The Guardian

The Guardian
Twins


__ADS_3

Aku berdiri di ujung terluar altar menanti dengan gelisah. Selena sedang menjalankan tahap akhir ritual yang mana berarti semakin dekat dengan tujuan kami.


Setelah hari-hari suram dan melelahkan yang tak terhitung jumlahnya. Akhirnya aku sampai di penghujung penantian, tinggal sedikit lagi dan semuanya akan kembali ke tempat seharusnya.


Biru pucat bersinar dengan indah seolah semesta tengah tersenyum. Selena berdiri di tengah merapalkan mantra yang sudah ia pelajari lalu menggores tangannya. Cairan kental itu mengalir pelan seolah waktu telah melambat dengan sangat ekstrem lalu jatuh ke titik utama lantai altar dan ...


Dahiku berkerut ketika tidak ada perubahan apapun. Tanda-tanda seperti yang tertera pada buku sihir tidak terlihat sedikitpun.


'Mungkinkah waktunya sudah habis?'


Valdus yang pertama bereaksi, berbicara melalui pikiran, agak panik ketika semua tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.


'Tidak, itu sesuai dengan langkah yang dituliskan dalam buku. Blue moon juga masih berlangsung.'


Landon membalas tenang tidak terpengaruh kendati keadaan berubah dengan drastis.


'Lalu mengapa tidak terjadi apapun? Mungkinkah kita melakukan kesalahan?'


'Tenanglah, Valdus.' Killian akhir berbicara, 'lebih baik kita cari tahu di mana titik salahnya.'


Aku melangkah agak kecewa ketika tiba-tiba sebuah suara datang menerobos WARRIOR yang berjaga di sekitar altar.


"Tolong, Sang penghancur dia membawa adikku."


Kami semua menoleh terganggu sementara sang pemilik suara sedang di tahan oleh beberapa WARRIOR. Alpha David sendiri segera mendekati pemuda itu dan membentaknya agak keras karena sudah mengganggu jalannya ritual. Namun pemuda itu tak gentar ia menoleh ke arah kami dan berteriak lantang.


"Azu sedang bertarung sekarang. Kumohon tolong selamatkan dia."


Menyadari nama siapa yang ia sebutkan, aku segera mendekati pemuda itu. Mengabaikan segala bentuk reaksi heran dari orang-orang di sana.


"Apa maksudmu?" Tanyaku sebisa mungkin mengatur suara agar terdengar normal.


Ah, aku ingat dia kakaknya Azu yang waktu itu, kalau tidak salah namanya, Jaiden.


"Aku akan menjelaskan di perjalanan, kita akan kehabisan waktu." Wajah kusutnya sangat panik.


'Killian, bisakah aku meninggalkan di sini kepada kalian?'


'Kapan matemu akan berhenti membuat ulah?' Valdus menjawab dingin. Tampaknya ia menguping tadi. 'tidak tahukah ia bahwa situasi sedang genting sekarang?'


Aku tidak menyalahkan kemarahan Valdus tapi mau bagaimana lagi tak mungkin juga aku membiarkannya. Dulu saat perang suci aku gagal melindungi Zouya dan kehilangan dirinya dengan sangat menyakitkan. Sekarang aku tidak ingin mengulang hal sama.


'Aku minta maaf,' balasku mendesah lelah, mempertanyakan mengapa situasi harus terulang lagi. Mengapa aku kembali dihadapkan pada pilihan yang mengharuskanku meletakkan perasaan pribadi di bawah tugas utama.


'aku tidak bisa membiarkan ia pergi lagi.' Pilihanku sangat egois tapi aku tidak bisa berpikir jernih sekarang.

__ADS_1


'Pergilah, Dreas. Serahkan yang di sini pada kami.'


Tepat ketika Landon selesai berbicara satu lolongan terdengar dari kejauhan. Lolongan yang begitu nyaring seolah ia mengumumkan perang dan anehnya semua orang di sini bereaksi merespon.


'itu, kan?'


"Azu, sial!" Jaiden tiba-tiba mengumpat. Ia melepaskan paksa kungkungan WARRIOR yang menahan tubuhnya. Lalu berlari ke arah di mana tadi ia datang.


"Seharusnya aku tidak percaya begitu saja padanya."


Samar masih kudengar gumaman marahnya yang kupikir ditujukan pada mateku. Apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidak ada?


'Dreas'


Aku menoleh pada panggilan Kaden rupanya ia mengikuti kami. Tidak hanya Kaden tapi Landon, beberapa WARRIOR lain juga ikut dan terkahir ...


'Valdus?' tanyaku terpercaya.


'Jangan pedulikan, aku.'


Tentu saja, tanpa diminta pun aku akan melakukannya. Prioritas sekarang adalah, Azu. Kami berlari menuju wilayah blue eclipse pack, melewati sekumpulan pohon mini hingga akhirnya berhenti. Pemandangan yang menyambut adalah ribuan ROUGE kegelapan yang sedang mengeroyok dua serigala.


Sala satunya terlempar persis di depanku dan dipaksa bertransformasi ke dalam wujud manusianya. Ia seorang gadis dengan rambut pendek sebahu. Lengannya sudah mendapat banyak cakaran.


"Kau tidak ..." Tubuhku membeku menyadari siapa gadis di depanku.


"A ..."


"Alison!"


Seruan panik Jaiden memotong kata-kataku, ia berlari mendekati kami tapi nama yang ia sebut barusan membuatku bingung. Bukankah dia, Azu? Lalu aku menyadari sesuatu, wajahnya sama tapi potongan rambutnya berbeda jauh dari Azu yang kukenal.


"Kau tidak apa-apa?" Jaiden menatap cemas pada gadis yang memiliki wajah sama persis dengan, Azu itu.


"Jaiden, makhluk itu mengambil, Azu," ia berkata panik.


"Apa? Bagaimana bisa?" Wajah Jaiden dipenuhi kemarahan besar ia menghindar dari serangan yang datang tiba-tiba.


"Azu menantangnya satu lawan satu."


Aku masih kebingungan mencerna situasi tapi perkataanya barusan benar-benar membuatku terkejut. Azu, menantang makhluk itu? Apa yang dipikirkannya.


"Kita akan bicara nanti." Aku melihat Jaiden bertransformasi ke dalam wujud serigalanya bergabung memeriahkan pertempuran.


"Kau bukan, Azu?" Tanyaku memastikan selagi menarik Alison menjauh. Aku masih tidak bisa mempercayai penglihatanku sendiri.

__ADS_1


Gadis itu, Alison kurasa menatapku bingung dengan wajah kusutnya. "Ya, aku saudari kembarnya, Alison,"


"Kalian kembar?"


Kaden tiba-tiba saja bergabung, bertanya dengan nada kaget, ia bahkan lupa menutupi wajahnya dengan tudung jubah.


"Apa yang aneh dengan itu?"


Saudari kembar mateku bertanya dengan mulut terbuka lebar saat melihat ke Kaden lalu ke arahku. Oh, benar ini pertama kali ia melihat kami dan reaksinya sangat umum beda jauh dengan mateku, dan baru kusadari kalau tubuh gadis ini lebih berotot. Tampaknya ia lebih terlatih di banding, Azu.


'Dreas, mungkinkah?' Bisa kubayangkan mata Kaden melebar di balik tudung jubahnya.


'Itu tidak penting.' Landon bergabung dalam percakapan. 'Dreas lihat di sana.'


Aku memandang jauh ke arah yang dimaksudkan oleh Valdus. Itu berada di seberang lain sisi arena pertempuran. Altar batu dengan dua orang gadis yang berdiri dan sala satunya sangat kukenali. Matanya tertutup dengan pergelangan tangan yang terluka.


"Azu!" Aku menyelinap di tengah pertempuran menuju tempat di mana mateku yang tergeletak.


'Dreas, jangan gegabah'


Kaden dan Valdus berteriak memperingatkan. Bersamaan dengan jarakku yang semakin dekat altar tiba-tiba saja angin dingin berhembus, sangat dingin sampai aku dibuat berhenti. Inikan ...


"Kau terlambat, Dreas." Sebuah suara berbicara, suara yang sangatku kenali, sang penghancur. "Ritualnya selesai dan gerbang kematian akan segera terbuka."


Bersamaan dengan itu cahaya bulan yang semula biru pucat perlahan berganti menjadi merah darah, menakutkan.


'Bagimana bisa?' Landon berseru kaget di belakang.


'Bukankah Selena masih bersama Killian?' Valdus bertanya panik. 'lalu bagaimana bisa ia menjalankan ritual tanpanya?'


"Mungkinkah?"


Aku melirik tubuh mateku yang tergeletak diam di tengah altar dengan firasat buruk.


"Tepat sekali, Dreas sayang." Sang penghancur melemparkan tatapan mengejek. "Dia adalah soul of moon."


'Tidak mungkin.'


"Tentu saja mungkin, Valdus sayang." Sang penghancur membalas dengan tawa nyaring. "Blue moon berarti terjadinya dua kali purnama dalam satu bulan dan itu langkah, Dreas, begitu juga dengan anak kembar. Kau sudah paham sekarang?"


Tepat ketika ia selesai berbicara angin dingin berhembus, menusuk ke dalam tulangku. Aku tahu apa ini ... Sial tidak lagi. Di belakang sana keluhan serupa kudengar dari teman-temanku.


"Ayolah, Dreas, tunjukkan dirimu sebenarnya." Seiring bibirnya merapalkan Matra panas seperti terpanggang api memenuhi seluruh tubuhku. "Bangkitlah wahai jiwa kegelapan."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2