
Kematian paling umum yang menimpa para shifter itu adalah gugur dalam medan perang atau yang paling buruk adalah mati di mangsa ROUGE, kendati begitu keduanya masih masuk kategori kematian yang normal. Namun, aku belum pernah mendengar kematian yang di sebabkan oleh ketampanan seseorang.
Oh hell! Ini akan jadi alasan kematian paling konyol dalam sejarah dan sayangnya aku hampir saja menjadi seseorang yang akan menorehkan sejarah memalukan itu. Untung saja masih hampir belum kejadian.
Namun aku masih belum bisa merasa lega karena, pria ini, si ROUGE-WARRIOR tampan ini masih saja memandangiku dengan jenis pandangan yang terkesan tak percaya. Maksudku tatapannya seperti tengah mengatakan bahwa dia sedang berusaha mempercayai bahwa aku ini nyata dan bukan makhluk transparan atau tak kasat mata.
Jika saja aku adalah bagian dari shifter perempuan dengan feromon berlebihan yang suka histeris ketika melihat makhluk berjenis kelamin laki-laki dengan wajah yang bisa dibilang wah. Aku pasti sudah memerah sejak tadi, malu atau bertingkah gugup seperti kebiasaan normalnya makhluk berjenis kelamin perempuan ketika di tatap intens oleh lawan jenisnya.
Bukan berarti aku tidak normal, aku juga sudah memerah sejak tadi. Yah, memerah menahan emosi karena marah pada diri sendiri. Bagaimana mungkin sisi sadis dan kejamku menghilang seperti kabut di pagi hari ketika mentari datang, setiap kali berhadapan dengan si ROUGE penguntit ini.
"Berkedip!"
Ha? Dia bilang apa tadi?
"Berkedip!"
Ah, sial, inilah hal yang paling tidak kusukai kalau berada dekat dengan iblis yang menjelma menjadi malaikat kematian dadakan ini. Semua sistem saraf dalam tubuhku selalu mengalami masalah, di tambah dengan feromon aneh, yang entah bagaimana membuatku tak bisa berkutik. Seolah-olah dia adalah matahari yang dibutuhkan oleh daun ketika proses fotosentesis. Lengkap sudah kekacauan, kerusakan, atau apalah namanya di diriku.
Dia menyeringai. "Aku tidak akan menghilang, jadi jangan siksa matamu lebih lama lagi."
Ya ampun, ROUGE-WARRIOR satu ini benar-benar sialan! Aku memalingkan pandangan menyumpah kesal pada diri sendiri, karena dengan konyolnya melakukan tindakan memalukan itu.
"Jadi, kalau tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan. Biarkan aku pergi."
Aku sudah merelakan waktu berlatih bela diri hanya demi menuntaskan perkara yang membelit kami. Berhubung itu sudah jelas jadi seharusnya tidak ada alasan bagiku untuk saling berinteraksi dengannya. Selain itu, aku Khawatir kalau berada dekat dengannya lebih lama lagi, mungkin jantungku tidak akan berdetak lagi, karena dari tadi dia sudah memukul dadaku dengan intensitas pukulan yang kuat. Untung saja dadaku tidak sampai rusak.
"Soal hubunganku dengan gadis itu."
Aku tidak mengerti mengapa ia bersikeras untuk membahasnya padahal kata-kataku tadi sudah jelas. Aku tidak peduli, maksudku aku tidak berhak peduli. Kami berdua tidak saling mengenal jadi tidak seharusnya mencampuri urusan pribadi. Kejadian pagi itu murni sebuah kebetulan jadi sejujurnya tidak perlu diperpanjang lagi.
"Kau tidak harus menjelaskan apapun mengenai hal itu."
Aku menyelah dengan lancang. Merasa kesal secara tiba-tiba mengetahui dia akan menyayatku dengan kata-katanya.
Raut wajahnya berubah mengeras. "Tidak, kita harus membicarakannya agar tidak ada kesalapahaman."
Terselip kemarahan dalam kata-katanya. Tapi aku tidak punya cukup imunisi kesabaran untuk mendengar kata-katanya lebih dari ini. Terutama ketika akhir dari kata-katanya akan memberi efek sakit padaku.
"Jangan memperumit situasi, oke? Aku lelah dan butuh istirahat."
Ini salah! Seharusnya aku bisa mengatakan lebih lantang dari itu. Kenapa suaraku jadi terdengar merajuk begini.
Alisnya bertaut. "Rumit? Apa maksudmu? Aku hanya ingin kau mendengarkan."
Aku benar-benar di ambang batas kesabaran sekarang. Sedari tadi pria ini bersikap seenaknya memaksakan kehendak tanpa peduli bagaimana pendapatmu. Apa dia bahkan benar-benar mendengarkan kata-kataku? Sudah jelas tidak. Ia hanya ingin mengatakan keinginannya dan marah jika menolak. Seharusnya aku tidak perlu heran mengingat pagi itu ia juga melakukan hal serupa.
Ia tidak pernah mendengarkan orang lain, dan malangnya aku terjebak bersamanya.
"Dengar, aku ti ..."
"Dreas!"
Panggilan bernada datar terkesan malas itu menyelah kata-kataku dengan sangat tidak sopan. Menoleh, aku baru saja akan memuntakan petuah sadis pada si pelaku yang dengan kurang ajarnya menyelah omonganku tadi.
Dia, pria berambut perunggu, berwajah datar seperti Jaxon. Tipe pria berwibawa dan tenang. Berdiri menatap kami berdua dengan pandangan curiga. Bukan jenis curiga seperti menuduh, tapi lebih condong ke kesan menilai. Seakan dia baru saja menangkap basah aku dan pria bernama Dreas ini menyembunyikan hubungan special. Heh! Ada apa dengan pemikiran konyol barusan.
__ADS_1
"Ka ..."
Belum sempat WARRIOR bernama Dreas ini menyelesiakan kata-katanya. Pria itu tanpa peringatan melompat maju dalam gerakan mematikan. Tubuhku tertarik, membentur sesuatu yang keras, hangat, yang kusadari di detik berikutnya sebagai dada Dreas.
Untuk beberapa detik tubuhku mematung tegang. Ini yang pertama bagiku, aku tak pernah berada dalam posisi ini sebelumnya bersama lawan jenis. Keluargaku tidak masuk hitungan.
Dalam posisi intim begini, aku mencium aroma mint menyegarkan yang menguar dari tubuh Dreas. Aku terlalu sibuk dengan aroma memabukkan Dreas hingga tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Hanya bunyi geraman yang sudah bisa di tebak berasal dari seekor serigala yang terdengar, di selingi beberapa bunyi berdebam keras. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku baru saja hendak mencari tau, tapi Dreas sudah lebih dulu menahan kepalaku hingga terpaksa tetap merapat pada dadanya.
Beberapa saat kemudian semuanya terasa hening. Hanya detak jantung Dreas yang terdengar.
"Dreas!" lirihku pelan.
Ini pertama kali aku menyebut namanya. Sedikit aneh namun terasa benar. Dreas melepas belitan lengan kekarnya hingga aku bisa menarik napas lega. Aku mendongkak bersiap mencecarnya dengan berbagai makian karena dengan kurang ajarnya sudah memelukku. Well walaupun sebenarnya dalam hati aku ingin mengulangi adegan tadi. Namun sorot gelisah dalam iris hitam itu memaksaku menelan kembali semua ocehan itu.
"Dreas!!"
Pria yang ah! Aku harus menanyakan namanya agar tidak susah begini, memanggil Dreas. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, di tambah kedua pria ini malah saling berpandangan, menggelengkan kepala, mengertakan gigi dan di akhiri dengan decihan kesal dari Dreas.
"Berapa?"
Dreas bertanya. Mata gelapnya memandang was-was ke sekeliling. Seakan tengah mewaspadai sesuatu. Apa ada musuh?.
"Sulit untuk mengetahuinya."
"Kita harus mengakhirinya dengan cepat."
Pria itu mengangguk. Dreas kembali menatapku." Menjauhlah ketempat yang lebih aman."
Memangnya ada tempat aman di tengah hutan begini? Kalau saja situasinya tidak sedang tegang begini. Aku pasti akan mengatakan itu.
Aku berbalik menjauh dari sana menuju sekolah. Tempat ini tak jauh dari sekolah dan di sana aku bisa meminta bantuan. Tak lama kemudian suara geraman yang berpadu dengan suara berdebum keras kembali terdengar dan arahnya dari tempat Dreas tadi. Tidak peduli betapa kesalnya aku pada dua pria itu. Tapi aku tidak mengharapkan hal buruk akan menimpa mereka berdua.
Apa dia hantu serigala? Masa sih aku belum pernah dengar hal semacam itu. Makhluk ini yang sebut saja bayangan serigala, karena keseluruhannya berwarna hitam seperti bayangan, bahkan bola matanya tidak terlihat hanya bentuknya saja yang mengidikasikan kalau dia serigala. Menggeram padaku. Aku masih mengamatinya dengan rasa keingintahuan yang besar. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada makhluk ini. Mungkinkah dia tidak kebagian bulu? Tapi tidak ada waktu untuk mencari tau asumsi kelewat absurd itu. Tidak ketika dia tanpa pemberitauan melompat kearahku. Refleks aku menghindar.
Aku berlari zig-zag di antar celah-celah pepohonan. Menghindari kejaran makhluk tak jelas itu. Ya ampun tenagaku sudah hampir habis. Tapi kalau berhenti bukan cuma tenagaku yang habis. Nyawaku pun akan itu habis selamanya. Atas dasar pemikiran itulah aku memaksakan diri untuk begerak walaupun tubuku sudah tak kuat lagi.
*******
Aku benci situasi seperti ini. Saat di mana aku merasa benar-benar tidak berdaya, bahkan untuk melakukan hal-hal kecil seperti melepaskan diri dari kukungan makhluk ini. Rasanya semua waktu berserta rasa sakit yang kualami selama masa pelatihan seperti sia-sia begitu saja. Tidak peduli sebesar apa usaha yang kulakukan tetap saja tidak menghasilkan apapun.
Di tengah rasa kekalutanku. Rupanya dewi bulan masih berbaik hati mengirimkan malaikat penyelamatnya untukku. Malaikat tampan yang berbalut aura liar itu dengan mudahnya mengoyak-ngoyak makhluk itu hingga hancur tak berbentuk. Beberapa sisa yang sepertinya darah makhluk itu menciprati wajahku. Rasanya lengket, menjijikan dengan aroma menyengat yang membuat asam lambungku naik.
Dreas dan pria yang sekarang aku tidak peduli lagi siapa namanya itu menghampiriku. Bisa kurasakan kalau keduanya tengah memberiku pandangan simpati. Siapapun yang melihatku sekarang pasti akan melakukan hal yang sama. Menyebalkan! Rutukku.
"Kau baik-baik saja?"
Dreas berjongkok di hadapanku. Aku memalingkan padangan sesekali menyumpahi diri sendiri. Kenapa aku harus mengalami situasi mengenaskan begini.
"Bisakah kau berpura-pura tidak melihatku?"
Pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja dari bibirku. Aku menggigit bibir seketika menyadari nada suaraku yang sedikit bergetar seperti orang shock.
"Sayang sekali aku sudah melihatnya."
Sebuah senyum muncul mengiringi suara yang mengalun tenang itu. Aku memicingkan mata melihat sorot geli dalam matanya.
__ADS_1
"Untuk apa kau mempermasalahkan hal semacam itu?"
Suara Dreas sarat akan ketidakpercayaan. Kepalaku terangkat dengan sendirinya sebagai respon. Mataku bertemu pandang dengan sepasang mata gelap milik Dreas.
"Aku benci terlihat lemah!" Sahutku.
Alis Dreas terangkat. Ia lantas terkekeh kecil, jenis kekehan mencemooh yang memaksaku melayangkan delikan ganas.
"Apa?"
"Kau benar-benar di luar dugaan! Setelah mendapat serangan begitu. Bagaimana mungkin kau lebih mengkhawatirkan soal penilaian orang akan dirimu?"
"Kau punya masalah dengan itu?"
"Tidak! Tapi itu konyol."
Aku melayangkan pandangan tajam. Yah, benar aku konyol, tapi semua orang memiliki sisi di mana ia tidak ingin dilihat oleh siapapun.
"Benar sekali."
Aku mengerenyit memindahkan pandangan pada sosok WARRIOR satunya lagi.
"Terserah," kataku perlahan bangkit.
Pembicaraan ini mungkin akan mengarah ketahap yang lebih aneh lagi. Jadi sebaiknya aku pergi saja toh makhluk tadi sudah menghilang semua.
"Mau kemana kau?"
Suara datar persis seperti wajahnya itu mengalun tenang. Aku bertanya-tanya akan seperti apa suaranya jika dia sedang bernyanyi. Itupun kalau dia pernah menyanyi. Akankah suaranya seindah wajahnya.
"Lebih dari yang kau pikirkan."
Hah! Apa dia baru saja menjawab isi pikiranku?.
"Benar!"
Aku memandangnya tak percaya. Tunggu, aku pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
"Berhenti memasang tampang bodoh itu!"
Dreas menyentil keningku untuk yang kedua kalinya. Kalau dalam keadaan normal aku pasti akan melotot ganas padanya, tapi kali ini biarkan sajalah. Ada hal yang lebih penting daripada itu.
"Harus aku akui dia itu memang menggoda. Tapi harus kau tau, aku bukan penyuka anak kecil. Jadi santai saja."
Jelas kata-kata itu ditujukan untuk Dreas, kecuali kalau dia mengidap kelainan yang uh ... Sudahlah dia'kan bisa membaca pikiran. Dreas membalas dengan dengusan kasar. Saat memalingkan wajah mataku langsung bersirobok dengan mata gelap milik Dreas.
"Apa?"
Bukankah aku yang seharusnya marah. Tadi kan dia mengataiku. Kenapa malah dia yang kelihatan jengkel? Aneh sekali.
"Bisakah kalian hentikan itu? Kalian membuatku tampak tidak berguna di sini."
Pria bermata keemasan itu berbicara malas terkesan jengkel. Jenis nada bicara yang akan membuat orang naik darah.
"Kalau begitu pergilah! Tidak ada yang memintamu tetap di sini."
__ADS_1
Dreas menjawab tak kalah jengkel, aku bahkan menangkap nada terganggu di dalamnya. Walaupun begitu Dreas sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku.
TBC.