The Guardian

The Guardian
retak.


__ADS_3

Selena berseru, nyaris melompat kegirangan saat melihat kedatangan, kami seharusnya, tapi tidak ia hanya senang karena Dreas. Ia mengambil langkah lebar-lebar menghampiri kami. Di belakangnya, para GUARDIAN, minus Valdus, mengekor.


"Akhirnya kau datang juga. Aku nyaris kehabisan kesabaran," ucapnya, merajuk.


Aku mengambil posisi menyingkir membiarkan perempuan tak tahu diri ini mempermalukan diri.


"Aku tak akan ingkar janji," Dreas menimpali. Ia melirikku, matanya dipenuhi rasa sungkan.


Terlepas dari rasa keras yang hinggap melihat Dreas ditempeli perempuan lain. Aku cukup antusias menunggu bagaimana ini akan berjalan.


Selena adalah soul of moon, dan aku penasaran apa yang akan diperbuat kedua pihak lainnya. Bertempur? Sudah pasti tapi dengan persiapan masing-masing, siapa kira-kira yang akan keluar sebagai pemenang.


"Apa persiapannya sudah selesai?"


"Yah, hanya tinggal menunggu waktunya."


Selena berbicara antusias. Binar kebahagian terlukis jelas di wajah putihnya. Dreas sendiri tidak kalah antusias dengan Selena. Ia kelihatan begitu santai, seolah berbincang dengan Selena adalah hal teralami darinya.


Sementara aku berdiri diam, nyaris terlupakan. Bagai  pajangan penghias. Menonton interaksi keduanya, mendengarkan percakapan mereka yang tidak kupahami sama sekali.


Kupandangi lekat-lekat tautan tanganku dan Dreas. Mengamati detail bentuknya. Jari besar Dreas mengapit, menenggelamkan jemari mungilku dalam belitan jemarinya. Kuat dan erat. Bola mataku bergulir, menyusuri lengan ramping Dreas. Beberapa urat menonjol keluar dari kulit tannya. Sedangkan ototnya menyembul indah dalam porsi pas. Tidak sebesar para Alpha, tapi begitu terlihat kokoh.


Kalau di banding dengan yang lain, kurasa otot Dreas adalah yang paling kecil. Meskipun begitu, dari segi kemampuan Dreas adalah yang terkuat.


"Azu!!"


Dreas menyentak lamunanku. Aku mengedip beberapa kali, memasang raut bingung.


"Apa?"


"Kau melamun lagi?"


"Tidak, aku ... "


"Sedang mengagumi ototmu." Suara  bernada mengejek yang khas. Kaden menyeringai sementara aku memutar bola mata, lupa bahwa ada makhluk itu di sini.


"Kau sakit?"


Kini semua atensi beralih padaku. Dipandangi beberapa pasang mata penasaran begini, aku kikuk juga.


"Tidak."


Dreas tampaknya meragukan jawabanku. Ia memutar badannya. Tanganya terulur, menyentuh keningku.


"Badanmu panas." Ia mengecek suhu tubuhku.


Hah! Aku blank! Detik selanjutnya melepaskan tawa garing. "Lucu sekali Dreas, suhu shifter ,kan memang di atas rata-rata."


Dreas mengerenyit, tak terima karena kutertawakan. "Lalu kenapa kau tidak merespon ucapan selamat Landon?"


Eh! Aku bungkam, mengarahkan pandangan pada Landon, mengulas senyum manis. "Sorry, tadi aku ..."

__ADS_1


"Sibuk dengan rasa kagumnya pada otot Dreas." Aku menipiskan bibir, si penguping ini.


"Tidak ada yang salah dengan itu. Aku kan pasangannya," mengacuhkan Kaden, aku mengalihkan pandangan pada Landon. "Sorry, aku tidak fokus. Kurasa ini efek perubahan. Kau tau aku belum membiasakan diri."


Umumnya shifter yang sudah menjadi Werewolf seutuhnya akan mengalami perubahan yang signifikan. Terutama pada kemampuan lima indra dasarnya dan kurasa sistem itu sedang mulai bekerja. Makanya tubuhku agak terasa aneh.


"Kau yakin?" Tanya Dreas skeptis.


Aku mengangguk tapi Dreas masih menunjukan keraguan. Apa wajahku sangat tidak meyakinkan ya?


"Omong-omong, kalian tadi membahas soal ritual apa?"


Aku mengalihkan topik pembicaraan. Mataku bergerak, menatap satu persatu wajah shifter di sini.


"Blue moon."


Keningku berkedut, gagal menahan decakan lidah. "Detailnya please!"


Kenapa sih mereka ini suka sekali bermain tebak pikiran? Otakku sudah terlalu lelah jika harus bekerja keras lagi.


"Kau ini pemalas ya." Kaden mulai memanasi lagi. "Masa berpikir saja kau sudah lelah."


"Mengolah informasi itu butuh tenaga ektra tau," elakku beralasan.


Hubunganku dengan para GUARDIAN itu mengambang baik tidak buruk pun tidak. Di antara mereka semua, satu-satunya orang yang bisa interaksi normal denganku hanyalah Landon. Sifatnya ramah, baik, agak cerewet, serta enak di ajak bicara itu mengingatkanku pada Jaiden. Jadi aku merasa nyaman berkomunikasi dengannya.


Sisanya? Tidak membuatku naik darah saja sudah untung. Bahkan Dreas, jika saja aku bukan pasanganya aku ragu kalau kami bisa berbicara santai tanpa ada nuansa ingin saling cakar.


Mataku bersirobok dengan Killian, ia juga menatapku. Sejujurnya aku tak memiliki masalah dengan Killian. Ia adalah tipe shifter pemimpin dengan aura intimidasi yang sanggup menundukkan shifter lain hanya dengan tatapannya. Aku menghormatinya, tapi karena ia satu-satunya yang belum secara pribadi berbicara denganku agak membuat canggung.


Satu-satunya sekutuku di sini angkat bicara, membelaku. Tangannya tanpa bisa di cegah, menyleding kepala Kaden.


"Tidak usah pedulikan dia," kerlingnya padaku.


Aku tersenyum, memberi cap jempol pada Landon. Sementara Kaden, menatap Landon  nyalang.


"Azu." Kini giliran Dreas menyentil dahiku. Aku mengaduh melayangkan tatapan protes.


"Sudah!" Killian menginterupsi. "Sebaiknya kita cepat bergegas sebelum keduluan." Ia membalik badan, melangkah tanpa peduli kami mengikuti atau tidak.


Aku menyusul antusias tapi genggaman tangan Dreas memaksa tubuhku terhenti. Aku menoleh melemparkan pandangan bertanya.


"Mengapa kau terlihat begitu semangat?"


"Tidak tahu, aku semangat saja."


"Dreas!" Selena memutus kontes adu tatap kami. Ia berdiri tegak, menunggu Dreas.


Dreas mengangguk. "Ayo!" ia menarik tanganku.


Pandanganku tertuju lurus pada Selena. Rambut pirangnya bergoyang lembut. Ia masih berdiri di tempatnya, menatapku lewat bahu Dreas.

__ADS_1


Yang akan melakukan ritual itu Selena. Namun entah bagaimana aku sangat senang rasanya seolah sudah lama ini kunantikan juga. Aku tahu itu bukan dari diriku, itu bukan keinginan Azu, tapi jiwa lain yang berdiam di dalam diriku.


Kami berada di sisi lain penjara labirin yang baru kuketahui ada. Itu sebuah altar besar dengan pilar menjulang di sisinya. Tempat itu tersembunyi atau sengaja di sembunyikan para GUARDIAN aku tidak tahu. Di hari-hari biasa tempat itu hanya pepohonan yang tertutup kabut hitam menakutkan.


Aku entah bagaimana menyukai situasi ini, hening, mencekam. Jantungku sendiri berdetak dengan ritme tak biasa. Padahal bukan aku pemain utamanya, tapi mengapa aku yang merasa gugup. Tubuhku nyaris terjatuh kalau saja tidak berpegangan pada batang pohon sementara benakku mulai berisik oleh sesuatu yang lain.


Fokus kami saat ini hanya satu yaitu Selena. Ia berdiri anggun di tengah altar dengan pola kuno yang keseluruhanya tersusun dari batu. Di sekelilingnya para  GUARDIAN berdiri, membentuk lingkaran. Mereka memakai jubah lengkap, Selena Sendiri mengenakan gaun putih panjang berornamen bunga-bungaan.


Para Alpha, juga tetua desa berdiri tak jauh dariku. Mereka semua menampilkan ekpresi tegang. Mata mereka menatap awas, bergelirya liar menyusuri sudut-sudut gelap hutan.


"Purnamanya sudah muncul."


Sayup-sayup para tetua berbicara. Aku mendongkak keatas, benar sinar biru mulai memancar. Dalam mata telanjang manusia hal itu pasti tak terlihat, tapi bagi kami kaum yang sangat bergantung pada bulan seperti manusia yang bergantung pada matahari demi kelangsungan hidup mereka. Jelas cahaya itu memendar terang.


Kuangkat telapak tangan, melindungi mata dari cahaya biru yang menyilaukan itu. Kulitku serasa bagai tersengat listrik saat sala satu pancaranya menerpaku secara langsung.


Hal-hal aneh terus saja terjadi padaku jadi aku tidak lagi merasa terkejut. Sama seperti saat ini, sesuatu dalam diriku bergejolak hebat.


Bagai meniup sebuah balon, kekuatan dalam diriku berkembang, membesar dalam kapasitas yang sulit untuk di ukur. Sensasi ini, aku menyukainya.


Suara ribut-ribut membawaku pada kenyataan. Berpaling, aku mengerutkan dahi bingung. Ritual tampaknya terganggu. Ah si ROUGE kegelapan memang bisa di andalkan soal rusuh merusuh.


Para Alpha mulai maju, sementara para GUARDIAN mengamankan Selena.


Satu lolongan dari Alpha David menjadi pertanda pecahnya pertempuran. Ratusan? Tidak ribuan lebih ROUGE kegelapan menyerbu dari berbagai penjuru hutan, menyerang buas siapa saja yang ada dalam jangkauannya.


Aku bersemangat berniat melompat ke arena saat seseorang menarikku. Tubuhku terseret paksa oleh Jaiden tanpa penjelasan.


"Mengapa kita pergi? Jaiden kita seharusnya membantu."


Tak pernah kulihat Jaiden bertingkah aneh begini. Padahal ia seorang WARRIOR tapi malah kabur dari pertempuran.


"Jaiden?"


"Tidak apa-apa, Azu. Kita lebih baik menyelamatkan diri saja."


Biru pucat yang menghampar terang semakin terasa menyilaukan bersamaan dengan kepalaku yang semakin ribut. Rasanya seolah banjir datang tapi itu bukan air melainkan memori. Seolah sesuatu yang membendungnya selama ini retak perlahan dan jebol.


"Jaiden, aku pusing," kataku berhenti berjalan. "Kepalaku sakit."


"Kita istirahat dulu," kata Jaiden khawatir.


Sementara aku berjuang mendapatkan kewarasan. Satu per satu semua memori itu berputar dengan jelas dan kali ini tidak lagi berupa pecahan melainkan keseluruhan.


Tentang gadis yang merupakan diriku di masa lalu.


Tentang gadis yang bertarung dengan para GUARDIAN di malam purnama merah.


Bahkan pemilik memori yang bersama si gadis tanpa wajah.


Namun yang paling membuatku merinding adalah kilasan terakhir, itu bukan masa lalu seperti tiga lainnya. Kejadiannya waktu aku masih kecil, saat malam di mana kami bermain petak umpet di hutan mini.

__ADS_1


"Jaiden, sang penghancur ..." Kata-kataku berhenti saat melihat wajah pucat Jaiden. "Kau tahu sejak awal, kan? Makhluk itu ..."


TBC.


__ADS_2