The Guardian

The Guardian
Purnama kedua


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang sudah kami rencanakan. Aku mendekatinya, mengambil resiko menjadikan diriku sebagai umpan. Tujuannya ialah mengalihkan fokus bibi, agar Brian dan Jaiden bisa menyelamatkan Alison diam-diam.


"Kau terlambat darling, waktu ritualnya hampir habis."


Bibi Arella perlahan menoleh, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas memformasikan senyum lebar. Matanya berkilat terang. Seakan sebuah pedang tajam yang baru saja di asah.


"Tapi jangan khawatir kita bisa memulainya sekarang." Ia menambahkan.


Masih sulit bagiku untuk percaya bahwa makhluk ini adalah gadis tanpa wajah itu. Padahal dahulu ia sangat baik dan penuh semangat. Apa yang mengubahnya menjadi seburuk ini? Aku membuang pikiran tak penting itu mengepalkan tangan.


Melihat Alison yang terikat di tiang, serta darah yang mengucur deras dari beberapa sayatan panjang di tubuhnya yang terbuka. Hampir saja aku mengamuk murka. Pertama bibiku, lalu Jaxon, dan sekarang Alison, berapa banyak lagi makhluk ini berniat melukai keluargaku. Benar-benar tak bisa di maafkan.


"Aku tidak mengerti. Bibi bicara soal apa?"


Time to acting.


"Ow! Aku tersanjung kau masih memanggilku dengan sebutan terhormat itu," ia tergelak. Kulit putih mendekati pucatnya memberi effect horror saat dipadukan dengan gaun hitam panjang berdada rendah itu.


"Bukankah memang seharusnya begitu?" Tanyaku pura-pura polos.


"Ah! Benar." Ia mengangguk anggun. Rambut panjang licinnya bergoyang lembut.


"Apa itu Alison?"


Aku berpura-pura terkejut akan keberadaan Alison. "Sedang apa dia?"


Mengacuhkan tatapan tajam yang ditujukan padaku. Aku memberanikan diri, bergerak maju, mempertipis jarak dengan Alison.


"Kau masih belum mengingatnya atau ... Berpura-pura tidak mengingatnya?"


Bibi Arella mencengkram pergelangan tanganku, menekuknya erat seperti hendak ingin mematahkannya.


Aku mendesah lemah, "Ketauan yah."


Aku memiringkan kepala, menatap lurus kedepan, melewati sisi samping tubuhnya. Di seberang sana, Brian dan Jaiden sudah berada tepat di belakang Alison. Tinggal sedikit lagi, aku harus bisa terus menyibukkan fokusnya.


"Aku sudah mengamatimu sejak lama. Kau pikir bisa mengelabuhiku dengan mudah? Naif sekali."


Aku mendengus, mengacuhkan kata menusuk itu. "Paling tidak aku bukan pengecut yang bisanya hanya bersembunyi di tubuh orang lain."


Situasi sekarang, sudah terlalu jauh melenceng dari perkiraan. Kalau tidak pintar-pintar mengendalikan diri, kami bisa di bantai bahkan sebelum misi penyelamatan selesai.


"Berani seperti biasanya." Ia memuji dengan nada sarkasme. "Well! Mari kita lihat, apa kau masih setangguh dulu.


Raut wajah santainya lenyap, yang ada sekarang hanya ekpresi kosong, seolah tidak ada kehidupan di sana. Benar-benar makhluk dari tanah kegelapan. Pikiranku masih memutar memori yang kulihat di dalam mimpi saat tiba-tiba sebuah lolongan kesedihan terdengar. Memiringkan kepala aku mendapati Brian dengan wujud serigalanya.


Alison? Mungkinkah?


"Sayang sekali, seharusnya aku membunuhnya delapan tahun lalu."


Tanpa memikirkan apapun lagi. Aku menerjang maju, menghantam sosok tubuh yang secara fisik kukenali sebagai bibiku itu dengan tubuhku. Bunyi benturan keras memecah kesunyian seketika. Tubuhku berguling, bersama bibi Arella.

__ADS_1


"Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan apa kembaranku."


"Salahnya sendiri mengapa harus membuatku kerepotan dengan wajahnya yang sama persis denganmu itu."


Sialan! Jadi itu alasan mengapa ia harus menahan Alison juga. Ia tidak bisa membedakan kami secara fisik.


"Makhluk jahanam. Mati kau!" Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku melayangkan cakaran. Sayangnya refleks makhluk itu memang patut di acungi jempol. Ia bisa menghindar mudah, semudah ia melempar tubuhku balik.


Tubuhku membentur altar batu. Dalam sekejap tubuhku disergap oleh rasa nyeri, terutama bagian punggung.


Aku terbatuk-batuk, sambil memegangi pinggangku. Dalam posisi setengah duduk, kubuka sebelah mata, melihat makhluk itu.


"Azu!"


Masih kudengar teriakan panik Jaiden di kejauhan. Sayangnya aku tak bisa fokus, mataku berkunang-kunang antara nyata dan semu.


Sial! Makhluk ini!


"Kau ..."


Aku melotot nyalang. Tidak menemukan kata paling kasar untuk mengumpatinya. Sebagai alternatif, aku kembali melemparkan tubuhku. Namun lagi-lagi ia menghindar.


Tenang Azu ucapku pada diri sendiri. Aku menarik napas berlebih, sembari mengingat-ingat pelajaran bertarung yang sempat diajarkan Dreas.


Di kejauhan, kulihat Jaiden sudah berhasil membawa Alison ke tempat aman diikuti serigala Brian. Itu sedikit memberi kelegaan padaku. Berhubung Alison sudah aman, aku jadi tidak perlu menahan diri lagi.


"Percuma!" Bibi Arella menyeringai remeh. Ia mengikuti arah pandangku. "Dia tak akan bisa di selamatkan lagi."


diselah-selah usaha menghimpun energi. Aku perlu rencana yang matang untuk mengalahkannya.


"Ayolah Azu darling!" ia memasang ekpresi kecewa. "Mengapa tidak menyerahkan diri saja? Dengan begitu keluargamu tidak perlu terluka lagi."


Dahiku berkerut. "Kenapa kau begitu menginginkan diriku?"


Ia berdecak sembari menggelengkan kepala kecil. Persis tingkah mom saat memarahiku waktu aku bertengkar dengan Ralyne gara-gara menyembunyikan bonekanya.


"Perhatikan sekelilingmu."


Aku mendengus namun tetap menuruti arahannya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hutan gelap. Kurasa itu hal normal mengingat sekarang malam hari kecuali ... mataku melebar terkejut.


"Sudah menemukan?" Ia menyeringai.


Yah, kecuali batu altar tempat ritual. Kalau begitu, si anak bulan itu.


"Tidak mungkin!" Aku menggelengkan kepala.


"Sayangnya itu kenyataan Azu darling." Ia menatapku datar. "Kau tau makna blue moon yang sebenarnya?"


"Sudah jelas bukan. Shifter yang lahir pada purnama biru." Itu yang dikatakan orang-orang di pack waktu itu.


"Awalnya aku juga berpikir begitu. Sayangnya itu sebuah kekeliruan."

__ADS_1


Ia menengadahkan kepala, menatap kearah purnama yang tertutupi awan.


"Blue moon bisa juga di artikan sebagai purnama kedua dalan satu bulan. Yah, seperti saat ini." perlahan sinar biru menyiraminya saat awan mulai bergerak.


"Kita umpamakan saja, bulan itu adalah seorang anak shifter. Normalnya shifter hanya melahirkan satu anak saja. Entah laki-laki ataupun perempuan. Tapi seperti blue moon yang memiliki dua kali purnama dalam bulan yang sama. Maka shifterpun bisa melahirkan dua orang anak dalam satu waktu. Dua berarti ..."


Pikiranku kembali mengingat lembaran bertuliskan huruf kuno yang kutemukan di kamar bibi malam itu. Purnama kedua dari satu kehidupan, sang Dewi.


Anak kembar.


"Kau pikir aku akan percaya?" Aku tertawa kecil. "Itu sangat tidak masuk akal."


Aku tau penyangkalanku ini sangat konyol, tapi itu terasa lebih mudah diterima. Aku si anak bulan? Aku menggeleng kecil, menepis kuat-kuat pemikiran itu.


"Coba pikirkan. Di antara ratusan shifter di muka bumi ini. Kenapa yang terpilih adalah tubuh ini? " Makhluk dalam tubuh bibiku itu berbicara lagi, melempar bukti-bukti lain, demi memperkuat statmennya. "Itu agar aku bisa dengan mudah mengawasimu, juga untuk mengelabuhi para GUARDIAN bodoh itu."


Dan dia berhasil.


Fokus semua orang sekarang adalah Selena. Siapa yang akan peduli kalau kami terlibat pertempuran, apalagi dengan seseorang yang secara kasat mata adalah bibi kami sendiri. Orang akan mengira itu hanya pertengkaran keluarga biasa.


Sempurna! Semuanya berjalan sesuai rencana makhluk terkutuk ini.


"Apa tujuan dari ini semua?"


Alis lebatnya bertaut, sementara bibirnya mengerucut. Ia seperti bocah umur lima tahun yang di beri pertanyaan sulit. "Mengambil peninggalan berharga saudaraku yang tersimpan dalam tubuhmu. Sekaligus membalas dendam pada ROUGE kegelapan sialan itu."


"Apa maksudmu? Bukankah mereka ciptaanmu?"


"Bukan yang itu darling, tapi ROUGE kegelapan yang sebenarnya."


"ROUGE kegelapan yang sebenarnya?"


"Yah, ROUGE kegelapan yang sebenarnya" Ia tersenyum guyon. Matanya berkilat jenaka. "Mereka yang kalian puja sebagai Para GUARDIAN."


Tawa nyaring mengakhiri kata-katanya.


Aku menipiskan bibir, menatap kosong kedepan. Kenyataan ini bukan hal yang mengejutkan bagiku. Sebelum inipun aku sudah pernah berpikiran kesana. Hanya saja tidak sampai segila ini.


"Hentikan omong kosongmu!" Bentakku, enggan menerima." Kau pikir dengan menjelekkan mereka, itu akan mengubah persepsiku soal dirimu?"


"Aku tidak peduli, karena tujuanku akan tercapai sebentar lagi."


"Jangan dengarkan dia Azu!" Brian menyergap secara tiba-tiba dari belakang. Walau berhasil menghindar. Tapi ujung gaun bagian lengannya robek terkena cakaran Brian.


"Dia hanya makhluk menjijikan yang menyedihkan." Brian berdiri di sebelahku. Ekpresinya dingin, tapi dari sudut mata kulihat kobaran kemarahan dalam matanya.


"Kalian lebih menyedihkan dariku," ia mendesis. Binar jenaka yang tadi menghiasi parasnya sekarang lenyap sepenuhnya.


"Kemarilah Azu darling kau harus memenuhi tugasmu sebagai soul of moon."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2