The Guardian

The Guardian
Identitas asli


__ADS_3

Aku menyaksikan pertarungan tatapan sengit keduanya. Masih berpikir mengapa ada sesuatu yang terasa ganjal. Namun apa itu?


"Kalian teruskan saja tatapan cintanya. Aku mau pulang."


Pergelangan kakiku berdenyut saat ototnya bergerak. Aku mengigit bibir agar tak ada yang menyadarinya.


"Aku akan mengantarmu, situasinya masih berbahaya."


Aku akan pergi dengan bahagia, tapi Dreas menggapai lenganku cepat memaksa mengarahkan pandangan lelah padanya. Apa lagi sekarang? Ingin mengintimidasi terang-terangan?


"Aku bisa sendiri, dan aku tidak mau menjelaskan siapa dirimu pada keluargaku."


Atau lebih tepatnya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya nanti. Kami bahkan tidak berkenalan secara resmi.


"Kalau begitu mari berkenalan. Dia Dreas dan aku Kaden."


Warrior satunya menjawab satu paket dengan senyum ramah yang anehnya malah membuat jengkel. Sarafku pasti ada yang putus tadi makannya melihat segala sesuatunya secara terbalik.


"Aku penasaran," kataku memulai, menyusun kosakata paling sederhana. "Apakah kalian benar-benar seorang WARRIOR? Aku ingat satu di antara anggota GUARDIAN memiliki kebiasaan sama sepertimu, menjawab isi pikiran orang."


Aku memicingkan mata. Kecurigaan itu sudah sejak tadi mendiami pikiranku. Terlalu kebetulan jika dua orang berbeda entah bagaimana bisa melakukan hal sama persis dalam waktu berbeda. Jika mereka bukan merupakan orang yang sama maka setidaknya satu spesies. Nah, itu malah jadi lebih mencurigakan lagi.


Warrior seharusnya hanya di isi oleh para anggota kawanan di dalam pack dan para GUARDIAN jelas-jelas pendatang dari antah berantah. Kebohongan mereka jauh lebih besar dari seharusnya kalau begitu.


Selama sepersekian detik kudapati ekspresi tegang menghiasi wajah keduanya. Aku menunggu dengan sabar sampai keduanya mengonfirmasi walau pikiranku sudah menemukan kesimpulan sendiri. Reaksi mereka sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan.


"Apakah dia benar-benar meminum ramuan itu?"


Dreas bertanya pada temannya yang sekarang terkena pembekuan saraf. Ekspresinya agak panik yang mana sangat menghibur bagiku.


"Tentu saja, aku sudah memastikan sendiri. Aku yang memberikan itu padanya."


Kaden membalas datar kentara tak terima dengan padangan tuduhan yang diarahkan Dreas. Bagus mereka saling menyudutkan sekarang. Aku menikmati perdebatan keduanya dalam diam menunggu siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


Perkiraan dari penilaian sekilas merujuk pada Kaden. Ia memiliki aura ketenangan aneh yang jika dihadapkan pada orang bersumbu pendek seperti Dreas akan jelas-jelas mendominasi.


"Lalu bagaimana bisa dia masih ingat?"


Bagaimana? Aku melemparkan pandangan pada Dreas. Apa maksudnya mempertanyakan hal itu? Tentu saja aku mengingatnya. Bagaimana bisa ia berpikir aku akan melupakan sala satu moment paling mendebarkan itu.


"Kenapa kau tidak tanyakan sendiri pada orangnya?" Kaden balas tak kalah menyengat.


"Kau sudah gila? Rahasia kita bisa terbongkar."


Dreas marah hingga otot-otot lehernya bertonjolan. Matanya membeliak dalam balutan sorot gelisah yang ganjil. Apa yang mereka takutkan?

__ADS_1


"Jika dia masih mengingatnya, maka itu tinggal menunggu waktu sampai semua terbongkar. Kaden mendengus mencemooh ketakutan Dreas.


"Oh, kalau begitu, berikan keputusan paling bijak, tuan pintar."


Serangan bagus Dreas. Kaden mengerenyit tak berkutik, kata dan nada dalam suara Dreas jelas menyinggungnya.


"Satu-satunya pilihan adalah memastikan sendiri, tapi ada resiko dibalik itu semua yang aku menolak bertanggung jawab."


Dreas menatap ganas seolah mencincangnya tapi tak mengatakan apa-apa.


Aku masih diam bersemangat pada pemikiran akan perdebatan lanjutan. Namun setelah beberapa menit keduanya masih diam dalam kekosongan. Dreas agaknya tidak yakin pada keputusannya sendiri.


"Aku akan memikirkan cara untuk mengatasi masalah itu." Dreas melemaskan otot bahunya, kalah. Ia melirikku dengan sorot khawatir.


"Jangan khawatir aku bisa menjaga mulut."


Keduanya berbalik dalam waktu bersamaan pun memasang ekpresi serupa. Raut wajah terkejut seolah aku baru saja menangkap basah mereka melakukan sesuatu yang tabu.


"Kau bisa mendengar apa yang kami katakan?"


Heh! Apa-apaan pertanyaan bodoh itu. Aku melipat lengan tersinggung dengan kata-katanya.


"Kalian meneriakkan setiap katanya dengan jelas. Bagaimana mungkin aku tidak mendengar. Telingaku masih berfungsi dengan baik."


Terlebih kalian membicarakannya tepat di bawah mataku. Bagaimana bisa itu menjadi rahasia. Aku mendesah lelah menghadapi tingkah aneh mereka yang semakin tak terkendali.


Aku menunggu tanggapan keduanya tak sabaran. Bertanya-tanya bagaimana situasi terjebak semacam ini terus mendatangiku.


"Apa maksudmu?"


Aku terkekeh kecil memandang keduanya bergantian. Masih berniat berpura-pura bodoh.


"Kalian orang yang sama kan? Yang menyerangku pagi itu, yang meningtrogasiku di penjara labirin."


Aku tidak terlalu pandai dalam kegiatan fisik. Lemah dalam pengendalian emosi dan ceroboh dalam berbagai kesempatan. Namun mengingat orang-orang yang pernah kutemui masalah berbeda terutama jika itu bersangkutan dengan hal tidak menyenangkan.


Aku selalu mencatat siapa saja yang sudah meninggalkan moment buruk dalam hidupku. Berjanji suatu hari akan mengembalikan hal yang sama pada orangnya. Alison bilang itu bahasa lain dari pendendam tapi aku menolak sebutan itu. Aku hanya memperjuangkan keadilan meski caranya agak ekstrim. Jika semua dugaanku benar, maka semuanya masuk akal.


"Aku tidak mengenalmu, tapi aku selalu mengingat suaramu Dreas. Sedetikpun aku tak pernah lupa."


Itu agak memalukan untuk diakui. Namun terasa lega saat sudah mengatakannya. Rasanya seolah semua beban perasaan yang selama ini tertahan mengalir keluar. Bagaimana aku bisa lupa jika suara itu terus menghantui malam-malamku.


"Dan, sejujurnya karena itupulah pagi itu aku mendekatimu. Aku ingin mengonfirmasi sesuatu tapi ..."


Tak perlu kutambahkan bagaimana kelanjutannya karena itu bukan sesuatu yang bagus untuk diingat.

__ADS_1


.


"Wah, itu pengakuan menakjubkan. Pagi itu bukan pertemuan pertama kalian, kan?"


Kaden tampaknya mendapatkan kembali kendali atas dirinya. Kemampuan mencuri kesempatan dalam memojokkan orang lain dan menggunakannya di saat yang tepat. Aku perlu mewaspadai pokok satu itu.


"Yah, kami bertemu di penjara labirin." Aku gagal membuang jauh kemarahan yang tertinggal. "Itu sebabnya aku berpikir dia ROUGE pagi itu. Kami melihatmu dalam Cell tahanan."


Mata gelap Dreas mengarah padaku dalam intensitas mengintimidasi. "Kau ada di penjara labirin?"


"Yah, tuan GUARDIAN, aku satu dari dua puluh anak yang kalian jadikan bahan permainan. Aku cukup beruntung masih bisa mempertahankan kewarasan saat keluar dari sana."


Kaden mengerenyit, mata emasnya menelitiku dengan tajam. "Kalian melanggar aturan? Ruangan Dreas seharusnya tidak bisa dimasuki oleh siapapun."


"Labirinnya tidak semenakutkan yang kuduga. Satu-satunya hal mengerikan di sana adalah fakta mengenai ada Shifter dewasa kurang kerjaan yang mengisengi anak-anak."


Kaden menyeringai lebar dan sialan dia menawan dalam tampilan begitu.


"Labirinnya sudah terlalu lama hening. Kami hanya sedikit membuatnya bersuara."


Heh! Apa katanya barusan?


Aku tak tahan pada pemikiran mengerikan itu dan marah sejadi-jadinya. Melemparnya dengan sepatuku yang tadi terlepas saat berlari dari kejaran hantu serigala secara refleks. Kaden menghindar tepat waktu dengan cara menganggumkan.


"Aku nyaris sudah tinggal tulang gara-gara itu," kataku mendelik ganas.


Sinar matahari yang mulai pergi meninggalkan jejak bayangan pada pepohonan. Tampaknya aku sudah terlalu lama meladeni mereka dan jika kuteruskan entah kapan pembicaraan ini akan berkahir.


Aku hendak memungut sepatu yang tadi kulempar dan memutuskan pulang. Namun Kaden menendangnya jauh.


Aku mengerenyit terlalu malas memberikan pandangan marah yang sia-sia. Mereka tidak terpengaruh sama sekali.


"Situasi sudah berubah. Kau tidak akan bisa kembali ke rumahmu sampai kami memastikan bahwa mulutmu terkunci rapat."


"Aku sudah berjanji."


Kaden secara sengaja mengabaikanku melempar pandangan pada Dreas dan mengangguk. Tak lama setelahnya kurasakan tubuhku melayang.


"Hei, apa ..."


"Diamlah!"


"Tidak, kalian mau membawaku ke mana?" Aku mengeliat berusaha lepas dari lingkungan Dreas.


"Kau ingin penjelasan bukan? Kalau begitu jangan membuat gerakan tak perlu."

__ADS_1


Keduanya kompak mengabaikan diriku berjalan menembus kegelapan hutan.


TBC.


__ADS_2