The Guardian

The Guardian
Aiolos


__ADS_3

Aiolos tersenyum cerah. Senyum yang akan membuat siapapun yang menyaksikannya akan merasa berbunga-bunga. Aiolos adalah tipe pemuda dengan wajah seperti bunga yang sedang mekar, ia indah, hangat dan akan membuat apapun di sekitarnya menjadi ceria. Jauh berbanding terbalik dengan Jaxon yang dingin seperti gunung es raksasa dan sulit di daki. Jenis makhluk yang akan membuat orang mundur, enggan berlama-lama di dekatnya.


Jaxon berpamitan setelah menyerahkan jubah birunya padaku. Aku menatapnya di ambang pintu sampai menghilang di rimbunya pepohonan.


“Jadi, bagaimana ceritanya hingga kau bisa sampai ke sini?” Aiolos bersandar di jendela saat bertanya. Sama seperti sebelumnya siluet tubuh tanpa bajunya membawa hasrat terdalam para perempuan yang tak seharusnya bangun. Aku buru-buru memalingkan pandangan, menunggu sampai duduk di sala satu kursi baru menjawabnya.


“Aku sedang bermain di pantai dan terseret gelombang,” kataku ringan, memotong bagian terpentingnya.


“Wow, sungguh keajaiban kau masih selamat.”


“Begitulah,” kataku mencuri pandang. Mungkin seperti inilah apa itu yang disebut keindahan datang setelah badai. Hariku mungkin penuh dengan semua hal sial, tapi hadiah setelah semua itu juga sangat memuaskan. Maksudku, kalau ombak tidak menyeretku, pasti aku tak akan pernah tahu ada shifter indah seperti sosok di depanku ini.


“Omong-omong, apa yang terjadi? Aku melihat terlalu banyak WARRIOR yang berjaga akhir-akhir ini.”


Keberadaan anggota pasukan pagar penahan perbatasan itu nyaris kulihat di semua tempat beberapa hari ini. Mereka berkeliaran di wilayah penduduk yang relative aman. Perilaku semacam itu, rasanya agak janggal mengingat mereka seharusnya berkonsentrasi di perbatasan.


“Yah, ada banyak serangan yang datang, dan baru-baru ini beberapa ROUGE berhasil menerobos masuk. Alpha tidak bisa membuat kepanikan dengan mengatakan yang sebenarnya pada anggota pack. Jadi sebagai gantinya ia menambah wilayah patroli demi menjaga keamanan.”


Apakah itu berarti presentasi kematian semakin besar? Aku harus mengingatkan Jaiden dan Alison soal masalah ini.


“Apakah mereka memang semenakutkan itu?”


Semua orang di Pack terus saja membicarakan sosok itu, mengerikan, ganas, berbahaya, dan banyak hal lain yang intinya meminta kami, khususnya anak-anak untuk tidak terlibat langsung dengannya.


“ROUGE biasa tidak, tapi yang menyerang kemarin malam berbeda. Mereka tampaknya jenis baru, lebih berbahaya.” Wajah Aiolos mendadak suram ketika bercerita.


“Oh, aku turut berduka. Itu buruk untuk kalian.” Sekarang aku semakin merasa bersyukur tidak diberkahi kemampuan yang mumpuni untuk menjadi seorang WARRIOR.


Ia tertawa kecil. “Tidak seburuk itu, bahaya memang selalu mengintai di mana saja, tapi kami shifter terpilih tidak semudah itu untuk dibunuh.”


“Yah, tapi posisi kalian selangkah lebih mendekati ketimbang kami,” kataku enggan mengalah lantas mengubah topic. “Bagaimana Jax? Kau baik-baik saja dengannya? Pasti sangat membosankan berpartner dengannya.”


Tadinya kupikir akan mendengar kata-kata : yah, benar sekali, dan sebagainya, tapi ternyata salah.


“Kau pasti tidak percaya, tapi semua orang ingin berada dalam tim yang sama dengan kakakmu. Ia cerdas, tangkas, dan sangat berani. Sala satu yang paling unggul di pasukan.” Suara Aiolos sarat akan kekaguman saat mengatakannya.


“Benarkah?” Jadi dia cerdas? Aku mengorek memori lebih dalam guna menemukan informasi. Oh, yah, dia cerdas dalam mengintimidasiku. Dia tangkas? Betul sekali dia tangkas mencari kelemahanku dan menggunakannya untuk memojokkanku. Dia berani? Yang ini jelas, dia berani, sangat kalau menindasku.


“Lihat, kau tidak menemukan satupun kelemahan dalam dirinya bukan?” tebak Aiolos tepat sasaran


“Yah, tapi dia … dingin –seketika pelukkan hangatnya terbayang di benakku-tidak punya simpati – perkataan kekhawatirannya beberpa saat lalu melintas- dia begitulah.”


“Kenapa kau begitu membenci Jaxon?”


“Apa?” aku tergagap tidak siap dengan pertanyaan tiba-tiba itu.”tentu saja tidak, bagaimana kau berpikir jika aku membncinya. Aku hanya … merasa kerdil saat melihat dia yang luar biasa. Agak tidak adil.”


Apa yang kukatakan? Sejak kapan aku peduli dengan hal semacam itu? Aku ingin sekali memukul kepala sendiri atas pikiran bodph itu.


“Kau pasti tidak melihat diri sendiri.” Aiolos menatapku dalam. “sering-seringlah bercermin, kau akan memahami maksudku.”


“Aku sering melakukannya,” balasku cepat. Bahkan tanpa benda bening itu aku bisa melihat diri sendiri di wajah kembaranku. Wajah kami identik hanya jenis rambut yang membedakan. Milik Alison lurus sebahu sementara aku bergelombang sampai kepinggang.


Aiolos tertawa lepas sampai bahunya bergetar. “kau pasti salah menangkap maksduku.”

__ADS_1


Aku cemberut melihat reaksinya. Kupikir tidak ada yang lucu. “Jadi apakah menjadi seorang WARRIOR itu menyenangkan?”


“Tentu saja.”


Setelahnya, aku mendengar banyak hal dari Aiolos mengenai para WARRIOR, ia menceritakan pengalamannya secara suka rela dan baru berhenti ketika Jaxon kembali.


“Penjaga berikutnya akan segera tiba, jadi kurasa kita bisa pergi sekarang.” Jaxon menatapku, mengisaratkan untuk keluar dari pondok.


Aku mengikutinya ogah-ogahan setengah cemberut karena dia datang dan memotong bagian serunya. Dasar tidak peka.


“Aku akan main ke rumahmu kapan-kapan.”


Aku menatap Aiolos yang sedang coba menghiburku itu, sedikit rasa tak rela hinggap begitu menyadari kami akan berpisah. Kapan lagi aku bisa bertemu pria indah baik hati sepertinya. Pasti menyenangkan memiliki saudara seperti dia, tidak seperti ... Aku berjengit kaget, mundur selangkah saat menatap serigala abu-abu besar di depanku. Itu Jaxon dalam wujud lainnya, ia menatapku dengan mata besar jernihnya, menggeram kecil.


Naiklah, mungkin begitulah kira-kira maksudnya, tapi aku malas menurutinya dan hanya diam membuang pandangan. Melihat reaksiku yang menolak terang-terangan, serigala Jaxon menggeram lebih keras, menyenggol bahuku dengan moncongnnya.


“Aku tidak mau,” kataku kukuh dengan pendirian. Jaxon tidak tahu aku punya pengalaman buruk dengan lompat di atas punggung serigala. Terimah kasih pada saudaraku tersayang Jaiden-shifter inseminasi, yang sudah memberiku trauma mengerikan itu.


“Jax, bilang akan lebih cepat sampai dengan wujud ini.” Aiolos dengan baik hati menterjemahkan geraman Jaxon.


Hanya shifter yang sudah mendapatkan wujud serigala yang mampu berkomunikasi melalui pikiran. Berhubung aku belum melakukan shift jadi praktisnya aku tidak mengerti perkataan Jaxon, di telingaku suaranya hanya berupa geraman hewan biasa.


“Itu tidak akan merubah pikiranku, aku lebih memilih berjalan kaki.” Aku tidak mau lagi merasakan sensasi melayang yang berujung mendarat di bebatuan tumpul.


Melihat tingkahku yang keras kepala, serigala Jaxon mendengus keras, memutar haluan dan mendorong tubuhku hingga terjatuh dengan kepalanya. Moncongnya berada tepat di wajahku membuatku bisa merasakan hembusan napas hangatnya.


“Jaxon, itu berlebihan kurasa.” Tadinya kupikir Aiolos tengah menerjemahkan lagi, tapi rupanya ia sedang menjawab omongan Jaxon. “ Azu, Jax bilang akan menggigit tengkukmu dan menyeretnya kalau kau masih bertingkah.”


Aku memelototi serigala di depanku, mencari-cari sesuatu yang bisa kugunakan untuk memukul kepalanya. Biarkan saja ia gegar otak. Bisa-bisanya ide mengerikan itu terpikir olehnya.


“Aku punya kenangan tidak menyenangkan soal menunggangi punggung serigala,” kataku. ” dan aku masih belum bisa melupakannya.”


Itu terjadi beberapa tahun lalu ketika Jaiden pertama kali mendapatkan wujud serigalanya. Ia sangat antusias dan sebagai perayaan ia mengajakku berlari. Namun rupanya ia belum begitu terbiasa dan menjatuhkanku begitu saja, kakiku terkilir dengan satu benjolan besar di dahi sebagai hasilnya. Setelah itu aku bersumpah untuk tidak akan pernah mau lagi menunggangi serigala.


Setelah saling melotot selama bermenit-menit. Jaxon akhirnya mengalah, ia menggeram keras, bertransformasi kembali dalam wujud manusianya.


“Terima kasih,” kataku melihat ia menyodorkan punggung manusianya. “Sampai ketemu lagi, Aiolos.”




Hari nyaris gelap ketika kami sampai di rumah. Di halaman kulihat Dad sedang mondar-mandir dengan raut wajah muram. Keningnya berkerut dalam dan tampak tidak focus, ia bahkan tidak menyadari keberadaan kami sama sekali.



Dari dalam rumah samar kudengar suara isakan tangisan, yang mana tampaknya itu Mom. Menyadari akulah sumber itu semua, kuputuskan untuk pura-pura tidur dan menyerahkan penjelasan pada Jaxon sepenuhnya. Aku sedang tidak mood berurusan dengan histeris Mom.



“Dad!” Panggil Jaxon pelan.


__ADS_1


“Jax … Astaga, Azu. Apa yang terjadi?” Suara Dad dipenuhi keterkejutan dan kelegaan.



“Kita bicarakan di dalam.” Jaxon menyahut pendek.



Aku tidak perlu membuka mata untuk tahu, bagaimana reaksi heboh anggota keluargaku. Mom histeris besar, menanyai Jaxon dan memeluk tubuhku.



“Jax, bagaimana kalian bisa bersama?” Itu Jaiden yang bertanya, tapi ia tidak histeris seperti Mom. Suara Alison yang belum terdengar.



Tak lama setelahnya. Kurasakan tubuhku berpindah ke tempat lembut, kasur kurasa. Setelahnya suara Mom yang menanyai Jaxon secara beruntun yang menghiasi.



“Biarkan dia istirahat, aku akan menjelaskan semuanya. Tidak perlu panik Mom, Azu hanya tidur.”



Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kudengar keluar dari mulut Jaxon sepanjang hidupku. Lucu sebenarnya, di mana nadanya sangat datar meski tengah mencoba menenangkan seseorang. Pintu tertutup semenit setelahnya dan keheningan yang tersisah. Kupikir semua orang ikut keluar tapi ternyata tidak, Alison tetap bersamaku.



“Tidak perlu berpura-pura lagi.” Aku membuka mata cepat begitu mendengar kata-kata Alison.



“Kau tahu?” Tanyaku takjub.



“Kau bertanya pada siapa?” Alison mencibirku.



Yah, yah, seharusnya aku tidak lupa kami sudah bersama-sama sejak dalam kandungan. Jelas ia mengenalku dengan sangat baik.



“Baiklah, aku perlu mengganti baju dan tidur, simpan semua yang ada di otakmu untuk besok, oke.” Aku bangkit cepat melempar sembarangan jubah Jaxon, dan mengambil baju secara acak. “selamat tidur Alison.”



Berhubung besok aku harus menghadapi kemarahan Mom, jadi kuputuskan untuk menikmati malam damai ini cepat.



TBC.

__ADS_1


__ADS_2