangat tajam lalu melemparkan sesuatu ke depan wajahku.


"Kau tau kan hukuman untuk seorang pelanggar adalah kematian." Suaranya dingin. "Tapi aku akan berpura-pura tidak melihatnya jika kau mau memberitahu alasannya."

__ADS_1


Ah, sial. Aku menatap jubah WARRIOR dan obor kecil yang tertinggal semalam. Gara-gara suara aneh itu aku sampai lupa menghilangkan barang bukti.


"Maaf, aku mimpi buruk semalam, dan berjalan-jalan karena tidak bisa tidur." Kebohongan menyedihkanku sangat tidak meyakinkan.


"Kau harus membuat alasan lebih kreatif. Semua orang tahu kau tidur seperti beruang di malam hari."


Aku hendak memicingkan mata marah mendengar perumpamaannya yang mengerikan itu, tapi melihat matanya yang lebih tajam, nyaliku mendadak ciut.


"Oke, kau menang," kataku cemberut." Aku tidak bermimpi, aku terbangun gara-gara gadis itu. Gadis aneh yang berkeliaran di dalam penjara labirin dengan lantunan lagu anehnya."


Aku tidak yakin bagaimana menyebutnya, mantra terasa sangat menakutkan, jadi lebih mudah jika itu sesuatu yang bisa diterima kebanyakan orang.


"Kau yakin itu bukan halusinasimu? Bisa jadi gadis itu dirimu sendiri," balasnya.


Aku mendesah lelah, lupa bahwa para GUARDIAN ini memang suka membuat urusan jadi rumit.


"Tidak, aku tidak tahu dia benar-benar seorang gadis atau bukan. Aku hanya menebak dari suara lembutnya. Namun dia benar-benar ada di sana, di depan ROUGE itu melantunkan kata-kata asing ...," Aku berpikir sejenak, mengingat kata-kata gadis itu semalam.


"Wahai jiwa gelap yang bersemayam bangkitlah bersama kesedihan dan dendam. Bangkitlah! Bangkitlah! Seperti itu."


Benar atau salah aku tidak peduli. Toh, pria ini tetap tidak akan percaya, untuk apa pula aku ... Mendadak tubuhku dipegang erat dan mata dingin Valdus memelototiku.


"Hei ... "


"Kau yakin benar-benar melihatnya di penjara labirin?" Cengkraman Valdus menguat rasanya seperti berusaha meremukkan tulangku.


Aku meringis ngilu mengangguk pelan. Ada apa dengan pria ini?


"Sial! Bagaimana bisa ia sampai ke sana."


Valdus berbicara dalam muka panik yang lucu. Aku tidak tahu ia memiliki sisi kekanakan juga.


"Hei, tenanglah. Mungkin dia juga tersesat sepertiku," kataku mencoba bercanda, tapi balasan Valdus sangat kasar.


"Tidak, kau tidak tahu betapa bahaya sosok itu. Dialah sang penghancur itu, Azu."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2