
Aku akan tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Valdus lari tunggang langgang dengan panik itu jika saja tidak ingat kalimat terakhirnya. Sang penghancur, ia sudah sedekat itu, tapi aku tidak menyadarinya.
Aku mencoba untuk menyingkirkan suara di dalam kepala yang menyebutku bodoh itu. Hei, wajar jika aku tidak tahu soal makhluk itu, mendengarnya saja baru beberapa kali. Mana kutahu kalau dia seorang gadis.
Aku mengabaikan Valdus kembali ke rutinitas seharusnya bermain masak-masakan dengan tanaman herbal. Keadaan di tenda penampungan jadi lebih berisik dari biasanya setelah kehadiran Selena yang entah bagaimana diputuskan akan tinggal di sini juga. Ia secara singkat mengambil alih seluruh pusat perhatian. Keanggunannya sosoknya memukau, tutur bahasa lembut, dan beberapa hal baik lainnya. Namun, maaf saja, aku tidak akan terpengaruh setelah tahu tabiat buruknya.
Aku mencibir dalam diam, melemparkan pandangan pada para GUARDIAN yang agak menjauh ke bawah sebuah pohon di belakang punggung Selena. Mereka tampak seperti sekumpulan pilar hitam di tengah hijau rerumputan. Pasti berdiskusi soal yang kukatakan pada Valdus tadi. Sangat disayangkan mereka kecolongan di rumah sendiri.
Apa yang sebenarnya diincar makhluk itu di dalam penjara labirin? Dan bagaimana ia bisa begitu tepat dalam memilih waktu. Ia menyusup di saat para GUARDIAN fokus membantu di kediaman Alpha David. Jangan bilang itu sudah direncanakan? Aku merinding ngeri dengan pemikiran itu. Tanganku sedang menumbuk beberapa ramuan saat suara asing kembali bergema di kepalaku.
Larilah!
Itu kata-kata sama dengan yang diucapkan sang penghancur semalam. Tunggu! Apakah itu berarti ia ada di dekat sini? Aku mengedarkan pandangan tapi tak menemukan sosok mencurigakan. Mungkin hanya halusinasi saja. Aku menarik napas bersikap senormal mungkin tapi ia tak mau menyerah, terus menggemakan suaranya sampai tubuhku oleng.
"Kau tidak apa-apa?"
Wajah khawatir Selena muncul dihadapanku. Tangannya dengan lembut menuntunku untuk duduk.
"Yah, aku hanya kurang tidur." Aku mencoba tersenyum tapi gagal. Aku harus memberitahu semua orang. "Tolong beritahu tabib lain, aku kurang enak badan."
Aku menjauhi Selena berniat mendekati para GUARDIAN tapi suara itu menuntunku ke arah sebaliknya.
Larilah!
Sialnya! Tubuhku terpengaruh, ia bergerak sendiri berlari menjauhi tempat itu. Ah, sial, Dreas, Kaden, siapapun, tolong. Aku ingin berteriak tapi seakan ada sesuatu yang menahan pita suaraku.
Bagus, kau tidak boleh berada dekat dengan mereka.
Ah, aku terduduk di rerumputan, mengabaikan beberapa ranting menusuk kulitku. Apa yang diinginkan makhluk itu dariku? Mengapa ia memintaku menjauhi mereka? Siapa pula mereka yang ia maksud?
"Azu!"
"Hentikan! Apa yang kau inginkan?" Aku mendorong kasar seseorang yang baru saja menyentuhku.
"Azu, hei ..." Suara itu terdengar sangat datar, sulit bagiku untuk fokus. Suara sang penghancur itu lebih mendominasi.
"Hei, Azu, sadarlah."
Berikutnya kurasakan sesuatu menghantam kepalaku. Rasanya sangat sakit tapi bagusnya suara makhluk itu mendadak saja lenyap. Aku masih berjongkok tidak tahu harus berterima kasih atau marah pada pada siapapun yang sudah memukul kepalaku.
"Jadi, akhirnya kau tidak gila lagi?"
Aku mengerenyit di sela-sela rasa sakit mendongak cepat. Seorang gadis cantik berambut pirang kecoklatan dengan sepasang mata coklat bening berdiri. Wajah polosnya menatapku datar, sebuah dahan kayu tergenggam di tangan kanannya. Jadi benda itu yang sudah menghantam kepalaku barusan.
"Ralyne!" seruku lantas menghambur ke arahnya.
__ADS_1
Ralyne yang tidak siap menerima pelukan dadakanku terjengkang ke belakang.
"Menyingkir kau berat," keluhnya.
"Sorry!" Aku terkekeh.
"Apa itu teknik kabur baru? Pura-pura menjadi gila?"
Tanya Ralyne sembari memberiku sorot mata menyelidik. Matanya bergulir mengamatiku dari atas sampai bawah.
"Kau terlihat sangat berantakan," komentarnya melihat penampilanku.
"Sedikit olaraga," kataku berbohong, tak mungkin juga ia kuberitahu. Alisnya bertaut tak percaya. "Bagaimana kau menemukanku?"
"Aku mengikutimu, tentu saja." Keningnya berkerut, kepalanya miring kearah kanan, dia tampak sangat imut dengan pose itu.
Sheralyne Aracell, si imut dari blue eclipse pack, putri Alpha Josep. Dia berusia satu tahun di bawahku dan sepupu dari pihak ibu.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Dia mengajukan diri sebagai relawan dan mulai bertugas hari ini."
Kami sama-sama menoleh pada para tamu yang baru saja bergabung. Itu Dreas dan Valdus kurasa. Mereka menutupi wajah lagi, aku hanya bisa mengira dari suaranya dan yang membuatku menganga Ralyne membungkukkan badan pada keduanya . Oh, Ralyne sayang andai kau tahu Shifter macam apa mereka ini.
"Kau mengajukan diri?" Aku memalingkan pandangan pada Ralyne guna memastikan dan ia mengangguk kecil.
"Ada apa dengan nada meremehkan itu?"
Wah, rupanya Ralyne bisa membaca keraguanku. "Tidak, aku senang tentu saja. Aku jadi memiliki seseorang untuk di ajak bicara."
Kalau beruntung aku juga bisa menyeretnya dalam rencana pencarian identitas si sang penghancur. Ralyne memiliki banyak skill yang mumpuni yang bisa membantu memuluskan rencanaku. Orang-orang juga tidak bisa bersikap sembarangan karena ia putri seorang Alpha.
"Tidak terlihat begitu bagiku." Ralyne masih mempertahankan wajah polosnya walau matanya memandangku tajam. "kurasa lebih baik kita kembali. Kau sudah tidak ingin gila lagi kan?"
"Apa maksud perkataanmu?"
Nada Dreas ia agak kasar saat bertanya. Aku sedikit khawatir pada Ralyne tapi sepertinya semua itu hanya sia-sia. Adikku itu tidak terpengaruh.
"Ini masalah keluarga, kami tidak punya kewajiban memberitahu anda, Tuan GUARDIAN."
Ah, betapa mengagumkannya adikku ini. Bagaimana bisa ia berbicara formal dengan wajah sepolos itu sangat kontras dengan nada dan aura dingin yang mengiringinya.
"Ayo, Azu. Aku harus memberi salam terakhir pada, Dad. Kurasa kau harus menyapanya juga."
Ralyne menarik tanganku menjauhi mereka. Aku tersenyum kecil melambaikan tangan pada Dreas. Bukannya aku tidak tahu tujuan mereka mendekati kami tadi, tapi kalian harus sedikit berusaha. Ralyne bisa jadi sangat menyusahkan kalau sudah menyangkut orang yang tidak disukainya. Kalau dinilai dari caranya memperlakukan GUARDIAN barusan mereka sudah masuk ke dalam daftarnya.
__ADS_1
Ralyne bertopang dagu memandangi ramuan yang beberapa menit lalu selesai ditumbuk. Ekpresinya benar-benar masam lalu mendesah lelah.
"Sampai kapan kita melakukan hal tak berguna ini?"
Aku meliriknya sesaat sebelum kembali memusatkan pandangan pada ramuan herbal yang mesti kuhaluskan itu.
"Sampai semua kembali seperti semula dan jangan bilang ini sia-sia. Berkat ramuan ini orang-orang bisa selamat."
"Kau yakin?" Alis Ralyne terangkat menatapku angkuh. "Tidak terlihat begitu di mataku. Sudah berapa lama kau di sini? Melakukan ini? Apa kau melihat ada perubahan pada para Shifter itu? Aku tidak melihatnya sama sekali."
Itu adalah kalimat terpanjang yang kudengar dari Ralyne selama hidupku. Ia biasanya berbicara pendek-pendek tapi kalau dipikir-pikir ucapannya memang benar. Tidak ada perubahan apapun meski para tabib sudah memberikan mereka ramuan. Floren dan Grace masih tertidur pulas dan Rome masih tertahan di dalam penjara labirin. Jadi untuk apa semua ini?
"Lihat? Kau bahkan tidak bisa menjawabnya," kata Ralyne penuh kemenangan.
"Jadi kau punya solusi untuk menyelesaikannya?"
Aku berhenti menumbuk ikut duduk di sebelah Ralyne. Di depan sana Selena yang di banyak Shifter sedang membantu membalut WARRIOR yang terluka semalam.
"Aku kira kita harus menemukan akar utamanya. Maksudku jenis racun yang membuat mereka jadi begitu."
"Itulah yang sedang dilakukan para tabib pack. Mereka sedang mencarinya."
"Dan masih belum menghasilkan apa-apa."
Kami sama-sama mendesah lelah. Ralyne benar ini sudah nyaris tiga Minggu dan masih belum ada kemajuan. Sebenarnya racun jenis apa yang digunakan makhluk jahat itu?
"Omong-omong kau tahu soal makhluk yang menyerang kita? Dark ROUGE."
"Yah, beberapa, tapi belum pasti. Aku kemari untuk mencari informasi lebih dalam dari para GUARDIAN tapi mereka sangat tertutup."
Aku mengerenyit. "Para GUARDIAN?"
"Yah, di rapat besar para Alpha. Mereka mengatakannya. Kurasa mereka tahu banyak soal itu tapi tidak mau membagi detailnya pada kawanan. Seolah mereka mau menutupi sesuatu."
Mataku tanpa sadar melirik kedua anggota GUARDIAN yang berjaga di sekitar Selena. Sementara tiga lainnya membantu di kamp WARRIOR. Memang benar mereka sangat tertutup dan aneh tapi mengapa? Mengapa mereka menutupinya? Bukankah lebih baik terbuka dan mencari solusi bersama-sama.
Hmmm! Mungkin aku bisa bertanya pada Dreas nanti.
"Apa saja yang sudah kau ketahui? Soal dari ROUGE maupun para penjaga aneh itu?"
Ralyne tidak segera menjawab ia melirikku sebentar lalu memandang para GUARDIAN.
"Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Terlalu berbahaya, kita tidak tahu orang seperti apa mereka itu."
"Kalau begitu nanti malam? Aku tahu tempat yang cocok."
__ADS_1
TBC.