The Guardian

The Guardian
Pertarungan antar saudara


__ADS_3

Kilasan memori yang sudah kulihat berkali-kali itu. Sang gadis tanpa wajah, tubuh tak bernyawa di atas altar, gadis pucat yang tersenyum senang saat melihatku di hutan pohon mini, sang penghancur, mereka adalah satu orang. Namun aku tak pernah berpikir bahwa Jaiden mengetahui semua itu tapi memilih menyembunyikannya.


"Jaiden, mengapa kau menyembunyikannya?"


Aku meledak dalam amarah menatapnya tajam. Bagaimana bisa kakakku menyembunyikan hal sepenting itu? Beberapa ingatan mengenai tingkah Jaiden bermunculan. Ia tidak suka berada di rumah nenek, ia melarang kami terlalu dekat dengan bibi Arella, dan sikapnya yang terkadang memusuhi itu. Semua karena sejak awal Jaiden sudah tahu, sang penghancur ia sudah mengambil alih tubuh bibi kami. Ia sudah sedekat itu sejak awal.


"Karena aku tidak mau kehilangan lagi, Azu." Suara Jaiden sangat sedih saat berbicara.


"Tidak ada yang percaya saat aku mengatakan tentang makhluk itu. Kau dan Alison juga tidak mengingatnya, jadi aku tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah menjadi kuat selagi berpura-pura tidak tahu yang sebenarnya."


Mata Jaiden bersinar dalam rasa sakit yang besar.


"Jika makhluk itu tahu, entah apa yang akan dia lakukan. Aku tidak mau mengambil resiko menempatkan banyak orang dalam bahaya, terutama nenek. Bagaimana aku harus memberitahunya? Ia pasti akan sangat sedih."


Seolah semua yang ia tahan terlepas Jaiden mengatakan semua hal yang ia pendam selama bertahun-tahun. Pasti berat bagi Jaiden memperlakukan makhluk yang sudah membunuh bibi Arella seperti keluarga. Bersikap seolah tidak terjadi apapun.


"Maaf, aku tidak seharusnya membentakmu," kataku merasa bersalah, memeluknya erat.


"Tidak apa-apa, Azu." Jaiden menepuk punggungku lembut.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Haruskah kita memberitahu pada GUARDIAN? Mereka tampaknya memiliki sesuatu terkait cara mengatasinya."


Lagipula tujuan makhluk itu adalah sesuatu dalam diri Selena. Jadi seharusnya dia ada di sana sekarang, tapi mengapa ia repot-repot bersembunyi dalam tubuh bibiku?


"Itu tidak diperlukan."


Suara lain tiba-tiba saja bergabung, berpaling kami mendapati kakak tertuaku, Jaxon. Ia muncul dari kegelapan dengan wajah pucat dan berkeringat seolah ia berlari dari kejaran sesuatu. Rambut pirang acak-acakan basah oleh darah, serta pakaian yang penuh dengan robekan di sana sini. Pokoknya mengenaskan.


"Jaxon!" Pekikku, lantas menghambur.


"Jax, apa yang terjadi? Kau terluka." Jaiden segera menahan tubuh Jaxon yang nyaris roboh.


"Siapa yang melakukan ini?" Kuangkat hati-hati kepalanya, meletakkannya di pangkuanku.


"Alison," ujarnya dengan napas tersengal-sengal. Ia mencoba bangun dari posisi berbaringnya. Sedikit kesulitan mengingat banyaknya bekas sayatan di tubuhnya. Belum pernah sekalipun aku melihat Jaxon begini buruknya.


"Ia dalam bahaya."


"Apa maksudmu?" Jaiden ikut berjongkok di sebelahku. Sesekali matanya bergulir, menatap awas ke sekeliling.


"Makhluk itu membawanya."


Bukan berita yang enak didengar. 


"Ia melukai nenek dan membawa Alison. Aku sempat bertarung dengannya tapi tidak cukup kuat. Kita harus mencari bantuan."


Terlepas dari rasa khawatirku terkait keadaan nenek dan Alison ada hal yang cukup mengganjal.

__ADS_1


Aku memiringkan kepala menatap Jaxon bingung. "Apak maksudmu? Mengapa dia harus membawa Alison?"


Jika tujuannya adalah soul of moon maka seharusnya ia menyerang Selena, tapi Alison?


"Azu, dia mengincar sala satu dari kalian."


Aku mengerenyit pada pernyataan tiba-tiba itu. Namun sikap diam Jaiden membuatku semakin curiga.


"Mengapa?"


"Azu, pergilah ke tempat para GUARDIAN dan cari bantuan, aku akan mengejar Alison." Jaiden tiba-tiba memotong. "Jax, tunjukkan jalan padaku"


"Tapi ..."


"Cepatlah, Azu."


Aku melangkah ragu-ragu, menatap khawatir pada Jaxon, ia terluka, tak mungkin baginya untuk bertarung lagi. Namun aku tidak punya waktu untuk mempertimbangkan dan segera berlari dari sana.


"Brian!" Panggilku, begitu melihat seseorang di depan sana. "Aku butuh bantuan."


Suaraku terputus oleh rasa sesak. Ia memegang lenganku, menyeimbangkan tubuhku.


"Kau baik-baik saja?"


"Ya," balasku setengah tak yakin. "Kenapa?"


Aku mengangguk. "Tolong katakan pada yang lain, aku bertemu makhluk itu."


"Apa? Bukankah dia sedang menyerang ke penjara labirin? Ia mengincar Selena bukan?"


"Penjelasannya nanti saja, katakan saja pesanku pada pada GUARDIAN. Aku mohon, aku harus segera pergi."


Setelah menyampaikan pesan singkat itu, aku berbalik. Aku tidak bisa membiarkan Jaiden sendirian berhadapan dengan makhluk itu. Jaxon sedang terluka ia pasti tidak bisa membantu banyak. Angin malam menampar wajahku saat berlari, Jaiden dan Jaxon pasti belum terlalu jauh. Aku berlari sekuat tenaga kembali pada lokasi di mana terakhir kali aku meninggalkan mereka.


Namun apa yang menyambutku bukanlah hal yang menyenangkan. Bahkan dalam mimpi terburukpun tak pernah aku berpikir akan melihatnya. Di sana dua serigala dewasa tengah bertarung sengit, serigala yang tidak lain dan bukan merupakan saudaraku, Jaxon dan Jaiden.


Apa yang terjadi selama aku pergi?


"Jax! Jaiden! Hentikan!"


Aku berteriak panik, menatap ngeri saat kedua serigala itu saling mengigit, berputar di remputan.


"Kumohon berhenti. Mengapa kalian berkelahi?"


Aku hendak maju memisahkan mereka tapi suara Jaiden yang berbicara lewat pikiran menahanku.


"Jangan mendekat, Azu. Jaxon sedang dikendalikan. Ia tidak mengingat kita sebagai saudaranya."

__ADS_1


"Apa ..." Kata-kataku terputus saat menyadari bahwa mata serigala Jaxon sangat tidak biasa. Itu gelap, tidak berjiwa, bahkan cara dia bertarung pun, seolah yang ia pikirkan hanya menghabisi Jaiden.


"Kau sudah tau ini sejak awal kan? Makannya kau mengusirku pergi." Tanyaku marah.


Serigala Jaiden mendengking keras saat kuku Jaxon berhasil merobek kaki depannya. Ia agak terpincang dan nyaris gagal mempertahankan keseimbangan tubuhnya.


"Baguslah, kalau kau tahu. Sekarang pergi dari sini."


Aku mengabaikannya, menatap panik saat Serigala Jaxon terlempar jauh mendarat di pohon. Itu bisa memperparah lukanya.


"Sejak kapan kau menyadarinya? Mengapa makhluk itu menggunakan Jaxon?"


Aku berlari maju, tapi serigala Jaxon bangun dengan cepat melompat tepat ke leher Jaiden. Mereka saling menggigit lagi, kali ini Jaiden agak terdesak karena memang tadi kakinya sudah terluka.


Selain itu Jaxon sendiri merupakan WARRIOR pilihan, kemampuannya di atas rata-rata, dengan dirinya asli saja Jaiden pasti akan mengalami kesulitan.


Apalagi sekarang ia dikendalikan jelas itu sangat tidak menguntungkan bagi Jaiden.


"Sejak awal, aku sudah mengawasinya selama ini. Kau tahu kan, mereka berdua sangat dekat."


Suara Jaiden agak berat saat menjawab. Seharusnya aku tidak menggangu fokusnya dalam bertarung tapi aku butuh informasi.


"Jangan bilang kalau dia bukan Jaxon asli juga. Seperi bibi Arella?"


"Ti ..." Kata-kata Jaiden terputus saat tubuhnya terlempar. Ia mengelepar di tanah, bulunya sendiri sudah basah oleh cairan merah.


"Jaxon, jangan!" Teriakku panik, saat moncong serigala Jaxon mengendus Jaiden yang terkapar. Seolah mengejeknya.


"Jax, kumohon jangan." Namun Jaxon tidak mendengarkan sementara Jaiden semaki mendekati ambang kematiannya.


"Jaxon!"


Aku tanpa pikir panjang melompat bertransformasi ke dalam wujud serigala menyerang Jaxon. Kami berputar di tanah sesaat, tapi entah bagaimana aku berhasil mengungguli keadaan.


Serigala Jaxon mengeluarkan suara meringkuk seolah ia kesakitan, tapi tubuhku tidak mau berhenti. Ia tetap menggigit kaki serigala Jaxon sementara Jaiden terus berteriak memintaku berhenti.


"Azu, hentikan, kau bisa membunuhnya."


Aku tahu, tapi tubuh serigala ini tak mau berhenti, ia terus membenamkan gigi-gigi runcingnya ke dalam tubuh Jaxon.


"Azu, Hentikan!"


Suara lain berbicara dari jauh membuat tubuhku otomatis berhenti. Aku menoleh dan menemukan Dreas berlari tanpa tudung jubahnya. Dalam waktu bersamaan juga serigala Jaiden melompat ke arahku, menjauhkanku dari Jaxon.


Aku mendengarkan suara Jaiden yang menangis sedih di hadapan serigala Jaxon yang tergeletak.


Apa yang sudah kulakukan? Aku menatap ngeri pada kondisi serigala Jaxon. Terutama ketika napasnya semakin mengecil.

__ADS_1


Tidak! Tidak! Bagaimana bisa aku membunuh kakakku sendiri.


__ADS_2