
Suaranya yang disertai desisan menggema ke seluruh Medan perang. Memaksakan jeda pada pertempuran sengit, barisan ROUGE kegelapan yang tersisa mundur tersamarkan oleh gelapnya malam.
Di pihak kawanan pun sama, mereka mengambil apa yang tersisa, dan menarik diri dengan napas lega. Hanya beberapa yang masih bertahan menjadi penjaga. Para GUARDIAN sendiri tampaknya mendapatkan diri mereka kembali.
Namun fokusku adalah makhluk yang secara fisik adalah bibi Arella ini. Ia melayang turun dengan anggun, seperti malaikat dari neraka yang akan menjatuhkan penghakiman pada kami, para Shifter.
Helaian lembut yang membingkai wajah pucat familiarnya berkibar. Kakinya menyentuh halus rerumputan berdiri beberapa langkah dariku.
"Aku tidak mengharapkan kita akan berhadapan seperti ini." Nada yang digunakannya sangat sedih bertentangan dengan kekacauan yang ia timbulkan beberapa menit lalu. "Mengapa? Mengapa kau bergabung bersama mereka? Yang dulu pernah mengkhianatimu."
Indikasinya jelas pada siapa tapi tampaknya ia juga salah paham terhadap situasi. Aku bertransformasi kembali ke wujud manusia dan Dreas entah bagaimana berdiri di sebelahku.
"Tidak ada pengkhianatan," kataku mengingat memori yang pernah kulihat di dalam mimpi. "Aku bukan saudarimu."
'Apa maksudnya?' Dreas bertanya melalui pikiran.
'Sang penghancur adalah saudari kembar dari soul of moon di masa perang suci Dreas.'
Itu sebuah ironi di mana sepasang saudara harus berhadapan satu sama lain sebagai musuh tanpa mereka mengetahui identitas masing-masing.
'Gadis Shifter pertama yang terlahir sekaligus seseorang yang sudah kalian habisi.'
Bisa kurasakan tubuh Dreas yang menegang kaku. Aku meliriknya sedih, itu adalah alasan mengapa sebagian kecil jiwaku menjauh dari GUARDIAN sejak awal. Sisa soul of moon yang bersemayam di tubuhku masih menyimpan memori menyakitkan itu. Ia menuntunku untuk terus menjauh dari para GUARDIAN karena merekalah yang telah membuatnya terpaksa gagal memusnahkan sang kegelapan di masa lalu.
'Tidak mungkin.' Killian berseru kaget, yang bisa dimaklumi mengapa.
Aku juga tidak percaya pada awalnya. Memori yang datang padaku acak dan membingungkan, aku harus menyusun setiap potongan yang ada untuk mengetahui kebenarannya. Yang ketika aku tahu sangat menyakitkan.
Peringatan sang penghancur di malam-malam gelap itu karena ia tahu bahwa para GUARDIAN lah yang menghabisi soul of moon di masa lalu. Gadis yang bertarung di malam purnama merah itu.
"Tidak, kau bisa menyangkal sesuka hati, tapi soul of moon adalah adikku. Tidak peduli ia terlahir dalam sosok seperti apapun."
Bahkan dengan nada marah yang berdesis itu wajahnya sama sekali tak menunjukkan perubahan eksepsi apapun.
"Tapi aku bukan dia, aku bukan jiwa adikmu yang terlahir kembali."
__ADS_1
'Jika kau bukan, mengapa dia bersikeras bahwa itu dirimu, Azu.' Kaden bergabung dengan percakapan pikiran.'
'Aku tidak bisa mengatakan bukan juga, ada jiwa gadis itu juga di dalam diriku.'
Rasanya agak memusingkan untuk dijelaskan aku sendiri masih susah mencerna hal yang rumit ini tapi satu hal yang pasti. Ini adalah hukuman untuk seseorang. Seseorang yang mana dalam kasus ini adalah mateku sendiri.
'Dreas? Hukuman untuk Dreas apa maksudmu, Azu.'
Aku mendesah lelah, lupa dengan kemampuan Kaden yang bisa mendengarkan pikiran orang lain itu.
'Azu, apakah itu benar?'
Aku melirik Dreas yang berdiri dengan wajah sendu, mengangguk lemah.
'Mengapa?'
'Karena tanganmu lah yang melukai soul of moon.' Mata Dreas melebar terkejut.
'Tapi, ia melakukannya untuk ...' Valdus berhenti di tengah kalimat.
'Maksudmu, sebagai hukuman karena Dreas membunuh soul of moon di masa lalu. Dewi bulan membuat mate Dreas sebagai soul of moon masa ini?'
Aku mengangguk dengan rasa pahit di mulut. Itu kenyataan yang menyakitkan bahkan bagi diriku sendiri. Seolah Dewi bulan memaksakan takdir untuk kami bertanggung jawab atas perbuatan masa lalu.
'Maaf, Azu. Aku ...'
'Tidak apa-apa Dreas. Bagaimanapun kau melakukannya untukku.'
Selain itu tidak peduli betapa rumitnya kisah masa lalu, makhluk ini harus tetap dilenyapkan. Para Shifter akan musnah jika ia dibiarkan begitu saja. Satu-satunya cara melenyapkan makhluk ini adalah dengan menghancurkan jantungnya tapi itu akan membutuhkan banyak korban.
"Jika kau bersikeras dengan pikiranmu, maka aku tidak mempunyai pilihan lain."
Tepat setelah ia berkata. Dari arah altar batu, cahaya merah bulan berpendar terang, menyebar membentuk dinding tipis seukuran pintu yang bagian tengahnya terdapat garis hitam yang memanjang. Garis hitam itu perlahan robek membentuk celah yang terus membesar. Itu akan jadi pemandangan menakjubkan jika saja yang ada dibaliknya itu bukanlah kumpulan roh penasaran yang memaksa keluar dari dunia mereka.
"Hati-hati!"
__ADS_1
Dari arah belakang, Landon berteriak nyaring mengingatkan para WARRIOR di belakangnya untuk berhati-hati. Terutama ketika suara-suara aneh tiba-tiba terdengar bersahutan dari balik celah kosong di tengah pintu cahaya itu.
Senang rasanya mengetahui bahwa Landon baik-baik saja. Aku sempat khawatir kalau-kalau ia benar-benar meninggal tadi.
"Apa itu?" tanyaku dengan suara sedikit bergetar, campuran antara rasa takut dan takjub namun rasa takut lebih dominan.
Tubuhku sontak terkesiap, bergetar hebat kala hawa sedingin es menyembur keluar dari celah pintu cahaya. Menyebar ke seluruh penjuru hutan. Bersamaan dengan hawa dingin, bau busuk, aroma kematian tercium di udara malam sementara suara-suara penuh kesedihan itu kian terdengar jelas, silih berganti.
"Gerbang roh," desis Killian. Yang entah kapan berdiri di sisi lain diriku. Di dekatnya Kaden ikut menyusul.
Tangan Killian terkepal dengan wajah yang terlihat terganggu. "Dan suara yang kau dengar itu adalah rintihan kesedihan dari para roh."
Aku menggigit bibir, menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Tanganku bergerak menutup hidung, menghalau bau menyengat yang tersebar bersama angin. Bulu kudukku merinding ngeri ketika rintihannya semakin santer terdengar. Suaranya sangat menyayat hati, suara yang syarat akan kesedihan. Seakan mereka mengalami penderitaan tak berujung.
"Kenapa mereka terdengar begitu sedih?"
"Karena roh para shifter itu dipisahkan secara paksa dari jiwa serigala mereka." Rahang Kaden mengeras. Buku tangannya mengepal kuat, seolah tulangnya hendak menerobos kulit luarnya.
"Dipisahkan?"
"Yah, ROUGE kegelapan, mereka sebenarnya adalah jiwa serigala yang ditarik paksa dari dunia arwah. Dan apapun yang dilakukan secara terpaksa itu akan menyakiti kedua pihak Azu."
Aku mengalihkan pandangan pada barisan ROUGE kegelapan yang diam tak bergerak. Jadi mereka itu adalah jiwa serigala yang dipaksa berpisah dengan roh manusianya. Pantas saja mereka sangat kelam. Aku bisa memahami perasaan para roh itu. Aku yang dijauhkan dari Dreas saja merasa sakit, apalagi mereka yang dipisahkan secara paksa.
Sangat tidak berperasaan!.
Mataku menyipit tajam, menatap marah pada makhluk di tengah altar. Aura gelap menyelubunginya, menggumpalnya bagai kepompong hitam.
Sementara di area belakang. Nuansa tegang tergambar jelas di wajah parah WARRIOR. Bisa kurasakan kekhawatiran yang kini tengah mendera mereka. Landon dan para Alpha berdiri di depan. Sedangkan Valdus mengintruksikan para WARRIOR lain untuk mengevakuasi shifter yang terluka.
"Apa yang terjadi padanya?" kubuka tanganku yang baru kusadari basah oleh keringat.
"Entahlah!" Kaden mendesah lemah. "Aku tak bisa mendengar pikirannya, kabut itu sangat mengganggu."
Bagus, sekarang bahkan kemampuan mengesankan Kaden tidak bisa membantu sama sekali. Bagaimana sekarang?
__ADS_1
TBC.