The Guardian

The Guardian
Blue moon


__ADS_3

Aku menggigit bibir memelankan langkah. Mataku menatap lurus pada Dreas yang berdiri di depan. Wajahnya tersembunyi di balik tudung jubah tapi entah bagaimana aku tau ia sedang memandang kemari, atau ke orang di sebelahku.


"Jaiden, kenapa kau tidak membantu yang lain saja? Kurasa masih banyak anak-anak yang berada di hutan."


Aku belum siap untuk mempertemukan mereka sebagaimana mestinya. Biar bagaimanapun Dreas masih harus menyembunyikan identitasnya.


"Kau mengusirku setelah bantuan yang kuberikan? Sungguh? Sangat tahu diri."


Jaiden mendorong kepalaku kasar membuatku secara suka rela memelototinya. Sumpah demi apa ya, Jaiden sungguh tak bisa membaca situasi. Tak tahukah dia aku sedang menyelamatkannya dari kemarahan Dreas.


"Aku sudah membayar di muka dengan ini," kataku menunjukkan luka di bahu yang mulai menutup. "Sana, kerjakan tugas WARRIOR mu dengan baik."


Jaiden balas melotot menyumpah kecil, bahkan berjanji akan menuntut balas atas pengusiran ini padaku suatu hari nanti, barulah ia pergi. Kekanakan sekali, pantas saja ia dan Alison selalu bertengkar.


Meninggalkan Jaiden yang berjalan ke arah sebaliknya, aku mendekati Dreas yang sengaja menungguku di balik pohon. Aku berdiri di hadapannya dan menyapanya duluan.


"Hai, kau menungguku?"


Suaraku tak mau bekerja sama, padahal aku sudah mengatur diri tapi tetap saja ia terdengar gugup.


"WARRIOR itu siapa?"


Sudah kuduga ia akan bertanya begitu.


"Shifter inseminasi, Jaiden, saudara kecilku."


Tidak ada gunanya menutupi dari Dreas. Ia pasti akan mencari tahu segera.


"Kau ingin berkenalan?" Tanyaku sedikit menggodanya.


"Ya," balasannya pendek. "Tapi tidak sekarang."


Dreas menarikku dalam sebuah pelukan. Seketika tubuhku merasa hangat dengan getaran yang familiar. Rasanya menyenangkan.  "Aku tidak suka kau dekat pria lain."


Aku mendongkak, menatapnya polos. "Dia saudaraku, Dreas."


"Tetap saja."


"Itu tidak adil. Kau bisa bebas dengan Selena."


Aku melengoskan pandangan. Lebih memilih mengamati serangga merah yang kebetulan berjejer memanjang di dahan pohon. Mereka seperti tengah melakukan pindah secara masal.


"Itu hanya tugas. Kau tau aku tidak benar-benar ingin melakukannya."


Atmosfer hangat di antara kami berubah canggung.


Aku menaikan pandangan, menarik tudung jubahnya hingga aku bisa melihat tepat ke dalam netra gelap itu.


"Aku tidak percaya. Kau tidak jujur Dreas."


"Maksudmu?"


Bola mataku berotasi otomatis. Pakai acara sok tak paham segala. "Kau menyembunyikan banyak hal dariku kan?"


Terutama soal jati dirimu.


"Jangan asal menuduh,"Masih berniat bermain rahasia.


"kalau begitu, kenapa kau menceritakan hubunganmu dengan Selena?" Mataku menyipit tajam. "Kalian sepasang kekasih sebelum ini kan?"


Rasa penasaran yang selama ini terpendam akhirnya menyembur keluar kepermukaan. Tanpa aku sadari aku mencubit perut Dreas.

__ADS_1


"Apa? Tentu saja tidak. Dari mana kau mendapat kesimpulan itu?" Dreas memegang kedua sisi wajahku.


"Kalian berciuman!"


"Selena yang menciumku," ralat Dreas cepat.


"Kau menikmatinya?"


Dreas terkekeh, dagunya ia letakkan diatas kepalaku. "Aku normal Azu, jadi ... Aw!"


Refleks ia meringis  saat aku meninju perutnya. "Aku melakukan itu dengan terpaksa Azu, aku punya alasan."


"Tidak terlihat begitu di mataku."


"Lagipula, waktu itu aku belum bertemu dengamu."


Oh, Dreas rupanya pintar berkilah.


"Bagaimana soal jati dirimu?"


"Aku tak bisa memberitahumu," ia menatapku menyesal.


"Kenapa?"


"Ini demi kebaikan semuanya. Kau tidak tau siapa sebenarnya aku." Ada kesedihan dalam matanya.


Oh bagus! Rahasia lainnya.


"Kalau begitu beritau aku." Aku setengah memohon. "Jangan sembunyikan apapun dariku. Kita ini mate kan?"


"Akan kuceritakan begitu semuanya selesai. Aku janji."


"Apa ini ada hubungannya dengan Si penghancur?"


"Lebih baik kau tidak tau sama sekali. Kau tidak tau seberapa berbahayanya apa yang sedang menanti kita." Suaranya sangat serius.


"Jadi benar, kalau ini ada hubungannya dengan makhluk tak jelas itu," gumamku.


"Jangan pernah mencoba untuk mencari tau Azu. Terlalu berbahaya, dia bukan lawan yang bisa kau hadapi."


"Aku tau." Namun peringatan itu sudah terlambat. Aku lebih dari sekedar tahu.


"Kalau begitu pembahasan selesai."


"Tapi ia datang padaku sebelum ini dan memintaku agar menjauhimu."


Aku menjelaskan soal pertemuan kami, tentu saja dengan beberapa bagian yang di edit. Respon aneh Dreas membuatku heran. Kalau tadi ekpresinya rumit, sekarang raut mukanya jadi pias tambahan dengan kesuraman yang berlipat-lipat.


"Mengapa kau tidak memberitahuku? Apakah ia sering mendatangimu?"


Jadi sekarang kami sedang melakukan sesi interogasi?


"Sejak malam serangan ke penjara labirin waktu itu. "Kenapa?"


"Bukan apa-apa?"


Cih! Mulai lagi. "sebagai mate tidak boleh saling menutupi," sindirku.


"Tentu saja. Aku tidak akan menutupi apapun darimu kalau semuanya sudah selesai. Selain itu jangan suka menyimpulkan sesuatu seenaknya lagi," ujarnya, menyentil keningku.


"Dreas!" Geramku.

__ADS_1


"Ayolah, jangan rusak moment istimewa ini." Ia memelukku lagi. "Selamat karena sudah menjadi shifter seutuhnya."


Dreas tersenyum lembut. Di saat seperti ini, ia kelihatan seperti shifter biasa lainnya. Dan bukan seorang dark guardians dengan sejuta misterinya itu.


Omong-omong soal misteri. Aku masih penasaran soal GUARDIAN yang kutemui di tebing serta kekuatannya. Ingin rasanya aku menanyakan itu pada Dreas, tapi sayang rasanya bila moment berdua ini harus di sia-siakan begitu saja.


Untuk saat ini, begini saja sudah cukup. Sekarang aku hanya ingin menghabiskan waktu membuat kenangan indah dengan Dreas.


Kami merayakan perubahanku dengan piknik kecil-kecilan di pinggir sungai tak jauh dari penjara labirin. Aku tahu situasinya sangat tidak pas mengingat kami sedang dalam terror tapi kapan lagi bisa melakukannya. Dreas bercerita banyak hal tentang kehidupan masa lalu.


Sejujurnya aku masih tidak percaya benar-benar hidup dulu sekali. Namun semua cerita Dreas sama persis dengan mimpi-mimpiku jelas ia tidak berbohong.


"Sial!"


Aku terlonjak kaget saat Dreas tiba-tiba mengumpat kasar. Matanya bergerak liar.


"Ada apa?" Tanyaku heran.


"Kita harus segera kembali." Ia mengemasi peralatan cepat, asal-asalan. "Memangnya ada apa?"


"Malam ini blue moon."


Oh benar juga. Aku sampai lupa, sekarang sudah malam. Nampaknya kami tertidur setelah peryaan melelahkan siang tadi.


"Lalu kenapa?"


"Kau tau apa itu blue moon?"


"Tau." Aku mengangguk. "Itu adalah saat di mana purnama memancarkan warna biru." Tapi bukankah itu hal yang bagus. Bagi Shifter seperti kami, blue moon adalah saat paling krusial. Karena itu adalah waktu di mana moon goddes memberikan kekuatan pada bangsa werewolf lewat sinar bulan.


Intinya itu adalah malam di mana para werewolf berada dalam kekuatan penuhnya.


"Hanya itu?"


"Jangan bermain kata lagi. Katakan saja kenapa kau seperti orang kebakaran bulu begini?"


"Bahasamu Azu!" Ya ampun, GUARDIAN ini. Masih sempat-sempatnya mengomentari hal sepeleh begitu. "Kemungkinan besar, makhluk itu akan menyerang malam ini. Jadi kita harus bersiap-siap."


"Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri. Malam ini kan kekuatan para shifter berada pada level tertingginya bukan?"


"Justru itulah tujuannya."


Aku mengerenyit tak paham. Makhluk tak normal mana yang berani mengusik para shifter di malam blue moon ini?.


"Dia mengingikan kekuatan soul of moon untuk terbebas dari kutukannya."


Kutukan? Aku tak ingat si penghancur pernah menyinggung hal itu.


"Soul of moon?"


"Ya, shifter yang lahir saat bulan biru muncul."


Aku masih diam berdiri, memerhatikan Dreas yang kini tengah menaikan tudung jubahnya.


"Dikatakan dalam legenda bahwa shifter yang terlahir pada malam blue moon merupakan tetesan langsung dari dewi bulan. Para shifter percaya jika soul of moon ini memiliki keistimewaan yang dapat mengabulkan segala permintaan dan itulah targetnya."


Aku mengangguk, jadi makhluk itu menginginkan kekuatan Selena agar bisa terbebas dari kutukan, masuk akal.


"Omong-omong siapa soul of moon itu?" Tanyaku berpura-pura tak tahu.


Dreas tak langsung menjawab. Matanya menatapku dalam.

__ADS_1


"Dia ..."


TBC.


__ADS_2