
Aku menghabiskan hari dengan menghitung waktu dan meracik ramuan hingga hidungku tak bisa lagi membedakan jenis bau. Terlalu banyak aroma yang menusuk secara bersamaan, kupikir sarafnya sudah terlalu terbiasa kalau enggan disebut rusak.
Sesekali ketika kebosanan melanda aku akan menyusup diam-diam ke hutan di luar wilayah penampungan darurat sebagai pelarian yang berakhir dengan kemarahan Dreas. Jika sudah begitu Kaden akan mengawasiku penuh pada hari berikutnya guna memastikan aku tetap di dalam penampungan.
Kadang aku bertanya-tanya mengapa ia harus begitu marah padahal anggota GUARDIAN yang lain bersikap biasa saja. Namun setiap aku menanyakan secara langsung jawabannya selalu sama ; karena sudah menjadi tugasnya.
Itu satu dari sekian tingkah gila Dreas. Aku tidak perlu menyebutkan sisanya karena sangat menyebalkan untuk diingat.
"Senang kau menjadi terbiasa dengan tempat ini."
Aku menunduk memandang malas dari dahan yang jadi tempat nongkrong favorit selama tinggal di sini. Pohon ini belum terlalu tinggi tapi cukup berfungsi jika harus menghindari makhluk semacam dark ROUGE. Setidaknya mereka tak akan bisa mencapai ketinggian begini walau melompat sekalipun. Selain itu dahannya lebar dan kuat membuatnya jadi spot yang bagus untuk menghabiskan waktu. Dari sini bidang pengawasan menjadi sangat luas hingga aku bisa mengamati seluruh penjuru tenda penampungan.
Ada sekitar dua puluh tenda yang berdiri sekarang dan masih akan bertambah mengingat serangan ROUGE kegelapan terus berlanjut secara konstan. Begitupun jumlah korban yang berdatangan. Kemarin saja tempat ini menerima sepuluh anak-anak dari lunar eclipse wolf pack yang mana semuanya berakhir di dalam penjara labirin.
"Aku harus, kalian tidak memberi pilihan."
Kegiatan sampingan selain membantu para tabib pack meracik ramuan adalah memata-matai para GUARDIAN. Beberapa hal yang sudah kuketahui soal mereka adalah kecuali aku dan Selena tidak ada satupun orang yang tahu bahwa mereka masih muda. Semua orang berpikir mereka kakek-kakek karena setiap berbicara entah bagaimana Killian atau Kaden yang bertugas sebagai juru bicara selalu menggunakan suara orang tua. Itu bagian lain dari misteri yang belum kutemukan jawabannya.
Oh, aku juga sudah mengetahui anggota mana yang menyerangku pagi itu beserta nama mereka. Bagian tidak menyenangkan tentang fakta itu adalah Kaden tidak bergabung ke dalam kawanan jadi aku tidak bisa membencinya sebagaimana pada anggota lain.
Terkadang aku merasa konyol saat melakukannya tapi dengan situasi tempat penampungan yang hanya dipenuhi kesuraman ini. Aku menjadikanya semacam acara menghibur diri.
"Aku mewakili yang lain meminta maaf untuk itu, tapi percayalah itu demi kebaikanmu."
Cara bicaranya begitu lembut dan kesan hangat yang ditawarkannya saat berbicara mengingatkan aku pada Aiolos. Sulit dipercaya ia seorang GUARDIAN. Siapa nama yang ini? Oh benar, Landon. Pria ini berbeda jauh dengan empat lainnya yang dingin dan entah bagaimana membawa kesan tidak menyenangkan tentang roh tersesat yang menanti waktu kematian mereka.
"Ya, terima kasih atas kepeduliannya."
Sekelompok tamu baru datang dari selatan tenda. Tiga jubah merah gelap dan dua orang anak laki-laki dalam kungkungan erat mereka. Ah, korban baru lainnya. Tampaknya penyerang telah menargetkan blue eclipse pack sebagai sasaran berikutnya. Kuharap sepupuku di sana tidak menjadi korban.
Aku masih mengamati, menyaksikan dengan ngeri saat anak-anak yang menjadi liar itu berusaha menyerang tabib yang bertugas. Mulut mereka tak pernah lelah untuk mencoba menggigit para WARRIOR yang memegangnya.
"Kau tidak pergi menyambut mereka? Tuan rumah yang baik harusnya melakukan itu."
"Kami hanya menyediakan tempat penampungan. Tidak ada kewajiban untuk melakukan hal lainnya. Selain itu aku lebih nyaman di sini."
__ADS_1
Tak perlu kukatakan keras bahwa akulah yang menjadi tidak nyaman. Para GUARDIAN jelas mengabaikannya. Ini wilayah mereka jadi mereka pun bebas mau berbuat semaunya sendiri.
"Kamu masih menaruh benci atas perlakuan kami waktu itu?"
Tentu saja, aku tidak punya alasan kuat untuk memaafkan mereka. Bahkan jika yang mendasari semua itu adalah kesalahpahaman tak merubah apapun.
"Tidak tahu, sulit untuk melupakan sensasi ngilu dari lengan yang nyaris patah."
"Hei, aku sudah meminta maaf."
Landon mendongak dan tudung jubahnya agak melorot dalam prosesnya, membuat sebagian wajahnya terlihat.
"Dan aku tidak ingat sudah memaafkanmu."
Matahari mulai jatuh ke pangkuan bumi. Menyisahkan jingga gelap yang memancar dari sela-sela dedaunan. Pepohonan di wilayah GUARDIAN agak lebih rapat dibanding yang lain membuat suasana jadi sangat dingin saat malam dan pagi hari. Saat ini saja hawanya mulai terasa mengigit.
Satu malam lain dimulai yang mana artinya korban pun akan bertambah. Aku menggeleng sedih memikirkan semua itu.
"Hei, di mana aku bisa menemukan informasi mengenai sang penghancur?"
Kaden bilang hanya segelintir orang yang diberitahu soal makhluk jahat itu dan sebagai sala satunya. Aku merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu.
Suara Landon agak waspada dan itu tampak lebih pas untuk statusnya dibanding sikap santai dan bersahabat. Penjaga misterius dari balik bayang-bayang harusnya mengintimidasi bukan.
"Kaden."
Aku melompat turun berdiri berhadapan dengannya. Landon beberapa kepala lebih tinggi di atasku. Jarak yang menyedihkan untuk dipikirkan. Mereka masih enggan menunjukkan wajah kendati aku sudah mengetahui yang sesungguhnya hanya di tempat-tempat tertentu mereka membukanya. Kaden bilang mereka tidak boleh lengah, entah apa masalahnya kalau orang lain melihat. Ketakutan yang sangat berlebihan.
"Wah, dia tidak bisa menjaga mulut." Landon mendengus kecil. "Dreas pasti mengamuk kalau tahu."
Sekedar tambahan anggota lain lumayan segan pada Dreas. Mereka sangat berhati-hati saat berbicara jika ada Dreas. Memang sih pria itu memiliki sumbu pendek tapi kukira itu terlalu berlebihan padahal Dreas bukanlah pemimpinnya.
"Memang apa masalahnya kalau aku tahu? Kupikir itu malah bagus. Kau tahu, aku mungkin tidak bisa diandalkan untuk bertarung tapi kalau mencari informasi aku bisa."
"Sebenarnya kami sudah punya beberapa informasi? Tapi ... " Aku mengerenyit ingin memotong tapi Landon mengisyaratkan untuk diam. "Dreas."
__ADS_1
Kami sama-sama menoleh pada suara berisik rerumputan yang terinjak. Di sana Dreas yang baru saja bergabung berjalan. Tudung jubahnya sudah tersingkap memperlihatkan wajahnya yang berkerut. Ia satu-satunya anggota GUARDIAN yang terang-terangan memperlihatkan diri padaku. Sisahnya kadang-kadang saja terutama anggota termudanya, Valdus. Pria yang terus-terus menatapku membunuh itu.
Dreas baru saja selesai dari tugas menjaga Selena, putrinya Alpha David. Setiap hari Dreas selalu menghabiskan waktu bersama Selena. Melindunginya bak ksatria dari negeri dongeng. Namun melindungi dari apa? Dan mengapa Selena? Mereka tidak pernah menjawabnya.
"Kau saja yang jelaskan."
Suara Landon agak tertahan saat ia berbicara. Nah, baru saja dibilang sudah kejadian. Apa sih masalahnya dengan Dreas?
"Menjelaskan apa?" Bisa kurasakan hawa hangat dari tubuh Dreas saat ia berdiri di sampingku. Itu sangat membantu di cuaca sedingin ini, aku tidak keberatan kalau dia lebih mendekat lagi.
"Sang penghancur, Kaden tidak menjaga mulutnya dengan baik."
Dreas mendecak kesal. "Kenapa kau ingin tahu? Makhluk itu berbahaya."
"Jika kita mengetahui soal dirinya, mungkin kita akan menemukan tujuannya. Kalian tidak berniat membiarkan pack terus dalam teror kan?"
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran Dreas. Ia seperti labirin penjara itu, memusingkan dan gelap, rasanya aku sudah lelah duluan sebelum memulai bicara dengannya.
"Tentu saja tidak, tapi bukan berarti kau harus dilibatkan juga. Makhluk itu berbahaya. Tetap diam di tempatmu, kami yang akan membereskan masalah."
Pembicaraan berhenti begitu saja. Landon menarik diri seperti kebiasaan mereka saat bertemu Dreas. Aku memandanginya sampai lenyap sebelum berbalik menghadap Dreas, marah. Sekarang kami hanya berdua.
"Kau tidak punya hak melarangku. Bahkan jika kau menolak memberitahu, aku akan mendapatkannya dengan cara lain."
Aku akan pergi secara dramatis sebenarnya sampai pinggangku ditarik dan menyandar di batang pohon.
"Hei ..." Protesku tak terima.
"Jangan pernah bicara begitu padaku. Aku punya hak, Azu, lebih dari siapapun." Ekpresi Dreas menggelap saat dia berbicara. "Jika aku bilang tidak maka itu akan jadi tidak untukmu."
Nadanya menyatakan bahwa ia tidak menerima penolakan tapi yang lebih mengerikan adalah fakta bahwa sudut terdalam diriku mematuhinya begitu saja. Ia tunduk pada apapun yang diinginkan olehnya.
Aku menelan ludah secara suka rela mengangguk. "Aku mengerti."
Perlahan Dreas melepas kungkungannya, tidak benar-benar lepas, ia masih memegang tanganku. "Ayo, Azu, malam akan jadi lebih berbahaya di luar sini."
__ADS_1
Aku mengikuti patuh membiarkan ia menang untuk saat ini. Namun jika Dreas pikir aku sudah menyerah maka itu salah. Untunglah Kaden sedang pergi jadi aku bisa memikirkan banyak rencana.
TBC.