The Guardian

The Guardian
Ritual.


__ADS_3

Malam berikutnya tak pernah lebih tenang. Sebagian tubuhku sakit gara-gara latihan bersama Dreas dan angin yang terus menerus berhembus membuat semuanya bertambah buruk. Tubuhku ngilu di seluruh bagian saat bangun tapi aku tak membiarkan itu sebagai alasan untuk libur dari tugas.


Aku melakukan seperti biasa bahkan menyempatkan diri meminta ramuan pada para tabib. Namun bahkan setelah gelas ketiga yang menyiksa tetap saja rasa ngilu tidak hilang. Seolah seluruh tulang di dalam sana membesar, bergesekan agar mendapatkan posisi sedangkan dagingku tak cukup banyak untuk membalutnya.


Dreas sempat bertanya tapi aku memutuskan untuk menyimpannya saja. Ia agak jadi lebih posesif setelah pengakuan itu. Anggota GUARDIAN sendiri tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan fakta bahwa aku tahu rahasia mereka. Mereka tidak menyebutnya seterbuka Dreas tapi masih cukup baik.


Tenda penampungan agak lebih ramai dari biasanya. Para WARRIOR dari ketiga pack berkumpul seolah sedang bersiap untuk sesuatu.


Ada apa ini? Tidak biasanya para warrior pack datang kemari.


Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan Dreas. Namun anehnya aku tak menemukan ia di manapun. Alih-alih Dreas, yang ada aku malah mendapati si shifter inseminasi, Jaiden dengan wajah konyolnya. Ia berdiri bersama para WARRIOR dari pack Red eclipse. Aku menunggu tak sabaran ingin segera menemuinya.


Sudah lama sekali aku tidak melihat saudaraku itu. Kira-kira bagaimana ya responnya jika ia tahu sala satu anggota GUARDIAN itu merupakan mateku.


Histeris sudah pasti.


Ketika akhirnya kumpulan Jaiden bubar membentuk kelompok kecil. Aku segera berlari mendekat. Tubuhku menyelip di antara kumpulan shifter berjubah itu. Begitu punggung Jaiden terlihat, aku lantas menarik ujung jubahnya.


Ia menoleh, menatapku terkejut.


"Azu ..., " Aku buru-buru membekap mulutnya, mendengus kecil saat mendapati gelagat histeris darinya, tipikal Jaiden sekali. Aku menariknya agak menjauh dari keramaian.


Aku berhenti melangkah kemudian membalik badan menatapnya. "Kenapa kau di sini?"


"Kami sedang menerima pengarahan terkahir sebelum menjalankan tugas." Seperti biasa, suaranya sangat antusias saat berbicara.


"Tugas apa? Kenapa di sini? Kenapa tidak di pack? Ken ..."


Jaiden membekap mulutku, melempar tatapan yang mengisyaratkan agar aku diam. "Satu-satu aku pusing mendengar suaramu yang kelewat cepat itu."


Aku memutar bola mata bosan, setengah cemberut. "Jadi tugas apa? Mengapa perlu banyak anggota WARRIOR?


"Malam ini malam ritual shift pertama bagi anak-anak shifter." Jaiden menjelaskan. "Para Alpha khawatir soal serangan dan kau tau kan kondisi beberapa anak. Jika mereka gagal mengendalikan diri dan mengamuk maka tugas kami untuk memastikan mereka tidak membuat kerusakan."


Ah, aku sampai lupa ada ritual itu. Padahal aku sudah menantinya sepanjang tahun, eh! Tunggu!


"Malam ritual katamu." Suaraku melengking naik. Segera saja Jaide  menghadiaiku dengan jitakan manis. Aku mengusap dahiku, melayangkan tatapan jengkel."Itu artinya aku juga."


"Iya. Bagaimana mungkin kau melupakan hal sepenting itu?" Jaiden menyipitkan mata. "Kau melupakannya pasti."


Aku memalingkan pandangan berpura-pura tidak mendengar yang langsung membuat Jaiden mendorong pelipisku hingga kepalaku oleng ke samping.


Mengabaikan penindasan kecil dari perlakuan Jaiden. Aku kembali bertanya. "Apa Alison juga ikut?"


Jaiden mengangguk. "Lalu untuk apa penjagaan sebanyak itu. Kurasa warrior saja sudah cukup. Kenapa pula harus di wilayah GUARDIAN?"


Rasanya sekarang semua hal ditumpukkan di wilayah GUARDIAN. Apakah para Alpha tidak terlalu menaruh kepercayaan pada mereka?


"Aku hanya menjalankan perintah."


Sulit rasanya untuk tidak mendecakan lidah. Entah aku harus merasa kagum atau prihatin melihat sikap Jaiden yang terlalu santai dalam menanggapi segala sesuatunya itu.


"Apa ini ada hubungannya dengan serangan si han ... hm! Maksudku dark ROUGE?" Tanyaku.


"Mungkin."

__ADS_1


Hmm! Pantas saja. Ritual shift adalah sala satu ritual terpenting setelah ritual pasangan. Inilah moment yang paling di tunggu oleh para shifter remaja. Saat di mana mereka akan memperlihatkan wujud serigala dan menjadi shifter seutuhnya.


Bisa kurasakan sesuatu dalam diriku bergemuruh senang. Mungkinkah rasa ngilu di tubuhku merupakan penanda bahwa aku akan segera mendapatkan wujud serigala? Aku mendadak saja merasa bersemangat. Kira-kira warna apa yang buluku nanti.


"Omong-omong, ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu." Aku mengedarkan pandangan sesaat memastikan tidak ada orang yang cukup dekat untuk menguping.


"Jai, apakah sesuatu pernah terjadi di masa kecil kita? Di altar batu belakang rumah nenek."


Raut wajah Jaiden serta merta berubah sesudah pertanyaan itu meluncur. Matanya membelalak menatapku dengan keterkejutan besar.


"Kau mengingatnya?" Suaranya setengah berbisik saat berbicara. Baru kali ini aku melihat sisi Jaiden yang seperti ini.


"Jadi benar-benar terjadi sesuatu?"


Jadien berdeham kecil enggan menatapku. "Hanya kecelakaan kecil, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan Azu. Lagipula itu sudah lama."


"Lalu tubuh siapa yang tercabik-cabik itu?"


Aku mengamati Jaiden dengan saksama tidak ingin melewatkan hal sekecil apapun. Dari tingkahnya yang seolah ingin kabur itu bisa kusimpulkan bahwa memang ada sesuatu dan Jaiden tidak mau menceritakannya.


"Apa yang kau katakan? Ingatanmu pasti salah. Sudah ya, aku mau bertugas."


Jaiden jelas-jelas menghindariku. Oh, baiklah. Sering berbicara pada Kaden telah melatih diriku untuk lebih bersabar. Kau bisa pergi kali ini tapi aku akan mendapatkannya lain kali.


Aku berdiri bersama anak-anak lain di lapangan yang kami gunakan berlatih.


"Kupikir kau tidak ikut ritual."


Suatu kejutan bagiku ketika Brian berdiri di sebelahku, tambahan dengan sapaan akrabnya, seolah kami adalah teman lama. Padahal kenyataanya kami hanya berinteraksi saat ia menjadikanku sasaran kejahilannya.


Berhubung, aku tidak siap untuk hal ini jadi aku merespon dengan cengengesan kecil.


Tak ada obrolan lanjut dari Brian. Ia menatap lurus ke depan. Sementara aku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Ada sekitar seratus lebih anak yang ikut serta dalam ritual kali ini. Setengah dari mereka berasal dari kalangan para elit, bahkan putra Alpha Justin, Moretz juga ikut. Di barisan para WARRIOR, aku melihat kembaran lima menitku. Ia tersenyum manis saat mata kami beradu tatap dan aku balas mengangguk kecil.


Penampilannya sudah benar-benar berubah dari yang kuingat. Jika saja aku tidak tinggal bersamanya dari kecil aku akan kesulitan mengenalinya.


Bola mataku kembali bergulir mencari keberadaan dua sahabat baikku itu. Mereka sudah bangun kemarin walau kondisinya buruk tapi aku senang mereka bisa mengikuti ritual malam ini.


"Floren ada di barisan paling ujung, tapi aku tak tau di mana Grace, mungkin dia terlambat."


Brian masih belum mengalihkan pandangan sedari tadi. Ia terus menatap kedepan. Penasaran, aku kemudian mengikuti arah pandangan Brian dan mendapati ...


"Ada apa dengan anggota GUARDIAN itu?" Tanyaku spontan.


Kenapa Brian menatapnya seintens itu? Aku tidak ingat ia pernah punya masalah dengan anggota GUARDIAN, terutama Dreas. Aku bisa mengenalinya walau wajahnya tertutupi tudung jubah.


"Kena ...,"


"Aku tak suka dia!" Brian bersuara, mendahuluiku.


"Kenapa?" tanyaku penasaran sekaligus tertarik.


"Apa harus adalah alasan untuk tidak menyukai orang lain?"

__ADS_1


"Tentu saja,"Sebagai contoh aku. Aku tak suka Selena karena keberadaannya mengusik hubunganku dengan Dreas. "Kau tak bisa tidak menyukai orang begitu saja."


Brian mendengus, "dia, merebut sesuatu yang kuinginkan sejak dulu." Tanganya terkepal erat dengan intensitas pandangan yang menajam beberapa lipat.


Aku cukup terkejut mendapati fakta ini.


Aku memalingkan pandangan, menatap Dreas yang kini juga tengah menatapku atau mungkin pria disebelahku.


"Sesuatu yang kau inginkan? Apakah itu bisa disebut merebut?"


Kupikir kata merebut bisa dipergunakan saat seseorang mengambil sesuatu dari orang lain secara paksa, dengan catatan bahwa sesuatu itu sudah milik sah dari seseorang itu.


Brian terkekeh," mungkin aku harus meralat perkataanku. Dia tidak merebutnya tapi mendahuluiku. Sesuatu itu belum resmi jadi milikku."


Aku mengangguk, "kalau begitu kau tidak bisa menyalahkannya karena keleletanmu dalam berjuang."


"Kau membelanya?"


"Tidak juga..." aku menarik napas dalam "aku hanya menyatakan pendapat sebagai orang netral."


"Orang netral huh!" senyum miring menghiasi wajah Brian. "Apa kau tidak penasaran sesuatu itu apa?"


"Kura ..."


"Kau!"


Huh!


"Apa?" Tanyaku memastikan.


Brian masih menyeringai, "tidak ada. Sebaiknya kau perhatikan kedepan, upacara akan segera dimulai."


Usaha pengalih perhatian yang bagus. Aku masih berkutat dengan pikiranku saat sala satu tetua menyerahkan secangkir ramuan. Aku menatapnya bingung.


"Minum," bisik Brian.


Aku meringis enggan, tidak menampik rasa ngeri yang menjalar melihat warna dari ramuan itu.


Mengikuti jejak yang lain, aku mulai menenggak ramuan itu. Rasanya pahit di awal namun panas di bagian akhir.


Beberapa detik setelahnya, rasa panas itu tak lagi hanya ditenggorokan. Tapi juga mulai menjalar keseluruh tubuh.


Ditengah keheningan malam, suara riuh pecah seketika saat satu persatu  dari peserta ritual mulai merintih, mengeliat kesakitan. Suara-suara retakan tulang mulai berkumandang. Lalu secara alami, pelahan-lahan tubuh mereka mulai bertransformasi kedalam wujud serigala, hingga menjadi serigala besar seutuhnya.


Mereka yang telah sempurna dalam wujud serigala mulai berlari kedalam hutan sembari melolong nyaring.


Tubuhku terjengkang kaget, saat Brian dalam bentuk serigala coklat kayunya menggerung kasar sebelum ikut berlari kehutan.


Di kejauhan, aku melihat saudara kembarku mengeliat, mengelepar di tanah, sebelum akhirnya bertransformasi sempurna dalam wujud serigala putih bernuasa emas di ujung-ujung bulunya.


Ugh!


Napasku terengah-engah. Aku mulai merintih, mencakar tanah.


Apanya yang moment istimewa? Ini sih lebih pas disebut moment neraka. Tau begini lebih baik aku tidak bisa shift sama sekali.

__ADS_1


Mataku mulai berkabut, sementara saraf-sarafku mulai berkontradiksi diperbudak oleh rasa ngilu yang sedikit demi sedikit mulai melumpuhkan kinerja jaringan dalam diriku.


TBC.


__ADS_2