
Hukuman memang selalu menyakitkan. Kini aku tahu makna dari kata-kata itu karena sekarang aku sedang mera ... Ah, tidak, tepatnya menjalaninya.
Dua ribu tahun lalu perang seperti ini pernah terjadi bahkan bisa dibilang lebih meriah karena saat itu semua ras berpatisipasi. Di sana, diriku, sebagai Zouya ada di pihak pengacau yang bertarung melawan sang soul of moon. Namun kini aku ada di pihak sebaliknya, terlebih sebagai orang yang diberikan amanat untuk menanggung beban berat itu. Rasanya mengesalkan tapi sayangnya aku tak diberi pilihan untuk mundur.
Takdir yang kejam.
Aku berhenti tepat di tengah altar berhadapan satu lawan satu. Wajah hampa itu balas menatapku dengan kedinginan yang begitu gelap. Sesaat perasaan sesak aneh membanjiri dadaku begitu kami berhadapan. Mataku entah sejak kapan meneteskan air mata. Itu bukan datang dari diriku tapi sisa-sisa jiwa soul of moon sebelumnya. Bagaimanapun gadis ini adalah saudaranya. Namun aku menyingkirkannya cepat.
Melenyapkan atau dilenyapkan.
Kata-kata itu melayang-layang dalam ruang hampa pikiranku. Mendiami setiap saraf dalam otakku. Menggendap bagai virus beracun yang ikut menyatu bersama aliran darah.
Hidup atau mati inilah penentuannya.
Aku terkesiap saat gerakan cepat sang penghancur yang tiba-tiba datang dan gagal kuantisipasi. Tubuhku dipaksa mundur dengan denyutan nyeri dia area dada. Bagaimana aku bisa menang dengan kemampuannya yang seperti itu?
Aku menarik napas dalam mengumpulkan tekad yang sempat tercerai mengunci pandangan pada titik tengah dadanya. Di sanalah target utamaku berada.
Aku melompat bertransformasi ke dalam wujud serigala, menyasar area dadanya dengan cakar tajamku. Namun ia bisa menghindari dengan mudah dan sebagai balasan angin kencang datang berhembus ke arahku, yang anehnya menciptakan baret panjang di bagian yang terkena. Bagaimana sayatan ini bisa tercipta?
Aku tak sempat mencari tahu atau bahkan merintih sakit karena serangan berikutnya datang.
'Azu!'
Bisa kudengar teriakan panik Dreas di dalam pikiran, tapi sekali lagi, aku tak punya waktu untuk merespon. Aku meringkik halus, berusaha bangkit, tapi lagi-lagi tubuhku melayang. Tidak jelas apakah ia memukul atau menendang yang kuketahui hanyalah tubuhku menjadi seperti bola sepak. Bergulingan kesana-kemari, aku bahkan tak di beri kesempatan menarik napas.
Cairan merah hangat menetes tepat persis di bawahku. Di beberapa bagian tubuhku juga serasa remuk. Bahkan kini, aku sudah kembali pada wujud manusia.
"Kau itu bodoh ya," katanya membuat otot keningku berkedut kesal. "Bisa-bisanya membela mereka yang sudah jelas-jelas pernah berkhianat padamu."
"Itu urusanku, tak ada hubungannya denganmu," kataku jelas-jelas terdesak.
"Yeah, kau kan memang naif."
"Tutup mulutmu!" Aku memaksakan diri bangkit, menyerangnya.
"Boleh juga," katanya saat kepalan tanganku mengenai wajah sebelah kirinya. "Tapi ini tidak cukup. Kurasa para GUARDIAN sudah memberitahumu kan bagaimana cara melenyapkan aku."
"Yah. Karena itu aku sudah tidak sabar untuk mempraktekannya." Detik selanjutnya tubuh kami sudah bergulingan di altar batu.
Aku berhasil menekan tubuhnya dengan berat badanku. Dengan posisi di bawah begini akan lebih mudah bagiku untuk mencopot jantungnya.
__ADS_1
Hah! Tak kusangka akan semudah ini.
Aku mengarakan cakarku tepat di bagian jantungnya. Tapi dengan sigap ia menangkap kaki depanku.
"Terlalu cepat seribu tahun bagimu untuk mengalahkanku," kekehnya santai. "Kau pikir aku akan membiarkan ini berakhir mudah?"
Dia berdecak geli. "Itulah kenapa aku bilang kau bodoh dan naif."
Aku mengerenyit tak mengerti, tapi tetap tidak mengendorkan usahaku.
"Lihat ke atas!" perintahnya.
Aku mendongkak ke atas melebarkan mata dengan ngeri. Red moon sudah berada dalam fase sempurnanya yang mana sangat berbahaya bagi kami.
"Kau yang membuatku mengambil keputusan ini, Azu." Bibir pucatnya bergerak, merapal mantra kurasa karena setelahnya, sulur hitam aneh melilit seluruh tubuhku. Tubuhku serasa terbakar dengan bagian buluku yang tampak layu.
Apa yang terjadi?
Di tengah kebingunganku, suara lolongan dari berbagai penjuru terdengar. Lolongan yang begitu sekarat seolah mereka menderita oleh sesuatu.
'Sial! Bulan merahnya sudah fase puncak.'
Suara panik Valdus berhasil memecah konsentrasiku hingga lagi-lagi gagal menahan serangan. Tubuhku dibalik hingga aku yang berada di bawah. Untungnya Alison datang membantu, ia melompat menggigit bahu sang penghancur.
Aku membeliak marah melihat betapa mudah ia melemparkan tubuh kembaranku hingga tak bergerak.
"Sialan! Kau."
Pergulatan babak kedua kami bergulir di menit setelahnya. Kami berputar saling menekan satu sama lain. Aku berhasil memaksanya berhenti bergerak dengan mencakar lehernya hingga nyaris putus tapi itu sembuh dengan cepat. Tidak ada cara lain, aku berusaha membenamkan cakarku dibagian dada sebelah kirinya.
"Menyerah saja. Kau tidak punya kesempatan."
Aku memilih bungkam, berkonsentrasi pada tujuanku. Sulit bagiku untuk fokus di tengah aliran napas yang tersumbat begini. Samar aku mendengar teriakan kesakitan dari beberapa WARRIOR. Sepertinya cahaya blood moon mulai berefek.
"Azu!"
Kudengar Dreas berteriak. "Menjauh dari sana," ia terdengar panik.
Namun aku mengabaikannya, sudah tidak ada waktu. Selain karena fokusku saat ini adalah jantungnya yang sudah kugenggam. Rasa panas di bagian punggungku juga memperburuk keadaan. Napasku tersengal-sengal. Penglihatanku pun mulai buyar.
Saat kupikir aku akan mati oleh rasa panas ini. Seseorang memegang tanganku, memberi dorongan semangat untukku. Tak hanya itu ia juga menjadikan tubuhnya sebagai tameng dan melindungiku dari terpaan cahaya merah blood moon.
__ADS_1
Aku hendak mendongkak, tapi si pemilik tangan menyadari gelagatku kemudian berkata.
"Sedikit lagi Azu, kau pasti bisa."
Suara Jaiden bergetar, seakan tengah menahan rasa sakit.
Ayolah!
Darah merah gelap muncrat seketika saat jemariku berhasil mengeluarkan jantung tak berdenyut itu dari rongga dadanya. Dalam sekejap tubuhnya luruh menjadi cairan busuk.
"Jaiden ki ..."
Rasa senangku seketika sirna. Bagai adegan slow motion perlahan tubuh Jaiden tumbang kemudian menggeletak di lantas altar.
Tidak! Tidak! Jaiden!
"Jaiden!" aku berteriak panik, mengacuhkan sengatan panas cahaya blood moon yang mulai membakar kulitku.
"Kau itu berisik ya," kata Jaiden lemah. Kelopak matanya terbuka, sayu. Ringisan kecil lolos dari bibir pucatnya. "Menjauhlah! Selamatkan dirimu."
Aku menggeleng, mengusap kasar air mataku yang entah sejak kapan menetes.
"Aku tak akan meninggalkanmu," kataku di tengah isak tangis yang tak bisa kubendung lagi. Aku merayap, membayangi tubuh Jaiden dari cahaya bulan. "Siapapun tolong Jaiden!"
"Jangan bodoh, pergilah!"
"Tidak tanpamu," aku bersikeras, isakanku semakin menjadi. Sementara pandanganku mulai buyar. "Harusnya kau tidak lakukan ini?"
"Delapan tahun lalu aku gagal melindungi kalian. Akibatnya bibi Arella yang jadi korban. Dan aku tak akan mengulangi hal yang sama."
"Bodoh!"
Mataku perih oleh genangan air yang memenuhi kelopak bagian bawah mataku. Namun pikiranku telah dipenuhi ketakutan akan kehilangan Jaiden.
"Azu," Dreas berkata lirih, tangannya meraihku kedalam pelukannya, membawaku menjauhi altar, berlindung di bawah sebuah pohon.
Sementara para GUARDIAN lainnya menggotong tubuh Jaiden. Aku menangis, menjerit histeris melihat tubuh Jaiden diam tak bergerak.
"Tak apa dia akan baik-baik saja." Dreas mengusap kepalaku memberi ketenangan. Aku menangis dalam pelukan Dreas sembari berusaha mempercayai kata-katanya.
Meski jauh di dalam hatiku mengatakan sebaliknya.
__ADS_1
TBC.