
Kesenyapan panjang yang menyapa dalam kegelapan menjadi terlalu biasa. Namun rasa sakit yang datang membuat kali ini sedikit lebih menyiksa. Seolah tenagaku telah direbut atau jiwaku sendiri yang dipaksa keluar oleh sesuatu yang tak kupahami.
Aku masih menunggu ke mana ini akan berujung bersama panas menyengat seakan hendak melelehkan seluruh tulang di tubuhku. Apa masih ada yang perlu diberitahukan kepadaku? Aku mulai sinis menanggapi memori atau apapun yang berhubungan dengan masa lalu. Lalu sebuah partikel cahaya muncul di depanku, itu samar dan anehnya hangat.
"Aku minta maaf."
Suara asing lain, jernih, dan lembut, aku mendesah muak. Memang apalagi yang akan datang jika bukan hal semacam itu? Suara benakku mencibir bosan.
"Tidak apa-apa. Ini sudah biasa," balasku, masih dalam posisi yang aku sendiri tidak tahu. Namun sepertinya aku melayang. "Jadi apa kali ini? Cara untuk mengalahkan makhluk itu kah?"
"Sepertinya."
Cahaya itu mulai memadat dalam sosok gadis dengan kecantikan bak putri salju. Rambut panjangnya terurai lembut berwarna putih indah pun matanya. Baiklah, tampak menakutkan, bahkan mayat saja kalah putih dari dirinya.
"Ya, kau harus mengalahkannya. Jadi bangunlah, semua orang membutuhkanmu sekarang."
Gerak bibirnya sangat lemah hingga aku tidak yakin bahwa memang dia yang berbicara. Ekpresinya sendiri tak kalah mencengangkan itu datar seolah otot wajahnya telah mati atau dia hanya sebuah patung yang bersuara.
"Siapa kau?"
"Gadis yang memiliki nasib sama seperti dirimu." Dengan kata lain Soul of moon.
"Jadi ini semacam pelajaran dari senior pada juniornya, begitu?"
"Kau bisa menganggapnya begitu."
"Ini menjengkelkan, kau tahu," akuku jujur." Mengapa aku yang terpilih? Aku tidak ingat punya sesuatu yang istimewa atau apapun."
"Yang istimewa belum tentu terpilih tapi yang terpilih jelas istimewa."
Ia membalikkan kataku dengan spektakuler. Cara bicaranya yang seolah sedang melantunkan bait mantra membuat itu agak menyeramkan.
"Jadi, apa yang harus kulakukan?"
Ayo ke poin utama. Berbasa-basi lebih lama hanya akan membuat suasana jadi semakin aneh. Aku ingin keluar dari situasi ini secepatnya.
"Hanya bertarung," balasnya pendek.
Aku menghela napas lelah, itu aku sudah tahu tapi setidaknya ada sesuatu yang 'waw' sepadan sama semua perjalanan memori atau apalah ini.
"Aku tidak memiliki kemampuan itu, maksudku aku tidak melihat ada kesempatan menang dari kemampuan bertarungku yang payah."
Meski di beberapa kesempatan teman-temanku suka meledek bahwa mungkin aku punya sesuatu yang tersembunyi di dalam diriku. Pertarungan dengan Floren di sesi pertunjukan lapangan waktu itu sala satu bukti nyatanya.
"Tidak, kau punya semua yang dibutuhkan untuk menang. Insting, tubuh, jiwa serigala, saudara, kawanan, juga seorang mate."
__ADS_1
Seolah aku perlu diingatkan dengan Dreas yang lebih mempedulikan Selena itu.
"Mereka akan menuntunmu. Hanya perlu percaya pada kekuatanmu."
"Aku tidak menjamin apapun, jangan terlalu berharap banyak," kataku menegaskan.
"Tidak, aku tahu kau bisa. Sekarang bangunlah." Ia mendekat bak ayunan yang bergerak oleh angin. Telapak tangannya tepat menutupi kedua mataku lalu angin sedingin es berhembus.
Samar sebelum itu semua lenyap aku mendengar suaranya yang memanggilku dengan satu nama.
Zouya?
Aku tersedak napas sendiri, mengerenyit saat menyadari aroma darah memenuhi udara. Suara bising dari lolongan yang tak terhitung jumlahnya melatari itu semua. Ketika mataku akhir terbuka merah mengerikan memancar di sepanjang medan perang. Tubuh-tubuh yang tergeletak, terinjak, tampak di memenuhi seluruh penjuru hutan.
Mengerikan, aku tak tahu betapa buruk sebuah perang, bahkan di dalam mimpi itu samar-samar. Namun ini, perhatianku kemudian teralihkan oleh rintihan sekarat yang berada tak jauh dari altar. Suaranya begitu menyayat hati seolah ia berjuang untuk sesuatu.
Aku mengedip perlahan dan menyadari bahwa itu Dreas. Ia terduduk dengan wajah mengerut kesakitan, giginya sendiri bergemelatuk. Geraman rendah yang lolos dari celah bibirnya, jangan tanya bagaimana penampilannya. Itu mengerikan seolah mencakar diri sendiri.
Pandanganku bergeser pada sosok yang harus kulenyapkan. Ia berdiri mengambang di udara menonton jalannya perang. Mengambil fokusnya yang sedang tidak padaku, aku beringsut mendekati Dreas.
"Dreas!" Panggilku pelan. "Dreas, kau bisa mendengarkan?" Kusentuh wajahnya yang tersiksa. Perlahan kerutan itu memudar pun napas terengah-engahnya. Dreas membuka mata tak lama setelahnya.
"Dreas, ini aku, kau baik-baik saja?"
Tubuku membeku selama beberapa detik, seperti setiap kali mata itu menatapku. Ada yang berbeda dari sorot matanya. Aku tak tau apa itu, tapi dia benar-benar berbeda.
Dahi mulusnya berkerut. Kebingunan nampak jelas di wajahnya, meski tadi sekilas aku menangkap kilatan lain di matanya.
"Kau ..." Aku terdiam sejenak. Kesulitan menemukan apa yang membuat dia tampak lain daripada biasanya malam ini. Dia... "Terlihat lebih hidup."
Dia terperanjat sesaat. Matanya menatapku lekat-lekat. Seakan coba menyelami isi pikiranku melalui tatapan mata. Dipandangi sedalam itu membuatku risih juga.
"Lebih dari sekedar baik." balasnya singkat.
"Itu bagus," gumamku. Sembari menenangkan reaksi aneh tubuku gara-gara tatapan intesnya tadi. "Kita harus menghentikan perang ini."
Aku melarikan padangan secara acak merasa ngilu melihat betapa tak seimbangnya keadaanya. Kawanan sangat terdesak, tapi di antara semua itu sosok empat serigala bermata merah menarik perhatianku. Mereka sangat ganas dalam menyerang kawanan bahkan para Alpha saja kesulitan.
Aku baru saja akan melompat saat Dreas menahan lenganku. "Azu, makhluk itu mengatakan sesuatu soal dirimu. Apakah itu benar?"
"Sepertinya," jawabku sedih. Sungguh aku benar-benar rela jika Selena atau siapapun mau mengambil peran menyebalkan ini. "Kita bicara nanti, kawanan sangat terdesak."
Sesaat aku kebingungan harus melakukan apa, lalu perkataan gadis putih itu menyentakku. Seolah ia berbicara dari dalam diriku.
Baiklah, biarkan tubuhku menuntunnya. Aku melompat bertransformasi ke dalam wujud serigala dan bergabung ke dalam pertempuran.
__ADS_1
Target pertamaku adalah ROUGE kegelapan yang sedang mengigit Ralyne.
'Ralyne!'
Aku menerkamnya bagian leher dalam satu serangan membuatnya lebur dalam cairan gelap.
'Azu, apakah itu dirimu?'
Ralyne yang berlainan pack denganku entah bagaimana bisa berkomunikasi pikiran denganku. Itu agak mengherankan tapi aku harus mengesampingkannya dulu.
'Ya, kau berhutang satu gigitan padaku.'
Serigala Ralyne mendengus membalas dengan ejekan. 'kau cocok dengan warna itu.'
Dia tau persis bagaimana membalas.
'Diam, fokus pada musuhmu.'
Aku memperingatkannya lalu berhadapan dengan sala satu serigala bermata merah, melompat menggigit kakinya. Ia oleng, dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengoyak lebih parah. Tak hanya di kaki, aku melarikan gigitan di bagian manapun tubuhnya yang terjangkau taringku.
Tidak seperti ROUGE kegelapan lainnya yang seperti bayangan, yang ini nyata. Aku bisa merasakan bulu dan daging di moncongku, bahkan darah lengketnya. Ia tidak sekuat yang kuperkirakan.
Ia jatuh ke rerumputan dengan suara dengkingan kecil, meringkuk berusaha menjauh. Kakinya patah, jelas, aku sekuat tenaga tadi mengigitnya. Aku menggeram padanya, menakutinya, lalu hendak menerkam lagi sebelum Dreas berteriak dalam pikiranku.
'Azu, jangan itu Landon.'
'Apa?' tanyaku tak yakin, menatap pada serigala besar yang sekarat ini. 'Bagaimana bisa?'
'Nanti kujelaskan. Hentikan yang lain juga, aku akan membantu.'
Aku menatap tiga lainnya, jadi mereka para GUARDIAN. Ini adalah pertama kali aku melihat wujud serigala mereka. Saat menatap mereka kurasakan sosok lain mendekat, warnanya juga hitam nyaris tak ada beda dengan ROUGE kegelapan. Namun matanya bersinar hidup.
'Dreas? Begitukah wujud serigalanya?'
'Fokus, Azu. Kita harus membantu kawanan.'
Dia memarahiku.
Aku ingat terakhir kali cara mengalahkan ROUGE kegelapan dengan lolongan. Mungkin cara itu akan berhasil.
'Aku tahu caranya.' kataku sedikit bangga.
Aku nyaris memekik kaget mendengar lolonganku sendiri. Itu benar-benar nyaring dan meleburkan beberapa ROUGE kegelapan yang dekat dengan tubuhku. Aku tersenyum puas melihat hasil karyaku barusan.
Sesaat medan perang itu mendadak senyap, beberapa ROUGE kegelapan mundur. Itu bagus, tapi sebagai gantinya makhluk itu mengalihkan fokus padaku.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu, soul of moon." Sapanya dengan suara berdesis. "Aku sudah lama menantimu."
TBC.